LEADER WITHOUT LEADERSHIP

pemimpin-tanpa-kepalaSejarah dunia dari jaman lampau hingga sekarang telah melahirkan banyak tokoh besar yang berpengaruh. Baik skala lokal, pemimpin unit terkecil dalam keluarga, maupun skala nasional bahkan skala dunia. Seorang pemimpin sungguh memegang peranan penting dalam kiprahnya mengubah sejarah dunia. Sebut saja mereka, misalnya Yesus Kristus, Pemimpin dunia bagi Injil ‘tanpa kekerasan’, Muhammad, Pemimpin dan nabi Islam yang berjuang untuk menegakkan ‘nilai-nilai islamiah’, Shakyamuni, Sang Pemimpin Budhisme yang ‘inspiratif’, Confucius dan Lao Tzu, sang pemimpin dan guru besar ‘etika’ dan ‘filsafat Timur’ dari negeri Tirai Bambu, Aleksander the great, Pemimpin Militer dari Makedonia yang ‘handal’, Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris, seorang ‘pemimpin agung’ yang dikagumi, dan masih banyak lagi. Mereka telah mengukir sejarah dunia melalui gaya kepemimpinan mereka masing-masing.

Sejarah bangsa Indonesia juga tidak terlepas dari peran para tokoh besar yang berpengaruh secara nasional. Soekarno misalnya, seorang founding father (pendiri bangsa) bangsa Indonesia yang memiliki gaya kepemimpinan ‘kharismatik’. Jendral Simatupang, salah seorang Pemimpin Militer Indonesia yang berjasa ‘banyak’, sampai Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur Petahana DKI Jakarta, seorang pemimpin ‘fenomenal’ di jaman ini yang kerap dianggap kasar dan arogan oleh para lawan politiknya, namun dianggap jujur, tegas dan berani oleh kebanyakan orang. Lalu Joko Widodo alias Jokowi, Presiden Indonesia ketujuh sekarang, seorang pemimpin yang ‘merakyat’ yang berasal dari akar rumput.

Apa yang mau dibahas melalui tulisan sederhana ini? PEMIMPIN. Itulah kata kuncinya. Pemimpin yang bagaimana? Kita akan melihat model pemimpin dan gaya kepemimpinan seorang pemimpin. Pemimpin yang disegani dan pemimpin yang ditakuti, pemimpin yang demokratis dan pemimpin yang otoriter. Pemimpin yang berkepemimpinan dan pemimpin yang tidak berkepemimpinan. Dua tipe utama pemimpin inilah yang ingin saya cermati.

bos_leader

Ya, memimpin. Bukan sekedar kata, tetapi aksi untuk mempengaruhi dunia. Mempengaruhi untuk hal yang lebih besar bagi kemaslahatan atau mempengaruhi untuk hal yang lebih kecil bagi keterpurukan. Perlu dicermati memang, seorang pemimpin pasti memimpin, tetapi seorang pemimpin belum tentu memiliki kepemimpinan yang diharapkan.

Banyak orang ingin jadi pemimpin, tapi waktu duduk di kursi kepemimpinan segera lupa akan mandatnya. Alih-alih menjadi pemimpin, merekapun menjadi pimpinan alias penguasa (ruler) alias bos. Pemimpin (leader) dan penguasa (ruler) adalah dua hal yang berbeda. Pemimpin membawa kepada cita-cita, sedangkan pimpinan alias boss alias penguasa cenderung membawa kepada tirani minoritas.

Bagi yang saat ini menjadi pemimpin, baik sebagai pemimpin keluarga (lingkup yang lebih kecil), pemimpin desa, pemimpin kecamatan, pemimpin dinas/badan, pemimpin parlemen, pemimpin kabupaten, pemimpin provinsi dan pemimpin negara (lingkup yang lebih besar), mari kita lihat dan berkaca pada diri kita masing-masing terlebih dahulu. Mari kita evaluasi kinerja kita masing-masing selama ini.

Sebagai kepala keluarga, sudahkah kita menjadi kepala keluarga yang baik, yang selalu mengayomi keluarga? Sebagai pemimpin desa, sudahkan kita menjadi agent of change (agen perubahan) dalam pembangunan dan menjadi inspirasi bagi masyarakat desa yang kita pimpin? Sebagai Kepala Sekolah, sudahkah kita menjadi kepala sekolah yang bertanggungjawab, yang selalu disegani oleh para guru, dan yang selalu berjuang untuk pendidikan yang lebih baik? Sebagai Bos Perusahaan, Camat, Kepala Dinas/Badan, Ketua Dewan/Parlemen, sudahkah kita membawa visi dan misi institusi/lembaga yang kita pimpin dengan semestinya? Sebagai Bupati, Gubernur dan Presiden, sudahkan kita menata pemerintahan ini dengan baik dan membawa aspirasi rakyat serta menjadi pemimpin yang negarawan? Tentu kita bisa mengevaluasinya masing-masing, dan masyarakatpun dapat menilainya.

