4 Pertanyaan Sulit?

Sumber Gambar: gotquestions.org

Di dunia ini ada banyak misteri. Ada misteri tentang Pencipta. Misteri tentang ciptaan (alam semesta). Misteri tentang misteri itu sendiri, dan lain sebagainya. Jadi, tidak semua hal bisa kita ketahui. Demikian kita sering berkata. Ada banyak pertanyaan di dunia ini, tapi tidak semua pertanyaan ada jawabannya.

Benarkah demikian?

Kali ini saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sedikit lebih fokus dan lebih kritis. Mari kita sama-sama belajar. Benarkah ada pertanyaan yang sulit yang tak mampu dijawab oleh manusia?

Menurut saya, atas semua misteri yang ada, sebenarnya jawabannya sudah ada, hanya manusia saja yang mungkin belum menemukan  jawabannya atau tidak mampu menemukan jawabannya.

Saya tidak tahu banyak hal. Saya juga tidak ahli dalam banyak hal. Itu pasti. Tapi saya tahu satu hal, bahwa ada pertanyaan mudah, lebih mudah, termudah; ada pertanyaan sulit, lebih sulit, dan tersulit.

Setelah belajar dan membaca banyak hal (tidak semua hal), maka saya mendapati ada beberapa pertanyaan sulit yang pernah ada, dimana sebagian orang merasa kesulitan menjawabnya. Benarkah itu pertanyaan sulit? Mari kita uji bersama. Karena itu,  teruslah membaca blog ini.

Berikut ini saya akan bagikan kepada Anda 4 (empat) pertanyaan yang dianggap “sulit” itu. Saya juga kemudian akan memberikan jawaban versi saya. Andapun bisa berbagian.

#1. Darimana Asal Tuhan, Apakah Dia Tiba-Tiba Ada?
Semua keyakinan/agama membahas tentang konsep Tuhan. Walaupun berbeda-beda, tapi setiap agama meyakini bahwa Tuhan (Pencipta) itu adalah pribadi Yang Maha-kuasa, Maha-kekal, Maha-besar, Maha-baik, Maha-adil, Maha-benar dan Maha-segalanya.

Ketika ditanya kalau Tuhan itu ada, darimana Ia berasal? Maka sebagian orang akan memberikan jawaban yang beragam.

Jawaban Mayoritas:

  • Keberadaan Tuhan itu adalah sumber segala keberadaan (Maka kemudian ada yang mengolok, kalau begitu keberaan dosa berarti bersumber dari Tuhan. Masa begitu?).
  • Ada juga yang menjawab, Tuhan itu tidak bisa dipahami pakai otak. Tuhan itu lebih besar daripada otak. Jadi, jangan pakai otak, tapi pakai iman.
  • Kita berdebat tentang keberadaan Tuhan itu tidak membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, tapi justru sebaliknya. Kalau Tuhan tidak ada ngapain berdebat tentang ketidakadaannya.
  • Argumen Ontologi, Argumen Kosmologis, Argumentasi Teleologis, Argumen Moral dan seterusnya.
  • Ada juga yang berargumen bahwa Tuhan tidak bisa dibuktikan lewat apapun, kecuali hati nurani kita. Hati nurani adalah wakil Tuhan. Kita tidak mungkin menyangkalnya, tapi menindasnya mungkin.

Ada banyak argumen tentang keberadaan Tuhan. Tapi ketika ditanya darimana asalnya Tuhan, maka sebagian orang, bahkan sebagian kaum “beragama” akan menjadi bisu.

Baiklah, saya (desfortin) sebagai seorang yang juga suka berlogika, akan memberikan jawaban berikut ini.

Desfortin Menjawab:
Untuk pertanyaan nomor 1, begini saya menjawabnya: Kalau Tuhan dari mana, berarti ada tempat atau asal yang lebih besar daripada-Nya. Tempat apakah itu? Apakah Sorga? Lalu sorga dari mana? Dari Tuhan. Terus, Tuhan dari mana dong? Maka pertanyaannyapun tak akan berakhir.

Kalau Anda berkeyakinan bahwa Tuhan itu ada di dalam suatu ruang (space) dan waktu (time), maka pastilah konsep Anda tentang Tuhan akan keliru. Saya berkeyakinan bahwa Tuhan itu transenden (melampaui segala sesuatu). Ia berada di luar ruang dan waktu (beyond the time and space). Tanpa keyakinan itu, maka kita akan mengalami kesulitan sendiri. Kenapa? Karena Tuhanlah pencipta ruang dan waktu.

Dalam konsep saya, dan dalam keyakinan kristen, Allah (pencipta) itu ada dari kekal sampai kekal. Kekal berarti tidak ada awal, tidak ada akhir. Memang, untuk membahas kekekalan, menurut saya, kita dengan otak/rasio yang terikat di dalam ruang dan waktu ini tak mungkin memahami kekekalan secara tuntas.

Lalu, dalam Alkitab pula dikatakan bahwa TUHAN adalah yang ada itu sendiri alias yang ada dari kekal sampai kekal. Kepada Musa dalam Keluaran 3:14, Ia menjawab, “AKU ADALAH AKU” (I am who I am). Berarti tidak ada yang duluan dari Dia, karena Dialah Sang mula/Sang Akhir atau Sang ADA itu sendiri.

Berdasarkan keyakinan itu, maka Tuhan tidak bergantung pada apapun atau siapapun. Jadi, Tuhan itu Tuhan yang hidup dan berada serta bergantung pada dirinya sendiri (The Self-Dependent Living God).

Lebih lanjut, Tuhan adalah Pencipta, bukan ciptaan. Ciptaan pasti punya permulaan, tetapi Tuhan tidak. Karena kalau Tuhan diciptakan, berarti Dia bukan Sang Pencipta, karena kita meyakini bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta bahkan Yang Mahaesa, kecuali kalau Anda tidak meyakini konsep itu. Bagi saya, Tuhan yang dicipta adalah Tuhan yang palsu. Tapi itulah hebatnya otak manusia yang dicipta oleh Tuhan itu bisa menciptakan “Tuhan” dengan otaknya. Manusia bisa menciptakan “Tuhan” dengan sesuatu ciptaan Tuhan, yaitu otaknya.

Mudah sekali kan logikanya? Jadi, Tuhan tidak dicipta. Kalau Dia dicipta, berarti Dia adalah ciptaan.

Anda bisa jawab 2+ 5 = ?? Pasti mudahkan jawabannya, yakni 7. Pernahkan Anda bertanya, sejak kapankah 2 + 5 = 7 itu ada? Jawaban 7 adalah kebenaran bukan? Dimana-mana pasti jawabannya 7. Itu sudah ada sejak ada itu sendiri sebenarnya, bukan karena diciptakan di dalam sejarah dan hukum matematika. Kebenaran 2+5=7 itu sudah ada, tapi cara mencarinya kenapa bisa sampai dapat 7, baru ditemukan oleh ahli matematika/orang yang sudah berpikir tentang kebenaran itu.

Dalam ajaran Kristen juga, bahwa Allah adalah kebenaran. Bukan saja Allah itu sebagai sumber kebenaran, tapi Allah adalah kebenaran itu sendiri. Bagaimana membuktikan keberadaan Allah? Untuk membuktikan keberadaan Allah, bagi saya, itu adalah suatu kemustahilan. Kenapa? Karena alat untuk membuktikannya haruslah lebih besar daripada Allah. Namun demikian itu tidak berarti bahwa tidak ada bukti tentang keberadaan Allah (Mazmur 19:1-4; Pengkhotbah 3:11).

Jadi, kesimpulan saya untuk pertanyaan nomor 1 adalah: Tuhan tidak berasal dari mana, apalagi dari kapan,  tetapi justru mana (ruang) dan kapan (waktu) itu berasal dari Tuhan.

#2. Darimana Asal DOSA, Siapa Pencipta DOSA?
Pertanyaan nomor 2 ini dianggap sebagai salah satu pertanyaan tersulit dalam filsafat. Ini disebut sebagai the problem of evil. Darimana dosa berasal, dan siapa yang menciptakannya?

Jikalau kita jawab dosa itu berasal dari setan atau iblis, maka kita salahkan saja dia setelah kita melakukan perbuatan dosa, ngapain goda saya, dasar loe setan. Jika demikian, maka pertanyaan selanjutnya adalah Iblis atau setan itu berdosa oleh karena siapa? Jawabannya, ia berdosa dari setannya setan. Lalu, setannya setan berdosa karena siapa? Ujung-ujungnya, jika tidak dicermati, maka Tuhanlah yang akan kita kambing hitamkan sebagai biang kerok dosa. Kalau demikian maka kita sedang menuduh Tuhan bermotivasi jahat. Benarkah Tuhan bermotivasi jahat? MUSTAHIL!

Atas pertanyaan ini, lalu orang-orangpun menjawab:

  • Dosa tidak diciptakan oleh Allah. Namun dosa terjadi karena relasi antara Pencipta dan yang dicipta. Dimana ada perbedaan kualitas diantara keduanya sehingga terjadi suatu gap (celah) yang dapat menimbulkan dosa. Pada saat ciptaan tidak lagi berpusat kepada Sang Pencipta, maka pada saat itu pula terjadi Dosa.
  • Karya iblis adalah mencipta dosa, karya Allah adalah menghapus dosa. Itu sudah jelas!

Namun permasalahannya adalah, bagaimana kaitannya dengan Kedaulatan Allah dan Kehendak Bebas (Free Will)? Mungkin blog ini dapat sedikit membantu Anda.

