Mengapa Kita Berdebat?

Debat atau berdebat, itulah topik kita kali ini. Sekarang lagi rame debat. Para politikus lagi pada berdebat, khususnya dalam acara tadi malam. Saya kira Anda juga menontonnya, bukan? Bahkan opini tentang debat tadi malam juga (kembali) ramai dibicarakan di media sosial pasca debat berlangsung sampai hari ini.

Sepintas mungkin postingan kali ini terkesan tendensius, apalagi di tengah-tengah hiruk-pikuknya suasana politik dalam perhelatan Pilkada Serentak 2017 untuk beberapa daerah di Indonesia, dimana acara debat antar paslon digelar secara resmi oleh KPUD dan terbuka untuk umum (disiarkan melalui media elektronik). Yang lagi seru disorot adalah kontestasi Pilkada DKI Jakarta yang makin hari makin “panas” saja.

Bukan tendensius, apalagi konsolidasi terhadap salah satu paslon, atau apalah … menurut persepsi Anda, walau tentu tak dapat dipungkiri bahwa atmosfir perdebatan antar paslon yang maju dalam pilkada ini, sedikit banyak memang telah mempengaruhi munculnya ide postingan kali ini. Bagaimanapun, karena tadi malam saya menonton (kembali) acara Debat Perdana Cagub/Cawagub DKI Jakarta di layar televisi.

Tapi, jangan salah. Kali ini saya tidak sedang dalam kapasitas mendukung salah satu paslon atau menilai kualitas debat tersebut. Biarlah hiruk-pikuk para pendukung masing-masing paslon terjadi, tapi disini saya tidak mau terlibat. Tentu karena saya tahu aturannya bahwa disini saya tidak sedang berkampanye untuk menguatkan (menguntungkan) atau mungkin melemahkan salah satu pihak.

Tapi disini saya pure hanya ingin membahas tentang debat dan beberapa aspek penting terkait debat atau berdebat. Apa tujuannya? Pertama, tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman tentang debat dan beberapa aspeknya. Kedua, untuk menyatakan bahwa debat itu harus dipandang secara proporsional. Ketiga, karena debat mustahil tanpa tujuan. Dan yang keempat (terakhir), sebagai latihan saya menulis di blog Desfortin Menulis ini (Ha ha ha ….).

Kita tahu bahwa pembahasan tentang debat bukan isu baru. Debat sudah aja sejak jaman kuno. Tapi tidak ada salahnya juga kalau kita kembali memberikan sudut pandang tentang topik ini. Tentu saja saya disini juga tidak mungkin membahas secara utuh semua esensi debat atau menjelaskannya secara tuntas beserta semua aspeknya dalam satu blog seperti ini.

Karena itu, saya membatasinya pada beberapa aspek saja, yaitu: Apa itu Debat? Format/Gaya Debat, Aspek Penting dalam Debat, dan Manfaat (Tujuan) Debat.

Beberapa poin inti inilah yang ingin saya ketengahkan (sampaikan) kepada rekan pembaca semua. Semoga Anda tetap betah membaca blog ini.

Mungkin sebagian akan berkata, “ngapain sih ngurusin debat? Apa untungnya? Bukankah berdebat itu memicu konflik? Urus saja urusan utamamu, jangan buang-buang waktu untuk hal yang gak perlu apalagi gak ada duitnya!”

Anda bebas berpendapat. Saya menyadari bahwa debat memang bukan segalanya dari sekian banyak isu penting. Bagi sebagian orang (or people mostly), debat masih menjadi hal yang belum begitu familiar dan kerap juga dianggap sebagai kegiatan orang-orang yang kurang kerjaan.

Bahkan, dalam agama (keyakinan) tertentu debat malah dianggap sebagai hal yang harus dihindari lantaran dinilai tidak penting. Meskipun sebagian penganutnya justru mempraktikkan hal yang sebaliknya.

Apapun itu, debat tetap menjadi hal yang akan terus ada dan tidak mungkin tidak ada. Yesus Kristuspun berdebat. Rasul Paulus, para teolog besar, para filsuf/para pemikir ternama, para apologet agama juga berdebat. Daripada pusing menolak debat, mengapa kita tidak dengan rendah hati mencoba untuk mengetahui tentang debat secara lebih mendalam.

Anda bisa baca banyak sumber tentang debat di internet. Postingan saya kali ini tentu tidak sempurna, tetapi mungkin dapat menjadi bahan pembanding saja. Debat adalah fakta yang ada di lapangan. Debat juga adalah sesuatu hal yang legal (artinya tidak ada hukum yang melarang orang berdebat). Kita sering melihatnya atau membacanya, baik dalam dunia akademis maupun non akademis, khususnya di dunia maya (internet) yang makin canggih ini.

