About 1.357 Words: “Choose Your Choice And Love Your Choice”

Sumber Gambar: nyamnyon.com

Saya kembali menulis bebas hari ini. Menulis Bebas, menurut saya, asyik dan bebas. Tidak terlalu pusing dengan banyak aturan. Memang, tidak semua orang menyukai gaya menulis ini. Menulis bebas, walau bebas, langkah pertama tentu Anda harus punya suatu ide dulu untuk dieksekusi (ditulis). Inilah ide yang mau saya tulis hari ini, yaitu tentang pilihan dan sikap kita pada pilihan.

Kata orang hidup itu pilihan. Pilihan atas pilihan. Banyak pilihan yang tersedia. Dan kita harus memilih salah satunya. Memilih artinya menentukan salah satu dari dua atau beberapa dari beberapa. Artinya ada sisa dari suatu pilihan. Kalau kita memilih semuanya bukan pilihan namanya. Itu namanya mengambil semua, 😂😂😂 ….

Saat kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan, bagaimana kita memilih, itu menentukan langkah kita selanjutnya. Pilihan yang kita pilih itu memiliki konsekuensinya sendiri.

Apakah hidup itu memang pilihan? Menurut hakikatnya tidak. Karena hidup itu anugerah. Anugerah itu artinya pemberian. Bukan keinginan kita. Bukankah kita tidak pernah meminta untuk dilahirkah menjadi apa? Setiap kita terlahir dengan apa adanya (tapi katanya sih kita lahir membawa misi masingmasing). Kita menjadi laki-laki atau perempuan bukan keinginan kita. Itulah yang saya sebut hidup itu sebagai anugerah.

Karena semuanya adalah anugerah alias pemberiaan, maka sudah selayaknya hidup ini kita jaga dengan baik dan bertanggungjawab demi hidup yang lebih baik dan lebih bermartabat. Sebab barang siapa diberi banyak maka akan dituntut banyak. Barangsiapa diberi sedikit, maka dituntut sedikit pula. Itulah keadilan Tuhan Sang Pencipta atas manusia ciptaanNya. Saya meyakini itu.

Semua yang saya nyatakan di atas, menurut saya, walau nampak abstrak mulai dari judulnya, tapi saya yakin itu betul. Hidup ini adalah anugerah yang berharga. Namun demikian, saya juga ingin mengatakan, hidup ini juga adalah pilihan. Kenapa? Karena setelah kita mengetahui bahwa kita ada dan tercipta seperti ini, kitapun diperhadapkan dengan berbagai pilihan kehidupan untuk dijalani. Itulah yang saya sebut hidup itu sebagai pilihan.

Pilihan atas sesuatu yang ada dalam kehidupan di dunia ini. Saya tidak sedang berbicara tentang hakikat hidup yang adalah anugerah dan berharga itu. Saat ini saya sedang berbicara bahwa kita diberi pilihan, pilihan hidup yang baik dan pilihan hidup yang tidak baik. Kehidupan yang bernilai atau kehidupan yang tak bernilai. Bukankah keduanya kita bisa memilihnya?

Adalah suatu kenyataan bahwa seringkali saat kita memilih kita kadang tak pernah peduli akan konsekuensi yang akan menyusul dari pilihan kita itu. Saat memilih kita hanya memilih. Tak tahu kenapa kita memilih. Kita berdalih hidup ini mengalir sajalah seperti air, tak usah repot.

Betul bahwa kita bukan peramal atau ahli masa depan. Tapi sebagai makhluk yang berpikir kita bisa menentukan pilihan untuk satu masa depan. Karena masa depan itu sungguh ada, dan sedang menanti kita. Dan kita dapat memilihnya (urusan sukses atau tidaknya itu urusan nanti).

Karena kita sering tidak memikirkan dengan matang sebelum memilih, maka jadinya adalah, saat masalah datang di masa depan, kita sulit dan bahkan gagal untuk memahaminya, sehingga kesia-siaan dan kegagalan itu membuat kita hancur dan bahkan hilang pengharapan. Akhirnya kita hanya menjadi pecundang sejati.

Yang ingin saya katakan saat ini adalah bahwa kita harus memilih pilihan yang diperhadapkan pada kita dengan bijaksana. Setelah kita memilih pilihan tersebut kita harus mencintainya. Setidaknya belajar untuk mencintainya. Saya memegang keyakinan ini. Ini juga menjadi motto dalam hidup saya, yakni “Pilihlah Pilihanmu dan Cintailah Pilihanmu” alias Choose Your Choice and Love Your Choice.

