4 PERTANYAAN SULIT?

Foto Orang Bingung.png

Di dunia ini ada banyak misteri. Ada misteri tentang Pencipta. Misteri tentang ciptaan (alam semesta). Misteri tentang misteri itu sendiri, dan lain sebagainya. Jadi, tidak semua hal bisa kita ketahui. Demikian kita sering berkata. Ada banyak pertanyaan di dunia ini, tapi tidak semua pertanyaan ada jawabannya. Benarkah demikian?

Kali ini saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sedikit lebih fokus dan lebih kritis. Mari kita sama-sama belajar. Benarkah ada pertanyaan yang sulit yang tak mampu dijawab oleh manusia? Menurut saya, atas semua misteri yang ada, sebenarnya jawabannya sudah ada, hanya manusia saja yang mungkin belum menemukan  jawabannya atau tidak mampu menemukan jawabannya.

Saya tidak tahu banyak hal. Saya juga tidak ahli dalam banyak hal. Itu pasti. Tapi saya tahu satu hal, bahwa ada pertanyaan mudah, lebih mudah, termudah; ada pertanyaan sulit, lebih sulit, dan tersulit.

Setelah belajar dan membaca banyak hal (tidak semua hal), maka saya mendapati ada beberapa pertanyaan sulit yang pernah ada, dimana sebagian orang merasa kesulitan menjawabnya. Benarkah itu pertanyaan sulit? Mari kita uji bersama. Karena itu,  teruslah membaca blog ini.

Berikut ini saya akan bagikan kepada Anda 4 (empat) pertanyaan yang dianggap “sulit” itu. Saya juga kemudian akan memberikan jawaban versi saya (tebak-tebak buah manggis). Andapun bisa berbagian.

1.    Darimana Asal Tuhan, Apakah Dia Tiba-Tiba Ada?
Semua keyakinan/agama membahas tentang konsep Tuhan. Walaupun berbeda-beda, tapi setiap agama meyakini bahwa Tuhan (Pencipta) itu adalah pribadi Yang Maha-kuasa, Maha-kekal, Maha-besar, Maha-baik, Maha-adil, Maha-benar dan Maha-segalanya.
Ketika ditanya kalau Tuhan itu ada, darimana ia berasal. Sebagian orang akan memberikan jawaban beragam.

Jawaban Mayoritas:

  • Keberadaan Tuhan itu adalah sumber segala keberadaan (Maka kemudian ada yang mengolok, kalau begitu keberaan dosa berarti bersumber dari Tuhan. Masa begitu?).
  • Ada juga yang menjawab, Tuhan itu tidak bisa dipahami pakai otak. Tuhan itu lebih besar daripada otak. Jadi, jangan pakai otak, tapi pakai iman.
  • Kita berdebat tentang keberadaan Tuhan itu tidak membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, tapi justru sebaliknya. Kalau Tuhan tidak ada ngapain berdebat tentang ketidakadaannya.
  • Argumen Ontologi, Argumen Kosmologis, Argumentasi Teleologis, Argumen Moral dan seterusnya.
  • Ada juga yang berargumen bahwa Tuhan tidak bisa dibuktikan lewat apapun, kecuali hati nurani kita. Hati nurani adalah wakil Tuhan. Kita tidak mungkin menyangkalnya, tapi menindasnya mungkin.

Ada banyak argumen tentang keberadaan Tuhan. Tapi ketika ditanya darimana asalnya Tuhan, maka sebagian orang, bahkan sebagian kaum “beragama” akan menjadi bisu.

Baiklah, saya (desfortin) sebagai seorang yang juga suka berlogika, akan memberikan jawaban berikut ini.

Desfortin Menjawab:
Untuk pertanyaan nomor 1, begini saya menjawabnya: Kalau Tuhan dari mana, berari ada tempat atau asal yang lebih besar daripada-Nya. Tempat apakah itu? Apakah Sorga? Lalu sorga dari mana? Dari Tuhan. Terus, Tuhan dari mana dong? Maka pertanyaannyapun tak akan berakhir.

Kalau Anda berkeyakinan bahwa Tuhan itu ada di dalam suatu ruang (space) dan waktu (time), maka pastilah konsep Anda tentang Tuhan akan keliru. Saya berkeyakinan bahwa Tuhan itu transenden (melampaui segala sesuatu). Ia berada di luar ruang dan waktu (beyond the time and space). Tanpa keyakinan itu, maka kita akan mengalami kesulitan sendiri. Kenapa? Karena Tuhanlah pencipta ruang dan waktu. Dalam konsep saya, dan dalam keyakinan kristen, Allah (pencipta) itu ada dari kekal sampai kekal. Kekal berarti tidak ada awal, tidak ada akhir. Memang, untuk membahas kekekalan, menurut saya, kita dengan otak/rasio yang terikat di dalam ruang dan waktu ini tak mungkin memahami kekekalan secara tuntas.

Lalu, dalam Alkitab pula dikatakan bahwa TUHAN adalah yang ada itu sendiri alias yang ada dari kekal sampai kekal. Kepada Musa dalam Keluaran 3:14, Ia menjawab, “AKU ADALAH AKU” (I am who I am). Berarti tidak ada yang duluan dari Dia, karena Dialah Sang mula/Sang Akhir atau Sang ADA itu sendiri. Berdasarkan keyakinan itu, maka Tuhan tidak bergantung pada apapun atau siapapun. Jadi, Tuhan itu Tuhan yang hidup dan berada serta bergantung pada dirinya sendiri (The Self-Dependent Living God).

Lebih lanjut, Tuhan adalah Pencipta, bukan ciptaan. Ciptaan pasti punya permulaan, tetapi Tuhan tidak. Karena kalau Tuhan diciptakan, berarti Dia bukan Sang Pencipta, karena kita meyakini bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta bahkan Yang Mahaesa, kecuali kalau Anda tidak meyakini konsep itu. Bagi saya, Tuhan yang dicipta adalah Tuhan yang palsu. Tapi itulah hebatnya otak manusia yang dicipta oleh Tuhan itu bisa menciptakan “Tuhan” dengan otaknya. Manusia bisa menciptakan “Tuhan” dengan sesuatu ciptaan Tuhan, yaitu otaknya.