Kalau Anda suka menonton tayangan di youtube tentang berbagai perdebatan, baik debat antar siswa, antar mahasiswa (debat bahasa Inggris), debat politik (Pilpres, Pilgub, dll) sampai debat antar agama (debat teologis), maka kita bisa melihat bahwa debat sudah menjadi hal lumrah untuk mengasah kemampuan berpikir kritis-analitis.

Apa Itu Debat?

Debat hampir sama dengan diskusi. Tetapi diskusi belum tentu debat. Sedangkan debat sudah pasti ada prinsip diskusi disana, yakni menyampaikan gagasan. Debat lebih cenderung mempertahankan pendapat dan melemahkan pendapat lain, sedangkan diskusi lebih berusaha mencari kesamaan (musyawarah).

Menurut KBBI Daring,

debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.

Menurut Wikipedia Berbahasa Indonesia,

debat adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan atau kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan.

Berdasarkan pengalaman, baik waktu masih mahasiswa beberapa kali ikut debat (atau menghadiri), bahkan pernah menjadi penyelenggara debat di kampus, maupun pada saat jadi guru dimana beberapa kali juga membimbing para siswa untuk ikut Lomba Debat Bahasa Inggris Tingkat Kabupaten, juga dengan melihat definisi debat dari dua sumber di atas, maka saya (Desfortin) membuat definisi debat, yakni :

adu argumen atau gagasan (secara lisan atau tertulis) antara 2 orang atau lebih atas suatu topik (motion) atau masalah tertentu dalam rangka mencari jawaban atau menyampaikan kebenaran argumen/keyakinan masing-masing dan ada pihak yang ditetapkan atau setidaknya dinilai menang-kalah atau seri (sama kuat).

Di dalam debat ada yang berperan sebagai pihak yang pro (affirmative side) dan yang kontra (Negative Side). Masing-masing pendebat (debater) harus mampu mempertahankan posisi masing-masing dalam berargumen untuk meyakinkan bahwa argumennya patut dipercaya kebenarannya.

Bagi saya, debat boleh dikatakan juga sebagai suatu cara bahkan (mungkin) seni untuk menstimulasi otak dalam memikirkan suatu ide. Seorang pendebat dituntut berpikir logis dan kritis dalam menyampaikan sudut pandang atau pikirannya atas suatu masalah.

Karena itu berdebat menjadi hal yang menarik ketika sudut pandang dan argumen yang dimiliki sang pendebat disampaikan secara baik (logis, sistematis dan cerdas). Anda bisa menilai sendiri debat Cagub/Cawagub di televisi tadi malam, sejauh mana kualitas argumentasi masing-masing paslon.

Debat menjadi tidak menarik apabila masing-masing pihak memaksakan kehendak tanpa argumen dan sanggahan yang jelas, logis, sistematis dan cerdas. Debat juga menjadi kurang menarik apabila salah satu pihak tidak memahami stand point lawan debat namun tetap berargumen bahkan panjang lebar. Yang lebih parahnya lagi apabila yang bersangkutan tetap merasa lebih benar, padahal nyatanya memang tidak logis.

Nah, …. dalam teori debat Desfortin, yang demikian, walau argumennya segudang atau sepanjang rel kereta api, tetapi bila isinya luncas alias tidak nyambung, maka sia-sia belaka. Debat yang demikian juga mungkin boleh saya kategorikan sebagai debat kusir. Debat kusir bukan debat yang baik dan sehat. Debat kusir hanya berujung pada pemuasan diri tapi tanpa solusi.

Oleh sebab itu, kita perlu tahu dan belajar tentang Cara atau Tips Berdebat.

  1. Seorang Pendebat Harus Siap Dengan Topik Debat.
  2. Seorang Pendebat Sebaiknya Menjelaskan (Mendefiniskan) Topik.
  3. Seorang Pendebat Harus Menyesuaikan Argumennya Dengan Waktu Yang Tersedia
  4. Seorang Pendebat Harus Mempresentasikan Argumen Dengan Baik.
  5. Seorang Pendebat Harus Menyeimbangkan Antara Kapan Harus Mempertahankan Argumen dan Kapan Harus Menyanggah
  6. Seorang Pendebat Harus Memperhatikan 3 Aturan Saat Menyanggah Argumen (1. Berikan Bukti, 2. Ofensif terhadap argumen penting lawan, 3. Hindari ad hominem atau menyerang secara personal)
  7. Seorang Pendebat Harus Memaksimalkan Waktu Yang Dimilikinya Dalam Berdebat.
  8. Seorang Pendebat Sebaiknya Tahu Aspek Yang Dinilai dalam Debat (Biasanya Isi, Sikap, dan Cara).

