Menulis, Ibarat Makan dan Minum (Tips Menulis Ala Desfortin)

yuk-menulisMenulis, lebih tepatnya menulis blog. Inilah kesibukan baru saya beberapa hari ini, selain bertugas sebagai pendidik di salah satu sekolah negeri di Kecamatan Batang Kawa Kabupaten Lamandau-Kalimantan Tengah. Asyik dan menyenangkan. Namun juga penuh tantangan. Di tengah situasi yang serba minim ini tentu untuk menjadi penulis/bloger yang baik tidaklah gampang.

Saya mulai menulis sejak 8 tahun lalu, tepatnya ketika saya masih menjadi seorang mahasiswa. Walaupun belum memiliki karya yang signifikan, tetapi saya gemar sekali untuk menulis. Waktu itu saya kerap ikut menulis blog dan berdiskusi di salah satu situs komunitas blogger (http://www.sabdaspace.org) di Indonesia (sekedar menulis, memang).

Menulis memang bukan hal baru bagi saya, tapi menulis yang baik tidak segampang yang saya kira sebelumnya. Walaupun saya bukan seorang blogger yang hebat, tetapi saya suka sekali menulis. Kini, saya menjadikan kegiatan menulis, khususnya menulis blog, sebagai media berbagi kepada sesama. Mengapa harus melalui tulisan blog atau medsos? Setidaknya karena melalui cara ini, tentu jangkauan dan efeknya jauh lebih luas.

Menulis memang tidak gampang, namun juga tidak sesukar yang dikira. Kini saya berkesimpulan kalau menulis itu gampang-gampang susah. Dibilang gampang, karena kita punya banyak kesempatan, tersedia media/alat menulis (apalagi sekarang sudah ada komputer, laptop, ipad, notebook dan sejenisnya), banyak yang dapat dilihat/diamati, dan masih banyak lagi alasan lainnya. Dibilang sukar, karena bagi yang jarang menulis tentu itu pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan mereka yang sudah terbiasa menulis. Selain itu, karena ide yang mau ditulis tentu harus berbobot, menarik dan tidak jadul, inilah yang membuatnya terasa sukar (ini kalau motivasinya supaya tulisan kita diakui).

Memang, ide bagus dan cemerlang untuk ditulis itu terkadang terasa sukar didapatkan. Sekalipun sudah didapatkan, menuangkannya ke dalam bentuk tulisan yang menarik membutuhkan komitmen dan kerja keras. Beberapa penyebabnya mungkin karena kurang terpapar dengan bacaan alias lemah dalam membaca, kurang mengamati, kurang bergaul/bersosial, atau karena belum menjadikan menulis sebagai suatu kebutuhan.

Sebagai kebutuhan? Ya, ibarat makan dan minum. Kita butuh makan dan minum setiap hari agar tetap hidup/eksis. Ternyata demikian juga dengan menulis. Untuk tetap eksis, harus dibiasakan, dihayati dan dinikmati setiap hari. Bahkan menjadikan kegiatan menulis bukan sebagai beban, tetapi sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan. Writing is for fun.

Ada berbagai tujuan dan manfaat menulis secara umum. Menurut sebagian ahli dan pakar tulisan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
I.    Tujuan menulis

  1. Untuk menginformasikan sesuatu, baik itu gagasan-gagasan maupun ide-ide.
  2. Untuk membujuk, mengajak dan merangsang para pembaca agar dapat menentukan sikap, apakah menyetujui atau mendukung yang dikemukakan penulis.
  3. Untuk mendidik, mencerdaskan dan membimbing bangsa baik intelektualnya, emosionalnya dan spiritualnya.
  4. Untuk menghibur para pembaca yang lelah setelah beraktivitas.
  5. Untuk lebih meyakinkan para pembaca terhadap apa yang dimiliki sebelumnya.
  6. Untuk memecahkan sebuah masalah.

II.  Manfaat menulis

  1. Dapat memperluas dan meningkatkan kosa kata yang belum diketahui karena banyak membaca.
  2. Dapat melancarkan tulis menulis baik kalimat, paragraf maupun wacana.
  3. Dapat mengembangkan suatu gaya penulisan sendiri.
  4. Secara material dapat memperoleh honorium sebagai profesi sampingan.
  5. Secara non material dapat memberikan kepuasan batin.
  6. Dapat popularitas dimana-mana karena sebuah tulisannya.

