Indahnya Menjadi ‘Raja dan Ratu Sehari’, dan Realita Selanjutnya

kisah-raja-dan-ratu-sehari

Sumber Gambar: nichealeia.com

Apa yang Anda rasakan saat pertama kali akan melepas masa lajang Anda melalui pernikahan? Berbunga-bunga, terharu, dan perasaan sukacita campur-aduk, bukan? Biasanya, saat pertama kali akan menikah, pikiran dan perasaan seseorang penuh dengan gejolak tak menentu. Perasaan bahagia dan terharu pastinya yang menyelimuti, hanya, semua rasa itu cenderung sukar untuk digambarkan dengan kata-kata (masa iya sih?).

Ya, orang yang baru menikah umumnya dipenuhi dengan berbagai perasaan, entah itu senang, haru, ragu, gugup atau penasaran. Tapi ada juga yang merasa biasa-biasa saja, apalagi kalau sudah menikah yang kesekian kalinya (more than once). Hal ini pernah saya tanyakan langsung kepada beberapa pasangan yang sudah dan akan menikah. Mayoritas menjawab bahwa menjadi mempelai itu perasaannya campur-aduk, antara senang, terharu, relatif gugup, penasaran, dan berbagai perasaan lainnya. Menjadi raja dan ratu sehari (di pelaminan) adalah pengalaman tersendiri yang sangat membahagiakan.

Terkait menjadi raja dan ratu sehari, kemarin dulu, saya menghadiri acara resepsi pernikahan salah seorang kerabat dari istri saya di kota INDAH, Nanga Bulik (Pernikahan Unsu Putrianta Lely dan Unsu Wardi). Acara tersebut digelar di gedung Aula Bappeda Kab. Lamandau. Betul, saya melihat raut sukacita dan kebahagiaan itu terpancar dari keluarga kedua mempelai saat menyambut para tamu undangan yang berdatangan. Dan secara khusus lagi, saya melihat ekspresi bahagia dan sukacita itu nampak dari kedua mempelai yang duduk bersanding di pelaminan saat itu.

image from: putrianta lely

Kehadiran saya dalam acara resepsi tersebut, karena selain diundang khusus, juga sebagai bentuk dukungan saya kepada kerabat saya (kami) itu (Abu Leman dan Ubi Lili). Jujur, entah kebetulan atau apa, dari kedua anak mereka (putri pertama dan kedua), saya tidak pernah alfa dalam menghadiri acara pernikahan kedua putri mereka itu, dan seingatku dulu juga acaranya digelar di tempat yang sama (Aula Bappeda Kab. Lamandau). Hanya mungkin dulu masih aula lama.

Sayapun ikut larut dalam momen kesukacitaan itu. Adanya hiburan musikal (organ tunggal) yang mengiringi acara resepsi tersebut semakin menambah indahnya suasana saat itu. Penataan acara yang cukup apik dan tidak monoton, yang saya yakin karena sudah disetting sedemikian rupa oleh yang punya hajat, juga karena MC-nya oke punya dalam memandu acaranya, sehingga membuat para hadirinpun saat itu dapat menikmati acaranya dengan baik sembari menikmati jamuan prasmanan yang disediakan.

Oya, yang jadi MC waktu itu adalah salah seorang kenalan saya. Seorang pria batak yang punya sense of music yang sangat bagus. Namanya Pardomoan Marbun (I often call him “Laeeee”), seorang entertainer (kalau boleh saya sebut begitu) yang punya jam terbang cukup tinggi dan diperhitungkan untuk event-event serupa.

image from: Personal Doc.

Yang juga tidak kalah memukau mata saya adalah menyaksikan kedua mempelai yang sedang berbahagia, khususnya mempelai perempuan (the bride) yang dibalut oleh busana pengantin dengan motif warna putih yang cantik nan romantis. Seriously, menurutku, the bride was so beautiful, dan keduanya lumayan tampak serasi dan bikin “gimana gitu”, hehe…. Ingin rasanya mengulang saat-saat memorable seperti itu (what???). Pokoknya, seru dech, menjadi raja dan ratu sehari atau bersanding di pelaminan dengan orang yang kita cintai itu, so sweet dan unforgetable. Bagaimana dengan Anda?

Apa Indahnya Menjadi Raja dan Ratu Sehari?

Menjadi raja dan ratu sehari yang dipelotoin banyak mata dari segala arah membuat mereka begitu indah dan mempesona. Terlepas dari lelahnya (physically) menjadi raja dan ratu sehari lantaran  harus sekian jam duduk dan berdiri di tempat, tentu menjadi raja dan ratu sehari itu sangat indah dan (mungkin) bikin baper, entah bagi yang bersangkutan ataupun bagi hadirin yang menyaksikan. Bahkan, rasa capek itu (mungkin) terbayarkan dengan berjubelnya salam dan doa dari keluarga, kerabat, dan handai taulan yang datang.