Untuk penjelasan detailnya, Anda bisa membacanya DISINI.

Sedangkan untuk format atau gaya debat (debating style) yang sehat, biasanya ada beberapa gaya yang populer:

  1. Australian-Parliamentary (Debat Gaya Parlemen Australia), selengkapnya dapat dibaca DISINI.
  2. Australian-Asian Parliamentary (Debat Gaya Parlemen Australia-Asia), selengkapnya dapat dibaca DISINI.
  3. British Parliamentary (Gaya Debat Parlemen Inggris), selengkapnya dapat dibaca DISINI.
  4. Policy Debate (Gaya Debat Proposal), selengkapnya dapat dibaca DISINI.
  5. Debat Biasa atau Tidak Resmi, selengkapnya dapat dibaca DISINI.

Catatan: Mohon maaf, saya tidak tahu debat Cagub/Cawagub DKI Jakarta tadi malam itu, pakai gaya yang mana, hehe …

Aspek Penting Dalam Debat

Ada beberapa aspek penting dalam debat yang baik dan sehat (sesuai aturan), entah Anda mau pakai gaya debat manapun, aspek ini tak boleh ditiadakan, yakni adanya moderator, adanya topik (mosi debat), adanya aturan (tatib) debat, dan biasanya (optional) ada jurinya (adjudicators).

Adanya moderator
Debat yang baik dan sehat (tertulis/lisan) tentu harus ada moderatornya. Moderator bertugas sebagai penengah dalam debat, baik untuk mengingatkan waktu (durasi) maupun aturan/teknis debat lainnya.

Moderator yang baik harus selalu netral. Sekalipun mungkin ia punya kecenderungan atas salah satu pihak, tapi itu tak boleh nampak saat menjadi moderator debat. Ia harus menjalankan tugasnya sampai tuntas agar debat berjalan sesuai aturan.

Adanya Topik Debat (motion)
Topik di dalam debat biasanya disebut mosi (motion). Mosi yang akan diperdebatkan harus jelas dan dapat diperdebatkan (debatable). Mosi harus dipahami, baik oleh moderator maupun para pendebat (debaters).

Topik atau mosi yang jelas berarti tidak ambigu alias tidak bermakna ganda. Jadi, mosinya harus terdefinisi untuk membantu para pendebat dalam membangun ide/gagasan (case building). Mosi yang debatable berarti mosi tersebut bersifat pro dan kontra. Karena ada yang setuju dan tidak setuju makanya diperdebatkan.

Berikut contoh topik debat (motion):
1. Siapa yang layak menjadi Gubernur DKI Jakarta 2017?
2. Isu LGBT, antara pro dan kontra
3. Pelaku Pemerkosaan Sadis haruskah dikebiri?
4. Euthanasia harus dilegalkan
5. KTSP sudah tidak relevan lagi bagi pendidikan, benarkah?
6. Apakah hukuman mati merupakan hukuman yang adil dan efektif?

Adanya Aturan (Tata Tertib) Debat
Sebenarnya aturan debat sudah satu paket dengan format/gaya debat. Karena di dalam gaya debat sudah ada ketentuannya. Tetapi ada kalanya, aturan lain yang kondisional juga perlu diberlakukan sesuai sikon dimana debat itu digelar. Karenanya, aturan debat itu perlu.

Aturan debat biasanya disepakati bersama atau telah disiapkan oleh panitia. Biasanya akan dibacakan (disampaikan) oleh moderator. Aturan debat berfungsi untuk membuat debat berjalan lancar. Juga berfungsi mengantisipasi kemungkinan para debaters menyimpang dari esensi perdebatan atau gangguan dari para audiens yang menyaksikan debat (seperti tadi malam, Ira Koesno, sebagai moderator, ia berkali-kali mengingatkan kembali para pendukung paslon tentang aturan yang telah disepakati di awal).

Adanya Juri (Adjudicator).
Untuk juri/dewan juri umumnya ada, dan juri tugasnya adalah untuk menilai debat tersebut (menentukan pemenang). Juri biasanya diambil dari para akademisi atau orang-orang yang ahli di bidangnya.

Mengapa Kita Berdebat? Apa Manfaat (Tujuan) Debat?

