Merasa Konyol (atau Bingung) Gara-Gara PR Anak

Sumber Gambar: teknosuka.com

Bukan kali pertama saya merasa konyol. Beberapa waktu lalu ada juga hal-hal konyol yang saya lihat, baik di acara televisi (komedi), di media sosial, maupun di lingkungan sekitar saya tinggal. Itu semua membuat saya konyol. Kekonyolan demi kekonyolan yang saya lihat dan saksikan dengan mata kepala saya sendiri itu, selain mengasyikkan juga benar-benar konyol.

Anda tahu, melihat tindakan konyol yang dilakukan oleh orang lain itu memang konyol yang bisa bikin kita ngakak gak ketulungan. Tapi bagi saya itu masih tergolong biasa. Bagaimana bila melihat diri sendiri (berbuat) konyol? Menurut saya BUKAN biasa, tapi lebih BIASA atau bahkan LUAR BIASA.

Itulah yang saya alami kemarin. Halnya sederhana sebenarnya, tapi saya merasa benar-benar tidak berdaya. Apa ini memang konyol atau menunjukkan bahwa diri saya sebenarnya memang tidak pintar-pintar amat alias bodoh meski saya sering bilang “salam cerdas”? Haha…

Ceritanya begini. Di hari libur IMLEK kemarin, saya dan istri, juga ditemani beberapa orang yang memang kami mintai tolong, kami menghabiskan waktu beberapa jam untuk bersih-bersih rumah dan lingkungan sekitar rumah kami. Sekalian juga untuk persiapan lahan kebun sayur di samping rumah kami yang dulu sempat mangkrak, dan di bulan Februari nanti rencananya akan segera ditanami.

Ya, mumpung hari libur jadi bisa dengan agak santai dan lebih leluasa mengerjakannya tanpa merasa harus dikejar-kejar oleh waktu. Sebab kalau hari biasa, maklumlah sibuk dengan tugas dan pekerjaan. Selain bersih-bersih, kemarin dan hari ini pula saya menghabiskan sebagian waktu saya bersama keluarga di rumah, khususnya dengan putri tersayang kami, Ruth Amora.

Terkait dengan anak kami itu, yang saat ini dia sudah kelas 2 SD, ada hal konyol yang saya rasakan kemarin pagi. Sembari kami melakukan aksi bersih-bersih itu, anak saya itu mengatakan jika dia pada Kamis lalu mendapat PR (Pekerjaan Rumah) dari guru di sekolahnya dan (mungkin) akan dikumpulkan pada hari Senin depan. Saya langsung mengatakan padanya supaya dia jawab dulu PR-nya, bila ada yang kurang (tidak) paham nanti bisa didiskusikan lagi dengan papanya atau mamanya. Tapi dia minta dibantu saat itu juga. Akhirnya sayapun sejenak memperhatikan PR-nya itu.

Sebenarnya PR-nya ada 2 Mapel, yakni IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dan PKn (Pendidikan Kewarganegaraan). Untuk PR IPS tidak jadi soal, karena memang lebih mudah soalnya. Dia bisa mengerjakannya sendiri. Dan setelah saya periksapun untuk PR IPS-nya itu jawabannya benar, bahkan jujur. Karena (katanya) gurunya juga memang meminta jawaban yang jujur, yakni membuat daftar tabel kegiatan dia dari pagi hari sampai sore hari.

Namun sayangnya, untuk PR PKn, walau soalnya cuma 1, tapi jawabannya lebih dari 1. Dia belum dapat menjawabnya, sehingga dia harus bertanya langsung pada orang tuanya. Saat dia tunjukkan soalnya dan saya baca, saya berlagak seperti biasanya, seperti seorang papa yang selalu bisa dan seorang guru yang jarang mengalami kesulitan saat berhadapan dengan masalah pelajaran siswa.

