Sebuah Opini Tentang hai hai

hai-hai-foto
hai hai

Anda sering beropini? Sebagian orang mungkin suka membuat opini, baik opini pribadi maupun opini publik. Tidak salah bila ingin beropini sepanjang itu dilakukan dengan baik dan bertanggung jawab.

Nah, di tulisan perdana ini, saya ingin menulis sebuah opini. Tentu ini adalah opini versi Desfortin, sehingga tidak ada di buku apapun, semoga tidak berlebihan dan dapat membuka cakrawala ‘berpikir’ kita semua (to think out of the box).

Semoga yang masih “bersembunyi di persembunyiannya” dapat keluar menampakkan diri. Semoga yang masih jauh akan mendekat, dan yang dekat makin merapat. Sebelum lebih jauh, semoga Anda tidak men-judge (menghakimi/menilai) saya menyimpang, sesat dan tersesat. Semoga saya juga tidak “menyesatkan” Anda. Kalaupun Anda tersesat, atau kita tersesat, saya berharap kita ‘tersesat ke jalan yang benar’, (mungkinkah? Maybe YES, Maybe NO).

Kiranya iman Anda tetap Allah kuatkan. Tapi saran saya jangan kekeh jumekeh alias ngotot dalam iman yang keliru. Intinya saya hanya ingin berbagi, bukan untuk menonjolkan diri, bukan untuk mencuri kebajikan demi kemuliaan diri, bukan pula untuk mendiskreditkan siapapun. Tetapi menyampaikan sesuatu apa-adanya.

Mungkin ada yang menganggap tulisan ini topiknya terlalu ‘tinggi, berat atau lebay’. Itu kembali kepada Anda. Mungkin ada yang akan ‘semakin terkenal’ atau mungkin ada yang semakin ‘minder’ atau dihujat karena opini ini, maafkan saya. Atau Anda merasa biasa-biasa saja. Never mind. Saya hanya bermaksud ingin berbagi.

Ijinkan saya mengawalinya dengan pernyataan berikut:

Di dalam perdebatan antara dua belah pihak (dua kubu), bilamanakah salah satu pihak dianggap menang atau kalah? Bilamanakah dianggap seri? Apakah ketika salah satu pihak tidak bisa menjawab? Apakah ketika salah satu pihak paling bisa menjawab?

Menurut saya, salah satu pihak dianggap KALAH dalam perdebatan apabila dia ‘TIDAK MEMAHAMI MAKSUD LAWAN DEBATNYA’. Jika Anda berdebat tetapi Anda tidak memahami maksud lawan debat Anda, maka pada saat itu Anda sudah KALAH, meskipun Anda terus menjawab dengan berbagai argumen yang panjang lebar, apalagi bila argumen yang Anda sampaikan itu ternyata LUNCAS alias tidak tepat sasaran.

Anda telah membuang banyak waktu dan tenaga dengan hanya berargumen panjang lebar, tetapi ibarat pepatah: “TONG KOSONG NYARING BUNYINYA”. Sebaiknya Anda tidak teruskan. Karena itu percuma saja. Ujung-ujungnya DEBAT KUSIR lah yang terjadi. Anda sudah KALAH, lawan debat Andalah yang MENANG, walaupun argumennya sedikit. Namun sesungghunya ia telah “MENUSUK” jantung Anda. Anda KO (Knock Out).

anda-kalah

Lalu bilamanakah perdebatan dianggap seri? Menurut saya, paling sedikit apabila kedua belah pihak ‘SEPAKAT UNTUK TIDAK SEPAKAT’ (agree to disagree atau to agree in disagreement). Atau apabila kedua belah pihak saling memahami maksud masing-masing, tetapi mereka sama-sama tak mampu meyakinkan masing-masing pihak. Dalam hal ini saya sebut mereka ‘GAK MENANG, GAK KALAH’.

Nah, kawan-kawan, itulah yang terjadi, menurut saya, dalam perdebatan antara hai hai alias bengcu alias Ang Ci Yang alias Arief Chrisdiyanto dan para penentangnya di Blog Bengcu Menggugat (https://www.bengcumenggugat.wordpress.com). Blog Bengcu Menggugat merupakan salah satu blog Artikel Kristen yang saat ini, kalau boleh saya sebut dan tanpa bermaksud melebih-lebihkan (walau faktanya begitu, hehe …), sangat fenomenal, sangat revolusioner, sebagian ‘sangat kontroversial’, sebagian terkesan ‘liar dan vulgar’.

Selain itu juga, bagi sebagian orang, tulisan-tulisannya ‘sangat menyebalkan’, ‘terlalu bengal dalam pola berpikir’ bahkan ‘blunder’, karena yang ditulisnya sangat-sangat BREAKING dan ‘sukar diterima’ oleh orang awam bahkan kaum main stream (arus utama).

