2 Musim Panen (lagi) Saat Ini di Desa Kinipan

two-seasons

Sudah sekitar 7 tahun saya tinggal di desa Kinipan. Salah satu desa di wilayah Kec. Batang Kawa Kab. Lamandau – Kalteng. Nampaknya saya cukup betah menetap di desa ini. Semuanya berawal karena cinta (jodoh) dan juga pekerjaan sebagai guru. Menikah dengan gadis Kinipan membuat saya kini menjadi warga Kinipan dan mungkin sedikit banyak telah menyatu dengan kebiasaan kehidupan setempat.

Selama kurang lebih tujuh tahun ini banyak hal yang saya pelajari tentang Kinipan. Baik tentang kekerabatan di desa ini, tentang adat istiadatnya, maupun tentang mata pencaharian masyarakatnya, bahkan tentang peradaban warganya dalam bertani atau bercocok tanam, dst..

Mayoritas penduduk desa Kinipan bekerja sebagai petani/pekebun. Artinya mereka sangat erat dengan urusan tanam-menanam. Mereka biasanya menanam padi di ladang kering dan ini menjadi tradisi turun temurun. Ladang dalam bahasa lokal setempat disebut “huma”.

Ada juga yang menggunakan lahan basah (sawah) yang mereka sebut sebagai “padi aray”. Namun tetap mayoritas warga lebih memilih ladang berpindah dengan metode ladang kering.

Dan bercocok tanam yang mereka tekuni menurut saya agak berbeda (kecuali untuk kebun karet, dan kebun sawit yang belakangan ini mulai digalakkan).

Bila umumnya, seperti di pulau Jawa atau daerah lainnya, orang bertani (menanam padi) hasil panennya untuk dijual, tetapi bagi mayoritas warga Kinipan itu hanya untuk dikonsumsi sendiri. Biasanya disimpan di lumbung padi, yang mereka sebut “jurukng”, sebagai persediaan pangan sepanjang tahun.

Jadi, untuk menopang ekonomi sehari-hari biasanya mereka lebih memilih kerja sampingan. Ada yang menyadap karet. Ada yang bekerja upahan di ladang/kebun orang, ada yang berburu hewan di hutan, dan ada juga yang membuka warung kecil-kecilan.

Sebenarnya kebiasaan bercocok tanam, dimana hasil panennya dikonsumsi sendiri, bukan hanya terjadi di wilayah desa Kinipan saja, tetapi juga dilakoni oleh mayoritas penduduk di wilayah Kecamatan Batang Kawa dan umumnya masyarakat di Kabupaten Lamandau.

Namun karena saya saat ini menetap di Kinipan, maka saya berbicara hanya sebatas di desa ini saja. Dan dalam postingan kali ini saya ingin membagikan tentang 2 musim panen yang saat ini masih berlangsung di desa Kinipan, dimana saya juga sempat ikutan atau sekedar menyaksikannya. Berikut ulasannya:

1. Musim Bahanyi

Musim bahanyi adalah saat masyarakat desa Kinipan menuai atau memanen padi. Dalam bahasa lokal setempat memanen padi disebut “bahanyi”. Bahanyi sudah menjadi rutinitas tahunan di desa ini.

Biasanya Musim Bahanyi dimulai pada bulan Februari s.d bulan Maret setiap tahunnya.

Adalah suatu kesempatan spesial bagi saya kemarin dimana saya bisa ikutan dalam kegiatan bahanyi ini. Kebetulan kakek saya (kakek dari istri) juga masih berladang tahun ini. Sebagai cucu yang baik agaknya sesekali tidak salah kalau sayapun ikutan membantu memanen padi (bahanyi), hitung-hitung untuk bernostalgia ke masa lampau, karena ketika saya masih anak-anak saya sering ikut orang tua saya memanen padi di huma atau ladang.

Berikut hasil jepretan saya pada sesi bahanyi (kemarin):

Abu’k saya (kakek saya) yang sudah berumur 78 tahun ini sedang membuat hahanyi alias ani ani

bpk-kibar
Bapak yang mengantar saya ke ladang abu’k kemarin (Bpk. Kibar), kami harus menyeberangi Sei Batang Kawa menggunakan motor air milik beliau ini

hamparan-ladang-kering-abuk

Hamparan ladang padi (huma) milik abu’k yang telah menguning, siap untuk dituai

wp-image-1177975778jpg.jpg

Ladang padi milik warga lainnya (Bpk. Wandi) yang juga menguning, siap untuk dituai

Beberapa orang yang membantu abu’k bahanyi

Ikutan bahanyi (manual tanpa ani ani) di ladang kering milik abu’k

wp-image-909141681jpg.jpg
Abu’k sedang memanggul (ala Dayak Tomun) sebagian hasil panenan untuk dibawa ke pondok

2. Musim Buah Jorikng

Musim ini biasanya terjadi antara bulan Januari s.d. Februari. Musim buah jorikng (menurut bahasa lokal) menjadi moment of fortune bagi sebagian masyarakat Kinipan. Momen musiman ini menjadi angin segar pula bagi para tengkulak musiman dalam mengais rejeki.