Untuk sejenak saya memperhatikan dan memikirkan PR-nya itu. Pertanyaannya sederhana. Tidak ada yang salah dengannya, bahkan sangat jelas maksudnya. Tapi anehnya, saya tiba-tiba seperti kehilangan akal. Jawabannya seperti sudah ada di kepala dan di lidah. Namun sulit diungkapkan secara cepat dan tepat. Anehnya makin saya pikirkan, saya malah makin blank. “Koq malah papanya yang pusing ya. Tanda-tanda apa ini?” 

Lalu kami berdiskusi selama beberapa menit. Saya tanya kepadanya apakah dia sudah membaca buku materinya, dan apakah dia benar-benar sudah paham dengan tema pelajarannya. Dia menjawab kalau dia sudah tahu tema pelajarannya (Standar Kompetensi), yakni tentang menampilkan sikap demokratis, dengan sub bahasan (Kompetensi Dasar) mengenal kegiatan musyawarah. Hhhmmm … agaknya TAHU dan PAHAM beda kali ya.

Ya, pembahasannya tentang musyawarah. Materi khusus untuk siswa SD kelas 2 Semester 2 (Genap). Setelah diskusi, menurut saya, intinya dia mengerti (sedikit secara teori) apa itu artinya sikap demokratis dan musyawarah, karena selain sudah dijelaskan oleh gurunya, dia juga punya buku teks pelajarannya yang memang selalu papanya belikan (sediakan) untuknya setiap semester.

Yang jadi sedikit masalah atas pertanyaan itu adalah, dia belum punya jawaban sama sekali alias bingung mikirnya sehingga dia harus tanya langsung kepada papanya. Sebab contoh konkritnya di buku itupun ternyata cuma ada satu. Sekali lagi, sebenarnya soalnya jelas dan sayapun paham maksudnya, tapi untuk menjawabnya dengan cepat dan tepat apalagi kalau diminta 5 contoh, sepertinya saya sendiripun tak bisa melakukannya. Tidak tahu kalau Anda.

Dari 5 contoh yang diminta dalam soal tersebut, hanya satu yang bisa saya jawab dengan cepat dan tepat. Satunya lagi dari buku teksnya itu. Intinya masih 3 hal yang belum terjawab.

Sayapun bingung dan terus mikir. Anak kami itupun kemudian merasa bingung melihat papanya bingung. Jadilah kami sama-sama bingung. Baru pertama kali ini saya kelihatan bingung di depan anak kami itu dengan kebingungan yang beda banget, haha….

Saya yang sudah jadi guru inipun (Guru SMP) ternyata tidak bisa menjawabnya dengan cepat. Sederhana sekali soalnya, tapi menjawabnya dengan cepat (menurut saya) tidak segampang yang diduga. Desfortin merasa bingung, bodoh dan konyol, wkwkwk …..

Daripada pusing berlarut-larut, sementara kegiatan bersih-bersih rumahpun belum juga kelar, lalu saya memutuskan untuk menunda menjawabnya. Dan saya katakan dengan jujur padanya, “Nanti saja ya kita selesaikan, sekarang kita lagi bersih-bersih. Kalau gak dapat juga, mungkin kita tanya aja sama mbah google, oke?” Itulah solusi konkrit yang saya berikan padanya. Untungnya diapun sepakat.

Urusan untuk sementara beres. Buku PR-nya itupun disimpan kembali, dan kami melanjutkan kesibukan kami untuk bersih-bersih sampai jam siang.

Setelah aksi beres-beresnya kelar, kamipun mandi, kemudian makan siang. Setelah makan siang dan santai sejenak, sambil mendongeng buat anak saya itu, kamipun istirahat (tidur) siang. Dia tidur pulas di samping saya. Bahagia melihatnya tidur seperti itu. Dan kemudian (entah menit keberapa) sayapun menyusul terlelap kemarin siang itu.

Sore kemarin, yakni sekitar pukul 15.15 Wib, saya langsung Daring (Online) dan buka si mbah google itu dan mengetikkan kata kunci untuk pencariannya. Betul, kalau tanya sama mbah google biasanya jawabannya lumayan cepat, karena sudah tersedia. Tapi sayangnya sayapun tidak langsung mendapatkan 5 contoh itu sekaligus.

