Review Film: Biri Gyaru

Sebenarnya saya bukan penggemar film. Bahkan mungkin bukan seorang yang pandai menilai atau memberikan sudut pandang tentang sebuah film. Tapi karena “bujukan” seorang teman, kebetulan juga karena ini berkaitan dengan bidang pekerjaan yang saya geluti, yakni pendidikan, atau juga karena tuntutan menulis artikel blog, maka saya berusaha untuk menikmati “serunya” menonton film.

Memaksa diri untuk memaksa diri. Terkesan tidak baik memang. Tapi ada kalanya itu perlu juga. Itulah yang saya lakukan beberapa waktu yang lalu. Suatu kebetulan juga bahwa sudah hampir 4 hari ini koneksi wi-fi gratis di desa kami “pingsan” total alias tidak berfungsi sama sekali. Untunglah, hari ini wi-fi nya “siuman” kembali setelah “diobati” oleh teknisinya (Ayo, lain kali kalau bukan teknisinya/ahlinya, jangan diotakatik lagi ya, biar alat kita gak rusak lagi 😂😂😂)

Jujur saja, keadaan itu menyebalkan memang dan sedikit merugikan. Sehingga saya tidak bisa beraktifitas di dunia maya. Padahal saya juga ingin memposting artikel. Tapi sisi baiknya adalah, saya bisa produktif menghasilkan beberapa artikel selama beberapa waktu ini. Salah satunya tulisan yang sedang Anda baca ini. Syukurlah, selalu ada hikmah di balik kesulitan atau “ketidaknyamanan”

Kembali ke masalah postingan kali ini. “Bujukan” yang dilakukan teman saya (Mr. Kaze) terhadap saya itu benar-benar berhasil, sehingga sayapun meluangkan waktu untuk menonton film yang ditawarkannya itu via laptop.

Film tersebut berjudul: “Biri Gyaru” atau Biri Girls. Biri Girls artinya cewek-cewek yang berpenampilan seperi orang kulit hitam. Kulit digelapkan dan rambut dipirangkan. Kurang lebih begitulah kira-kira artinya (itupun kata teman saya itu, persisnya Im not so sure). Film ini termasuk film drama (komedi) keluarga (atau pemuda) Jepang yang rilis pada 1 Mei 2015 lalu di Jepang (bukan film baru, memang), karya sang sutradara, Nobuhiro Doi.

Sejujurnya saja, saya kurang tertarik dengan film drama. Selain datar, durasinya juga sangat panjang. Apalagi drama keluarga. Selain itu, saya juga jarang nonton drama Jepang, sehingga gaya berpikir Jepang kurang saya perhatikan (minati) selama ini. Dan kalau boleh memilih, saya lebih memilih film action atau sciencefiction dari Holywood.

Bila membaca judulnya, Biri Gyaru, sepintas memang tampak kurang menarik (menurut saya). Tetapi setelah saya menontonnya, ternyata konten film ini tidak seperti dugaan saya sebelumnya. Walau datar, karena memang drama keluarga, tapi ada nilai-nilai kehidupan atau pelajaran berharga yang bisa saya ambil, khususnya dalam hal mendidik. (Thanks Mr. Kaze).

Dan jujur pula, saya memang suka mengambil nilai-nilai positif dari sumber apapun, entah itu dari buku, media massa, media sosial, karya fiksi, para bijaksana ataupun dari film. Dan itu mungkin baik bila saya bagikan kepada pembaca sekalian. Karena itu, postingan kali ini berkaitan dengan film yang saya tonton itu. Saya akan membuat reviewnya. Semoga saya bisa melakukannya.

Sekedar informasi saja, ini adalah pertama kali saya membuat review murni sebuah film selama saya ngeblog. Untuk film Ashoka dalam blog saya berjudul “Cinta Ashoka Di mata Seorang Desfortin“, saya anggap itu bukan review utuh, karena hanya melihatnya dari satu aspek, yaitu kisah cintanya.

Alur Cerita (Plot) Film Biri Gyaru (Biri Girls)

Film ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang memiliki 3 orang anak. Anak pertama adalah seorang anak perempuan bernama Sayaka Kudo (Kasumi Arimura). Sejak awal (SD) ia digambarkan sebagai anak yang pemalu sehingga selalu menyendiri dan tak punya teman. Anak kedua adalah seorang anak laki-laki, namanya Ryota. Seorang anak yang bersemangat khususnya dalam bidang olahraga. Anak ketiga adalah seorang anak perempuan juga, namanya Mayumi. Ia merupakan anak yang baik, namun tidak begitu ditonjolkan dalam cerita film ini, hanya sesekali pada momen tertentu.