Desfortin Menjawab:
Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin terlebih dahulu menjawab asal muasal Iblis. Darimana kah Iblis dan setan-setan itu berasal? Dalam agama/keyakinan tertentu, Iblis itu berasal dari jin yang diciptakan Allah, yang kemudian berubah menjadi Iblis alias bapanya setan-setan. Dalam keyakinan lain pula dikatakan bahwa Iblis itu berasal dari raksasa yang diciptakan oleh dewa.

Sedangkan dalam doktrin/agama Kristen, sebelum dunia diciptakan, terlebih dahulu Tuhan menciptakan dunia roh/rohani/alam roh, termasuk malaikat-malaikat. Malaikat-malaikat diciptakan dengan free will di dalam kekekalan. Artinya malaikat diciptakan di luar ruang dan waktu. Diantara malaikat-malaikat itu, ada satu malaikat (kerap dikenal dengan julukan/nama Lucifer) yang memberontak kepada Tuhan Allah, dalam artian ingin menyamai Sang Pencipta. Itulah free will (kehendak bebas) yang diberikan oleh Tuhan kepadanya tapi kemudian disalahgunakannya.

Tindakan si Lucifer ini dianggap Tuhan sebagai sebuah pembangkangan/pemberontakan. Karena itu, Tuhan memvonisnya sebagai Iblis. Iblis (satan) artinya penantang/perintang kehendak Tuhan. Tindakan yang merintangi kehendak Tuhan itulah disebut sebagai tindakan/perbuatan dosa. Malaikat yang berdosa itu dianggap jatuh, bukan jatuh ke bawah, tapi jatuh ke atas. Masa ada jatuh ke atas? Dalam dunia fisik memang tidak ada, tapi di dalam dunia rohani, itu tidak mustahil. Malaikat yang memberontak itu saya anggap telah “jatuh ke atas”.

Maka sejak saat itu dosa ada. Tapi kita tahu tindakan demikian itu dosa karena Tuhan memberitahu kita. Jadi dosa tidak diciptakan Tuhan, tapi lebih bersifat menjadi (philosophy of becoming). Lebih lanjut, dosa adalah absensinya terang Tuhan. Jadi diibaratkan seperti Anda berada di bawah cahaya lampu. Di balik Anda/disamping Anda, ada bayang-bayang Anda. Pertanyaannya, bayang-bayang itu dicipta atau bagaimana? Ketika Anda bergerak, maka bayang-bayang Anda itupun ikut bergerak, namun tetap ada, apakah Anda menghadap bayang-bayang itu ataupun membelakanginya. Jadi, dosa itu diibaratkan seperti bayang bayang itu. Dosa itu berada dimana terang tidak ada. Dalam istilah lain, DOSA berarti lepas dari target (missed the target) alias meleset dari sasaran.

Dari Surat Yakobus (Pasal 1 : 13-15), kita juga mendapati sebuah jawaban yang lebih menguatkan bahwa dosa itu berasal dari dirinya ciptaan itu sendiri. Karena itu, saat dicobai atau saat manusia berdosa, jangan salahkan setan atau iblis apalagi orang lain. Dosa itu berasal dari dirinya diri. Dirinya diri yang tidak mau taat itulah membuat manusia berdosa. Yesus berkata,”Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”(Yoh 8:44).

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa dosa itu tidak diciptakan oleh Tuhan, tetapi berasal dari ciptaan itu sendiri. Ciptaan itu punya diri (self) yang berbeda dari dirinya Pencipta. Dosa berasal dari diri sendiri alias berasal dari dirinya diri yang tidak mau taat kepada dirinya Tuhan Allah sebagai Sang Pencipta sejati. Jika ditanya lagi, dirinya diri yang tidak mau taat itu berdosa darimana? Maka jawabannya adalah tetap: dari dirinya diri yang tidak mau taat itu. Masalahnya selesai (untuk sementara).

#3. Mampukah Tuhan menciptakan sebuah benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya?
Dalam pertanyaan ini sepertinya hendak menjebak kalau Tuhan itu seolah-olah tidak mahakuasa. Karena apabila Tuhan mampu menciptakan benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya, berarti Tuhan tidak maha-kuasa. Sedangkan bila kita jawab Tuhan tidak mampu melakukannya, maka berarti Tuhan pun tidak maha-kuasa karena tidak bisa menciptakan benda terberat di dunia.

Atas pertanyaan tersebut, lalu orang-orangpun mencoba menjawab. Berikut saya kutipkan beberapa jawaban tersebut:

  • Itu rahasia Tuhan, hanya Tuhan yang tahu, kau jangan bikin pertanyaan menyesatkan, mungkin benar kau termasuk kafir, mungkin kau ateis, ketahuilah bahwa manusia tidak sanggup melihat Tuhan, sepintar-pintar manusia takkan tahu siapa sesungguhnya Tuhan dan di mana tempat untuk menemukan-Nya.
  • Kalau Tuhan mau, apa yang tidak mungkin. Tuhan tidak mau terikat oleh logika seperti di atas. Karena Tuhan berada di atas logika.

Desfortin Menjawab:
Simple sebenarnya, saya tidak mau dipusingkan dengan pertanyaan nomor 3 ini. Bagi saya pertanyaan ini adalah illogical logic. Logika yang tidak logis. Nampak hebat dan logis tapi sebenarnya tidak hebat dan tidak logis. Kenapa? Karena pertanyaannya saja sudah keliru, maka jawabannyapun mustahil ada (kecuali Anda paksakan dan dibuat sesuai versi Anda, haha …).

Pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan berikut: Apakah ada bola yang persegi? Anda sudah mengerti maksud saya? Tidak mungkinkan ada kebenaran yang demikian. Yang namanya bola pasti bulat/bundar, mustahil bentuknya persegi. Kalau ada bola persegi, maka itu namanya illogical logic. Logika yang tidak masuk logika.

Pertanyaan nomor 3 ini adalah pertanyaan profesor ateis yang dalam sejarah filsafat sudah dipatahkan, sebenarnya tidak sulit-sulit amat. Pertanyaan ini, kalau kita tidak jeli, maka kita akan terjebak. Namun saya sudah membuka rahasianya.

#4. Mengapa Why Itu That?
Apa yang terlintas di pikiran Anda saat membaca pertanyaan nomor 4 ini? Bagi yang paham Bahasa Inggris, saya pikir tidak ada masalah. Tapi bagi yang tidak, mungkin harus belajar Bahasa Inggris dulu kali ya …

Ada beberapa teman saya, bahkan yang dari Jurusan Bahasa Inggris sekalipun, untuk pertama kalinya kaget dan merasa aneh dengan pertanyaan ini. Mereka bingung, kenapa pertanyaannya seperti itu. Mereka lalu memperhatikan kemudian meragukan pertanyaan tersebut, mereka bilang itu salah. Lalu saya tanya, apa pertanyaan yang benar? Mereka lalu menjelaskan harusnya pertanyaannya tidak begitu, tapi begini ….. dst.

Haha … sayapun ngakak. “Gitu aja kok repot” (sambil menirukan gaya Alm. Gusdur). Yang susah jangan dipersusah. Yang gak susah jangan dibuat susah! Bagi saya ini adalah pertanyaan Lebay dan jawabannyapun Lebay.

Desfortin Menjawab :
Karena Because Selalu Always Tidak Pernah Never.

Itulah jawaban saya. Simple, bukan? Sebenarnya dalam kalimat tersebut, tidak ada  pertanyaan ataupun jawaban samasekali. Hanya seolah-olah dibuat ada, apalagi dengan adanya tanda tanya (?) dan kata Karena. Itu hanya berupa padanan kata Bahasa Inggris dan artinya dalam Bahasa Indonesia. You see that? Itulah pertanyaan dan jawaban lebay yang saya maksudkan di atas. Bagian ini, mohon maaf, sengaja disisipkan dalam blog ini hanya sebagai twist saja, biar tidak tegang, haha …

Jadi, intinya untuk bisa memberikan jawaban, maka pertanyaannya atau pokok yang diajukan dipahami terlebih dahulu. Karena itu, sekali lagi, yang sulit jangan dipermudah. Yang mudah jangan dipersulit.

Last but not least
Selain beberapa pertanyaan di atas, mungkin masih banyak lagi pertanyaan yang sulit. Jawaban sayapun mungkin masih perlu penyempurnaan lagi.

Bagaimana pendapat Anda atas pertanyaan-pertanyaan yang dianggap sulit di atas? Mungkin Anda punya jawaban yang berbeda atau lebih baik. Silakan tuliskan komentar Anda pada kotak komentar yang tersedia di bawah ini.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

38 tanggapan untuk “4 Pertanyaan Sulit?

    1. Ya. Itu adalah konsekuensi kalau kita menyakini bahwa Tuhan atau Allah adalah yang mahabesar/terbesar. Kalau ada yang lebih besar daripada Dia, baik secara ukuran fisik (andaikan) maupun non fisik, berarti Allah tidak mahabesar.

      Kita juga yakin Allah adalah yang mahaesa. Kalau Dia bisa menciptakan sesuatu yang sama besarnya atau sama sempurnanya dengan Dia apalagi lebih besar atau lebih sempurna daripada Dia, maka berarti Allah itu bisa dicipta. Kalau Allah bisa dicipta berarti ada Allah ciptaan. Kalau ada Allah ciptaan berarti Allah lebih dari satu. Bagi saya, Allah yang bisa dicipta pasti bukanlah Allah sejati.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Saya ingin bertanya, sebelumnya maaf lancang. Pertanyaan sya kita tinggal di Negara kesatuan republik Indonesia atau biasa disebut (NKRI). Beragam ras,culture dan 5 agama yang telah diakui Indonesia dan dimna agama Islam TUHANnya Allah dan Kristen TUHANnya Yesus dan adapun keyakinan agama yang lain. Terus pertanyaan saya, TUHAN agamanya apa ?
        Terimah kasih.