Selain beberapa kesimpulan di atas, menulis juga bermanfaat untuk mencegah kepikunan. Menulis dan belajar itu saling berhubungan. Menulis dan belajar berkaitan erat dengan kerja otak, maka ibarat pisau/golok/pedang, semakin sering diasah dan digunakan, ia semakin baik dan tajam, begitu pula dengan otak kita. Lebih lanjut, menurut Stephen Tong (tokoh reformed terkemuka Indonesia), bahwa orang yang giat belajar sebelum umur 30 tahun, maka pada usia 60 tahun, pintarnya double. Sebaliknya, orang yang malas belajar sebelum umur 30 tahun, maka pada usia 60 tahun, biasanya pikunnya double.

Selain untuk mencegah kepikunan, menulis juga dapat dimanfaatkan sebagai instrumen perekam jejak sejarah. Menulis adalah cara klasik yang takkan pernah tergantikan oleh apa pun, karenanya menulis dan tulisan akan selalu ada dan akan tetap ada. Jejak sejarah dapat terekam melalui tulisan. Karena itulah, bagi saya menulis adalah membuat rekam jejak di dalam sejarah. Menulis sangat penting dan pasti bermanfaat, baik untuk generasi saat ini, maupun untuk generasi mendatang.

Banyak yang bisa ditulis, sebenarnya. Namun terkadang karena kita tidak peka atau kurang jeli dengan isu sekitar, sehingga rasanya sukar sekali untuk menuangkannya ke dalam bahasa tulisan. Ada yang bisa ditulis, tetapi terkadang tidak tahu bagaimana caranya untuk memberi tahu audiens tentang maksud tulisan itu. Ada yang bisa dibagikan, tetapi terkadang tidak tahu bagaimana caranya supaya orang mengerti dengan gamblang maksud tulisan yang dibagikan. Jadi memang, gampang-gampang susah.

Menulis itu penuh dinamika. Apalagi menulis blog. Ada kalanya kita merasa begitu bersemangat, ada kalanya tiba-tiba seperti blank. Tidak tahu apa yang mau ditulis. Itulah pengalaman yang pernah saya rasakan. Tapi saya tidak mau menyerah. Apakah itu disebabkan karena minim membaca? Mungkin saja, tapi itu bukan faktor utama. Ada juga orang yang sering membaca, terpapar dengan banyak bacaan, namun hanya pandai mengungkapkannya secara lisan.

Maka dari itu, selain sebagai kebutuhan, jadikan menulis juga sebagai sebuah kebiasaan. Menjadikan menulis sebagai sebuah habitual action (kebiasaan) itu memang perlu dilatih. Ketika berlatih tidak perlu khawatir membuat kesalahan. Dalam beberapa aspek kita kerap membuat kesalahan, tapi justru melalui kesalahan itu kita belajar.

Belajar dari kesalahan adalah hal yang lumrah. Kesalahan harus memacu seorang penulis/bloger untuk terus memperbaiki diri pada kesempatan berikutnya. Karena alasan itulah, maka saya tidak takut untuk menulis.

Saya menganggap bahwa menulis itu adalah seperti makan dan minum. Makan dan minum adalah kebutuhan. Karenanya, jadikan menulis sebagai suatu kebutuhan, dan juga kebiasaan. Dengan alasan ini pula, maka saya terus mencoba membiasakan menulis dan menjadikannya sebagai budaya literasi yang perlu dilestarikan.

Budaya literasi adalah budaya yang menjadikan kita erat dengan tulis-menulis. Literasi menjadikan kita selalu terpapar dengan bahasa tulisan. Seorang pakar pernah mengatakan bahwa kita harus membiasakan diri terhadap literasi.

Menurut saya, budaya literasi harus menjadi kebutuhan bila ingin budaya literasi di Indonesia berkembang. Sejak dini, anak-anak atau para siswa sekolah harus dididik agar terbiasa dengan literasi. Namun bagaimana mau terbiasa bila gurunya saja tidak terbiasa dengan literasi. Intinya guru atau pendidik harus menjadi contoh terdepan.