Harga jorikng di tengkulak yang lumayan menjanjikan, yakni antara Rp 7.500,- s.d. Rp 9.000,- per kg ini, tentu tidak disia-siakan sebagian warga Kinipan dalam menambah penghasilan.

Mulai dari orang dewasa sampai anak-anakpun ikutan mencari buah jorikng. Saking semangatnya sampai-sampai pernah ada (entah 2 atau 3 tahun lalu) yang mengalami insiden jatuh dari pohon jorikng. Selain itu, yang PNS pun ada pula yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menambah penghasilan. Can you imagine that?

Hal yang unik lainnya, pohon buah jorikng di wilayah Kinipan biasanya kebanyakan tumbuh liar/bebas di hutan. Jadi, warga tidak memanen buahnya di kebun khusus. Kenyataan ini tentu agaknya lebih bebas dalam mencarinya, karena tidak (belum) diklaim sebagai milik pribadi, kecuali yang memang telah tumbuh atau sengaja ditanam di area pemukimanan/pekarangan milik warga.

Buah jorikng (dog fruit) biasanya dijual keluar pulau Kalimantan dengan harga fantastis. Menurut informasi tertulis yang saya baca, harga terbaru per Februari 2017 di Jakarta mencapai Rp 45.000,-/kg. Buah ini kandungan proteinnya cukup tinggi. Umumnya orang memanfaatkan buah ini untuk mengolah aneka kuliner seperti semur jorikng, rendang, kerupuk, keripik, atau dibuat jenis kuliner lainnya. Bahkan konon jorikng bisa juga dijadikan campuran bahan pembuat minuman bir (benarkah? Informasi resminya belum saya dapatkan).

Walau buah jorikng itu memiliki bau (aroma) yang tajam dimana tidak semua orang menyukainya, termasuk saya, tetapi buah jorikng nyatanya memiliki aneka manfaat bagi kesehatan. Dan yang pasti buah ini telah membantu perekonomian warga meski hanya bersifat musiman. Tentu ini harus disyukuri.

Catatan: jorikng=jering=jengkol 😁😁

Berikut hasil jepretan saya pada sesi (panen) buah jengkol (kemarin):

wp-image-1908317228jpg.jpg
Buah Jengkol yang sudah dikupas dan dimasukkan ke dalam karungnya
Tengkulak Terima Jengkol.jpg
Menerima pasokan jengkol dari penjual di TKP (Fajar dan adiknya)
wp-image-1684675712jpg.jpg
Transaksi antara penjual jengkol dan tengkulak (penimbangan)
wp-image-391733605jpg.jpg
Salah satu pohon jengkol yang juga berbuah (tahun ini) di samping area sekolah kami, siap dipanen

2 musim panen ini, padi dan jengkol (jorikng), yang datang secara beriringan / bersamaan tentu sangat membawa keberuntungan bagi warga Kinipan, khususnya bagi mereka yang bekerja secara serabutan atau tidak berpenghasilan tetap.

Namun ada beberapa catatan penting menurut saya:

  1. Dalam hal (musim) bahanyi, meskipun zaman sudah semakin maju dimana sikap individualitas semakin mengental, tetapi semangat “Nyamai” (gotong royong secara bergiliran dan berbalas-balasan) itu sebaiknya tetap dipelihara, sehingga pekerjaan bisa cepat selesai. Zaman boleh bergulir maju, tetapi semangat kebersamaan harus tetap dipupuk. Tradisi “Nyamai”, menurut saya, termasuk kearifan lokal yang saat ini mulai memudar tergerus oleh zaman.
  2. Terkait musim panen buah jorikng / jengkol, sebaiknya masyarakat Kinipan (dan sekitarnya) tidak hanya terlena saat menikmati hasil panen jengkol, tapi harus mulai berpikir maju dan mengambil aksi nyata (dengan berlomba-lomba) untuk menanam pohon jengkol di kebun sendiri. Jadi supaya di masa depan tidak mencarinya secara liar atau bebas lagi di hutan. Hal ini selain karena kurang praktis, juga untuk mengantisipasi terjadinya sengketa klaim kepemilikan pohon jengkol yang tumbuh bebas di hutan, bilamana ada seseorang merasa telah menemukannya lebih dulu. Dengan memiliki kebun sendiri maka tentu akan lebih elegan dan etis dalam mengais rejeki sehingga saya yakin taraf hidup pun akan semakin baik di masa depan.