        Suka

        1. Santai saja Nuralim. Anda tidak perlu minta maaf. Setiap pertanyaan pasti ada jawabannya. Slma penanya jujur ingin jawaban atas prtnyaannya, tentu sy bersedia utk menjawabnya, ntah pertnyaannya bermutu atau pun sebaliknya :)))

          Baiklah, sy respons ya.
          Secara konstitusi mmang agama yg diakui ya sprti itu, tp scra kbnaran sjati ntah diakui atau tdk diakui kbnaran mah tak perlu diakui. Emas murni, baik diakui sbgai emas ataulun tdk, tak akn mngubah esensi emas murni tsb, bgtupun halnya dg agama dan kyakinan.

          Slnjutnya, Islam punya Tuhannya Allah dan Kristen punya Tuhannya Yesus itu klaim Anda loh. Kristen jg mngakui Allah itu Tuhannya.

          Nah, utk prtnyaan terakhir TUHAN punya agama itu sprtinya blog di atas ataupun tnggapan2 sy di kolom.komentar blm Anda pahami. Masa TUHAN punya agama. Ngapain Tuhan punya agama. Jd sy pikir, pertanyaannya tdk tajam sama skli. Sama sprti pernyataan siapa pncipta Tuhan? Sy sdh jlskan, bhwa klau Tuhan itu bisa dicipta berarti ia bkn Tuhan sjati. Sebab Tuhan sjati itu tdk dicipta. Klau bs dicipta, berarti ia Tuhan ciptaan, dan Tuhan ciptaan jlas adlh Tuhan plsu.

          Ok demikian jwaban singkat sya. Silakan ajukan sja prtnyaan yg Anda anggap tersulit. Dg rasio yg jujur smoga bisa kita membahasnya. Trmksh

          Suka

      2. biasanya saya mulai bingung membayangkan bagaimana kok tiba2 ada TUHAN,,, bagaimana prosesnya dari tidak ada menjadi ada.

        namun ternyata gitu ya cara berpikirnya, TUHAN di luar konsep logika itu. kalo TUHAN ada proses menjadi ada, berarti dia dicipta juga. bukan TUHAN berarti.

        lalu kadang saya juga membayangkan bagaimana jika tidak ada TUHAN, tidak ada alam semesta, tidak ada saya, tidak ada semuanya. jadi, kosong semuanya,,, ngga ribet. ngga ribet mikir cari uang, ngga ribet nyicil mobil, motor, rumah, ngga ribet mikir sakit, ngga ribet mikir mati.

        tapi itu ngga mungkin.

        yang jelas sekarang ada orang hidup, diciptakan oleh TUHAN, untuk hidup di dunia, diatur untuk beribadah, berbuat baik, dan suatu saat nanti mati. di kubur di tanah. dan akan dihidupkan kembali.

        ya, saya ciptaan, logikanya ya logika ciptaan/makhluk.

        trimakasih atas penjelasannya mas.

        Suka

        1. Yup, trnyata Anda ckup menangkap logika yg sy tuliskan di atas.

          Kita tahu bhwa kita adlh ciptaan dan Tuhan Pencipta adlah krn wahyu. Dari wahyulah kita tahu itu semua. Tnpa wahyu mustahil kita bicara ttg Tuhan dsb.

          Dan logikanya jg, bhwa logika yg kita bhas adlh logika d dlm wahyu dan ciptaan, klau di luar itu bkn mnjadi ranah kita lg.

          Suka

  1. Berbicara tentang keberaan Tuhan memang tidak ada habisnya. Blog Anda ini cukup keras untuk dikunyah oleh orang awam.

    Saya memang agak bermasalah saat memahami pertanyaan nomor 2, ttg the problem of evil, kaitannya dengan kedaulatan Allah dan kehendak bebas. Mungkin bisa bung Desfortin lebih jelaskan?

    Suka

    1. Memang pertanyaan itu agak pelik. Menjelaskannya secara singkat dalam waktu yang singkat agaknya sulit dan terlalu naïf. Tapi baiklah, saya akan coba tambahkan penjelasannya.

      Kedaulatan Allah dan kehendak bebas tidak bertentangan sebenarnya. Keduanya saling melengkapi. Ada teolog (J.I. Packer), dia memakai istilah antimony, untuk memahami bagian ini. Antimony artinya adalah 2 kebenaran yang tampaknya tidak bersesuaian, tapi keduanya sama-sama ditopang oleh alasan yang kuat dan bukti yang jelas serta kuat sehingga layak untuk dipercaya, tetapi bagaimana mencocokan keduanya masih merupakan misteri.

      Namun begitu, kita perlu memahami bahwa manusia itu sudah jatuh ke dalam dosa. Sebelum jatuh ke dalam dosa (maksudnya sebelum kasus kejatuhan pertama di taman Eden itu), manusia memiliki kebebasan yang “netral”, maksudnya “bisa berdosa, bisa tidak berdosa”, tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka kebebasan manusia itu sudah tidak netral lagi. Kecenderungannya adalah berdosa terus (Total Depravity). Karenanya, manusia yang berdosa itu perlu anugerah Allah. Tanpa anugerah Allah, maka mustahil manusia bisa diselamatkan atau kembali kepada Kebenaran yang sesungguhnya.

      Jadi, ketika kita berbicara tentang dosa (atau dosa-dosa), kita juga tidak bisa lepas dan harus melihat fakta kejatuhan pertama kali Adam (dan Hawa) di taman Eden itu. Adam diberi “Kebebasan” untuk memilih (taat atau tidak taat), namun pilihan Adam memiliki konsekuensi yang akan diterimanya. Dan pada saat Adam memilih untuk tidak taat, maka pada saat itu Adam sudah tidak memiliki lagi kebebasan untuk memilih karena ia telah dikuasai oleh dosa (terbelenggu).

      Dengan pemahaman konsep di atas, maka hubungan antara Kedaulatan Allah, Kebebasan manusia, dan Anugerah Allah adalah bahwa manusia melakukansuatu perbuatan dosa tetap tidak bisa melebihi kedaulatan Allah (tidak melebihi ijin-Nya); kebebasan manusia yang telah disalahgunakannya itu membuatnya “binasa”. Hanya oleh Anugerah Allah (melalui penebusan Kristus), maka manusia itu bisa diselamatkan. Begitu menurut kebenaran Kristen arus utama.

      Menurut Bapa Gereja yang jenius, Augustinus, dosa masuk karena izin Allah yang efektif. Dia memakai istilah permission efficax (Allah secara efektif mengizinkan dosa). Allah mengizinkan dosa, namun manusia yang harus dipersalahkan, bukan Allah. Karena manusia berdosa dari keinginan dirinya yang jahat yang dibuahinya itu (Surat Yakobus 1:13-15).

      Begitu juga Yohanes Calvin mengatakan, bahwa manusia menghendaki suatu kehendak yang jahat, Allah menghendaki suatu kehendak yang baik.” Kejahatan yang berlawanan dengan kehendak Allah, tidak dilakukan tanpa “seizin” dari Allah, karena tanpa “seizin” Allah, hal itu sama sekali tidak mungkin terjadi.”

      Jadi, kesimpulannya kita tidak boleh menyalahkan Tuhan, kenapa Ia mengijinkan dosa masuk. Itu adalah wilayah/domain kedaulatan Tuhan. Kita tidak mungkin masuk ke ranah Tuhan apalagi menggugat-Nya.

      Suka

        1. Saya tidak pernah sekolah teologi formal, tapi kadang belajar teologi juga secara otodidak. Dulu waktu masih mahasiswa sering terlibat pelayanan kristen. Saat itu saya juga sering baca-baca buku teologi.

          Pemahaman saya belum seberapa. Saya lebih suka menyebut diri sebagai orang awam saja dalam teologi. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini.

          Mari kita saling belajar, berdiskusi untuk menguatkan.

          Suka

          1. Selain 4 pertanyaan di atas, saya punya satu pertanyaan lagi: Tuhan kan sering berjanji dalam kitab suci bahwa Ia akan mengabulkan doa-doa umatNya jika kita meminta dengan iman. Tapi kadang gak juga terkabul tu doa kita. Gimana dong? Layakkah kita kecewa kepadaNya?

            Suka

            1. Jika kita meminta dengan iman, maka pasti dikabulkan? Itu adalah konsep yang mungkin perlu sedikit diluruskan.

              Setahu saya, Tuhan tidak pernah janji bahwa semua doa umat-Nya pasti dipenuhi. Yang saya tahu adalah bahwa Tuhan selalu “mendengar” doa umat-Nya. Perkara dikabulkan atau tidak, ya tergantung Tuhan dan anugerah-Nya, karena Tuhan mahatahu dan mahabijaksana, maka Ia tahu pula yang terbaik bagi umat-Nya.

              Yang saya tahu juga, bahwa jawaban Tuhan adalah Ya, Tidak dan Tunggu. 3 hal itu adalah hal mungkin kita alami.

              Setahu saya juga, bahwa Tuhan bukan pengobral janji, dan Ia juga tidak berhutang apa2 pada kita. Justru kita sebaliknya.

              Kalau semua permintaan kita selalu dikabulkan-Nya, emang Tuhan jongos? Gak mungkin kan. Karena itu, tidak ada alasan untuk manusia kecewa kepada Tuhan. Justru manusia sendirilah yang sering mengecewakan Tuhan, saya kira.