Secara pribadi, karena saya adalah seorang pendidik di sekolah, saya tidak bercita-cita menjadi guru penulis ataupun guru penulis yang produktif atau bloger yang hebat, tetapi setidaknya saya ingin menjadi orang yang bisa menulis dan berbagi, yang ide-idenya bisa dibaca, dinikmati, diingat, dan tentu membawa manfaat bagi banyak orang, bukan terbatas hanya untuk kalangan pendidikan (tentu dari segi kualitas akan menjadi lebih relatif).

Menulis, selain butuh semangat dan ketekunan, memang perlu kesabaran ekstra. Jangan terburu-buru juga alias jangan tulis lalu dirilis begitu saja, karena tulisan / blog yang buru-buru diposting ke publik tanpa persiapan dan proses yang matang, maka hasilnya juga tidak akan memuaskan. Jika tidak memperhatikan segala sisi dan aspek yang mau ditulis atau tata bahasa (grammar), biasanya tulisan/blog kita hanya menjadi tulisan begitu saja, tidak memiliki nilai tambah. Sabar itulah kuncinya.

Namun demikian, kata seseorang: TULISLAH! Untuk pemula, tidak usah memikirkan masalah edit alias suntingan. Tulis saja dulu (tidak berarti langsung diposting begitu saja). Lain waktu bisa dicek ulang alias diperbaiki lagi. Kalau sudah yakin, barulah dirilis ke publik.

Sampai disini, apakah Anda bingung mau menulis apa? Saran saya, teruslah berlatih menulis. Sekali lagi, jangan takut membuat kesalahan, karena melalui kesalahan kita justru belajar. Sayapun terus belajar sampai saat ini. Bukankah practice makes perfect?

Karena itu, tulislah apa yang perlu Anda tulis. Tulislah apa yang Anda rasakan dan pikirkan. Menulis dengan hati jauh lebih baik dan lebih realistis ketimbang hanya karena gengsi alias sekedar untuk show off (pamer). Tapi tentu tidak semua perasaan harus dituangkan ke ranah publik. Dengan hikmat, kita perlu memilah mana yang wajar dan mana yang tidak wajar untuk dituangkan dalam kata-kata alias tulisan/blog di dunia maya.

Menulis, sukar nampaknya. Gampang sebenarnya. Asal kita tetap semangat, tetap rajin berlatih, terus belajar dan pantang menyerah, maka yakinlah kita akan tetap bisa menulis. Bakat memang penting, tapi bukan segalanya. Yang terpenting adalah terus berlatih, berlatih dan berlatih menulis.

Jadi, apakah MENULIS, IBARAT MAKAN DAN MINUM? Ya, bila Anda ingin tetap ada dan eksis menulis, jadikan menulis sebagai sebuah kebutuhan seperti makan dan minum. Apakah menulis perlu berpikir plus? Ya, bila ingin menjadi penulis hebat. Tidak juga, bila hanya ingin sekedar berbagi. Saya sudah membuktikannya. Bagaimana dengan Anda? Masih ragu untuk menulis? Kalau tidak dicoba sekarang, kapan lagi?

Semoga Bermanfaat!

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

26 thoughts on “Menulis, Ibarat Makan dan Minum (Tips Menulis Ala Desfortin)

    1. Sama-sama mas Agung.

      Sebenarnya saya masih sangat awam dalam dunia blogging. Blogger baru di tahun 2016 ini. Ngeblog aja baru 2 bulan ini. Saya ngeblog just for fun dan juga untuk mengabadikan beberapa momen penting saja atau sekedar berbagi. Blog ini juga adalah blog gado-gado, jadi wajar aja kalau kesannya kesana kemari nulisnya. Kontennya juga perlu dikembangkan lagi.

      Tulisan di atas juga sebenarnya terlalu panjang dan tidak ada sub titlenya, haha … namanya juga ala saya, kalau yang lain mah udah mantap/sistematis.

      Kayaknya, saya juga perlu belajar banyak dari orang muda seperti Anda, lulusan DKV kan? Blog saya ini belum terkelola dengan baik. Mungkin Anda punya saran?

      Terima kasih udah mampir.