Mudah sekali kan logikanya? Jadi, Tuhan tidak dicipta. Kalau Dia dicipta, berarti Dia adalah ciptaan.

Anda bisa jawab 2+ 5 = ?? Pasti mudahkan jawabannya, yakni 7. Pernahkan Anda bertanya, sejak kapankah 2 + 5 = 7 itu ada? Jawaban 7 adalah kebenaran bukan? Dimana-mana pasti jawabannya 7. Itu sudah ada sejak ada itu sendiri sebenarnya, bukan karena diciptakan di dalam sejarah dan hukum matematika. Kebenaran 2+5=7 itu sudah ada, tapi cara mencarinya kenapa bisa sampai dapat 7, baru ditemukan oleh ahli matematika/orang yang sudah berpikir tentang kebenaran itu.

Dalam ajaran Kristen juga, bahwa Allah adalah kebenaran. Bukan saja Allah itu sebagai sumber kebenaran, tapi Allah adalah kebenaran itu sendiri. Bagaimana membuktikan keberadaan Allah? Untuk membuktikan keberadaan Allah, bagi saya, itu adalah suatu kemustahilan. Kenapa? Karena alat untuk membuktikannya haruslah lebih besar daripada Allah. Namun demikian itu tidak berarti bahwa tidak ada bukti tentang keberadaan Allah (Mazmur 19:1-4; Pengkhotbah 3:11).

Jadi, kesimpulan saya untuk pertanyaan nomor 1 adalah: Tuhan tidak berasal dari mana, apalagi dari kapan,  tetapi justru mana (ruang) dan kapan (waktu) itu berasal dari Tuhan.

2.    Darimana Asal DOSA, Siapa Pencipta DOSA?
Pertanyaan nomor 2 ini dianggap sebagai salah satu pertanyaan tersulit dalam filsafat. Ini disebut sebagai the problem of evil. Darimana dosa berasal, dan siapa yang menciptakannya?

Jikalau kita jawab dosa itu berasal dari setan atau iblis, maka kita salahkan saja dia setelah kita melakukan perbuatan dosa, ngapain goda saya, dasar loe setan. Jika demikian, maka pertanyaan selanjutnya adalah Iblis atau setan itu berdosa oleh karena siapa? Jawabannya, ia berdosa dari setannya setan. Lalu, setannya setan berdosa karena siapa? Ujung-ujungnya, jika tidak dicermati, maka Tuhanlah yang akan kita kambing hitamkan sebagai biang kerok dosa. Kalau demikian maka kita sedang menuduh Tuhan bermotivasi jahat. Benarkah Tuhan bermotivasi jahat? MUSTAHIL!

Atas pertanyaan ini, lalu orang-orangpun menjawab:

  • Dosa tidak diciptakan oleh Allah. Namun dosa terjadi karena relasi antara Pencipta dan yang dicipta. Dimana ada perbedaan kualitas diantara keduanya sehingga terjadi suatu gap (celah) yang dapat menimbulkan dosa. Pada saat ciptaan tidak lagi berpusat kepada Sang Pencipta, maka pada saat itu pula terjadi Dosa.
  • Karya iblis adalah mencipta dosa, karya Allah adalah menghapus dosa. Itu sudah jelas!

Namun permasalahannya adalah bagaimana kaitannya dengan Kedaulatan Allah dan Kehendak Bebas (Free Will)? Mungkin blog ini dapat sedikit membantu Anda.

Desfortin Menjawab:
Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin terlebih dahulu menjawab asal muasal Iblis. Darimanakah Iblis dan setan-setan itu berasal? Dalam agama/keyakinan tertentu, Iblis itu berasal dari jin yang diciptakan Allah, yang kemudian berubah menjadi Iblis alias bapanya setan-setan. Dalam keyakinan lain pula dikatakan bahwa Iblis itu berasal dari raksasa yang diciptakan oleh dewa.

Sedangkan dalam doktrin/agama Kristen, sebelum dunia diciptakan, terlebih dahulu Tuhan menciptakan dunia roh/rohani/alam roh, termasuk malaikat-malaikat. Malaikat-malaikat diciptakan dengan free will di dalam kekekalan. Artinya malaikat diciptakan di luar ruang dan waktu. Diantara malaikat-malaikat itu, ada satu malaikat (kerap dikenal dengan julukan/nama Lucifer) yang memberontak kepada Tuhan Allah, dalam artian ingin menyamai Sang Pencipta. Itulah free will (kehendak bebas) yang diberikan oleh Tuhan kepadanya tapi kemudian disalahgunakannya.

Tindakan si Lucifer ini dianggap Tuhan sebagai sebuah pembangkangan/pemberontakan. Karena itu, Tuhan memvonisnya sebagai Iblis. Iblis (satan) artinya penantang/perintang kehendak Tuhan. Tindakan yang merintangi kehendak Tuhan itulah disebut sebagai tindakan/perbuatan dosa. Malaikat yang berdosa itu dianggap jatuh, bukan jatuh ke bawah, tapi jatuh ke atas. Masa ada jatuh ke atas? Dalam dunia fisik memang tidak ada, tapi di dalam dunia rohani, itu tidak mustahil. Malaikat yang memberontak itu saya anggap telah “jatuh ke atas”.

Maka sejak saat itu dosa ada. Tapi kita tahu tindakan demikian itu dosa karena Tuhan memberitahu kita. Jadi dosa tidak diciptakan Tuhan, tapi lebih bersifat menjadi (philosophy of becoming). Lebih lanjut, dosa adalah absensinya terang Tuhan. Jadi diibaratkan seperti Anda berada di bawah cahaya lampu. Di balik Anda/disamping Anda, ada bayang-bayang Anda. Pertanyaannya, bayang-bayang itu dicipta atau bagaimana? Ketika Anda bergerak, maka bayang-bayang Anda itupun ikut bergerak, namun tetap ada, apakah Anda menghadap bayang-bayang itu ataupun membelakanginya. Jadi dosa itu diibaratkan seperti bayang bayang itu. Dosa itu berada dimana terang tidak ada. Dalam istilah lain, DOSA berarti lepas dari target (missed the target) alias meleset dari sasaran.