              Disukai oleh 1 orang

              1. Sependapat bung.
                Manusia terlalu banyak menuntut kpd Tuhan, wajarlah bila kecewa selalu mendera. Semua akibat dr dirinya sendiri. “sumber dosa berasal dr diri kita sendiri yg bergesekan dg sifat/keinginan Tuhan” 😇

                Disukai oleh 1 orang

  2. Waduh topiknya berat. Gak sanggup otakku, apalgi dengan keterbatasanmu ini.
    Tapi 1 pertanyaan buat kamu Desfortin. Kamu yakin gak kalau orang bisu atau tuna wicara bisa sukses berkarir di dunia maya? Sulit gak pertanyaannya? Hehe ….
    Ditunggu jawabannya ya. Trm ksh

    Suka

    1. Untuk sukses itu sebenarnya bergantung dengan orangnya juga. Kalau orang itu Pede terus bermodal, maksudnya selain ada keinginan, dia juga punya sesuatu untuk diandalkan, maka kesuksesan itu sebenarnya sudah ada di depan mata, tinggal meraihnya saja.

      Anda tidak perlu merasa minder. Apapun kondisi Anda, sepanjang Anda bisa mengelola diri Anda dengan baik, saya yakin Anda bisa bisa. Karena itu, kenali dengan baik potensi Anda di duniamaya (internet), apa yang bisa Anda lakukan, lakukanlaj dengan sungguh dan tekat yang bulat.

      Memang, kesuksesan itu butuh perjuangan, mas. Tidak ada kesuksesan yang instan. Kalaupun ada, biasanya itu tidak awet alias tidak tahan lama.

      Untuk sukses berkarir di dunia maya memang tidak gampang, kita harus pandai membaca peluang, kalau tidak, memang agak berat.

      Menurut saya, sebaiknya jangan hanya fokus pada bidang dunia maya saja. Kenali potensi kita masing-masing. Kalau Anda punya kemampuan di bidang tertentu di luar dunia maya, saya pikir kenapa tidak ditekuni atau dicoba (bukan maksud saya melemahkan semangat Anda berjuang di dunia maya lo). Maksud saya, kita harus pandai membaca segala kemungkinan dan peluang yang ada.

      Begitu mas Jaja. Semoga bermanfaat saran saya ini.

      Disukai oleh 2 orang

  3. Ini yg sedang saya cari… banyak ilmu yg bisa didapat. Meski dr judul sedikit agak aneh menurut saya 😬
    Sebenarnya segala pertanyaan dapat dijawab, tergantung pengetahuan yg dimiliki setiap orang dan tingkat keimanannya.
    Kalau berbicara masalah rohani, tidak semua orang bisa menjawab sebab tingkat keimanannya berbeda2 dan tergantung ia melihat dr sisi mana. Kalau menalarnya dg otak dan pola pikir maka akan sulit, yg ada malah pusing. Tp jika mendengarnya dengan hati dan meletakkan segala pemahaman logikanya, dia akan mendapat jawaban. Karena sejatinya, hati adalah tempat Allah berlabuh.
    Tuhan pencipta dapat menciptakan Tuhan, logis tidak? apakah di alam semesta ini ada 2 Tuhan? tidak. Jika dinalar dengan logika. Namun, tidak mustahil bila Tuhan menciptakan Tuhan lain dr unsur dirinya. Sebab, bagian diri Tuhan ada di setiap ciptaan.

    Percaya atau tidak silahkan. Jawaban ini versi saya. Dan saat ini saya sedang mendalami ilmu ketauhid-an.

    Btw salam kenal desfortin😃

    Suka

    1. Maaf, komentarnya baru ditanggapi, karena wi-fi di tempat saya baru “sembuh”, jadi 2 hari ini tidak bisa daring.

      Oya, seharusnya, judulnya 3 Pertanyaan Sulit? Atau, bagimana menurut Anda?

      Apapun itu, pada hakikatnya, saya tidak sedang memperdebatkan atau mempertanyakan konsep Tuhan dalam berbagai agama, karena setiap agama, atau mungkin saya lebih suka menyebutnya setiap penafsir, biasanya punya konsep masing2, dan konsep itu mustahil tanpa dipengaruhi oleh faktor keyakinan dan faktor belajar yang diperolehnya, entah itu dari para penafsir / ahli agama, buku2 logika atau filsafat atau faktor x lainnya. Disini saya hanya mencoba menalar, bahwa 3 pertanyaan di atas yang dianggap sulit itu, menurut saya tidak sulit2 amat, masih banyak soal lain yang jauh lebih sulit daripada itu, itu intinya. That’s my point.

      Makanya saya mencoba ikutan untuk menjawabnya. Jawaban saya itupun belum tentu benar (walau saya bisa mengklaimnya benar), dan tidak merepresentasikan kebenaran itu sendiri, sebab kebenaran jauh lebih besar dari konsep rasio manusia, begitu juga mungkin jawaban komentator lainnya. Kunci jawabannya saya juga tidak punya, hanya saya berlagak mengetahuinya, hahaha… itu sebabnya saya mengunggah tulisan ini, supaya bisa didiskusikan, tapi bukan ajang untuk membenarkan agama masing2 apalagi debat kusir. Moga2 dengan diskusi, kita bisa diberikan iluminasi (pencerahan) sehingga kita bisa bereaksi dengan benar terhadap kebenaran atau Tuhan yang benar. Karena manusia adalah bukan apa yg ia pikirkan, rasakan, lakukan, apalagi apa yang ia makan, tapi manusia adalah bagaimana atau apa yang ia reaksi di hadapan Pencipta/Tuhannya (man is what he reacts before God).

      Terhadap tanggapan Anda di atas, begini tanggapan saya:

      Menurut keyakinan saya (bkn agama saya), bahwa kita harus rasional, tapi tak perlu jadi rasionalist, apalagi berlagak seolah-olah rasionalist, pun rohaniah. Rasional artinya memfungsikan rasio semaksimal mungkin. Ada prinsip logika yang harus kita pakai. Logika gak mungkin dibuang hanya karena alasan rohani, iman dan hati. Tapi maksud saya begini: kita sadar, bahwa rasio (logika) itu tidak mungkin menjawab semua hal, hanya logika (rasio) Tuhan yg bisa melakukannya. Kenapa? Karena rasio manusia terbatas, kenapa terbatas? Karena ia tercipta. Ciptaan bukan Pencipta. Karena itu, kita tak boleh jadi rasionalis, karena rasionalis cenderung memperilah logika.
      Begitu juga dengan hati dan segala keyakinan atau keimanan kita, itu juga bukan segalanya, Tuhan jauh lebih besar dari semua yang ada pada manusia, jadi hal itu tak bisa menjawab semua pertanyaan. Jadi, intinya adalah, gunakan rasio (nalar), iman dan hati kita seperlunya (sesuai prinsip/tuntunan kebenaran).
      Menurut saya, Tuhan (Pencipta) mustahil bisa mencipta Tuhan lain, karena itu pasti melanggar kodratNya. Kalau menciptakan unsur lain di luar dirinya, pasti bisa. Tapi itu namanya bukan mencipta Tuhan (Pencipta) lain. Itu namanya mencipta ciptaan lain dari unsur diriNya. Sebab kalau Ia mencipta Tuhan lain yg sama persis, berarti Tuhan tidak Mahaesa lagi, karena ada Tuhan lain. Karena ada Tuhan lain yang dicipta berarti ada Tuhan ciptaan. Terus kalau Tuhan bisa dicipta, maka Ia tidak mahasempurna lagi, karena mahasempurna berarti tidak ada lawan/bandingnya.

      Tapi itulah hebatnya otak manusia. Dengan otaknya yg tercipta itu, dia bisa menciptakan ciptaan lain bahkan mencipta Tuhan (konsep Tuhan bkn hakikat Tuhan itu sendiri). Bukan cuma itu, manusia juga bisa menciptakan dogma/doktrin agama (bukan sifat/benih agama, karena sifat/benih agama sedari awal memang sudah ditanamkan Pencipta dlm diri manusia).

      Tuhan bisa dicipta? Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, menurut saya, Tuhan ciptaan pasti bukan Tuhan sejati (Tuhan tak sejati itu memang ada dan itu buatan manusia). Tapi Tuhan sejati mustahil dicipta. Terus diapain dong? Tuhan tidak diapain apalagi diadain. God exists because God exists not because of our concept about God’s existence.

      Makanya saya katakan Pencipta (Tuhan) itu tidak ada ada asal usulnya. Ia tidak berasal dari mana apalagi dari kapan, justru sebaliknya, karena Tuhan tak mungkin berada dlm proses itu. Tuhan berada melampaui proses itu karena Ia kekal. Hanya materi dan ciptaan yang punya asal usul (termasuk manusia), yakni berasal dari Pencipta Sejati.

      Siapa Pencipta sejati itu? Ini akan menjadi bahasan baru lagi, dan saat ini kita tidak sedang membahas mana Tuhan sejati dan palsu.

      Menurut keyakinan dasar saya, mustahil kita mengerti kebenaran apalagi Tuhan tanpa wahyu. Sekalipun pakai wahyu, itu pun cuma sebagian saja. Kita tahu karena kita dimungkinkan tahu, tapi itu tahu seperlunya. Karena hanya Pencipta Sejati yang Mahatahu/Mahabijaksana.

      Wahyu? Koq wahyu? Konsep wahyu saya mungkin berbeda dengan konsep umum (mungkin …). Saya meyakini adanya 2 wahyu, bukan Wahyudi atau Wahyuni, tapi Wahyu Umum (alam semesta beserta segala isinya termasuk segala hukum/dalil2nya) dan Wahyu Khusus (Kitab Suci, dimna terdapat pernyataan khusus Tuhan melalui firman tertulisNya yg bisa dibaca, diselidiki dan diimani).