Jadi Pusat Perhatian
Menjadi mempelai sudah pasti jadi pusat perhatian (center of attention) banyak orang, khususnya bagi yang hadir saat itu. Disaksikan oleh ratusan pasang mata atau mungkin ribuan membuat seseorang pastinya merasakan hal yang berbeda.

Balutan busana pengantin yang wah dan (mungkin) glamor bak raja dan ratu, membuat orang yang menyaksikannya mungkin berdecak kagum dan bahagia (#kecuali mantannya kali yee.. gkgkgk…). Whatever lah, yang pasti, mempelai yang bersanding di kursi pelaminan p really really adorable. Semua mata tertuju padanya (#kayak slogan Putri Indonesia aja ya, gkgkg….).

Mendapat Ucapan Selamat dari Para Undangan
Saat-saat menerima ucapan selamat (atau doa restu) dari tamu undangan menambah kesan indah dan bahagia kedua mempelai, apalagi kalau ada yang minta foto bareng saat di (panggung) pelaminan, pastinya kayak jadi selebritis mendadak top aja (#yak gak sih?). Padahal kalau pas hari-hari biasa belum tentu ada yang mau minta foto bareng atau foto selfie seperti itu.

Lebih berkesan bahagia lagi apabila ucapan yang diterima itu datang dari orang-orang yang ternama atau orang-orang yang kita hormati yang hadir dalam acara tersebut, tentu itu adalah suatu kehormatan yang patut untuk dikenang.

Mendapat Hadiah (Kado)
Hal indah lain yang mungkin dirasakan juga adalah saat mempelai menerima hadiah (kado) khusus dari yang hadir, misalnya berupa sumbangan lagu, puisi atau pantun khusus yang ditujukan untuk kedua mempelai, itu tentu akan membuat kesan yang berbeda.

Cuma gak tahu juga sih, penasaran, gimana ya rasanya kalau kado tersebut datang dari mantannya yang juga hadir (diundang atau tidak diundang) saat itu. Soalnya, saya belum pernah mengalaminya sih. Apakah Anda punya pengalaman?

Tidak bisa dipungkiri, bahwa menjadi raja dan ratu sehari itu membawa kesan tersendiri yang membahagiakan dan memorable (patut dikenang). Cita-cita dan impian lama untuk bersanding dengan orang yang benar-benar dicintai kini lengkap sudah. Janji pernikahan (wedding vows) sudah diikrarkan baik di depan pemuka agama maupun jemaat. Keduanya berjanji akan hidup bersama, merajut kasih, menyulam asmara, baik dalam suka maupun duka.

“Kini kau jadi milikku, dan aku jadi milikmu. Mari berlayar bersamaku mengarungi samudera cinta menuju pulau impian, pulau kebahagiaan yang dirindukan. Cinta ini kuat seperti maut. Biarlah aku tenggelam di dalam cintamu. Karena cintamu begitu memabukkanku.”

Namun demikian, handai taulanku sekalian, diantara momen dan pengalaman sukacita yang penuh bunga-bunga cinta dan kemesraan yang membahagiakan, atau indahnya dekorasi acara, dan lain sebagainya itu, jangan lupa ternyata menikah itu tidak berhenti hanya pada sukacita seperti di pelaminan sebagai raja dan ratu sehari saja.

Pada fase selanjutnya adalah menapaki hari-hari berumah tangga yang sebenarnya, yang mana ini adalah saya sebut sebagai pertandingan yang sesungguhnya. Diakui atau tidak, fase ini penuh dinamika karena (kadang) tak selalu indah seindah saat menjadi raja dan ratu sehari.

Realita Pernikahan

“Kapan kamu menikah? Jangan lupa undangannya ya!”

Itulah ungkapan atau pertanyaan yang sering ditujukan kepada orang yang belum menikah atau masih lajang. Yang kadang bisa bikin risih yang ditanyain (#bener, …. apa BENER?).

“Urusan nikah aja kok repot sih. Nikah gak nikah, hak masing-masing dong”.

Mungkin itu juga reaksi atau pembelaan dari sebagian lajang ketika ditanyain, walau hanya dalam hati (#keliru, …. apa TRUE?)

Ya, di masyarakat dengan stigma kalau gak nikah itu tanda gak laku memang kadang membuat yang belum menikah merasa “terpojok”, tapi ada juga yang reaksinya biasa-biasa saja bahkan apriori. Karena yang bersangkutan mungkin punya target sendiri, yang gak mesti dipamerin.