Pendekatan dan cara hai hai mengupas Alkitab 180 derajat berbeda dari para profesor dan doktor teologia yang pernah ada. Seandainya yang ditulis oleh hai hai itu SESAT, maka ia adalah penyesat dari segala penyesat, baik secara ia sadari maupun tidak ia sadari. Tetapi bila yang ia tulis adalah benar adanya, bagaimanakah kita dapat mempertanggungjawabkan ajaran arus utama kekristenan lebih dari 2000 tahun ini? Rasanya mustahil juga mengabaikan atau menyangkal sebagian besar kebenaran-kebenaran agung dari Alkitab yang diajarkan oleh para pendahulu gereja, khususnya para Bapa Gereja.

Oleh sebab itu, pernah ada seorang ‘pendeta’ Kristen yang menyarankan agar abaikan saja hai hai, si bugil itu, tak perlu dirisaukan. Lebih lanjut ‘pendeta’ itu juga mengatakan bahwa hai hai itu ibarat “Seorang Tukang Obat atau Tukang Jamu” yang berhasil membuat ramuan obat/jamu sendiri yang ternyata manjur menyembuhkan sakit perut, yang kemudian dengan jumawa menganggap bahwa obat/jamunya itulah yang paling mujarab. Setelah merasa demikian lalu si Tukang Obat/Tukang Jamu tersebut main gugat sana sini, khususnya terhadap teori-teori medis yang sudah ‘teruji’ selama berabad-abad. Apakah hai hai memang “Tukang Obat/Tukang Jamu” itu? Maybe YES, Maybe NO!

Menurut pengamatan saya, lawan hai hai alias Arief Chrisdiyanto dalam diskusi atau perdebatan itu kebanyakan tidak seimbang. Para penentangnya tidak memahami maksud hai hai, si Pendekar Tiongkok itu. Mereka sering terpancing emosi. Mereka kerap menganggapnya sebagai orang yang terlau jumawa alias sombong tingkat ‘dewa’.

Apakah dengan banyaknya argumen mereka, mereka sudah mengerti maksud hai hai, si Teolog Jalanan itu, dan bisa mengalahkannya? Saya berharap iya, namun faktanya belum bisa dan bahkan tidak bisa.

cropped-study-bible4

Sebagian hanya sok tahu dan sok argumentatif. Sebagian dari mereka menganggap diri akademis dan mampu berapologetika, tetapi belum mampu ‘melumpuhkan’ ajaran-ajaran “GILA” hai hai (walaupun hai hai kerap berkata bahwa ajarannya Alkitabiah, hanya belajar dari Alkitab). Mereka hanya menganggap diri ‘pintar’, tapi sulit membuktikannya. Akhirnya mereka hanya menghambur kata-kata di udara.

Menurut saya jurus-jurus yang dipakai untuk ‘mengkeokkan’ hai hai, Si Pendekar Pedang Samber Gledek itu, tidak mempan sama sekali bahkan ibaratnya, “jauh api dari pada panggang”. Akhirnya apa yang terjadi? Semuanya terkesan seperti DEBAT KUSIR saja.

Hai hai makin “berjaya”, sementara para penentangnya “lari terbirit-birit”, bahkan ada yang “sakit hati”, hanya bisa memaki dan mengumpat, “hai hai sesat, hai hai sesat, bertobatlah dst ….. !!!!!!!!!” Ha ha ha … Mereka telah KALAH DEBAT, walaupun mereka tak mau mengakuinya, dan malah menganggap diri lebih punya IQ. Kasihan sekali. Sangat mengenaskan, bukan? Itulah fakta GAYA BERAPOLOGETIKA kita selama ini.

Sekali lagi, itu sangat mengenaskan alias memprihatinkan. Apakah dengan mengatakan hai hai sesat, maka lantas hai hai menjadi sesat? Belum tentu! Apakah dengan mengatakan hai hai hebat dan revolusioner, sudah baca Alkitab lebih dari 100 kali, lantas menjadikan ajarannya benar? Belum Tentu! Ujilah dengan Alkitab sebagai sumber pustakanya, bukan dengan dengkul.

Sebaliknya, bagi mereka yang rendah hati dan mau belajar biasanya tidak mau terlalu cepat memberikan argumen-argumen premature dan gegabah. Biasanya mereka diam dan kerap suka bertanya.

Ups, Anda jangan salah! Saya bukan pendukung ataupun penentang hai hai alias bengcu alias Ang Ci Yang alias Arief Chrisdiyanto. Saya juga tidak punya urusan secara pribadi dengan yang bersangkutan. Hanya saya tahu dan pernah sekali bertemu dengannya saat ke Jakarta tahun lalu (2015). Posisi saya beropini disini adalah hanya untuk mengetengahkannya kepada pembaca sekalian. Andalah yang menilainya.

Sebelumnya saya pernah bermimpi untuk “mengalahkan” dan “mempertobatkan” hai hai, si manusia kontroversial itu, sebab apa yang ditulisnya itu ‘TERLALU BERANI’ dan terkesan ‘LIAR’, dapat ‘mengacaukan’ keimanan kaum awam. Apalagi ketika dia mengatakan bahwa blognya itu bukan blog pelayanan.