      Masalahnya adalah, banyak pihak mengklaim punya wahyu, khususnya wahyu khusus. Wahyu ini yg benar, yg itu salah. Kitab ini yang benar, kitab itu yang salah, dst. Demikian kita menilai/menghakimi (mungkin berdebat).

      Anehnya, masing2 kitab itu mengklaim dirinya punya kebenaran, tapi kadang malah cenderung menghakimi yang lain, bahkan cenderung kontradiksi/bertentangan. Karena itu hanya ada 2 bahkan 3 kemungkinan. Pertama, “ada satu yang benar/paling benar”, atau kedua, “dua2nya benar” (sesuai konteks/persepsinya masing2) atau yg ketiga, “dua2nya memang salah”. Tapi bagaimanapun, menurut saya, pasti ada wahyu khusus yg sejati. Apa dan mana itu? Tentu ini akan menjadi isu baru lagi, dan saat ini kita tidak sedang membahasnya.

      Oke, non, itu jawaban nalar ala desfortin ya. Maaf, karena saya guru dan saya agak cerewet juga menggurui.

      Bagaimanapun saya senang mendengar orang sedang mendalami suatu ilmu (apapun itu). Mau dijadikan referensi atau diabaikan komentar saya ini, tak apa, toh kita cuma diskusi, bukan? Terima kasih atas komentarnya di blog ini. Silakan berkomentar pula di blog2 saya lainnya. Senang bila mendapatkan masukan2 baru. Sebab itu akan baik bagi saya agar saya tidak jadi seperti “katak dalam tempurung”, yang konsepnya biasanya cenderung statis alias tidak dinamis. Apapun komentar orang akan saya hargai (sepanjang itu jujur). Jadi, jangan sungkan berpendapat!

      Salam kenal juga prilaprily ✌✌

      Suka

  4. Aku mau nanggapin poin kedua ya, terutama soal asal usul setan/iblis (karena ada mengulas soal itu)…
    Aku pernah baca artikel dari pengkhobah yang aktif debat alkitab di medsos beberapa tahun lalu,,,
    Mungkin bisa jadi sudut pandang yang berbeda…
    Artikelnya masih ada di internet… aku copy paste ya…
    agak panjang tulisannya…..

    =====

    Apakah Tuhan menciptakan setan?
    Ini merupakan pertanyaan bagi orang Kristen, dan bagi sebagian besar orang Kristen akan menjawab tentu tidak! Namun jika kita ingin mencari tahu bagaimana setan itu bisa ada, kita nantinya akan menemukan jawaban dari dua sudut pandang yang berbeda. (Jika anda keberatan membaca penjelasan artikel ini, anda bisa langsung saja menuju kesimpulan dari artikel ini)

    Pada sebuah seminar pendalaman Alkitab, beberapa waktu lalu, saya menanyakan kepada audiens yang hadir pertanyaan berikut: “Di dalam Kitab Perjanjian Lama, ada berapa kali tokoh setan atau iblis disebutkan? Untuk membantu audiens, saya kemudian memberikan pilihan. Apakah diatas 50 kali dituliskan, atau di atas 300 kali itu dituliskan di Alkitab. dan coba anda tebak, ternyata hampir semua audiens menjawab lebih dari 300 kali, dan hanya sedikit yang menjawab diatas 50 kali.

    Saya kemudian memberikan jawaban yang sebenarnya, yang ternyata jawaban yang tepat adalah tokoh setan atau Iblis hanya 15 kali disebutkan di dalam kitab Perjanjian Lama. Bahkan dari 39 buku Perjanjian Lama, tokoh iblis atau setan hanya disebutkan di dalam 3 buku, yaitu: 1 Tawarik, Ayub, dan Zakharia.

    Kemudian ada beberapa audiens ada yang protes, protesnya seperti ini : “bagaimana dengan cerita yang ada di Kejadian pasal 3 tentang kejatuhan manusia?”. Saya menjawab “coba baca baik-baik apakah ada disebutkan setan atau iblis dalam pasal itu?”. Sebab menurut saya tidak pernah ada disebutkan Iblis atau Setan dalam teks Kejadian Pasal 3, dan yang ada hanyalah di sebutkan “ular”.

    Asal usul kata Setan (שָׂטָן)
    Dalam bahasa Ibrani, kata Setan (שָׂטָן) originalnya berarti Musuh, Lawan, dan Pendakwa. Contohnya kita bisa lihat dari Kitab Bilangan pasal 22:22; 22:32 (dimana kata setan atau שָׂטָן pertama kali disebutkan) kata setan disebutkan sebagai lawan.
    “Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai LAWANNYA (לְשָׂטָן – le’ Satan). Bileam mengendarai keledainya yang betina dan dua orang bujangnya ada bersama-sama dengan dia.” – Bilangan 22:22
    Kemudian, sebagai contoh berikut kata “setan” digunakan dalam artian sebagai “dakwaan”.
    “Biarlah orang-orang yang MENDAKWA (שׂוֹטְנַי – sotnay) aku berpakaikan noda, dan berselimutkan malunya sebagai jubah”. – Mazmur 109:29
    Berdasarkan contoh-contoh ayat diatas, (dan masih banyak lagi) kita temukan disana bahwa, kata שָׂטָן (STN) pada awalnya belum merupakan suatu bentuk wujud pribadi atau tokoh yang selama ini kita kenal sebagai Setan atau Iblis.

    Evolusi Setan : Asal usul munculnya tokoh Setan dalam kitab Perjanjian Lama

    Pada zaman Israel kuno, sekitar abad ke 10 SM, bangsa Israel mempercayai beraneka ragam Tuhan, bahkan ada kelompok masyarakat yang mempercayai Yahweh beristrikan dewi kesuburan Ashera /1/ yang kemudian lambat laun konsep Tuhan Bagi masyarakat Israel dari yang percaya kepada banyak Tuhan (henotheism) tiba kepada konsep hanya ada satu Tuhan (monoteisme), /2/ yang mana Yahweh adalah pemilik kuasa tunggal dan absolut (omnipotent) dimana semua fenomena yang terjadi di muka bumi ini, baik itu musim hujan, musim kemarau, badai, musim panen, musim kering, ataupun segala sesuatu yang baik, bahkan yang buruk, semuanya itu datang dari TUHAN. Pertanyaannya : “Apa ada contoh dari kitab Perjanjian Lama, yang menyatakan bahwa sesuatu yang buruk atau yang jahat itu juga berasal dari Tuhan?” Ternyata Ada! Lihat contoh-contoh dibawah ini :

    “Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN”. – 1 Samuel 16:14
    “Yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang (רָע וּבוֹרֵא create evil) ; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini”. – Yesaya 45:7
    Dalam konsep monoteisme bangsa Israel dan Yehuda, Tuhan memiliki kuasa yang mutlak. Bahkan TUHAN juga bertanggung jawab atas segala yang buruk yang terjadi dalam kehidupan manusia, yang sekarang ini kita anggap dilakukan oleh Setan.

    Situasi dan Kondisi setelah Israel keluar dari Mesir

    Dalam perjalanan sejarah bangsa Israel, cerita tentang bebasnya mereka dari perbudakan di Mesir, dianggap sebagai suatu perbuatan tangan Tuhan yang dahsyat. Atas kerpercayaan inilah mereka percaya Tuhan akan senantiasa melindungi mereka dengan kekuatanNya yang ajaib, sebagaimana Ia tunjukan ketika membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Tapi pada kenyataannya, mereka mengalami suatu malapetaka yang besar di kemudian hari. Mereka di invasi oleh Asyur dan Babilon. Hidup dalam pembuangan membuat para pemikir-pemikir Yahudi pada saat itu berkesimpulan, bahwa semua malapetaka yang Tuhan datangkan ini (Amos 4) adalah akibat dari pelanggaran (seperti menyembah berhala) yang dilakukan oleh bangsa Israel (Ratapan 1:4-5). Karena itu sebagai solusi, untuk menghilangkan semua malapetaka itu, mereka harus membuat suatu reformasi keagamaan. Persis itulah yang dilakukan ketika mereka kembali dari pembuangan (Nehemia 8:2-4)