Ketiga anak tersebut mendapatkan pola pendidikan yang relatif berbeda dari  kedua orangtua mereka. Sayaka sering dipandang remeh oleh ayahnya sendiri; ia dianggap anak yang scum (biang masalah). Tapi ibunya beda. Sayaka justru selalu dimotivasi oleh sang ibunya (Acchan) agar selalu pede and give the best.

Di sisi lain, sang ayah sangat (lebih) memperhatikan Ryota, anak lelaki mereka. Ryota selalu digodok oleh sang ayah untuk menjadi seorang pemain baseball profesional. Obsesi masa lalu (masa muda) yang gagal dari sang ayah ternyata berdampak buruk saat ia mendidik anak-anaknya di masa depan. Sedangkan anak ketiga, karena tidak begitu ditonjolkan dalam film ini, jadi sayapun sulit untuk menggambarkannya. So, kita skip saja untuk bagian ini.

Singkat cerita, Sayaka pun masuk SMP (Shiritsu Meiran Middle School). Bagian ironisnya adalah ia mulai terpengaruh oleh pergaulan teman-temannya saat itu. Tadinya ia yang pemalu dan lugu, yang kerap dianggap pecundang dan scum (sampah) kini berubah drastis, tapi ke arah yang cenderung negatif. Dari segi penampilan berbusananya yang serba seksi dan miniskirt maupun tingkah pongahnya yang lain membuatnya nampak berbeda sekali. Sepertinya rasa pede-nya mulai terbangun dan ia menemukan jati dirinya yang baru.

Waktu SMA, dia dan teman-temannya kerap bikin masalah di sekolah, yang kemudian pihak sekolahpun sampai berkali-kali memperingatkan, bahkan mengancamnya, sehingga pihak sekolahnya harus memanggil orangtuanya ke sekolah untuk mengkomunikasikannya. Dan ibunyalah yang selalu memenuhi panggilan tersebut.

Cerita selanjutnya adalah kita disuguhkan tentang bagaimana sikap dan sudut pandang seorang ibu terhadap anak perempuannya. Sekalipun ia sendiri heran dengan perubahan putrinya ini, ia selalu berpikiran positif, tetap merasa bangga padanya dan tetap memacu anaknya tersebut agar terus berubah menjadi lebih baik. Intinya ia selalu encourage (mendorong), bukan discourage (melemahkan semangat). Hal ini memang bukan tanpa alasan. Ternyata ibunya Sayaka juga punya pengalaman masa lalu yang pahit. Ia dulu dididik oleh orangtuanya dengan metode discourage, sehingga iapun banyak gagal. Tapi cara mendidik demikian tidak diterapkannya pada anak-anaknya sendiri, karena ia sadar bahwa cara demikian memang bukan cara mendidik yang baik.

Selanjutnya sang ibu memasukkan Sayaka ke tempat Bimbel (Bimbingan Belajar) swasta atau yang dikenal dengan Cram Course. Karena ternyata dalam sistem pendidikan Jepang kelulusan siswa sampai tingkat SMA tidak ditentukan oleh Ujian Nasional, karena UN memang tidak ada di Jepang. Akan tetapi mereka sangat menitikberatkan pada ujian masuk Perguruan Tinggi (Universitys Entrance Exam). Karena itu mengikuti Bimbel untuk persiapan ujian masuk PT menjadi sangat penting bahkan krusial.

Di Jepang ujian masuk ini bisa dilakukan berkali-kali, makanya sebelum seseorang lolos ujian masuk PT ini, seseorang tidak bakalan bisa masuk kuliah. Sehingga tidak jarang kemudian terjadi kasus bunuh diri pada mereka yang gagal tes berkali-kali. Benar-benar sistem yang “gak banget” bagi orang Indonesia.

Sayaka masuk Bimbel swasta tersebut dan bertemu dengan tutornya yang bernama Yoshitaka Tsubota atau Guru Tsubota (Tsubota-Sensei). Di awal kehadirannya di Bimbel tersebut, Sayaka tetap dengan penampilannya yang serba seksi dan rok  mini. Tingkahnya yang “centil”atau “kurang sopan” terhadap guru, mungkin sangat sulit diterima dalam pandangan umum.

Uniknya sang tutor tidak heran apalagi murka dengan situasi ini. Ia adalah tipe guru (tutor) yang langka dan yang sangat memahami keadaan (psikologi) para murid yang dibimbingnya. Salah satu kelebihannya adalah ia mampu mengajar dan mendidik siswanya dengan pendekatan melalui hobi mereka masing-masing. Sebuah pendekatan yang langka terjadi pada kebanyakan guru yang saya amati selama ini.