Postingan saya ini tentu punya tujuan, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Saya juga berharap Anda dapat memandang debat tidak melulu dari satu segi atau mencari kelemahannya saja, tetapi agar lebih seimbang, melihat sisi positifnya. Begitu juga dengan debat itu sendiri, pasti punya tujuan. Debat atau berdebat, tentunya debat yang baik dan sehat, memiliki beberapa manfaat penting, yakni:

1. Berdebat Dapat Menjadi Cara Etis Untuk Membahas Suatu Isu Populer-Kontroversial
Banyak isu yang terjadi di sosial. Tapi isu yang populer dan kontroversial biasanya paling ramai dan seru untuk dibicarakan. Banyak orang akan berkomentar tentang isu tersebut. Tetapi bila hanya sebatas komentar apalagi berdebat secara kusir, maka itu bukan mengurangi masalah tapi justru menambahnya.

Isu yang demikian jika diperdebatkan secara baik dan sehat (debat yang sesuai ketentuan), maka jauh lebih baik ketimbang debat kusir. Melalui debat formal para pendebat dapat membahasnya secara lebih etis dan bertangungjawab. Dan masing-masing pihak bisa makin dicerdaskan, sehingga solusipun bisa (mungkin saja) diperoleh.

2. Berdebat Dapat Mengasah dan Melatih Kemampuan Berpikir
Debat dapat mengasah kemampuan seorang dalam mengolah argumen. Argumen yang baik tentu terjadi karena logika (pikiran) seorang pendebat berjalan dengan sangat baik. Tetapi itu perlu latihan. Seorang pendebat (debater) harus selalu banyak membaca dan mengamati sehingga selalu up to date terhadap isu-isu di sekitarnya.

Kemampuan berpikir dapat distimulasi melalui suatu proses latihan berpikir. Nah, debat itu dapat menstimulasi proses tersebut.

Jadi, debat dapat mengasah dan melatih kemampuan berpikir, khususnya berpikir kritis-analitis.

3. Berdebat Dapat Meningkatkan Kecerdasan Bahasa
Untuk mengasah dan meningkatkan kecerdasan bahasa seseorang, memang tidak hanya melalui cara berdebat. Namun sudah pasti dalam berdebat (lisan/tulisan) seseorang harus berbicara atau menulis. Berbicara dan menulis adalah salah dua dari empat kompetensi bahasa.

Seorang pendebat dalam menyampaikan argumennya menggunakan bahasa. Ide jenius jika disampaikan dengan bahasa yang baik dan benar, yang jelas, dan tentu disertai bukti yang kuat, maka akan sangat menarik dan dapat meyakinkan juri dan lawan debat bahwa argumen tersebut memang benar, sehingga sulit dibantah.

4. Berdebat Dapat Melatih Sikap Mental Yang Kuat
Tidak semua orang suka debat. Debat bagi mereka hanya akan memicu masalah bahkan kericuhan. Jika dalam berdebat Anda tidak mampu menahan emosi, maka memang kerap memicu kepada kericuhan. Mental yang hanya mau menang tapi tak mau kalah biasanya adalah sebagai penyebab kericuhan.

Namun jika Anda memandang bahwa berdebat itu beda dengan bertengkar, dan menganggap lawan debat Anda adalah sesama manusia, maka Anda tidak melihat lawan debat sebagai musuh yang setiap argumennya harus selalu disalahkan, seolah-olah argumennya tak ada satupun yang benar.

Dalam berdebat perlu sikap mental, yakni sabar dan rendah hati. Sikap sabar dan rendah hati berarti seseorang ingin terbuka. Keterbukaan akan menghasilkan yang disebut dengan respect dan cinta kasih. Dengan dasar itu, debat biasanya berakhir indah. Jadi, melalui debat seharusnya melatih kesabaran dan kerendahan hati seseorang. Bukankah sabar dan rendah hati adalah sikap mental yang kuat?

5. Berdebat Dapat Menjadi Sarana Untuk Refleksi Diri
Orang yang dewasa dalam berdebat harus merefleksikan diri. Maksud saya adalah, bahwa seorang pendebat harus memaknai bahwa setiap argumen yang disampaikan adalah untuk membuktikan kebenarannya, bukan membuktikan siapa yang lebih hebat.

Seorang pendebat juga harus sadar secara kognitif dan afektif saat berdebat. Bagaimana seorang pendebat merasa ketika lawan debatnya menyampaikan argumennya dan sejauh mana itu berpengaruh pada perasaannya.

Kesimpulan

Debat atau berdebat adalah adu argumen yang bertujuan untuk mencari jawaban dari berbagai pandangan yang berbeda. Debat dan diskusi memiliki perbedaan dan kesamaan. Debat untuk menang (namun harus tetap dengan cara yang terpuji), sedangkan diskusi untuk mencari jawaban bersama (musyawarah untuk mufakat). Debat dan diskusi sama-sama memiliki moderator, tetapi kecenderungan moderatornya relatif berbeda (menurut Desfortin).