    Lahirnya Paham Apokaliptik

    Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah setelah mereka kembali menduduki tanah air mereka, setelah dari pembuangan, dan telah mengadakan reformasi keagamaan, dengan kembali menuruti akan segala hukum-hukum dan ketetapan Tuhan, mereka untuk selamanya akan terbebas dari malapetaka-malapetaka?
    Ternyata fakta sejarah berbicara lain, Kerajaan Yunani kemudian datang untuk berkuasa. Terlebih ketika wilayah Palestina dikuasai oleh Anthiokus Ephipanes.
    Orang-orang Yahudi kembali mengalami penderitaan yang hebat. Bahkan Kaabah yang mereka bangun sebagai tanda reformasi keaagamaan mereka, di “najiskan” semasa pemerintahan Anthiokus Ephipanes. Apa yang salah sekarang ini? Bukankah mereka telah melakukan reformasi keagamaan? Bukankah mereka telah kembali menuruti segala ketetapan –ketetapan dan hukum Tuhan, yang mana mereka dulu mereka percaya bahwa karena melanggar semua ini maka bencana-bencana tersebut muncul?
    Mencermati keadaan seperti ini, kembali para pemikir Yahudi ingin mencari dan mendapatkan suatu penjelasan, mengapa ini semua bisa terjadi. Hasilnya, lahir lah suatu paham yang disebut paham “Apokaliptik” (dari bahasa Yunani yang berarti “Pengungkapan”) mereka menemukan bahwa, ternyata ada peperangan yang terjadi dalam kosmik ini, yaitu antara kuasa yang baik dan kuasa yang jahat dan ini semua terjadi diluar dari pemahaman manusia. Jika kuasa yang baik itu direpresentasikan dengan (tokoh) Tuhan demikian juga lawannya, yaitu kuasa kejahatan harus direpresentasikan juga dengan suatu sosok.
    Saat inilah setan atau iblis sebagai suatu sosok atau tokoh muncul ke permukaan konflik mereka. Mereka akhirnya mengerti bahwa penderitaan yang mereka alami adalah akibat dari pengaruh kuasa yang jahat, yang saat itu (present age) atas persetujuan Tuhan menguasai bumi ini yang suatu saat nanti (age to come) Tuhan akan secara tiba-tiba menghancurkan kerajaan jahat itu dan akan menggantikan dengan kerajaanNya dan memerintah untuk selamanya.
    Pada abad ke 3 SM inilah, munculnya tulisan-tulisan apokaliptik yang coba menerangkan bahwa ternyata ada kuasa kegelapan yang sebenarnya adalah sumber dari semua malapetaka-malapetaka yang terjadi. Kitab-kitab seperti Henokh, Wisdom, Sirach, dan lain-lain bahkan kitab-kitab seperti sebagian kitab Tawarik, Ayub, Zakaria, (termasuk juga Daniel) juga diproduksi pada masa ini, yang menjadikan tokoh Iblis sebagai biang keladi dari semua penderitaan yang menimpa orang benar. Dalam buku Slavonic Book of Enoch, xxix. 4, Setan disebutkan, (sebagaimana yang kita tahu sekarang) mulanya adalah seorang pemimpin dari para Malaikat yang kemudian jatuh. Juga disitu disebutkan bagaimana Hawa tertipu oleh tipu muslihat dari Iblis yang berwujud sebagai ular.

    Kesimpulan

    Dari sudut pandang teologi, sosok Setan adalah sumber dari segala kekacauan yang terjadi di dunia ini. Ia yang dulunya adalah pemimpin dari para malaikat, oleh karena kesombongan dan keangkuhannya ia kemudian jatuh dan memimpin pemberontakan melawan Tuhan. Namun dilihat dari sudut pandang sejarah (historical) dari bukti temuan literatur kuno yang kita miliki saat ini, tokoh setan sebenarnya baru muncul mulai dari abad ke-3, hasil dari suatu revolusi filosofis dan adaptasi budaya (pengaruh konsep dewa Angra Mainyu dari Zoroastrianism) /3/, yang mencoba mencermati suatu keadaan yang sulit dari suatu pertanyaan mengapa orang benar tetap menderita. Gambaran Ini bahkan bisa terlihat dari 2 ayat dari 2 kitab yang berbeda berikut ini:
    “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.” –1 Tawarikh 21:1
    “Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.” –2 Samuel 24:1
    Jika diperhatikan baik-baik , kedua ayat dari kedua kitab ini menceritakan hal yang sama. Namun perbedaannya adalah Kitab Tawarikh adalah hasil produksi sekitar abad ke-3 SM. zaman dimana paham apokaliptik muncul, yang dipengaruhi oleh konsep Zorotarianisme, jika dalam 2 Samuel 24:1 disebutkan Tuhan yang menghasut Daud maka dalam 1 Tawarik 21:1 yang membujuk Daud adalah Iblis. Artinya, dari bukti literatur yang ada kita bisa pastikan bahwa pada zamam Daud (10 SM) sampai dengan masa pembuangan di Babylon orang-orang Israel dan Yehuda belum mengenal dan mengetahui sosok yang kemudian disebut sebagai Setan. (Dave Tielung)

    Suka

    1. Wah, maaf, trnyta prtnyaan ini sy abaikan lama :))

      Bgini, klau dirangkum dg kata2mu sendiri tnggpan d atas, mungkin lbh baik, males bacanya… klau kpnjngan ✌✌

      Smoga ada waktu sy bcanya ya.

      Suka

  5. pemahaman anda tentang teologi sepertinya masih murni, bahkan sama seperti bagaimana pemahaman tersebut dalam Islam, saya semakin yakin kalau kitab-kitab yang diturunkan Allah sebenarnya semua sama mengenai masalah aqidah, hanya berbeda pada pelaksanaan syariah.

    Suka

    1. Sy punya prinsip bahwa pahami suatu isu apa adanya, kdang justru klau terlalu bnyak menafsirkan cenderung akan bias dan menyesatkan.

      Nah, klau utk yg sama atau beda itu, sy pikir tdk semuanya benar, bhkan dlm kitab2 yg pernah adapun bnyak yg saling bertentangan.

      Suka

  6. Saat berbicara tentang tauhid, semua orang pasti kebingungan dan saya pun bingung. sangat menarik apa yang tertulis diatas, yang pastinya membuat orang lebih mengerti tentang Tuhan.
    Ada hal yang membuat saya lebih bingung, mengapa referensi nya tidak memakai kitab dan ajaran yang sudah jelas menjadi penyempurna dari kitab dan ajaran-ajaran sebelumnya ? Bukannya sudah jelas dalam kitab tersebut dan termaktub tata cara hidup dari A-Z ?

    Suka

    1. Sebenarnya kalau belajar secara mendalam dan bertanggungjawab, tdk trllu membingungkan juga sih. Apalagi jika Anda belajar teologi Reformed yg sngat bertulang itu.

      Jelas dan penyempurna kitab sblumnya? Ok, sya pham dan kitab ap yang maksd itu. Sy pikir wjar sja jika Anda berkata/mengklaim sprti itu, krn Anda myakininya. 🙂 Saya hrgai pendapatnya.

      Namun, bagi yg tdk myakininya (dg brbgai alsan versinya, bhkan bisa lbh kokoh tentunya) maka hal itu biasa2 saja.
      Smoga Anda tdk makin bingung. Klau ttp bingung, prtnda bhwa msh ada tnda2 kehidupan. Bljar itu memang sepanjang hayat. Dan org yg rendah hati itu mmang sllu bljar, bljar, dan sllu bljar. Tdk mmksakan kehendaknya, aplgi klau sejatinya itu keliru. A humble person keeps on learning; never forcing his own perception to the others.

      Suka

      1. Saya mau bertanya pak.
        1. Jika dosa itu adalah ciptaan manusia, lalu apakah manusia dapat disetarakan dengan Tuhan? Lalu bagaimana pernyataan bahwa Tuhan adalah pencipta segala sesuatu? Jika dosa diciptakan/dibuat oleh manusia, berarti Tuhan tidak maha kuasa donk? Jika memang dosa diciptakan manusia dan bukan berasal dari Tuhan, maka segala sesuatu yang diciptakan manusia bukan milik Tuhan, dan semua keturunan adam dan hawa bukan milik Tuhan kan, hanya adam dan hawalah yang milik Tuhan donk? (apakah diciptakan berbeda dengan milik?)
        2. Anda menyebutkan bahwa dalam Kristen Tuhan adalah ada dari kekal sampai kekal. Bukankah di alkitab Tuhan berkata bahwa ” Akulah Alpha dan Omega? “. Lalu yang benar nih yang mana, karena saya juga orang Kristen pak. Jika Tuhan adalah Alpha dan Omega, artinya Tuhan memiliki awal dan akan berakhir, maka pernyataan yang menyebutkan bahwa Tuha itu kekal adalah 100% SALAH donk.

        Tolong bantuan pencerahan nya ya pak. Makasih.

        Suka

        1. Terima kasih atas pertanyaannya. Senang jika ada yang bertanya, aplgi dg motivasi yg jujur. Mari kita belajar bersama.

          Jika Anda perhatikan dg teliti dari ulasan saya di atas, dan juga komen2 sy terdahulu, maka Anda akn mndapati bhwa pencipta dosa itu bukan manusia apalagi iblis (memang ia dianggap sbgai pemula; pljari lg ttg malaikat yg jatuh itu), tp dari dirinya diri yg diciptakan Tuhan. Apa? Klau bgtu, dari Tuhan dong dosa itu? Bukan! Yg hrs dipahami adlh, bhwa dirinya diri tsb diciptakan oleh Tuhan dg freewill (kehendak bebas) termasuk Iblis. Nah, saat “dirinya diri” yg punya freewill itu melenceng atau memberontak/menantang kpd kbnaran dan hukum Tuhan, saat itulah dosa itu ada. Iblis itu diyakini dlm teologi Kristen sbgai malaikat yg jatuh. Iblis artinya penantang. Namun adanya dosa itu diizinkan-Nya, tentu di dlm mksd dan kedaulatan-Nya yang kekal. Andai Tuhan tak mau ada dosa, adakah yg mustahil bagi-Nya?

          Dosa itu bisa jg artinya meleset dari sasaran. Lepas dari target. Target kesucian-Nya. Mkanya dikatakan pula bhwa dosa itu juga pelanggaran atas hukum Tuhan.

          Jd, dosa itu bkn ciptaan mnusia, iblis, apalgi Tuhan. Skli lg, dosa itu tdk dicipta ttp hdir
          dari “dirinya diri” yg tdk taat dan berontak kpd Tuhan, Sang kbnaran.

          Tuhan itu memiliki atribut2 moral dan kesucian yg mutlak. Dan Ia rela menaklukan diri-Nya pd atribut2 tsb sbgai bgian dari diri-Nya yg tak terpisahkan. Dan itu tdk mungkin Ia langgar (sbnrnya bkn krn tdk mungkin atau tdk bisa Ia langgar, tp krn Ia menaklukkan Diri-Nya scra rela td). Dan, ketika Tuhan dikatakan menciptakan sgla sesuatu, itu tdk berarti bhwa Ia mncipta trmsuk dosa (prhatikan pnjlasan saya sblumnya ttg asal dosa td). Mncipta sgla sstu bisa juga berarti bhwa Ia Mahapencipta, Mahakuasa dan Mahaberdaulat, tak ada taranya. Intinya, Tuhan bkn pencipta kejahatan.