Dari Surat Yakobus (pasal 1 : 13-15), kita juga mendapati sebuah jawaban yang lebih menguatkan bahwa dosa itu berasal dari dirinya ciptaan itu sendiri. Karena itu, saat dicobai atau saat manusia berdosa, jangan salahkan setan atau iblis apalagi orang lain. Dosa itu berasal dari dirinya diri. Dirinya diri yang tidak mau taat itulah membuat manusia berdosa. Yesus berkata,”Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”(Yoh 8:44).

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa dosa itu tidak diciptakan oleh Tuhan, tetapi berasal dari ciptaan itu sendiri. Ciptaan itu punya diri (self) yang berbeda dari dirinya Pencipta. Dosa berasal dari diri sendiri alias berasal dari dirinya diri yang tidak mau taat kepada dirinya Tuhan Allah sebagai Sang Pencipta sejati. Jika ditanya lagi, dirinya diri yang tidak mau taat itu berdosa darimana? Maka jawabannya adalah tetap: dari dirinya diri yang tidak mau taat itu. Masalahnya selesai (untuk sementara).

3.    Mampukah Tuhan menciptakan sebuah benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya?
Dalam pertanyaan ini sepertinya hendak menjebak kalau Tuhan itu seolah-olah tidak mahakuasa. Karena apabila Tuhan mampu menciptakan benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya, berarti Tuhan tidak maha-kuasa. Sedangkan bila kita jawab Tuhan tidak mampu melakukannya, maka berarti Tuhan pun tidak maha-kuasa karena tidak bisa menciptakan benda terberat di dunia.

Atas pertanyaan tersebut, lalu orang-orangpun mencoba menjawab. Berikut saya kutipkan beberapa jawaban tersebut:

  • Itu rahasia Tuhan, hanya Tuhan yang tahu, kau jangan bikin pertanyaan menyesatkan, mungkin benar kau termasuk kafir, mungkin kau ateis, ketahuilah bahwa manusia tidak sanggup melihat Tuhan, sepintar-pintar manusia takkan tahu siapa sesungguhnya Tuhan dan di mana tempat untuk menemukan-Nya.
  • Kalau Tuhan mau, apa yang tidak mungkin. Tuhan tidak mau terikat oleh logika seperti di atas. Karena Tuhan berada di atas logika.

Desfortin Menjawab:
Simple sebenarnya, saya tidak mau dipusingkan dengan pertanyaan nomor 3 ini. Bagi saya pertanyaan ini adalah illogical logic. Logika yang tidak logis. Nampak hebat dan logis tapi sebenarnya tidak hebat dan tidak logis. Kenapa? Karena pertanyaannya saja sudah keliru, maka jawabannyapun mustahil ada (kecuali Anda paksakan dan dibuat sesuai versi Anda, haha …).

Pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan berikut: Apakah ada bola yang persegi? Anda sudah mengerti maksud saya? Tidak mungkinkan ada kebenaran yang demikian. Yang namanya bola pasti bulat/bundar, mustahil bentuknya persegi. Kalau ada bola persegi, maka itu namanya illogical logic. Logika yang tidak masuk logika.

Pertanyaan nomor 3 ini adalah pertanyaan profesor ateis yang dalam sejarah filsafat sudah dipatahkan, sebenarnya tidak sulit-sulit amat. Pertanyaan ini, kalau kita tidak jeli, maka kita akan terjebak. Namun saya sudah membuka rahasianya.

4.   Mengapa Why Itu That?
Apa yang terlintas di pikiran Anda saat membaca pertanyaan nomor 4 ini? Bagi yang paham Bahasa Inggris, saya pikir tidak ada masalah. Tapi bagi yang tidak, mungkin harus belajar Bahasa Inggris dulu kali ya …

Ada beberapa teman saya, bahkan yang dari Jurusan Bahasa Inggris sekalipun, untuk pertama kalinya kaget dan merasa aneh dengan pertanyaan ini. Mereka bingung, kenapa pertanyaannya seperti itu. Mereka lalu memperhatikan kemudian meragukan pertanyaan tersebut, mereka bilang itu salah. Lalu saya tanya, apa pertanyaan yang benar? Mereka lalu menjelaskan harusnya pertanyaannya tidak begitu, tapi begini ….. dst.

Haha … sayapun ngakak. “Gitu aja kok repot” (sambil menirukan gaya Alm. Gusdur). Yang susah jangan dipersusah. Yang gak susah jangan dibuat susah! Bagi saya ini adalah pertanyaan Lebay dan jawabannyapun Lebay.

Desfortin Menjawab :
Karena Because Selalu Always Tidak Pernah Never.

Itulah jawaban saya. Simple, bukan? Sebenarnya dalam kalimat tersebut, tidak ada  pertanyaan ataupun jawaban samasekali. Hanya seolah-olah dibuat ada, apalagi dengan adanya tanda tanya (?) dan kata Karena. Itu hanya berupa padanan kata Bahasa Inggris dan artinya dalam Bahasa Indonesia. You see that? Itulah pertanyaan dan jawaban lebay yang saya maksudkan di atas. Bagian ini sengaja disisipkan dalam blog ini hanya sebagai twist saja, biar tidak tegang, haha …

Jadi, intinya untuk bisa memberikan jawaban, maka pertanyaannya atau pokok yang diajukan dipahami terlebih dahulu. Karena itu, sekali lagi, yang sulit jangan dipermudah. Yang mudah jangan dipersulit.

Last but not least
Selain beberapa pertanyaan di atas, mungkin masih banyak lagi pertanyaan yang sulit. Jawaban sayapun mungkin masih perlu penyempurnaan lagi. Bagaimana pendapat Anda atas pertanyaan-pertanyaan yang dianggap sulit di atas? Mungkin Anda punya jawaban yang berbeda atau lebih baik. Silakan tuliskan komentar Anda pada kotak komentar yang tersedia di bawah ini.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

19 thoughts on “4 PERTANYAAN SULIT?

