Peduli Anak Sejak Dini

orang-tua-peduli-anak

Suatu hari anakku perempuan yang berumur tujuh tahun lebih datang mendekat dan berkata kepadaku, “Ayah, aku kasih tahu Ayah, kalau aku punya buku cerita”. Lalu dengan tidak sabar aku memotong kalimatnya, “Maksudmu buku cerita baru, nak? Siapa yang belikan?”, tanyaku dengan penasaran. Anakku yang manis nan lincah itu langsung menjawab, “Bukan yah, maksudnya buku baru buatanku”. Lalu ia segera menunjukkannya padaku. Ternyata anakku yang berumur tujuh tahun lebih ini betul-betul memukau ayahnya. Yang dimaksudkannya adalah buku tulis biasa yang di dalamnya ada cerita hasil karangannya. Ia tulis dengan tangannya sendiri. Setelah kubaca, meski cukup singkat ceritanya dan tentu belum memenuhi kaidah-kaidah tulisan yang baik, namun seru dan sangat imajinatif. Lalu akupun memujinya hebat. Jika memungkinkan suatu saat nanti akan kutunjukkan pada kalian buku ceritanya.

Sebagi seorang ayah, aku merasa cukup bangga padanya, karena di usianya yang masih muda belia ini, ia sudah bisa membuat cerita ataupun dongeng. Memang, ia sudah bisa membaca dan menulis. Ayahnya juga sering sekali membelikan buku-buku pelajaran dan buku-buku cerita atau dongeng kepadanya. Anakku memang suka membaca, khususnya buku cerita. Mungkin sedikit banyak, ia sudah terpapar dengan cerita-cerita yang dibacanya itu. Namun, sekali lagi, tulisannya itu cukup unik dan imajinatif.

amor-nulisDalam hati aku bergumam, “Baiklah anak, kembangkanlah imajinasimu melalui cerita-ceritamu itu. Kamu hebat. Bukan saja sudah bisa membaca dan menulis, namun kini kamu sudah bisa mengarang cerita sendiri. Ayah akan selalu ada untukmu”. Sejak itu aku terus memacu dan memotivasinya untuk terus membaca dan menulis. Sampai hari ini, sudah ada sekitar 5 buah cerita “menarik” yang dihasilkannya, orisinil imajinasinya sendiri alias tidak ada intervensi ayah dan ibunya.

Amora atau Amor, nama singkat alias nama panggilan anakku itu. Dia adalah satu-satunya anakku perempuan. Kami belum punya ‘program’ untuk menambah lagi. Tanpa bermaksud narsis, aku memujinya: cantik, baik, cerdas dan pandai bergaul. Atas dasar filosofi anak harus diperhatikan, maka kamipun sering bermain bersama, bersendagurau bersama dan bergembira bersama. Iapun semakin hari semakin bersemangat karena ayah dan ibunya selalu ada untuknya. Pada istriku yang selalu punya banyak waktu dengannya, kukatakan dengan tegas namun demokratis, agar kami selalu mendidiknya dengan konsisten dan penuh perhatian. Meski dalam beberapa aspek aku dan istriku berbeda konsep tentang mendidik anak dan rumah tangga, tetapi kami sepakat bahwa anak harus selalu diperhatikan dan dididik sedini mungkin.

Memang, sebagai orang tua yang baik sudah seyogyanya kita terus mendorong anak-anak kita untuk maju dan berkembang. Anak seusia Amor adalah anak yang perlu diperhatikan dan didampingi secara konsisten dan terus-menerus, agar tumbuh kembangnya normal, baik secara fisik maupun psikis, baik secara pribadi maupun sosial.

Setiap orang tua tentu berharap agar anaknya bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang menyenangkan dan membanggakan keluarga, orang lain dan terlebih Tuhan. Tidak ada satupun dari orang tua yang menginginkan anaknya menjadi gagal dan tidak berguna. Semua kita berharap agar mereka menjadi pribadi yang sukses, setidaknya tidak menjadi ‘sampah masyarakat’ alias trouble maker (pembuat masalah). Mari dorong anak-anak kita untuk terus maju dan berkembang. Jangan batasi imajinasinya, namun jangan pula biarkan imajinasinya ‘tersesat’. Orang tua harus memegang kendali. Pola pendidikan yang cenderung ‘membiarkan’ sebaiknya kita tinggalkan.Jangan terlalu overprotective, jangan pula terlalu permisif!

Perhatikan tumbuh kembang anak-anak kita. Jangan sampai di kemudian hari ia menjadi orang yang ibarat peribahasa “pacaan menjojak kepala ompainya” (Ujaran Dayak Tomun Batang Kawa), yang secara harafiah dapat diterjemahkan menjadi “bakal menginjak kepala ayahnya”. Arti kiasannya adalah bahwa anak yang tidak dididik dengan baik, cenderung diabaikan alias dibiarkan, maka anak tersebut suatu saat nanti menjadi anak yang sulit dikendalikan, bahkan dia bisa cenderung untuk mengendalikan orang lain bahkan orangtuanya secara negatif, sehingga ‘malapetaka’ bagi keluarga pasti datang menjelang. Jauhkanlah kiranya hari-hari demikian dalam hidup kita sebagai orang tua.

Oleb sebab itu, sebelum terlambat, jadilah cerdas, berikanlah perhatian yang seimbang pada anak-anak kita. Pujilah mereka dengan semestinya, sesekali tak salah bila Anda memberikan reward (penghargaan) ketika mereka memang patut untuk dipuji dan dihargai, tentu dengan disertakan nasihat supaya tetap jadi anak yang rendah hati dan tidak besar kepala. Tegorlah mereka ketika mereka memang patut untuk ditegor. Didiklah mereka dengan didikan seorang ayah dan ibu yang baik. Dengan dasar kasih, janganlah inginkan kematian mereka, dan pedulilah pada mereka sedini mungkin agar kelak Anda menuai hasilnya.

Sampai disini artikelnya. Semoga bermanfaat. Namun jika Anda punya pengalaman lain yang perlu dibagikan tentang pendidikan anak usia dini, saya akan dengan senang hati mendengarnya. Silakan masukkan komentar Anda pada kotak komentar yang tersedia di bawah ini.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

5 tanggapan untuk “Peduli Anak Sejak Dini

    1. Memperhatikan anak sejak dini memang perlu, apalagi di antara usia 6-10 tahun. Itu masa-masa perkembangannya yang sangat penting untuk diperhatikan.

      Umur putri anda baru 7 tahun kan? Itu dia. Btw, udah pinter main internet juga ya. Hebat anak jaman sekarang, sejak kecil udah terbiasa dengan teknologi, gak kayak jaman saya dulu

      Suka

      1. Tgl 9 Nov 2016 yang lalu, dia genap berumur 8 tahun.

        Kebetulan di tempat kami tinggal sekarang, sudah ada wifi (gratis), makanya tiap hari bisa daring terus.

        Saya kadang bawa putri saya itu untuk memperkenalkan kepadanya tentang internet. Namun, saya selalu mendampinginya saat bermain internet. Soalnya, anak seusia dia sukanya nonton youtube (animasi, kartun movie dan sejenisnya). Jadi tetap harus ditemani.

        Thanks atas komennya, bung Buran Lewu.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s