Dari 3 blog yang saya buka yang membahas tema terkait, kebanyakan hanya memberikan 2 sampai 3 contoh. Wow…. “sulit apa sulit sih pertanyaannya?” Jika pertanyaannya cuma minta disebutkan beberapa mungkin lebih mudah kali ya, tapi soal dari gurunya ini yang diminta adalah 5 contoh. Wah, untuk anak seusia dia apalagi anak desa mungkin relatif sulit kali ya.

Akhirnya sayapun kembali berpikir dan mencoba menyimpulkan sendiri. Tiga jawaban yang tersisa terkait musyawarah itupun terjawab berkat mikir sendiri sambil dibantu mbah google juga, hihihi …

Untuk selanjutnya jawaban tersebutpun saya sampaikan kepada putri kami itu. Setelah terlebih dahulu saya jelaskan tentang contoh-contoh itu, nampaknya dia cukup puas, lalu iapun mulai menuliskannya pada tablet kesayangannya (nantinya akan disalin ke buku PR-nya). Karena ia merasa senang, maka papanya juga ikut senang, hehe…

Oya, Anda penasaran terkait apa sebenarnya PR anak saya itu? Lihat saja di bawah ini. Saya telah mengambil gambarnya.

pr-pkn-amor

Itu dia. Bagi Anda yang putra/putrinya yang saat ini duduk di bangku kelas 2 dengan KTSP, mungkin soal / materi ini sudah diterima mereka. Namun bagi putri kami, itu baru diterimanya hari Kamis yang lalu.

Sekali lagi, dari soal tersebut hanya 1 jawaban yang bisa saya berikan dengan cepat, yakni: pembagian tugas dalam membersihkan rumah. Selebihnya merupakan jawaban dari mbah google dan kesimpulan nalar saya sendiri (tak perlu disampaikan disini), wkwkw …..

Dari kejadian ini ada beberapa poin yang menjadi refleksi, setidaknya bagi diri saya pribadi (tapi mungkin Anda bisa juga tambahkan):

  1. Otak orang dewasa (guru sekalipun) ada kalanya sangat tidak cerdas (entah Anda setuju atau tidak) bahkan bisa bingung ketika berhadapan dengan hal yang nampak sederhana, apalagi kalau lagi sibuk atau lagi gak fokus. Karena memang, guru juga bukan Mr. Know-All (Orang yang tahu segala hal).
  2. Mesin pencari di internet seperti Google membuat kita pintar sekaligus bodoh. Ya, selain ia mempermudah orang dalam menemukan jawaban, tapi juga cenderung membuat orang manja tidak mau berpikir kritis dulu. Bukan salah google-nya sich, tapi penggunanya yang cenderung malas untuk bereksplorasi sendiri atau berusaha dulu sebelum menyerah. Mohon maaf, menurut saya, hal ini juga berlaku dengan smartphone atau google translate atau kamus online yang saat ini begitu menjadi keseharian kita.
  3. Pengetahuan. Kalau tahu bilang TAHU. Kalau tidak tahu bilang TIDAK TAHU. Itulah TAHU (Kalimat Bijak Confucius). Ada kalanya kita merasa tahu padahal sebenarnya tidak tahu. Ada kalanya kita juga memang tidak tahu, tapi berpura-pura tahu. Orang ralatif jarang jujur, khususnya kepada anak kecil atau siswa. Sebagian orang tua atau guru mungkin menganggap hal ini sepele. Menurut saya, jangan hanya karena mereka anak-anak atau siswa lalu bisa dibodohi begitu saja. Kejujuran itu penting dan harus dibiasakan.
  4. Masalah musyawarah, selain secara teori harus dipahami dan secara fakta itu juga sangat penting dalam menumbuhkan sikap demokratis, tapi mungkin praktik bermusyawarah di keluarga perlu selalu dibiasakan sehingga anakpun belajar dari melihat atau mengalami langsung. Jujur saja, selama beberapa bulan ini, kami jarang bersmusyawarah untuk hal-hal sederhana. Kami hidup mengalir begitu saja seolah tak terjadi apa-apa.
  5. Saya harus lebih memacu lagi kemampuan anak saya dalam belajar dan harus lebih mendampinginya lagi khususnya saat dia mengalami kesulitan dalam belajar dan saya bisa membantunya menyelesaikan kesulitannya itu.