    1. Ya. Itu adalah konsekuensi kalau kita menyakini bahwa Tuhan atau Allah adalah yang mahabesar/terbesar. Kalau ada yang lebih besar daripada Dia, baik secara ukuran fisik (andaikan) maupun non fisik, berarti Allah tidak mahabesar.

      Kita juga yakin Allah adalah yang mahaesa. Kalau Dia bisa menciptakan sesuatu yang sama besarnya atau sama sempurnanya dengan Dia apalagi lebih besar atau lebih sempurna daripada Dia, maka berarti Allah itu bisa dicipta. Kalau Allah bisa dicipta berarti ada Allah ciptaan. Kalau ada Allah ciptaan berarti Allah lebih dari satu. Bagi saya, Allah yang bisa dicipta pasti bukanlah Allah sejati.

      Disukai oleh 1 orang

  1. Berbicara tentang keberaan Tuhan memang tidak ada habisnya. Blog Anda ini cukup keras untuk dikunyah oleh orang awam.

    Saya memang agak bermasalah saat memahami pertanyaan nomor 2, ttg the problem of evil, kaitannya dengan kedaulatan Allah dan kehendak bebas. Mungkin bisa bung Desfortin lebih jelaskan?

    Suka

    1. Memang pertanyaan itu agak pelik. Menjelaskannya secara singkat dalam waktu yang singkat agaknya sulit dan terlalu naïf. Tapi baiklah, saya akan coba tambahkan penjelasannya.

      Kedaulatan Allah dan kehendak bebas tidak bertentangan sebenarnya. Keduanya saling melengkapi. Ada teolog (J.I. Packer), dia memakai istilah antimony, untuk memahami bagian ini. Antimony artinya adalah 2 kebenaran yang tampaknya tidak bersesuaian, tapi keduanya sama-sama ditopang oleh alasan yang kuat dan bukti yang jelas serta kuat sehingga layak untuk dipercaya, tetapi bagaimana mencocokan keduanya masih merupakan misteri.

      Namun begitu, kita perlu memahami bahwa manusia itu sudah jatuh ke dalam dosa. Sebelum jatuh ke dalam dosa (maksudnya sebelum kasus kejatuhan pertama di taman Eden itu), manusia memiliki kebebasan yang “netral”, maksudnya “bisa berdosa, bisa tidak berdosa”, tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka kebebasan manusia itu sudah tidak netral lagi. Kecenderungannya adalah berdosa terus (Total Depravity). Karenanya, manusia yang berdosa itu perlu anugerah Allah. Tanpa anugerah Allah, maka mustahil manusia bisa diselamatkan atau kembali kepada Kebenaran yang sesungguhnya.

      Jadi, ketika kita berbicara tentang dosa (atau dosa-dosa), kita juga tidak bisa lepas dan harus melihat fakta kejatuhan pertama kali Adam (dan Hawa) di taman Eden itu. Adam diberi “Kebebasan” untuk memilih (taat atau tidak taat), namun pilihan Adam memiliki konsekuensi yang akan diterimanya. Dan pada saat Adam memilih untuk tidak taat, maka pada saat itu Adam sudah tidak memiliki lagi kebebasan untuk memilih karena ia telah dikuasai oleh dosa (terbelenggu).

      Dengan pemahaman konsep di atas, maka hubungan antara Kedaulatan Allah, Kebebasan manusia, dan Anugerah Allah adalah bahwa manusia melakukansuatu perbuatan dosa tetap tidak bisa melebihi kedaulatan Allah (tidak melebihi ijin-Nya); kebebasan manusia yang telah disalahgunakannya itu membuatnya “binasa”. Hanya oleh Anugerah Allah (melalui penebusan Kristus), maka manusia itu bisa diselamatkan. Begitu menurut kebenaran Kristen arus utama.

      Menurut Bapa Gereja yang jenius, Augustinus, dosa masuk karena izin Allah yang efektif. Dia memakai istilah permission efficax (Allah secara efektif mengizinkan dosa). Allah mengizinkan dosa, namun manusia yang harus dipersalahkan, bukan Allah. Karena manusia berdosa dari keinginan dirinya yang jahat yang dibuahinya itu (Surat Yakobus 1:13-15).

      Begitu juga Yohanes Calvin mengatakan, bahwa manusia menghendaki suatu kehendak yang jahat, Allah menghendaki suatu kehendak yang baik.” Kejahatan yang berlawanan dengan kehendak Allah, tidak dilakukan tanpa “seizin” dari Allah, karena tanpa “seizin” Allah, hal itu sama sekali tidak mungkin terjadi.”

      Jadi, kesimpulannya kita tidak boleh menyalahkan Tuhan, kenapa Ia mengijinkan dosa masuk. Itu adalah wilayah/domain kedaulatan Tuhan. Kita tidak mungkin masuk ke ranah Tuhan apalagi menggugat-Nya.

      Suka

        1. Saya tidak pernah sekolah teologi formal, tapi kadang belajar teologi juga secara otodidak. Dulu waktu masih mahasiswa sering terlibat pelayanan kristen. Saat itu saya juga sering baca-baca buku teologi.

          Pemahaman saya belum seberapa. Saya lebih suka menyebut diri sebagai orang awam saja dalam teologi. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini.

          Mari kita saling belajar, berdiskusi untuk menguatkan.

          Suka

          1. Selain 4 pertanyaan di atas, saya punya satu pertanyaan lagi: Tuhan kan sering berjanji dalam kitab suci bahwa Ia akan mengabulkan doa-doa umatNya jika kita meminta dengan iman. Tapi kadang gak juga terkabul tu doa kita. Gimana dong? Layakkah kita kecewa kepadaNya?