Sekalipun di awal, si Sayaka ini menunjukkan capaian yang buruk dalam pelajarannya, namun si guru selalu memacunya agar selalu bisa dan optimis. Bahkan sekalipun si murid mendapat nilai “0”, tapi sang guru tetap memujinya hebat. Intinya ia tak pernah discourage students. Suatu cara dan pendekatan yang saya sangat kagumi: always encourage people.

Fokus cerita kemudian bagaimana si guru ini mengubah para muridnya untuk menjadi orang yang sukses. Dari yang tadinya ogah belajar bisa berubah menjadi sebaliknya. Saya pikir ini luar biasa. Pendekatan yang dipakainya benar-benar menginspirasi saya sebagai seorang guru ketika berhadapan dengan siswa yang “bodoh”, malas dan susah diatur.

Menurut saya, Tsubota-Sensei adalah guru yang agung. Apa itu guru agung? Bagi saya, salah satu cirinya adalah guru yang menginspirasi, guru yang selalu dirindukan siswanya. Bagi guru agung, minimnya fasilitas fisik tidak menjadi alasan baginya untuk kendor dalam berkarya. Yang terpenting adalah bobot isi dari ajaran/didikannya sehingga siswa dapat mencontohnya. Saya iri sekali menjadi guru yang demikian.

Walau film drama ini cenderung datar, dan hanya menonjolkan sisi emosi (psikologi), tapi konflik emosi dan pesan moral yang mendalam dalam film ini benar-benar terbangun. Sayapun larut dalam emosi si guru yang mengajar (mendidik) dengan seluruh jiwa raganya, hal yang langka ditemukan pada guru-guru di masa kini, menurut pengamatan saya tentunya.

Sayaka pun begitu luar biasa perubahannya setelah berguru pada Tsubota-Sensei, meski jalan untuknya sukses itu banyak tantangan dan rintangannya. Beberapa kali Sayaka gagal dalam pelajarannya. Juga ayahnya dan adiknya, Ryota, masih saja meragukan potensi dirinya. Bahkan sempat ia merasa stres karena beberapa kali kegagalan yang diterimanya itu, khususnya pada saat ujian simulasi yang diadakan oleh lembaga Bimbel yang diikutinya, dimana ia beberapa kali gagal dalam ujian tersebut. Padahal ia sudah belajar mati-matian.

Namun demikian,  saya salut Sayaka benar-benar punya daya juang (fighting spirit) yang luar biasa. Tak pernah menyerah. Begitupun si gurunya, Tsubota-Sensei, tak pernah putus asa dan bosan menyemangati dan mencari resolusinya. Sampai akhirnya Sayaka pun benar-benar menyelesaikan studinya hingga SMA, dan selanjutnya mengikuti Ujian Masuk Universitas (PT) itu.

Ada 3 level ujian masuk PT tersebut. Iapun berhasil lulus ujian masuk tersebut, meski pada level 2 ia sempat gagal, yang konsekuensinya iapun harus memilih jurusan yang berbeda, tapi masih dalam satu universitas yang sama (Keio University). Tentu itu membuat dirinya, keluarganya, dan gurunya merasa bangga serta bahagia.

Sayapun kemudian terkesan pada bagian akhir cerita, yakni saat Sayaka memberi letter of thanks (surat ucapan terima kasih) kepada guru Bimbelnya, Tsubota-Sensei, dan kemudian saat ia menerima surat balasannya. Selain itu, saya terharu juga melihat hubungan Sayaka dan ayahnya yang pulih kembali pasca kesuksesannya itu. Ekspresi wajah sang ayah yang menggambarkan perasaan antara bersalah, haru bercampur malu, itu sungguh tersampaikan dengan baik.

Kelebihan Film Biri Gyaru

Beberapa kelebihan film ini diantaranya adalah:

1. Akting pemeran utamanya sangat profesional. Akting Kasumi Arimura, pemeran Sayaka Kudo, menurut saya baik sekali. Usianya yang tergolong muda (24 tahun) tetapi kualitas aktingnya tidak diragukan. Menurut informasi di internet, ada beberapa film lain yang juga telah dibintanginya, seperti Sutorobo Ejji (Strobe Edge), I am a Hero, Itsuka Kono Koi wo Omoidashite Motto Naite Shimau (Love That Makes You Cry), dan Bolu Dake ga Inai Machi (The Town Where Only I am Missing).