Bagaimana menurut Anda apa yang saya alami itu? Saya penasaran saja jika hal serupa terjadi pada Anda. Bagaimana reaksi Anda. Tapi saya kira Anda (mungkin) lebih cerdas dari yang saya kira. Jika berkenan untuk berbagi, silakan tuliskan saja komentarnya pada kotak yang ada di bawah.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

13 thoughts on “Merasa Konyol (atau Bingung) Gara-Gara PR Anak

  1. Ahahaha, perasaan sekolah SD jaman sekarang pelajarannya susah-susah ya, lebih susah dari jaman saya dulu. Menurut saya soal itu sedikit kurang tepat, harusnya tidak perlu diwajibkan memberikan sekian banyak contoh, kan kondisi setiap keluarga beda-beda.
    Karena itu, jika saya berada di posisi mas, saya akan jawab 3 saja toh saya yakin setelah PR itu dibahas nantinya, dan semua jawaban dikumpulkan akan ada jawaban-jawaban yang bervariasi yang jumlahnya lebih dari 5.

    Tapi ngga tau juga sih, soalnya saya juga belum punya anak hehehe.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Gitu ya mas Firman?
      Ya juga sih. Tadinya saya juga berpikir begitu, lagian di buku teksnya juga ga ada soal begituan, yang ada contoh2 kegiatan diskusi di keluarga, sekolah dan masyarakat, tapi karena saya gak mau menghakimi soal tsb, ya saya anggap soalnya okelah. Walaupun sebenarnya saya yakin itu kayaknya soal murni dari gurunya. Kalau mau curiga, jangan2 gurunya juga blm punya kunci jawabannya, ha ha… Semoga sih dugaan saya ini salah.

      Tapi bagaimanapun yg saya lakukan kemarin itu, sya jadi reflektif terhadap 4 poin yg saya tulis di atas.

      Disukai oleh 1 orang

  2. Ini juga beberapa waktu lalu saya sempet curi dengar dari keponakan saya juga kelas 2 ngerjain materi musyawarah, saya gak ikut nimbrung cuma nguping aja, bagaimana bisa bocah seusia itu memahami musyawarah. Yang kalau di telinga saya, kata musyawarah sendiri aja memiliki definisi yang cukup sakral, karena berhubungan dengan kebijakan dan kebijaksanaan.

    Suka

    1. Sebenarnya materinya sih gak soal, karena itu sudah sesuai kurikulum yg sudah dibuat pemerintah (KTSP 2006).

      Yang sedikit masalah bukan kurikulumnya, tapi bentuk soalnya mungkin, kalau minta disebutkan “beberapa” mungkin lebih pas. Tapi kalau diminta 5 contoh, mungkin itu sedikit beda kasusnya, otak anak seusia anakku mungkin blm mampu.

      Kalau apa itu musyawarah tergantung gurunya bagaimana menjelaskannya, karena ini ada kaitannya dengan sikap demokratis seperti jangan suka memaksakan kehendak sendiri. Dan itu memang perlu diajarkan kpd anak2 sejak dini.

      Suka

      1. Ya, setuju dengan kalimat terakhir. Hanya masalah guru saat ini memang harus jelas dalam membuat rubrik penilaian mas, kalau soalnya beberapa, nanti guru kesulitan memberi skor, kalau disuruh sebutkan 5 guru lebih mudah membuat penilaian.

        Suka

  3. musyawarah di rumah
    1. musyawarah uang jajan sehari
    2. musyawarah uang jajan seminggu
    3. musyawarah uang jajan sebulan
    4. musyawarah uang jajan setahun
    5. musyawarah uang jajan 13 dan THR

    😀 😀 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s