            Suka

            1. Jika kita meminta dengan iman, maka pasti dikabulkan? Itu adalah konsep yang mungkin perlu sedikit diluruskan.

              Setahu saya, Tuhan tidak pernah janji bahwa semua doa umat-Nya pasti dipenuhi. Yang saya tahu adalah bahwa Tuhan selalu “mendengar” doa umat-Nya. Perkara dikabulkan atau tidak, ya tergantung Tuhan dan anugerah-Nya, karena Tuhan mahatahu dan mahabijaksana, maka Ia tahu pula yang terbaik bagi umat-Nya.

              Yang saya tahu juga, bahwa jawaban Tuhan adalah Ya, Tidak dan Tunggu. 3 hal itu adalah hal mungkin kita alami.

              Setahu saya juga, bahwa Tuhan bukan pengobral janji, dan Ia juga tidak berhutang apa2 pada kita. Justru kita sebaliknya.

              Kalau semua permintaan kita selalu dikabulkan-Nya, emang Tuhan jongos? Gak mungkin kan. Karena itu, tidak ada alasan untuk manusia kecewa kepada Tuhan. Justru manusia sendirilah yang sering mengecewakan Tuhan, saya kira.

              Disukai oleh 1 orang

              1. Sependapat bung.
                Manusia terlalu banyak menuntut kpd Tuhan, wajarlah bila kecewa selalu mendera. Semua akibat dr dirinya sendiri. “sumber dosa berasal dr diri kita sendiri yg bergesekan dg sifat/keinginan Tuhan” 😇

                Disukai oleh 1 orang

  2. Waduh topiknya berat. Gak sanggup otakku, apalgi dengan keterbatasanmu ini.
    Tapi 1 pertanyaan buat kamu Desfortin. Kamu yakin gak kalau orang bisu atau tuna wicara bisa sukses berkarir di dunia maya? Sulit gak pertanyaannya? Hehe ….
    Ditunggu jawabannya ya. Trm ksh

    Suka

    1. Untuk sukses itu sebenarnya bergantung dengan orangnya juga. Kalau orang itu Pede terus bermodal, maksudnya selain ada keinginan, dia juga punya sesuatu untuk diandalkan, maka kesuksesan itu sebenarnya sudah ada di depan mata, tinggal meraihnya saja.

      Anda tidak perlu merasa minder. Apapun kondisi Anda, sepanjang Anda bisa mengelola diri Anda dengan baik, saya yakin Anda bisa bisa. Karena itu, kenali dengan baik potensi Anda di duniamaya (internet), apa yang bisa Anda lakukan, lakukanlaj dengan sungguh dan tekat yang bulat.

      Memang, kesuksesan itu butuh perjuangan, mas. Tidak ada kesuksesan yang instan. Kalaupun ada, biasanya itu tidak awet alias tidak tahan lama.

      Untuk sukses berkarir di dunia maya memang tidak gampang, kita harus pandai membaca peluang, kalau tidak, memang agak berat.

      Menurut saya, sebaiknya jangan hanya fokus pada bidang dunia maya saja. Kenali potensi kita masing-masing. Kalau Anda punya kemampuan di bidang tertentu di luar dunia maya, saya pikir kenapa tidak ditekuni atau dicoba (bukan maksud saya melemahkan semangat Anda berjuang di dunia maya lo). Maksud saya, kita harus pandai membaca segala kemungkinan dan peluang yang ada.

      Begitu mas Jaja. Semoga bermanfaat saran saya ini.

      Disukai oleh 2 orang

  3. Ini yg sedang saya cari… banyak ilmu yg bisa didapat. Meski dr judul sedikit agak aneh menurut saya 😬
    Sebenarnya segala pertanyaan dapat dijawab, tergantung pengetahuan yg dimiliki setiap orang dan tingkat keimanannya.
    Kalau berbicara masalah rohani, tidak semua orang bisa menjawab sebab tingkat keimanannya berbeda2 dan tergantung ia melihat dr sisi mana. Kalau menalarnya dg otak dan pola pikir maka akan sulit, yg ada malah pusing. Tp jika mendengarnya dengan hati dan meletakkan segala pemahaman logikanya, dia akan mendapat jawaban. Karena sejatinya, hati adalah tempat Allah berlabuh.
    Tuhan pencipta dapat menciptakan Tuhan, logis tidak? apakah di alam semesta ini ada 2 Tuhan? tidak. Jika dinalar dengan logika. Namun, tidak mustahil bila Tuhan menciptakan Tuhan lain dr unsur dirinya. Sebab, bagian diri Tuhan ada di setiap ciptaan.

    Percaya atau tidak silahkan. Jawaban ini versi saya. Dan saat ini saya sedang mendalami ilmu ketauhid-an.

    Btw salam kenal desfortin😃

    Suka

    1. Maaf, komentarnya baru ditanggapi, karena wi-fi di tempat saya baru “sembuh”, jadi 2 hari ini tidak bisa daring.

      Oya, seharusnya, judulnya 3 Pertanyaan Sulit? Atau, bagimana menurut Anda?

      Apapun itu, pada hakikatnya, saya tidak sedang memperdebatkan atau mempertanyakan konsep Tuhan dalam berbagai agama, karena setiap agama, atau mungkin saya lebih suka menyebutnya setiap penafsir, biasanya punya konsep masing2, dan konsep itu mustahil tanpa dipengaruhi oleh faktor keyakinan dan faktor belajar yang diperolehnya, entah itu dari para penafsir / ahli agama, buku2 logika atau filsafat atau faktor x lainnya. Disini saya hanya mencoba menalar, bahwa 3 pertanyaan di atas yang dianggap sulit itu, menurut saya tidak sulit2 amat, masih banyak soal lain yang jauh lebih sulit daripada itu, itu intinya. That’s my point.