Begitu juga akting Atsushi Ito, pemeran Yoshitaka Tsubota. Ia berhasil memerankan perannya sebagai guru yang unik serta inspiratif.

2. Beberapa adegan (scene) yang berkesan. Pertama, adegan dimana Sayaka bersepeda pulang dari night club dan sambil mengayuh sepeda ia mengucapkan hapalan-hapalan pelajaran Bahasa Inggrisnya;

kedua, adegan Tsubota dan Sayaka pada suatu setting dimana sang guru menunjukkan kepada sang murid aksi menegakkan sebutir telur (named as Clara) di atas bidang datar, yang menggambarkan bahwa sesuatu (masalah) yang dianggap sulit sangat mungkin bisa dipecahkan atau dicari solusinya, asal optimis.

3. Film yang sarat makna dan pesan moral. Ada beberapa pelajaran positif yang bisa diterima (versi Desfortin), yakni:

  1. Pribadi yang dianggap sulit berubah secara fenomenal ternyata tidak mustahil berubah secara faktual bila perlakuan untuk memperbaikinya tepat / sesuai.
  2. Sebagai orangtua, jangan suka memaksakan cita-cita kepada anak, tetapi harus lebih kepada membimbing dan mengarahkan mereka untuk menggali/mengenali potensi diri mereka. Pemaksaan obsesi akan cita-cita sang ayah kepada Ryota agar menjadi pemain baseball yang unggul berakhir sama sekali tidak unggul.
  3. Jangan mendidik anak/siswa dengan cara discourage, tetapi encourage. Encourage lebih menyalurkan energi positif ketimbang discourage.
  4. Dimana ada kemauan disitu ada jalan (where there is a will, there is a way).
  5. Guru inspiratif tidak selalu menjamin para anak didiknya lulus ujian secara akademis, tetapi pasti membuat mereka mampu menghadapi segala bentuk kegagalan dan keberhasilan.
  6. Jangan keburu berjanji untuk hal yang Anda sendiri belum yakin akan hasil akhirnya, dan kalaupun sudah terlanjur, maka wajib hukumnya untuk ditepati alias menerima konsekuensinya. Itulah yang dialami salah seorang guru Sayaka di sekolahnya. Awalnya guru tersebut begitu meremehkannya, sehingga ia pernah berjanji kalau Sayaka berhasil lolos ujian masuk universitas, maka ia siap difoto telanjang (naked) di muka umum. Bagian adegan ini benar-benar konyol, 😂😂😂 walau tidak digambarkan secara vulgar.

4. Minim adegan yang berbau pornografi. Meski ada sedikit aksi dugem saat Sayaka berada di club malam bersama teman-teman wanitanya (Biri Girls) dan juga penampilannya yang serba seksi dan miniskirt pada awal cerita, dan juga adegan konyol si guru yang difoto naked itu, tetapi masih dalam batas kewajaran dan secara umum lepas dari ekploitasi aurat.

5. Berdasarkan kisah nyata. Film ini setidaknya idenya bukan isapan jempol belaka karena diangkat dari kisah nyata Tsubota-Sensei. Tentu patut untuk kita renungkan.

Kekurangan Film Biri Gyaru

Saya sulit menemukan kekurangan film ini. Satu-satunya kekurangannya mungkin masalah durasinya saja. Entahlah, saya kurang menyukai film drama yang terlalu panjang durasinya. Film ini durasinya hampir 2 jam, padahal cuma 1 episode.

Hal yang kontras memang bila dibandingkan dengan postingan saya yang juga cenderung panjang-panjang, 😂😂😂 … mungkin bukan masalah durasinya kali ya. Tapi (sangat) mungkin saja karena efek lain, dimana saya bukan penggemar atau pengamat film yang baik. Jadi, belum terbiasa begitu.

Pendapat Desfortin tentang Film Biri Gyaru

Singkat saja, menurut saya film ini bagus untuk menjadi tontonan sendiri atau bersama, khususnya bagi guru, orang tua, siswa, praktisi pendidikan, dan siapa saja yang menyukai drama keluarga yang sarat makna dan pesan moral untuk direnungkan.

Selain itu, karena film ini berdasarkan kisah nyata dari guru Tsubota, maka tentu membuatnya layak untuk ditonton, karena ide dasarnya bukan dari dunia khayalan atau fiksi semata. Tapi dari suatu pengalaman yang pernah benar-benar terjadi.