Ada pemimpin yang berjiwa pemimpin. Itu fakta. Namun ada juga pemimpin yang tanpa kepemimpinan. Itupun fakta. Jika seseorang hanya ingin cari duit alias materi waktu memimpin, biasanya cenderung menghalalkan segala cara supaya dapat duit, entah cara halus maupun cara yang lebih vulgar. Itu saya sebut pemimpin yang nggak becus alias pemimpin yang koruptif. Jika seseorang waktu memimpin hanya ingin jabatan dan kekuasaan sehingga lupa akan mandatnya, lalu perintah ini-perintah itu, maka saya sebut pemimpin demikian sebagai penguasa alias ruler. Jika seorang pemimpin waktu memimpin hanya ingin nama dan gengsi alias gaya-gayaan, tapi nggak becus alias gak bisa mengatur/menata bahkan semrawut waktu bertugas, maka pemimpin demikian saya sebut sebagai Leader Without Leadership alias Pemimpin Tanpa Kepemimpinan atau Pemimpin yang tanpa sifat-sifat kepemimpinan. Mau ‘enaknya’, gak mau ‘susahnya’.

Seperti apakah gambaran Leader Without Leadership? Menurut Desfortin, Leader Without Leadership sama seperti penguasa. Ia bersifat boss semata, tinggal tunjuk ini-tunjuk itu, tinggal suruh ini-suruh itu. Ia cenderung berpangku tangan dan selalu menunggu laporan bawahan baru bertindak. Gak proaktif dan gak inisiatif. Sama sekali gak bisa kasih contoh dan teladan yang baik. Kata Jemie – seorang Guru Penjaskes di SMPN 1 Batang Kawa, yang kebetulan kami bertugas di tempat yang sama – bila bertugas di bawah pimpinan alias boss yang demikian, “saya mah gak mau repot pak, saya menjalankan tugas pokok saya aja: mengajar dan mendidik. Urusan tugas tambahan, nanti dulu”. Karena katanya, orang yang cuma bisa suruh ini-suruh itu, tapi tidak memberikan contoh, tidak cocok jadi pemimpin. Kesimpulannya berarti, bahwa walaupun Jemie bukan tipe bawahan yang loyal 100 %, ia tak suka di bawah pimpinan alias boss yang demikian.

images

Leader Without Leadership sama juga seperti orang bebal. Orang bebal sulit dibina. Orang bebal biasanya tinggi hati alias tidak rendah hati. Mengutip kata-kata bengcu alias hai hai, jika boleh, rasanya ingin di-blender saja. Sama seperti pendapat Soe Hok Gie, seorang aktivis yang hidup di Era Orde Lama, bahwa guru yang anti kritik sebaiknya masuk tong sampah saja. Sama, menurut Desfortinpun pimpinan alias boss seperti ini sebaiknya masuk tong sampah juga. Itu kata Desfortin. Anda boleh sepakat, boleh menolak. Namun demikianlah faktanya. Bagaimana menurut yang lain? Apakah pendapat ini berlebihan?

Saya mencoba mengutip pendapat Erie Sudewo, Penulis Buku ‘Best Practice Character Building: Menuju Indonesia Lebih Baik’, seorang yang banyak concern tentang karakter. Menurutnya Indonesia kini hanya dipenuhi pimpinan, bukan pemimpin. Banyaknya pimpinan, artinya kita lebih banyak produksi  Leader Without Leadership. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pimpinan cuma bicara kursi alias jabatan. Tanpa kursi, mereka tak bisa memimpin. Yang buat mereka eksis adalah kursi/jabatan/kekuasaan. Karir pimpinan biasanya dibangun berdasarkan senioritas. Siapa yang tua, siapa yang duluan, dianggap paling layak jadi atasan, sehingga Leadership (kepemimpinan) tersisih.

Begitulah pimpinan alias boss amat peka apa kata/kebutuhan pemimpin alias atasannya. Sebaliknya amat tak peka akan hajat dan kepentingan orang banyak. Sehari dua hari saat layani atasan masih kikuk. Tak terasa waktu telah berjalan tahunan. Akhirnya dulu TUAN, kini telah jadi TUHAN.

Pemimpin tanpa sifat-sifat kepemimpinan, apalah arti pemimpin, kata Erie Sudewo. Di depan atasan anak buah mengangguk, di belakang mengutuk. Di depan pimpinan anak buah hormat, di belakang mengumpat. Di depan tampak siap boss, di belakang surat tugas pun dibanting. Di depan boss anak buah tersenyum, di belakang mencaci maki. Di depan tampak sopan, di belakang pengikut siapkan kudeta. Itulah kata Erie Sudewo tentang Leader Without Leadership.

Pertanyaannya jelas, “Mana yang lebih baik untuk dipilih? Dan juga, model pemimpin yang bagaimanakah kita saat ini?” Jawabannyapun jelas, “Tentu kitapun dapat menilainya sendiri”. Bukan begitu?

Semoga Bermanfaat.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

6 thoughts on “LEADER WITHOUT LEADERSHIP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s