      Makanya saya mencoba ikutan untuk menjawabnya. Jawaban saya itupun belum tentu benar (walau saya bisa mengklaimnya benar), dan tidak merepresentasikan kebenaran itu sendiri, sebab kebenaran jauh lebih besar dari konsep rasio manusia, begitu juga mungkin jawaban komentator lainnya. Kunci jawabannya saya juga tidak punya, hanya saya berlagak mengetahuinya, hahaha… itu sebabnya saya mengunggah tulisan ini, supaya bisa didiskusikan, tapi bukan ajang untuk membenarkan agama masing2 apalagi debat kusir. Moga2 dengan diskusi, kita bisa diberikan iluminasi (pencerahan) sehingga kita bisa bereaksi dengan benar terhadap kebenaran atau Tuhan yang benar. Karena manusia adalah bukan apa yg ia pikirkan, rasakan, lakukan, apalagi apa yang ia makan, tapi manusia adalah bagaimana atau apa yang ia reaksi di hadapan Pencipta/Tuhannya (man is what he reacts before God).

      Terhadap tanggapan Anda di atas, begini tanggapan saya:

      Menurut keyakinan saya (bkn agama saya), bahwa kita harus rasional, tapi tak perlu jadi rasionalist, apalagi berlagak seolah-olah rasionalist, pun rohaniah. Rasional artinya memfungsikan rasio semaksimal mungkin. Ada prinsip logika yang harus kita pakai. Logika gak mungkin dibuang hanya karena alasan rohani, iman dan hati. Tapi maksud saya begini: kita sadar, bahwa rasio (logika) itu tidak mungkin menjawab semua hal, hanya logika (rasio) Tuhan yg bisa melakukannya. Kenapa? Karena rasio manusia terbatas, kenapa terbatas? Karena ia tercipta. Ciptaan bukan Pencipta. Karena itu, kita tak boleh jadi rasionalis, karena rasionalis cenderung memperilah logika.
      Begitu juga dengan hati dan segala keyakinan atau keimanan kita, itu juga bukan segalanya, Tuhan jauh lebih besar dari semua yang ada pada manusia, jadi hal itu tak bisa menjawab semua pertanyaan. Jadi, intinya adalah, gunakan rasio (nalar), iman dan hati kita seperlunya (sesuai prinsip/tuntunan kebenaran).
      Menurut saya, Tuhan (Pencipta) mustahil bisa mencipta Tuhan lain, karena itu pasti melanggar kodratNya. Kalau menciptakan unsur lain di luar dirinya, pasti bisa. Tapi itu namanya bukan mencipta Tuhan (Pencipta) lain. Itu namanya mencipta ciptaan lain dari unsur diriNya. Sebab kalau Ia mencipta Tuhan lain yg sama persis, berarti Tuhan tidak Mahaesa lagi, karena ada Tuhan lain. Karena ada Tuhan lain yang dicipta berarti ada Tuhan ciptaan. Terus kalau Tuhan bisa dicipta, maka Ia tidak mahasempurna lagi, karena mahasempurna berarti tidak ada lawan/bandingnya.

      Tapi itulah hebatnya otak manusia. Dengan otaknya yg tercipta itu, dia bisa menciptakan ciptaan lain bahkan mencipta Tuhan (konsep Tuhan bkn hakikat Tuhan itu sendiri). Bukan cuma itu, manusia juga bisa menciptakan dogma/doktrin agama (bukan sifat/benih agama, karena sifat/benih agama sedari awal memang sudah ditanamkan Pencipta dlm diri manusia).

      Tuhan bisa dicipta? Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, menurut saya, Tuhan ciptaan pasti bukan Tuhan sejati (Tuhan tak sejati itu memang ada dan itu buatan manusia). Tapi Tuhan sejati mustahil dicipta. Terus diapain dong? Tuhan tidak diapain apalagi diadain. God exists because God exists not because of our concept about God’s existence.

      Makanya saya katakan Pencipta (Tuhan) itu tidak ada ada asal usulnya. Ia tidak berasal dari mana apalagi dari kapan, justru sebaliknya, karena Tuhan tak mungkin berada dlm proses itu. Tuhan berada melampaui proses itu karena Ia kekal. Hanya materi dan ciptaan yang punya asal usul (termasuk manusia), yakni berasal dari Pencipta Sejati.

      Siapa Pencipta sejati itu? Ini akan menjadi bahasan baru lagi, dan saat ini kita tidak sedang membahas mana Tuhan sejati dan palsu.

      Menurut keyakinan dasar saya, mustahil kita mengerti kebenaran apalagi Tuhan tanpa wahyu. Sekalipun pakai wahyu, itu pun cuma sebagian saja. Kita tahu karena kita dimungkinkan tahu, tapi itu tahu seperlunya. Karena hanya Pencipta Sejati yang Mahatahu/Mahabijaksana.

      Wahyu? Koq wahyu? Konsep wahyu saya mungkin berbeda dengan konsep umum (mungkin …). Saya meyakini adanya 2 wahyu, bukan Wahyudi atau Wahyuni, tapi Wahyu Umum (alam semesta beserta segala isinya termasuk segala hukum/dalil2nya) dan Wahyu Khusus (Kitab Suci, dimna terdapat pernyataan khusus Tuhan melalui firman tertulisNya yg bisa dibaca, diselidiki dan diimani).

      Masalahnya adalah, banyak pihak mengklaim punya wahyu, khususnya wahyu khusus. Wahyu ini yg benar, yg itu salah. Kitab ini yang benar, kitab itu yang salah, dst. Demikian kita menilai/menghakimi (mungkin berdebat).

      Anehnya, masing2 kitab itu mengklaim dirinya punya kebenaran, tapi kadang malah cenderung menghakimi yang lain, bahkan cenderung kontradiksi/bertentangan. Karena itu hanya ada 2 bahkan 3 kemungkinan. Pertama, “ada satu yang benar/paling benar”, atau kedua, “dua2nya benar” (sesuai konteks/persepsinya masing2) atau yg ketiga, “dua2nya memang salah”. Tapi bagaimanapun, menurut saya, pasti ada wahyu khusus yg sejati. Apa dan mana itu? Tentu ini akan menjadi isu baru lagi, dan saat ini kita tidak sedang membahasnya.

      Oke, non, itu jawaban nalar ala desfortin ya. Maaf, karena saya guru dan saya agak cerewet juga menggurui.