Demikian reviewnya. Terima kasih sudah membaca sampai selesai.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

12 thoughts on “Review Film: Biri Gyaru

  1. Kita beda mas destorfin. Saya cenderung menyukai film-film jepang dibanding hollywood. ntahlah.Tapi saya nggak bisa melihat dan menilai akting pemainnya. saya nggak peduli selama artisnya cantik menurut saya, biasanya saya akan menontonnya.

    lagipula industri film jepang sangat bagus. di masa depan mungkin bisa bersaing dengan hollywood. Kisah-Kisahnya nggak kalah menarik menurut saya.

    Disukai oleh 2 orang

    1. Ya mas Shiq4. Ternyata selera kita beda ya. Saya memang yakin Shiq4 pasti menyukai film Jepang, karena nama Anda kan jelas Jepang banget disini, Shiq4 (Shikamaru). Teman saya, Mr. Kaze itupun penggemar film drama Jepang. Bahkan dia tahu banyak semua ttg Jepang, bahasa Jepangpun dia lumayan menguasai. Sayapun belajar darinya ttg Jepang. Masih banyak yg saya belum familiar ttg alur berpikir orang Jepang, yg menurut saya unik2, khususnya dalam hal ide pembuatan film.

      Nampaknya sayapun harus belajar juga menyukai film Jepang, biar ketularan pinternya seperti Anda dan Mr. Kaze, hehe…. selain itu bintangnya juga emang cantik2, saya pun suka (itu utk cewek), tapi untuk yang cowok (sebagian sih), masih ganteng saya kayaknya, 😁😁😁

      Suka

  2. Saya sudah pernah nonton film ini, dalam bahasa Inggris judulnya “Flying Colours”. Film yang bagus, memotivasi, salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Film-film Jepang emang macam-macam sih, ada yang isinya cuma kisah cinta-cintaan yang, bagi saya kurang menarik karena biasanya “lebay”. Ada yang inspiratif kayak film ini.

    Kalau mas tertarik dengan film Jepang coba nonton “Have a Song on Your Lips”. Ceritanya tentang perjuangan anak-anak sekolah yang mengikuti lomba paduan suara, nggak kalah kerennya dengan film ini.

    Suka

    1. Ya, mas Firman, ada kemarin saya baca flying colours=Biri Gyaru. Saya kesulitan mengartikan judulnya bila dikaitkan dengan konten cerita.

      Saya orangnya milih2 juga nonton film Jepang mas, apalagi kalau mau dibuat review-nya. Dan postingan kali ini adalah pertama kali saya membuat review film. Ntahlah, saya masih merasa belum berhasil melakukannya.

      Betul, kalau untuk tema percintaan biasanya “lebay” gitu, saya lebih suka yang mengandung banyak pesan pendidikan. Nanti, saya coba tonton film yang Anda sarankan itu. Makasih mas ya.

      Disukai oleh 1 orang

  3. Pesannya mengena ya. Harus ada kemauan dari dalam diri untuk mau berubah (bukan iri melihat orang tapi tak ada usaha sendiri), kalau ada orang mau bergerak ke arah kebaikan didukung dan dibantu (bukan dijerumuskan), jika ada yang gagal disemangati (bukan ditertawakan). Menurut saya mayoritas film Jepang pada umumnya menyelipkan pesan-pesan moral seperti ini, pesan yang bikin makin semangat menjalani hari. Terima kasih Mas, sudah menyarikannya dengan demikian lengkap, saya jadi ikut bisa merasakan pesannya tanpa terkecoh dengan penampilan si tokoh utama #eh. Jadi lebih semangat menghadapi tantangan hidup yang pastinya makin berat dan kompleks.

    Suka

    1. Thanks too, mas Gara.

      Ya, kebanyakan film2 drama Jepang khususnya, memang syarat pesan moral semacam itu, tapi yg liar2 juga ada.

      Tapi jujur ni, saya masih dalam tahap belajar menyukai film2 Jepang. Membuat review-nya saja baru ini…. it’s my first experience to review Japanese’movie.

      Keep spirit ya….

      Suka

  4. Jepang sendiri kalau udah bikin film yang porno ya bikin jav sekalian full. Tapi kalau udah bikin drama mereka sangat sopan, penuh edukasi, komedi ala jepang banget. Bahkan buat cium bibir jarang banget ditemui di film/dorama/drama.

    Film2 serial jepang yang berbau edukasi juga banyak ditemui.

    Suka

    1. Betul mas. Makanya kadang saya gak ngerti cara berpikir Jepang, kadang liar, kadang sopan kadang juga unexpectable. Saya kadang juga heran dengan filosofi hidup mereka, apa Shintoisme mereka kental banget atau teori filsafat apa yang mereka junjung, beda dengan Indonesia yang katanya agamis, tapi koq kayak unlikely gitu, 😂😂

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s