Bagaimana konkritnya sih? Bukankah sedari tadi Desfortin berbicara secara abstrak terus?

Itu dia. Hal abstrak bukan sesuatu yang aneh dan tidak tanpa manfaat. Kadang justru yang abstrak itu perlu, dan bisa dijadikan sebagai yang konkrit. Berikut contoh konkritnya.

Pilihan Menjadi Guru (Teacher)

Anda dipercayakan bekerja menjadi guru, maka jagalah kepercayaan itu. Kepercayaan itu sebenarnya juga tetap tergantung pada Anda. Jika Anda tidak terima kepercayaan menjadi guru, maka itu juga hak Anda, dan Andapun mustahil menjadi guru. Jadi kepercayaan itupun sebenarnya menjadi pilihan Anda.

Artinya, Anda telah memilih menjadi guru. Setelah Anda memilih pilihan sebagai guru tersebut, apakah semuanya selesai? Tidak. Selanjutnya adalah hari-hari Anda menjadi guru. Bagaimana Anda menjalaninya dan memaknainya, itu menjadi sangat penting lagi.

Jika Anda tidak menikmati menjadi guru, maka biasanya kecenderungan Anda akan bekerja di bawah stres (tekanan). Alhasil, Anda tidak produktif. Performa Anda buruk, dan bahkan terkesan semaunya saja. Apakah bekerja secara demikian itu baik? Tentu tidak, bukan? Maka dari itulah, saya katakan bahwa setelah Anda memilih pilihan Anda itu (menjadi guru), Anda harus mencintai pilihan Anda itu (pekerjaan sebagai guru).

Intinya adalah, dalam bekerja Anda harus menunjukkan dedikasi yang baik agar hasilnyapun baik dan membanggakan. Dengan kata lain, Anda harus mencintai pekerjaan Anda itu. Prinsip ini berlaku juga untuk pekerjaan lainnya, apapun pekerjaan (profesi) Anda.

Mengapa Anda bekerja? Apa Tujuan Anda Bekerja? Bukankah bekerja itu melelahkan? Ya. Tapi itu justru panggilan kehidupan. Kalau Anda tidak bekerja dalam hidup, maka Anda mau makan apa? Para bijaksana berkata bahwa untuk makan kita harus bekerja. Bekerja untuk makan. Makan untuk hidup. Tapi hidup bukan untuk makan.   Selain itu, hidup juga harus dimaknai alias dihidupi. Karena hidup yang tidak dihidupi adalah hidup yang tidak layak dihidupi.

Nah, bagaimana Anda bisa bertahan lama dalam suatu pekerjaan? Anda bisa bertahan lama dalam suatu pekerjaan, karena imbalan yang Anda terima atau gajinya yang menjanjikan, ya kan? Tapi ingat, Anda bisa bekerja dengan baik dan berkualitas bukan karena gaji atau upah, tapi karena Anda sungguh menyukai alias mencintai pekerjaan itu. Anda bekerja tidak dengan keterpaksaan. Karena itu sekali lagi: “Pilihlah pilihanmu dan cintailah pilihannmu itu.”

Sebagai guru, saya sangat mencintai profesi ini. Karena itu setiap hari saya terus bekerja dan menikmatinya. Saya tidak pernah bosan berhadapan dengan siswa saya. Begitu juga dengan segala permasalahan pendidikan. Kenapa? Karena saya yakin pekerjaan ini adalah passion saya.

Pilihan Menjadi Bloger (Blogger)

Begitu juga halnya ketika saya memilih untuk ikutan ngeblog di wordpress.com ini. Saya telah memutuskan untuk memilih menjadi bloger amatir. Walau hanya sekedar hobi, bukan obsesi apalagi tugas utama, tapi saya harus update tulisan secara teratur, minimal seminggu sekali (kecuali kalau memang ada masalah koneksi jaringan seperti yang saya alami beberapa hari ini).