      Bagaimanapun saya senang mendengar orang sedang mendalami suatu ilmu (apapun itu). Mau dijadikan referensi atau diabaikan komentar saya ini, tak apa, toh kita cuma diskusi, bukan? Terima kasih atas komentarnya di blog ini. Silakan berkomentar pula di blog2 saya lainnya. Senang bila mendapatkan masukan2 baru. Sebab itu akan baik bagi saya agar saya tidak jadi seperti “katak dalam tempurung”, yang konsepnya biasanya cenderung statis alias tidak dinamis. Apapun komentar orang akan saya hargai (sepanjang itu jujur). Jadi, jangan sungkan berpendapat!

      Salam kenal juga prilaprily ✌✌

      Suka

  4. Aku mau nanggapin poin kedua ya, terutama soal asal usul setan/iblis (karena ada mengulas soal itu)…
    Aku pernah baca artikel dari pengkhobah yang aktif debat alkitab di medsos beberapa tahun lalu,,,
    Mungkin bisa jadi sudut pandang yang berbeda…
    Artikelnya masih ada di internet… aku copy paste ya…
    agak panjang tulisannya…..

    =====

    Apakah Tuhan menciptakan setan?
    Ini merupakan pertanyaan bagi orang Kristen, dan bagi sebagian besar orang Kristen akan menjawab tentu tidak! Namun jika kita ingin mencari tahu bagaimana setan itu bisa ada, kita nantinya akan menemukan jawaban dari dua sudut pandang yang berbeda. (Jika anda keberatan membaca penjelasan artikel ini, anda bisa langsung saja menuju kesimpulan dari artikel ini)

    Pada sebuah seminar pendalaman Alkitab, beberapa waktu lalu, saya menanyakan kepada audiens yang hadir pertanyaan berikut: “Di dalam Kitab Perjanjian Lama, ada berapa kali tokoh setan atau iblis disebutkan? Untuk membantu audiens, saya kemudian memberikan pilihan. Apakah diatas 50 kali dituliskan, atau di atas 300 kali itu dituliskan di Alkitab. dan coba anda tebak, ternyata hampir semua audiens menjawab lebih dari 300 kali, dan hanya sedikit yang menjawab diatas 50 kali.

    Saya kemudian memberikan jawaban yang sebenarnya, yang ternyata jawaban yang tepat adalah tokoh setan atau Iblis hanya 15 kali disebutkan di dalam kitab Perjanjian Lama. Bahkan dari 39 buku Perjanjian Lama, tokoh iblis atau setan hanya disebutkan di dalam 3 buku, yaitu: 1 Tawarik, Ayub, dan Zakharia.

    Kemudian ada beberapa audiens ada yang protes, protesnya seperti ini : “bagaimana dengan cerita yang ada di Kejadian pasal 3 tentang kejatuhan manusia?”. Saya menjawab “coba baca baik-baik apakah ada disebutkan setan atau iblis dalam pasal itu?”. Sebab menurut saya tidak pernah ada disebutkan Iblis atau Setan dalam teks Kejadian Pasal 3, dan yang ada hanyalah di sebutkan “ular”.

    Asal usul kata Setan (שָׂטָן)
    Dalam bahasa Ibrani, kata Setan (שָׂטָן) originalnya berarti Musuh, Lawan, dan Pendakwa. Contohnya kita bisa lihat dari Kitab Bilangan pasal 22:22; 22:32 (dimana kata setan atau שָׂטָן pertama kali disebutkan) kata setan disebutkan sebagai lawan.
    “Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai LAWANNYA (לְשָׂטָן – le’ Satan). Bileam mengendarai keledainya yang betina dan dua orang bujangnya ada bersama-sama dengan dia.” – Bilangan 22:22
    Kemudian, sebagai contoh berikut kata “setan” digunakan dalam artian sebagai “dakwaan”.
    “Biarlah orang-orang yang MENDAKWA (שׂוֹטְנַי – sotnay) aku berpakaikan noda, dan berselimutkan malunya sebagai jubah”. – Mazmur 109:29
    Berdasarkan contoh-contoh ayat diatas, (dan masih banyak lagi) kita temukan disana bahwa, kata שָׂטָן (STN) pada awalnya belum merupakan suatu bentuk wujud pribadi atau tokoh yang selama ini kita kenal sebagai Setan atau Iblis.

    Evolusi Setan : Asal usul munculnya tokoh Setan dalam kitab Perjanjian Lama

    Pada zaman Israel kuno, sekitar abad ke 10 SM, bangsa Israel mempercayai beraneka ragam Tuhan, bahkan ada kelompok masyarakat yang mempercayai Yahweh beristrikan dewi kesuburan Ashera /1/ yang kemudian lambat laun konsep Tuhan Bagi masyarakat Israel dari yang percaya kepada banyak Tuhan (henotheism) tiba kepada konsep hanya ada satu Tuhan (monoteisme), /2/ yang mana Yahweh adalah pemilik kuasa tunggal dan absolut (omnipotent) dimana semua fenomena yang terjadi di muka bumi ini, baik itu musim hujan, musim kemarau, badai, musim panen, musim kering, ataupun segala sesuatu yang baik, bahkan yang buruk, semuanya itu datang dari TUHAN. Pertanyaannya : “Apa ada contoh dari kitab Perjanjian Lama, yang menyatakan bahwa sesuatu yang buruk atau yang jahat itu juga berasal dari Tuhan?” Ternyata Ada! Lihat contoh-contoh dibawah ini :

    “Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN”. – 1 Samuel 16:14
    “Yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang (רָע וּבוֹרֵא create evil) ; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini”. – Yesaya 45:7
    Dalam konsep monoteisme bangsa Israel dan Yehuda, Tuhan memiliki kuasa yang mutlak. Bahkan TUHAN juga bertanggung jawab atas segala yang buruk yang terjadi dalam kehidupan manusia, yang sekarang ini kita anggap dilakukan oleh Setan.