Tidak semua hal bisa diperdebatkan memang, apalagi untuk isu sensitif seperti SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan). Tapi berdebat juga tidak selalu memicu konflik, sepanjang dilakukan secara baik, sehat dan bermartabat (adanya kesepakatan/aturan yang jelas).

Melalui Debat, seorang pendebat atau para audiens mungkin akan mendapat pandangan atau perspektif baru yang berbeda. Hal ini penting agar kita tidak kaku dengan perspektif kita. Jadi, Mengapa Kita Berdebat? Sebab berdebat itu punya manfaat (sisi positif). Karena itu, BERDEBAT SANGATLAH PENTING.

Yang salah dan tidak penting adalah debat kusir. Karena debat kusir cenderung berujung pada pemuasaan diri tanpa solusi bahkan bisa memicu konflik. Debat semacam ini sebaiknya dihindari.

Bagaimana menurut Anda tentang debat? Apa perspektif Anda tentang DEBAT? Mari berbagi di kolom komentar di bawah ini.

Salam Cerdas,

Desfortin

Sumber Rujukan:

http://id.wikihow.com

Iklan

16 tanggapan untuk “Mengapa Kita Berdebat?

        1. Ya, bisa dibilang begitu mas. Sebenarnya mau dibikin singkat, tapi saya kesulitan melakukannya.

          Gpp yg penting Anda dapat inti dari tulisan ini, sekalipun kepanjangan dan gaya nulisnya “gitu dech”

          Makasih, mas Hamam Abidin

          Suka

  1. Menurutku debat itu cukup penting, artinya tidak terlalu atau sangat penting.
    Lagian kita berdebat juga tidak tiap hari, ya kan?

    Debat juga gak mesti dilombain. Kalau dilombain ya debat formal, kalau gak dilombain ya debat personal, hehe … asal jangan sampe bertengkar dan tonjok-tonjokan. Bahaya kalau debat ujung2nya musuhan.

    Tapi saya setuju dengan 5 alasan kenapa orang berdebat seperti yang kamu tulis di atas, mas Desfortin.

    Oya, terkait gaya debat yang dipakai dalam debat Cagub/Cawagub tempo hari itu memakai debat versi KPU, itu yang pasti, ya gaki seh, gkgkgk ….

    Suka

    1. Berdebat yg saya maksudkan disini pastinya debat yang sesuai aturan. Kalau debat yg ujung2nya tonjok2an tu biasanya karena debat kusir.

      Debat bisa sangat penting, penting bahkan tidak penting, tergantung sejauh mana persepsi Anda tentang debat, sekalipun sudah dijelaskan.

      Ya, versi KPU itu pasti. Tapi kayaknya ttp ngadopsi, mungkin antara Gaya Parlemen Asia-Australia dan free style.

      Disukai oleh 1 orang

    1. Ya juga mbak ya. Makanya harusnya jangan sembarang debat. Kayaknya cara2 dan tips berdebat yang ala desfortin di atas bisa kita baca lagi kali ya.
      Debat gak sama dengan bertengkar, tapi dalam bertengkar pasti ada perdebatan, ya gak seh? Wwkkwkwk….

      Suka

    2. Debat pastinya karena ada yang berbeda pandangan. Tapi sepanjang sesuai aturan debat formal, aku pikir sah2 saja. Konflik terjadi krn kita krng menghargai perbedaan, mkanya dengan debat yg sah, semoga persepsi seseorang menjadi terbuka dan tidak kaku

      Suka

  2. Tulisan yang cukup berbobot, saran saya dalam satu post yang panjang tersebut bisa dibagi dalam beberapa bagian dengan judul yang berbeda. Tujuannya adalah agar pembaca bisa membacanya sampai akhir, suatu fakta yang amat sangat penting adalah pembaca yang akan kehilangan konsentrasinya apabila tulisan yang dibacanya terlalu panjang. Sebenarnya ada cara lain selain membaginya ke dalam beberapa part, yaitu dengan membuatnya lebih menarik agar pembaca tidak terlalu bosan.

    Disukai oleh 2 orang

    1. Terima kasih mas buat sarannya. Memang betul yang Anda sampaikan. Saya baru menyadarinya setelah sudah terposted. Mau dibaiki lagi, susah jadinya.

      Ya, mas, saya kesulitan menuliskannya secara lebih menarik khusus postingan ini.

      Anyway, thanks for your suggestion. I will take it into account.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s