Tetapi apa mau dikata, “maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai”. Agaknya ilmu saya, Desfortin, baru seujung kuku. Lebih baik ‘mingkem’ alias bungkam dan rendah hati mengaku: aku belum mampu menghadapinya. Apakah akan mampu? Entahlah. Yang pasti saat ini jurus-jurusnya sangat “AMPUH” dan “MEMATIKAN”.

Apakah itu mengindikasikan kebenaran ajaran-ajarannya? Maybe YES, Maybe NO. Waktu lah yang akan menjawabnya. Alkitablah sumber pustaka untuk mengujinya, sebagaimana hai hai juga kerap mengatakannya.

Saya berharap banyak para teolog turun tangan (termasuk 4 orang dalam foto di atas) untuk menguji ajaran hai hai yang kontroversial itu. Saya juga berharap agar ‘teolog-teolog reformed” yang saya kagumi tidak menganggap ini sepi. Orang ‘cerdas’ seperti hai hai adalah “aset gereja” sekaligus ‘pengacau iman’ yang tak boleh diremehkan.

Saya menganggapnya sebagai ‘Teolog Jalanan Bandel dan Langka’ sejak jaman penulis Alkitab sampai saat ini. Jujur saya memujinya. Jujur pula saya ‘merisaukan’ sebagian teorinya yang ‘jlimetnya’ minta ampun, bikin ‘pusing 7 samudera’. Mungkin, Komputer Pentium 4 pun, bila tanggung-tanggung, bisa hang dalam memahaminya.

Kehadirannya di jaman ini menjadi warna dan dinamika baru, khususnya di tengah-tengah ajaran Kristen yang simpang siur saat ini. Meskipun saya sangat yakin orang seperti Pdt. Dr. Stephen Tong (Teolog Reformed Injili Kaliber dunia, seorang Hamba Tuhan yang sangat diurapi, cerdas, berpengaruh, dan yang saya sangat hormati serta kagumi) tidak akan membuang waktunya untuk menguliti ajaran seperti ini. Tapi setidaknya, saya hanya berharap agar teolog-teolog lain yang juga “cerdas” serta “piawai” bisa memperhatikannya.

Tetapi nampaknya sampai saat ini mereka rada males, masih bungkam seribu bahasa, atau pura-pura tidak tahu? Malah justru yang datang untuk ‘bertarung’ melawan hai hai adalah para teolog “berdaging, tapi tak bertulang”, dan menurutku belum ada satupun yang ‘cukup mumpuni’ untuk menguji apa yang ditulis hai hai alias bengcu alias ang ci yang alias Arief Chrisdiyanto, Si Pendekar Pedang Samber Gledek. Benar-benar fenomenal, revolusioner sekaligus kontroversial.

Menurutku biarlah hai hai asyik dengan pemikirannya yang ‘liar’ dan ‘kontroversial’ itu sampai Allah “mempertobatkannya”, haha … Tapi kalau dia tidak salah, untuk apa juga dia bertobat, kecuali untuk ‘kesombongannya’. Bukan begitu?

Apakah Anda kenal si hai hai itu? Apabila Anda setuju ataupun punya pendapat alias opini yang berbeda tentang hai hai, si manusia “dahsyat” itu, silakan beropini di kotak komentar yang telah disediakan di bawah ini. Saya akan dengan senang hati berdiskusi dengan Anda.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

7 thoughts on “Sebuah Opini Tentang hai hai

    1. Aku cuma terkesan dengan pemikirannya, mas Jaja. Unik, bombastis, “sadis”, “gila” dan benar-benar “aneh”. Dia itu juga temanku. Dia emang kontroversial. Tapi walau begitu, hampir semua tulisannya laris manis “terjual” di dunia maya. Virus bengcu sangat viral lo, wkwwk …

      Aku sebenarnya tidak bingung. Aku juga tidak sedang melegitimasi semua pemikirannya. Aku hanya memberikan pernyataanku bahwa dia itu orangnya seperti itu. Itulah opiniku tentang dia, dan berharap ada orang lain yang mau menguliti ajaran-ajarannya yang “kontroversial” itu, supaya dia “jangan berjaya” terus, huhu ….

      Aku yakin kalau kamu baca semua tulisannya dengan jujur dan tanpa prasangka, kamu akan “cerdas” dan “kaget.” Membaca tulisan-tulisannya memang harus lebih teliti agar kita tidak gampang “tersesat”, sayapun berkali-kali membacanya baru berani komentar.

      Suka

  1. Tapi menurutku si hai hai itu banyak yang gak suka ya, padahal pemikiran2nya luar biasa?
    Aku aneh, jaman sekarang ini, orang baik dibenci, orang jujur dilawan kalau mau jadi pemimpin, begitu juga si hai hai yang “hebat” ini banyak yang menghina dan melawannya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s