Apa sih serunya nikah? Bukankah menikah itu justru akan menambah beban baru? Bahkan ada yang berpendapat bahwa menikah itu seperti mengepung kota di dalam peperangan? Yang di luar ingin segera masuk, yang di dalam ingin cepat-cepat keluar. Maksudnya, yang belum menikah penasaran ingin cepat menikah karena penasaran akan romantikanya, sedangkan bagi yang sudah menikah (bagi sebagian pasangan sih), kadang pernikahan adalah menjadi sebuah jebakan atau penjara baginya.

Banyaknya persoalan berumah tangga membuat sebagian orang “menderita”. Apa daya, mau keluar tapi tidak bisa, sekalipun semua jalannya terbentang tersedia. Hanya, mengetahui jalannya itu tak semudah menjalaninya. Mungkin tekanan agama, keluarga, dan sosial saja yang menjadi alasan untuk tetap bertahan. Tiga faktor ini bisa kita bahas di lain waktu.

Karena itu wajar kalau kemudian sebagian orang merasa cemas atau takut untuk menikah, apalagi melihat banyaknya kasus perceraian yang terjadi. Itu menambah “keparnoan” sebagian orang untuk melangkah ke jenjang pernikahan yang sesungguhnya, sehingga ada sebagian pula yang lebih memilih untuk living together without marriage (hidup bersama tanpa menikah), bahkan hidup selibat atau melajang abadi, ha ha ha …

Mengapa Menikah?

Secara umum orang memandang bahwa menikah itu adalah ikatan sakral antara 2 insan yang saling mencintai yang diteguhkan dengan adat (ritual) tertentu, prosesi pernikahan tertentu sesuai dengan agama/keyakinan dan tradisi yang dianut oleh kedua belah pihak yang disaksikan oleh banyak pihak.

Menikah menjadi alternatif (bukan tujuan utama) bagi sebagian orang agar terhindar dari perzinahan. Karena menurut agama atau tradisi timur, hal tersebut sangat tidak pantas bila 2 insan (pria-wanita) hidup bersama tanpa ikatan yang sah. Ikatan sah yang dimaksudkan adalah ikatan pernikahan, baik secara agama maupun catatan sipil menurut aturan pemerintah suatu negara.

Menurut saya, menikah itu, selain itu adalah sakral (janji suci) dengan segala ketentuannya baik secara agama maupun negara, juga adalah untuk merajut cinta kasih yang lebih sah dan intim antara 2 insan berbeda jenis kelamin. Menikah juga sebagai cara manusia untuk menggenapi mandat ilahi, seperti yang tertulis dalam kitab suci (Kej 1:28), yakni beranak cucu dan bertambah banyak untuk memenuhi bumi.

Mengarungi dan Membina Bahtera Rumah Tangga

Siapa yang ingin punya keluarga yang tidak harmonis? Saya pikir tidak ada. Semua kita ingin punya keluarga yang harmonis dan langgeng sampai kakek-nenek, ya kan? Itu semua menjadi dambaan setiap pasangan bahkan tujuan sebuah pernikahan.

Menikah juga ibarat bahtera yang mengarungi samudera (lautan) menuju pulau impian. Sang nahkoda, yakni suami harus mampu melewati setiap badai bersama sang wakil nahkoda, yakni istrinya, sehingga mereka sampai di pulau impian.

Untuk sukses, dibutuhkan sikap saling memahami, perlunya manajemen emosi, toleransi yang tinggi dan penerimaan akan kekurangan dan kelebihan pasangan. Jika tidak, maka bahtera rumah tanggapun akan goyah, mungkin menabrak batu karang.

Memang benar, mengarungi dan membina bahtera rumah tangga itu tidaklah gampang. Penuh liku-liku bahkan berbagai angin (badai) ujian dan pencobaan. Dari masalah prinsip hidup, masalah ekonomi, masalah kebiasaan masing-masing yang kadang baru disadari pasangan setelah menikah, sampai masalah PIL/WIL (orang ketiga). Jika salah mengatasinya, tak heran jika kapal/bahterapun kandas atau hancur berantakan di tengah perjalanan menuju pulau impian itu.

Terakhir

Menikah adalah pilihan, bahkan (mungkin) pilihan yang baik, karena menikah adalah cara yang etis dan bertanggungjawab untuk mendalami keintiman cinta kasih dan hubungan sumai-istri antar 2 anak manusia (pria dan wanita). Menikah juga adalah sah dimata hukum, baik hukum agama maupun hukum negara.

Tidak menikah juga adalah pilihan. Setiap pilihan punya alasan dan konsekuensi masing-masing. Maksud saya, yang menikah jangan mencela yang tidak menikah, begitu juga sebaliknya. Sepanjang engkau bahagia, jalanilah tanpa melanggar kesusilaan.