          Dg pnjlsan ini smoga bbrp logika atau prtnyaan yg Anda ajukan di bagian akhir poin 1 ini bisa terjawab.

          Secara harafiah, alfa dan omega itu berarti yg awal dan yg akhir (bhs Yunani). Itu mngacu kpd prnytaan Kristus di kitab Wahyu. Juga Allah Bapa di PL. Secara teologis, istilah alfa dan omega itu sbnarnya bermkna bhwa Tuhan itu yg sdh ad sblum sgla sstu dan ssudah sgla sesuatu. Tdk ad yg lain, kcuali Dia yg kkal itu sendiri (Yes 44:6; 48:12).
          Makna lainnya jg bhwa Kristus itu bkn baru ada di PB, tp sdh ad di PL, bhkan sdh ad sjak di dlm kekekalan, krn Ia adlh Tuhan itu sendiri. Juga berarti, bhwa Kristus itu adlh pemula iman dan penyempurna/ penyelesai iman.

          Demikian, smoga bisa dipahami.

          Suka

          1. Terima kasih atas balasan jawaban anda.
            Saya mengerti maksud anda bahwa dosa sebenarnya bukan diciptakan, tetapi hadir dari dirinya diri manusia itu sendiri. Tapi menurut saya ini hanya opini yang anda bentuk dari hasil logika pikiran anda, mungkin ditambah dengan referensi dari kitab suci dll dan saya suka pemikiran seperti itu. Tetapi menurut saya, bukankah sudah tertulis di PL, bahwa manusia jatuh kedalam dosa setelah memakan pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat? Dan yang membuat/menciptakan pohon tersebut adalah Tuhan sendiri? Ini sebuah kejadian hidup kan, bukan sebuah filosofi kan? Atau manusia sudah berdosa sebelum memakan buah pohon tersebut (karena sudah memiliki niat yang menentang perintah Tuhan)? Saya butuh penjelasan anda tentang pernyataan saya ini.
            Lalu, saya mau tanya pak, apakah bisa Tuhan disebut yang Empunya segala (seperti yang tertulis dalam Doa Bapa Kami) tetapi dosa tidak termasuk didalam nya? Saya harap anda sudah mengerti maksud dari pertanyaan saya.

            Untuk pernyataan anda yang kedua, yang mau saya komentari, kenapa bisa dalam sebuah kitab suci terjadi sebuah kontradiksi; salah satu ayat menyatakan bahwa dialah awal dan akhir, yang lain nya menyatakan bahwa dia ada sebelum segala sesuatu dan sesudah segala sesuatu? Bagaimana menyatukan dua pernyataan tersebut?

            Dan satu lagi yang mau saya tanyakan, apakah anda percaya bahwa untuk percaya kepada tuhan, kita hanya perlu beriman tanpa mencari tahu kebenaran absolut nya? (sama seperti sso bermain sulap, dan kita hanya perlu percaya tanpa mencari tahu bagaimana bisa seperti begitu).

            Terima kasih.

            Suka

            1. Setiap opini yang saya bangun tentu saya dasarkan pada konsep logika yang saya yakini dan pahami, juga pada kebenaran wahyu (baik wahyu umum dan wahyu khusus). Dan konsep itu makin dipertegas saat saya belajar tentang pemikiran dan teologi reformed (meski blm tuntas saya menguasainya). Karena itu, dasarnya adalah teologi reformed, yang tentu semuanya didasarkan pada kebenaran / wahyu Alkitab.

              Baiklah, sepertinya Anda masih tidak setuju dengan opini saya tentang asal usul dosa itu, ya kan? Agaknya saya paham, karena Anda membangun tesis bhwa dosa itu ada setelah peristiwa kejatuhan Adam di taman Eden itu.

              Nah, konsep saya berbeda. Saya meyakini bhwa sebelum kejatuhan Adam itu, sudah ada kejatuhan malaikat (krn malaikat dicipta terlebih dahulu dari manusia). Malaikat itu memberontak kpd Tuhan (dlm postingan di atas sudah sedikit saya uraikan), maka kemudian Tuhan memvonis tindakannya tersebut sebagai tindakan berdosa. Krn ia menantang Tuhan, maka Tuhan juga memvonisnya sebagai penantang/perintang kehendak-Nya. Iblis itu adalah penantang; malaikat yang jatuh, yang umumnya dikenal sebagai Lucifer.

              Nah, apakah karena malaikat itu berasal dari Tuhan lalu dosa itu dari Tuhan? Tidak! Kita tahu bahwa malaikat itu dicipta dg diri yg ber-freewill. Jd, ia berdosa dg kehendaknya sendiri. Krn kehendaknya itu berasal dari dirinya diri si Lucifer itu sendiri. Itu sebabnya saya katakan, bhwa dosa itu berasal dari dirinya diri yg tdk taat. Kalau dosa itu berasal dari manusia, maka manusia berdosa dari siapa? Dari setan? Trus, setan berdosa dari siapa? Dari setannya setan? Trus, setannya setan berdosa dari mana? Dari setannya setan-setan (klau bgini seolah tdk ada habisnya). Trus, setannya setan-setan berdosa dari mna lg? Dari Iblis. Iblis berdosa dari mana? Dari Tuhan? (Jd ngawur kan?) Wah, kalau gitu kita sedang menuduh Tuhan bermotivasi jahat, dan itu akan kontradiktif dg natur Tuhan itu sendiri, yg Mahasuci dan Mahamulai. Tapi kalau dikatakan dosa atau yg jahat itu berasal dari diri yg tidak taat, mka saya kira masalahnya selesai. Dan Tuhan BUKAN biang kerok dosa/kejahatan. Maka dari itu kalau lagi berdosa jngan nyalahkan org lain, jngn nyalahkan Iblis, apalagi Tuhan. Dan tentu hrs tanggung jawab 🙂

              Tentang dosa berasal dari dirinya diri yg tdk taat itu, tentu referensinya hanya ada di kitab Yakobus, dan hanya teologi reformed sejati yg meyakini dan memahami hal tersebut.
              (Semoga penjelasan saya tentang bagian ini bisa dipahami).

              Lalu, tentang pohon di taman Eden yg diciptakan Tuhan itu. Dari kisah di kitab Kejadian 3 itu saya kira jlas, siapa yang kemudian menggoda dan memperdaya Hawa, siapa yang menggoda Adam. Terlalu naif klau kemudian krn Tuhan mengadakan pohon tsb lalu Ia kita tduh sbgai biang kerok dosa. Itu adalah phon pengetahuan; pohon ujian. Bgtu juga halnya akan naif klau ada org sakit kanker lalu mati tp disalahkan krn tdk minum obat. Kan lucu, mestinya dia mati bkn krn tdk minum obat, tapi mati krn penyakit kanker. See that? 🙂

              Tentang pertanyaan Anda selanjutnya itu, saya kira jawabannya sdh ckup jlas dan dpt dipahami, krn saya sudah menyampaikan ttg asal usul dosa itu di atas. Dosa itu berasal dari luar dirinya Tuhan, krn dirinya diri Tuhan itu suci, bkn pemberontak. Namun knp dosa ttp ada? Jlas krn diizinkan Tuhan (diizinkan bkn dicipta), tentu dlm dekrit dan kedaulatan-Nya yg kekal yang melampaui akal mnusia. Tp sjauh yg bisa kita logikan dlm dunia logika mnusia, tentu dosa ada spy nampak siapa yang mau taat kpd Tuhan (beriman) dan taat kpd Iblis (berdosa), yg pd akhirnya bermuara pd hdup yg kekal, ntah itu di sorga atau di neraka.
              Tuhan empunya sgla sesuatu mksudnya bhwa di seluruh dunia ini hnya Tuhan saja yg menguasai sgla sesuatu. Tnpa izin-Nya mustahil sgla sesuatu ada, trmsuk dosa. Sprti yg sy tulis d atas, bhwa dosa tdk diciptakan Tuhan, tp jlas diizinkan-Nya. Krn Ia berkuasa atas Iblis / setan dan dosa. Saya ykin, bhwa Iblis berdosa pun tdk mungkin melebihi izin Tuhan Allah yg kekal.

              Sbnrnya bkn kitabnya yg kontradiktif. Krn klau kita mau bljar dg sungguh2 tentang kbnaran, mka Alkitab adlah wahyu Tuhan yg sanggup menjawabnya, tergantung sjauh mana kita mau jujur dan serius dlm mengaji dalil2 yg ada di dlmnya. Yg lbih tepat itu adlh justru pemahaman kita terhadap kitab sucilah yg kdang kontradiktif atau keliru. Tp kdang kita jg perlu bljar ttg konsep paradoks. Di kitab suci mmang ad bbrp yg tampak sprti saling bertentangan tp sbnrnya tdak krn saling mlengkapi, itu namanya paradoks. Misalnya ttg Kristus yg mati disalib lalu bangkit di mana kmatian dan kebangkitan-Nya justru berkuasa utk menebus dosa manusia. Bhkan Paulus mengatakan bhwa jika Kristus tdk bangkit maka sia2lah iman org Kristen.

              Mungkin Anda bisa tunjukkan ayat2 manakah yg Anda mksdkan kontradiktif itu? Krn saya justru tdk menemukannya. Saya kira ttg alfa dan omega ckup jlas dari pnjlsan saya sebelumnya, khususnya ttg mkna teologisnya. Mungkin itu sja komentar saya pd pertanyaan di bagian ini.