    Situasi dan Kondisi setelah Israel keluar dari Mesir

    Dalam perjalanan sejarah bangsa Israel, cerita tentang bebasnya mereka dari perbudakan di Mesir, dianggap sebagai suatu perbuatan tangan Tuhan yang dahsyat. Atas kerpercayaan inilah mereka percaya Tuhan akan senantiasa melindungi mereka dengan kekuatanNya yang ajaib, sebagaimana Ia tunjukan ketika membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Tapi pada kenyataannya, mereka mengalami suatu malapetaka yang besar di kemudian hari. Mereka di invasi oleh Asyur dan Babilon. Hidup dalam pembuangan membuat para pemikir-pemikir Yahudi pada saat itu berkesimpulan, bahwa semua malapetaka yang Tuhan datangkan ini (Amos 4) adalah akibat dari pelanggaran (seperti menyembah berhala) yang dilakukan oleh bangsa Israel (Ratapan 1:4-5). Karena itu sebagai solusi, untuk menghilangkan semua malapetaka itu, mereka harus membuat suatu reformasi keagamaan. Persis itulah yang dilakukan ketika mereka kembali dari pembuangan (Nehemia 8:2-4)

    Lahirnya Paham Apokaliptik

    Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah setelah mereka kembali menduduki tanah air mereka, setelah dari pembuangan, dan telah mengadakan reformasi keagamaan, dengan kembali menuruti akan segala hukum-hukum dan ketetapan Tuhan, mereka untuk selamanya akan terbebas dari malapetaka-malapetaka?
    Ternyata fakta sejarah berbicara lain, Kerajaan Yunani kemudian datang untuk berkuasa. Terlebih ketika wilayah Palestina dikuasai oleh Anthiokus Ephipanes.
    Orang-orang Yahudi kembali mengalami penderitaan yang hebat. Bahkan Kaabah yang mereka bangun sebagai tanda reformasi keaagamaan mereka, di “najiskan” semasa pemerintahan Anthiokus Ephipanes. Apa yang salah sekarang ini? Bukankah mereka telah melakukan reformasi keagamaan? Bukankah mereka telah kembali menuruti segala ketetapan –ketetapan dan hukum Tuhan, yang mana mereka dulu mereka percaya bahwa karena melanggar semua ini maka bencana-bencana tersebut muncul?
    Mencermati keadaan seperti ini, kembali para pemikir Yahudi ingin mencari dan mendapatkan suatu penjelasan, mengapa ini semua bisa terjadi. Hasilnya, lahir lah suatu paham yang disebut paham “Apokaliptik” (dari bahasa Yunani yang berarti “Pengungkapan”) mereka menemukan bahwa, ternyata ada peperangan yang terjadi dalam kosmik ini, yaitu antara kuasa yang baik dan kuasa yang jahat dan ini semua terjadi diluar dari pemahaman manusia. Jika kuasa yang baik itu direpresentasikan dengan (tokoh) Tuhan demikian juga lawannya, yaitu kuasa kejahatan harus direpresentasikan juga dengan suatu sosok.
    Saat inilah setan atau iblis sebagai suatu sosok atau tokoh muncul ke permukaan konflik mereka. Mereka akhirnya mengerti bahwa penderitaan yang mereka alami adalah akibat dari pengaruh kuasa yang jahat, yang saat itu (present age) atas persetujuan Tuhan menguasai bumi ini yang suatu saat nanti (age to come) Tuhan akan secara tiba-tiba menghancurkan kerajaan jahat itu dan akan menggantikan dengan kerajaanNya dan memerintah untuk selamanya.
    Pada abad ke 3 SM inilah, munculnya tulisan-tulisan apokaliptik yang coba menerangkan bahwa ternyata ada kuasa kegelapan yang sebenarnya adalah sumber dari semua malapetaka-malapetaka yang terjadi. Kitab-kitab seperti Henokh, Wisdom, Sirach, dan lain-lain bahkan kitab-kitab seperti sebagian kitab Tawarik, Ayub, Zakaria, (termasuk juga Daniel) juga diproduksi pada masa ini, yang menjadikan tokoh Iblis sebagai biang keladi dari semua penderitaan yang menimpa orang benar. Dalam buku Slavonic Book of Enoch, xxix. 4, Setan disebutkan, (sebagaimana yang kita tahu sekarang) mulanya adalah seorang pemimpin dari para Malaikat yang kemudian jatuh. Juga disitu disebutkan bagaimana Hawa tertipu oleh tipu muslihat dari Iblis yang berwujud sebagai ular.

    Kesimpulan

    Dari sudut pandang teologi, sosok Setan adalah sumber dari segala kekacauan yang terjadi di dunia ini. Ia yang dulunya adalah pemimpin dari para malaikat, oleh karena kesombongan dan keangkuhannya ia kemudian jatuh dan memimpin pemberontakan melawan Tuhan. Namun dilihat dari sudut pandang sejarah (historical) dari bukti temuan literatur kuno yang kita miliki saat ini, tokoh setan sebenarnya baru muncul mulai dari abad ke-3, hasil dari suatu revolusi filosofis dan adaptasi budaya (pengaruh konsep dewa Angra Mainyu dari Zoroastrianism) /3/, yang mencoba mencermati suatu keadaan yang sulit dari suatu pertanyaan mengapa orang benar tetap menderita. Gambaran Ini bahkan bisa terlihat dari 2 ayat dari 2 kitab yang berbeda berikut ini:
    “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.” –1 Tawarikh 21:1
    “Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.” –2 Samuel 24:1
    Jika diperhatikan baik-baik , kedua ayat dari kedua kitab ini menceritakan hal yang sama. Namun perbedaannya adalah Kitab Tawarikh adalah hasil produksi sekitar abad ke-3 SM. zaman dimana paham apokaliptik muncul, yang dipengaruhi oleh konsep Zorotarianisme, jika dalam 2 Samuel 24:1 disebutkan Tuhan yang menghasut Daud maka dalam 1 Tawarik 21:1 yang membujuk Daud adalah Iblis. Artinya, dari bukti literatur yang ada kita bisa pastikan bahwa pada zamam Daud (10 SM) sampai dengan masa pembuangan di Babylon orang-orang Israel dan Yehuda belum mengenal dan mengetahui sosok yang kemudian disebut sebagai Setan. (Dave Tielung)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s