Menikah bukan perkara gampang apalagi menjalaninya. Realita pernikahan adalah bukti bahwa 2 insan tak mungkin hidup sendiri, apalagi egois. Karenanya perlu bersatu agar tujuan pernikahan dapat tercapai.

Intinya, sebelum menikah, ada baiknya seseorang memikirkan banyak hal terkait menikah dan tetek bengeknya. Jangan hanya melihat indahnya saat bersanding di pelaminan, bak ratu dan raja itu, tetapi juga banyak faktor lain agar terhindar dari hal-hal yang tak dirindukan itu.

Bagi yang sudah menikah, semoga rumah tangga Anda semakin kokoh, harmonis dan langgeng. Bagi yang masih lajang dan berencana untuk mengakhirinya dengan menikah, ada baiknya Anda mempersiapkan diri dengan belajar tentang pernikahan dan realitanya. Tips seputar isu ini dapat dipelajari dari berbagai sumber, misalnya seperti di bawah ini:

Rumah Tangga Bahagia dan Harmonis

10 Tips Simple Agar Pernikahan Langgeng

15 Tips Sederhana Agar Pernikahan Langgeng dan Bahagia

6 Penyebab Rumah Tangga Tidak Harmonis

Refleksi Pribadi Tentang Tujuan

Pernikahan Kristen dan Kehidupan

Akhirnya, jangan takut menikah kalau memang harus menikah. Untuk semuanya, pasti ada jalannya. “Keparnoan” Anda tentang menikah tidak membuat Anda jauh lebih baik kalau Anda tidak berani mengambil sikap untuk menikah. Yang terpenting adalah itikad baik dan alasan di balik Anda menikah, apakah hanya untuk tujuan yang remeh atau tujuan yang lebih mulia.

Terimakasih sudah membaca. Semoga artikel ini bermanfaat bagi yang memerlukannya. Kalau Anda ingin berkomentar, dan saya pikir itu bagus sehingga menambah wawasan blog ini, silakan tuliskan komentar Anda di kotak yang disediakan di bawah. Dengan senang hati saya membacanya.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

16 thoughts on “Indahnya Menjadi ‘Raja dan Ratu Sehari’, dan Realita Selanjutnya

  1. Saya masih belum kepingin nikah. Enak sendirian saja karena bebas dan tidak punya tanggung jawab lain selain diri sendiri.

    Lagipula banyak waktu untuk membaca dan menulis. Takutnya nanti kalau sudah nikah sibuk bekerja sampai lupa waktu untuk bersenang-senang. Belum lagi klo sudah punya anak. Pasti tambah ribet hidup.

    Saya merasa belum siap saja untuk saat ini. Nggak tahu kalo suatu saat benar2 bertemu dgn wanita yg hebat, mungkin baru mikir buat menjalani hidup bersama.

    Suka

    1. Ya, mas Shiq4, gpp. Masih banyak waktu untuk mengambil keputusan kapan nikah, karena nikah bukan ajang coba2.

      Nikmati masa muda sebaik-baiknya, “buka mata lebar2” sebelum menikah, tp tangan jangan goyang2, krn kalau udah nikah susah urusan “buka mata lebar2″nya, ntar digampar pasangan, gkgkgk…

      Disukai oleh 1 orang

  2. Menurut saya pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan harus dipersiapkan dengan matang. Karena itu saya tak akan menikah hanya karena desakan dari orang lain.
    Saya lihat kebanyakan orang sekarang ngebet untuk nikah padahal umur masih muda dan belum mapan, saya tidak mau seperti itu.

    Suka

    1. Opo… mas Firman masih lajang juga ni ceritanya. Ok2.

      Yap, nikah emang sakral seperti yang sudahah saya sampaikan juga di atas, perlu persiapan matang juga.

      Menikahlah karena mengerti tujuan nikah, bukan karena desakan apalagi gengsi.

      Bagus mas Firman, saya setuju dengan prinsip Anda. Selamat menikmati masa lajang.

      Disukai oleh 1 orang

    1. Ahaha… gitu ya mas?

      Bagi saya, selain aura itu seakan bisa nular, juga bikin saya jadi kepengen bersanding lagi, tapi bukan dengan yg baru sih, maksudnya semacam nikah ulang gitu (dg istri), gkgk…. tp gak mungkin ada yg begitu…

      Suka

  3. tulisannya seru kak. terimakasih untuk tulisannya.

    betul didi stuju menikah itu bukan hanya sehari atau dua hari
    tapi menikah itu ya setelah satu dan dua hari menjadi raja dan ratu. hihihihi
    Didi menurut didi menikah itu ya sama seperti jadi ibu ataupun ayah karena menjadi ibu ataupun ayah bukan hanya satu ataupun dua hari tapi ya selama kita hidup.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s