              Bung Andre, smngat teologi reformed itu justru yg paling dan sngat2 menyarankan spy kita itu tdk beriman buta. Jlas kita hrs bljar dg baik, bkn bljar sembarangan. Harus ketemu sumber bljar yg baik, dan juga guru yg baik. Namun di atas semuanya rendah hati itu juga sngat diperlukan saat mncari kebenaran. Saya sering bertemu anak muda Kristen yg ibaratnya baru belajar di pagi hari tp sorenya sdh mau khotbah dan koar2, itu paling sy tdk respek. Krn sy sendiri pun dulunya bnyak hal yg saya ragukan ttg kbnaran Alkitab. Mkanya ktika sy beriman pd Alkitab, sy tdk mau sekedar ikut2an. Saya sllu berusaha utk mendengar dulu. Dan bnar, sprti Alkitab bilang bhwa iman itu dtng dri pendengaran; pendengaran akan firman Kristus.

              Saya kira demikian. Semoga bisa dipahami dg baik. Kalau pun msh ada yang belum jelas lagi terkait pernyataan2 saya di atas, silakan disampaikan, tentu dg niat dan motivasi yg jujur (bkn utk unjuk kepintaran apalagi hanya utk menguji). Terima kasih.

              Soli Deo Gloria.

              Suka

  7. Maaf sebelumnya pak, tetapi saya rasa penjelasan anda terlalu bertele-tele dan tidak mengarah pada satu tujuan yang saya harapkan dapat menjawab pertanyaan saya.
    Oke, saya akan tunjukkan salah satu firman dalam alkitab yang menimbulkan kontradiksi.
    Ketika Yesus disalibkan, Dia berdoa dan berkata “Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.” dan “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” lalu “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (semua tertera di Lukas 23) bahkan jelas tertulis di Yohanes 14:6 bahwa “Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Tetapi mengapa Allah dan Yesus serta Roh Kudus dinyatakan satu (konsep tritunggal)? Ini adalah sebuah kontradiksi yang sampai sekarang menjadi permasalahan terbesar umat kristiani.

    Lalu saya mau mempertanyakan kepada anda atas pernyataan anda ini : “Kita tahu bahwa malaikat itu dicipta dg diri yg ber-freewill.” Pertanyaan saya, coba anda sebutkan 1 saja ayat yang mendukung pernyataan anda ini (bukan suatu perumpamaan yang anda jadikan opini ya), lalu menurut anda siapakah yang lebih tinggi derajat nya, malaikat atau manusia? Karena yang saya tahu manusia lah yang hanya diberi kehendak bebas.

    Saya setuju dengan anda bahwa saya juga tidak suka dengan orang yang baru belajar tetapi sudah merasa yang paling tahu. Tapi saya lebih tidak suka dengan orang yang berkata seperti tong sampah kosong nyaring bunyinya, tidak bisa membuktikan apa yang dia ucapkan dan tidak mempunyai landasan yang kuat.

    Saya harap anda dapat menjelaskan pertanyaan dan pernyataan anda yang saya pertanyakan dengan singkat, padat, jelas dan dapat dipahami.

    Terima kasih. Mejuah-juah.

    Suka

    1. Mohon maaf juga, Bung Andre. Saya tidak bisa TIDAK utk tidak berpanjang lebar (entah Anda sebut bertele-tele, tong kosong atau apa) jika melihat ada konsep dasar yang harus dikoreksi. Maaf juga klau ternyata maksud saya tdk dipahami dg baik. Jika Anda memahami maksud saya, saya rasa tidak ada yang perlu dibenturkan lagi. Saya memang ada kalanya secara implisit memberi jawab atas suatu pertanyaan. Harapannya spy yang bertanya jg bisa berkesimpulan sendiri (kesimpulan yg tpat tentunya).

      Apanya yang kontradiksi dg ayat-ayat tersebut? Saya pikir klau Anda memang org kristen, mestinya Anda paham tentang kristologi dan konsep Allah Tritunggal yang diyakini oleh mainstream (arus utama) kekristenan. Dg pham kristologi, kita jadi tahu ttg dwinatur Kristus. Apa artinya ketika Yesus memanggil Bapa, apa artinya ketika Yesus memanggil Allah, termasuk bbrp klimat dari 7 perkataan salib yg Anda kutip di atas.
      Tentang Tritunggal, agaknya tdk bisa diulas di sini krn tentu perlu space lbih. Tp secara singkat saja, Allah Tritunggal itu satu hakekat (Allah) 3 pribadi (Bapa, Anak, Roh Kudus). Bapa bkn Anak, dan bukan Roh Kudus. Bgtu jg sebaliknya. Tp Bapa adlh Allah, Anak adlh Allah, Roh Kudus adlah Allah (Tiga pribadi satu hakekat/natur). Dulu, saya juga kontra dg konsep Tritunggal, tapi setelah bljar (melalui teologi reformed tentunya) saya kemudian pun setuju. Jd, saya tdk merasa bhwa konsep Tritunggal yg diajarkan Alkitab itu sbgai permslhan terbesar umat kristiani.

      Kenapa saya katakan malaikat itu dicipta ber-freewill? Krn mreka bisa memilih, utk taat kpd Allah atau memberontak. Yehezkiel 28:12-18 mengindikasikan
      ttg malaikat paling agung, yg dalam kesombongannya memutuskan untuk memberontak melawan Allah agar dia sendiri dapat menjadi Allah (Yes 14:12-14)
      Wahyu 12:4 juga dimengerti sebagai gambaran kiasan mengenai sepertiga malaikat memilih untuk mengikuti Iblis dalam pemberontakannya dan menjadi malaikat-malaikat yang jatuh/setan-setan. Utk malaikat yg taat digambarkan sbgai yg taat utk slma-lamanya.

      Nah, kalau secara derajat, manusia jlas ciptaan tertinggi. Manusia adlh mahkota ciptaan Tuhan yg trtinggi. Hnya mnusia yg dicipta mnurut peta telada-Nya (in the image and the likeness of God). Trhdap mnusia, bhkan Kristus sampai rela turun ke dunia utk menebus dosa. Tp demi mlaikat yg jatuh, knp tdk diselamatkan? Krn mlaikat yg jatuh berdosa d dlm kekekalan. Jd tdk ad kesempatan bertobat lagi, beda dg manusia.

      Intinya, Tuhan tidak memaksa atau mendorong malaikat mana pun untuk berdosa. Iblis dan para malaikat yang jatuh dalam dosa karena kehendak mereka sendiri, karena itu pantas untuk mendapatkan hukuman yg setimpal.

      Allah menciptakan makhluk-makhluk yang bebas; malaikat dan umat manusia. Kalau Allah menginginkan ciptaan yang sekedar melakukan apa yang sudah diprogram sebelumnya, mka sy kira, binatang sudah cukup. Tetapi tidak, Tuhan Allah menghendaki makhluk ciptaan yang melaluinya Dia dapat memiliki hubungan yang sejati. Karena itu, Dia memberi kita kemampuan untuk memilih, dan memberi kita pilihan.

      Jadi kesimpulannya, spy tdk OOT dan ttp mngacu pd isi postingan blog sy d atas, bhwa dosa tdk berasal dari Pencipta (Tuhan) tp dari diri ciptaan yg tdk taat kpd Penciptanya.

      Suka

  8. Maaf, satu lagi yang mau saya tanyakan, jika buah pengetahuan itu dan ular si penggoda tidak diciptakan Tuhan, mungkinkah manusia akan jatuh kedalam dosa? (karena anda menyatakan bahwa ular lah yang menggoda adam dan hawa.)

    Suka

    1. Maaf skli lg, sy tdk bisa memenuhi request Anda utk menjawab scra singkat. Klau pun jawaban sy tdk sesuai dg mksd Anda, berarti lapak ini tdk berjodoh dg Anda, klau bnar2 ingin cari kebenaran (bkn skdar brtanya utk cari kesalahan, aplgi mnjatuhkan), mungkin di wktu dan lain ksmpatan Anda bisa mendapatkannya.

      Untuk prtnyaan terakhir, sy kira jawabannya sdh bisa dimengerti pd jawaban sy sblumnya. Dan kisah kjatuhan d tman Eden itu sdh trjadi, jd sulit klau diandaikan lagi (jika) 🙂
      Yang jlas, Tuhan memang ciptakan malaikat dan manusia, tp saat berdosa, mreka brdosa dari diri mreka sndiri, dan ttp hrs bertanggung jawab atas dosa/kslhan mreka itu. Sama sprti knp nyamuk yg dicipta kmudian menjadi penyebab penyakit demam berdarah atau malaria. Masa Tuhan pencipta penyakitnya, lalu hrs brtanggung jawab krn pnyakit tsb 🙂
      Yg bisa kita phami kmudian adlh, Tuhan mengizinkan pnyakit tsb ad. Begitu pun halnya dg dosa tadi. Hrsnya pertanyaannya yg lbih pelik yg prlu dipikirkan adlh: mengapa Tuhan mengizinkan dosa ada klau Ia sdh Mahatahu? Tp sy kira, pnjlsan sy sblumnya sdh bisa sdikit mmbri jawab, ykni smua kmbli kpd pilihan dan mksd kekal Tuhan yg melampaui dunia ciptaan. Sebab Tuhan sendiri mmang beyond the world of creation.

      Sbgai org yg myakini prinsip teologi reformed, sy hrs rasional, tp bkn rasionalis.

      Demikian, smoga bisa dimengerti. Trmksh.

      Soli Deo Gloria

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s