      Suka

  1. Saya berfikiran yang sama, Om Desfortin (bingung mau panggil apa hehe). Menulis itu dirasa harus dilakukan minimal sering (?), dan sekali berhenti itu jadinya malah keterusan. Entah ya, kalau saya sih seperti itu..
    Oh iya, salam kenal dari vira. Barusan baca di sebelah, baru mulai ngeblog lagi di th 2016 ya om? Saya juga baru start lagi beberapa waktu ini hehe

    Disukai oleh 1 orang

  2. Halo Vira. Panggil saja seperti yang Anda suka asal jangan, mbak, hehe …. umur sayapun belum seberapa. Check aja di blog saya yang berjudul Antara Desfortin, Rudi, dan Luna Maya.

    Bagi saya, menulis itu yang pasti rahasianya harus dinikmati. Intinya tulis aja dulu. Kalau belum siap dirilis ke publik, jadikan saja draf dulu. Tapi kalau mau kontennya berkualitas, tentu harus banyak2 berlatih. Tulisan saya inipun belum apa-apa, harusnya dibuat listicle, supaya lebih bisa dinikmati.

    Saya ngeblog lagi sejak 24 Oktober 2016. Ayo kita terus menulis dan berbagi. Senang Anda sudah mampir di blog ini.

    Suka

  3. semakin ke sini (menulis di blog) aku merasa semakin perlu banyak membaca buku karena dirasa semakin banyak membaca buku dari berbagai penulis membuat tulisan kita semakin kaya. sampai saat ini sepertinya itulah yang saya yakini, salam kenal mas dari Banjarnegar hehehe

    Suka

    1. Ya. Anda benar. Banyak membaca sangat bermanfaat. Dan rajin membaca adalah alasan utama kesuksesan seorang bloger dalam menulis.

      Oya, saya lihat blog Anda khusus tentang budaya/pariwisata ya? Saya sekarang juga lagi persiapan menulis sejarah kampung halaman saya di Kalteng. Mau dibuat singkat/padat aja, tapi memang perlu banyak riset ternyata. Bagaimana pengalaman Anda menulis tema semacam itu?

      Disukai oleh 1 orang

      1. Sebenarnya tidak ada trik khusus, selama ini saya menulis apa yang saya tau dan sisanya merupakan info dari google. Memang, awal-awal tidaklah mudah namun seiring rutin terus menulis dan membaca toh akhirnya tulisan jadi lebih mengalir, jadi menurut saya pribadi ya tulis saja apa yang ada dalam pikiran anda, kecuali untuk lomba, mungkin perlu riset lebih mendetail hehehe, salam

        Suka

        1. Ya kalau lomba, kayaknya emang harus lebih hati2 / teliti lagi ya, walaupun belum tentu menang, hehe ….

          Kalau saya, karena motivasinya just for fun dan untuk mengarsipkan / mendokumentasikan pengetahuan saya, yaach… …. menulis saja (seperti yang Anda bilang).

          Siip, mari kita terus menulis!

          Disukai oleh 1 orang

  4. Wah ini nih yang keren, sambil jalan jalan dapat ilmu, sangat bermanfaat mas, bisa jadi pengetahuan baru buat saya ngeblog, soalnya tulisan saya masih hancur, kalo sobat berkenan kritik tulisan saya dong.

    Oh iya saya subcribe blog sobat ya…

    Disukai oleh 1 orang

    1. Nyantai aja mas, kita sama-sama belajar. Tulisan di ataspun masih ada beberapa kelemahannya. Salah satunya, harusnya dibuat listicle, sehingga alur berpikirnya enak dibaca. Itu jhasil saya awal2 saya negblog, mas. Tapi itulah tips ala saya (desfortin)

      Monggo mas kandafi, dengan senang hati.

      Suka

  5. wah keren nih isi postingnya, saya juga suka menulis. cuma tulisan yang saya buat hanya merupakan tulisan yang kebetulan ide dan isinya mengalir begitu saja maklum apalah saya hanya seorang ibu rumah tangga yang hobi menulisnya untuk sarana pelepas kangen menulis saja. 🙂 terimakasih untuk postingnya. monggo boleh mampir sekalian dibantu saran dan kritiknya kakak di blog saya. salam. Didi

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ok mbak Didi. Saya salut seorang IRT bisa sempat nulis. Istriku aja gak sempat, hehe … soalnya dia gak hobi juga sich.

      Menurut saya, yang penting happy, jangan menulis karena terpaksa.

      Ok, nanti saya jalan2 ke blog Anda ya, mbak. Senang bisa jadi teman.

      Semangat terus nulisnya, apapun status/pekerjaan kita.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s