Nah, agar saya tetap eksis dan bertahan lama sebagai bloger, tentu saya harus mencintai kegiatan sebagai bloger. Saya tidak boleh stres dengan kegiatan ngeblog. Saya harus benar-benar menikmatinya. Tentu ada trik atau strateginya. Makanya saya bersyukur bisa berinteraksi atau berteman dengan bloger lain di wordpress ini, yang tentu membuat saya tetap bersemangat, khususnya setelah saya memahami maksud Shiq4 dalam blognya yang berjudul Cara Berteman Dengan Bloger Lain.

So, jangan cuma menyendiri, apalagi Silent Reader terus, Anda perlu juga komentar (interaksi) di blog lain. Buktikan sendiri saran saya ini. But, pilihan terakhir tetap pada Anda, 😬😬😬).

Pilihan Mencari Pasangan (Soulmate)

Begitu juga halnya ketika Anda mengidam-idamkan pasangan. Maksud saya menginginkan seorang pendamping hidup. Tentu langkah pertama Anda harus berusaha dulu menemukannya. Pengalaman menemukan pasangan hidup itu tidak gampang, bukan? Diperlukan daya dan upaya. Yang sudah berusaha pun kadang belum tentu dapat, apalagi yang cuma berpangku tangan atau hanya mengharapkan mukjizat turun dari Sorga.

Tahap selanjutnya adalah ketika idaman itu nampaknya sudah ada di depan mata. Bagaimana sikap dan reaksi Anda? Bukankah terkadang kita justru dihinggapi oleh keraguan dan ketidakpastian?  Mau dapat pasangan tapi saat sudah ada, kita malah bingung dan bahkan tidak percaya diri.
Apakah Anda juga mengalami pengalaman ini? Saya rasa sebagian iya. Sebenarnya tidak aneh sih, karena manusia memang suka milih-milih. Alasannya takut salah dan menyesal di kemudian hari. Betul, urusan pasangan hidup memang harus dipertimbangkan sematang mungkin sebelum menjatuhkan pilihan. Jangan hanya terpukau dengan sensasi Indahnya Menjadi Raja dan Ratu Sehari.

Namun maksud saya adalah, saat pilihan itu memang sungguh sudah ada, sekali lagi kita harus memilih. Kita harus memutuskan suatu pilihan. Pilihan itu sangat menentukan untuk selanjutnya. Ketika kita kemudian memilih salah seorang gadis atau pria pilihan kita, maka kita harus konsekuen dengan pilihan kita itu. Apa dasar atau alasan Anda memilihnya? Apakah Anda akan bertahan lama dengannya? Apakah Anda benar-benar mencintainya? Dst …

Saya percaya kenapa Anda bisa bertahan lama dengan pasangan Anda, karena pasangan Anda memiliki sesuatu yang membuat Anda bertahan dengannya. Mungkin kebaikannya. Mungkin kesetiaannya. Mungkin kecantikan atau ketampanannya. (Sangat) mungkin juga karena cinta kasih yang Tuhan taruh di dalam dirinya sehingga Anda sungguh terpikat dan semakin jatuh cinta padanya. Tapi bagaimana Anda bisa menjadi pasangan yang baik bagi pasangan Anda kalau Anda sendiri tidak mencintainya alias tidak menjaga cinta Anda padanya? Ini adalah hal yang lebih penting lagi.

Itulah yang saya sebut sebagai “Choose Your Choice And Love Your Choice” atau “Pilihlah Pilihanmu dan Cintailah Pilihanmu”. Setelah saya hitung, saya sudah menuliskan ulasannya sekitar 1.357 kata lebih. Inilah hasil menulis bebas saya hari ini. Semoga ada manfaatnya.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

10 thoughts on “About 1.357 Words: “Choose Your Choice And Love Your Choice”

  1. Ya kadang2 pilihan yang kita ambil memang berakhir dengan tidak menyenangkan atau tidak seperti yg kita harapkan. Tapi tetap, pilihan apapun dan hasil apapun merupakan pembelajaran. Setidaknya di masa depan kita tahu bagaimana memilih dan bertanggung jawab dengan pilihan yang kita ambil. Karena hidup memang perjuangan untuk menjadi bijak dalam memilih segala sesuatunya.

    Suka

  2. untuk saat ini, ngeblog belum menjadi pilihan utama tapi tiap bulannya sudah mewajibkan diri posting tulisan 3 kali, mungkin masih terlalu jarang tapi ya karena blogku yang fokus ke traveling dan harus ngirit bikin tulisan biar pas lagi nggak bisa jalan2 masih ada stok tulisan hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s