Demikian ulasan saya tentang musim panen di daerah saya saat ini. Bagaimana musim panen di daerah Anda? Tentu berbeda, bukan?

Salam Cerdas,

Desfortin

 

Iklan

27 tanggapan untuk “2 Musim Panen (lagi) Saat Ini di Desa Kinipan

  1. Wah saya baru tahu kalau di kalimantan ada yang nanam padi juga, kirain lahannya dipakai buat pertambangan semua. Kalau di tempat saya sih, karena di daerah pegunungan jadi kebanyakan pada nanam sayur-sayuran.

    BTW itu yang ke ladang pakai perahu itu asyik banget kayaknya mas, kayak di acara jalan-jalan di TV, hehehe

    Suka

    1. Ya, mas Firman. Kami nanam padi juga koq, tapi itu tadi seperti sudah saya tulis di atas, hanya untuk konsumsi sendiri. Bukan untuk dijual apalagi diekspor.

      Nah, kalau tanaman sayur atau kebun sayur, hasilnya pastinya dijual. Tapi di desa Kinipan tempat saya menetap sekrang, untuk sayur juga agak kurang. Yang banyak sayur-mayur itu di kampung kelahiran saya, bahkan boleh dikatakan termasuk salah satu pemasok sayuran terbesar di Kab. Lamandau ini.

      Ke ladang naik perahu (dalam bahasa lokal Kelotok) seperti di atas, asyik juga mas, tapi bagi yang gak bisa berenang mungkin gak asyik kali ya, hehe …

      Disukai oleh 1 orang

  2. Wah….jadi teringat saat SD masih di kampung halaman dulu, selalu ikut memetik padi pakai ani-ani baik di sawah orang tua maupun sawah punya sekolah. Sama juga dengan orang tua saya dulu, padinya di simpan di Lumbung untuk keperluan setahun, saat itu belum ada irigasi jadi masih sawah tadah hujan

    Suka

      1. He..he..iya ya, padahal kita di generasi yang berbeda lho, tapi ternyata sama memetik padi pas sekolah, kalau kami dulu katanya sawah punya sekolah dan kebetulan letaknya di belakang sekolah, jadi untuk menggarap dan memanennya mengerahkan siswa2. Betul sebagai anak-anak malah senang waktu itu, dan kenangan itu masih melekat sampai sekarang, dibanding pelajarannya he..he..he..

        Suka

  3. Wah sebenarnya lebih enak hidup di daerah pedesaan loh. Klo di kota semua serba individualistis. Di tempat saya aja udah jarang ngeliat orang gotong royong. Padahal dulu sewaktu masih kecil saya masih ngeliat gotong royong.

    Apalagi hidupnya dekat hutan, itu keren nurut saya. Klo bisa sih memang warga buka lahan buat nanam jengkol secara gotong royong dan mengelolanya bersama. Mungkin dengan bantuan koperasi semuanya bisa terwujud.

    Suka

    1. Ya mas, saya setuju. Namanya juga di desa ya…kekerbatannya masih lah, tapi itu tadi, tradisi nyamai itu udah mulai ditinggalkan…

      Terkait jengkol dan koperasi ide bagus juga tu, tp disini urusan koperasi belum lancar mas, koperasi perkebunan sawit aja sampai saat ini belum ada kata sepakat… masih polemik… tks atas tanggapan nya, bisa juga saya usulkan nanti…

      Disukai oleh 1 orang

    1. Penasaran? Karena Anda suka travelling, ya nggak ada salahnya kalau Anda juga bisa traveling kesini, hehe ….ada beberapa tempat wisata disni….lumayanlah ukuran untuk pulau borneo yang masih kental dengan hutannya yang lebat

      Suka

  4. Saya mahasiswi UNTAMA PBUN pak, salam kenal ya, saya tgl 11 nanti mau KKN di desa kinipan pak, saya mohon kepada bapak semoga bapak bisa bantu kami untuk menjadikan kinipan lebih baik lagi pak, informasi yang bapak posting ini sangat penting bagj saya, agar saya bisa mengenal desa kinipan lebih jauh lg, sehingga nanti nya pas di desanya saya bersama teman2 saya bisa membantu permasalahan yg ada d desa kinipan pak, saya berharap bapak bisa membantu kami juga nanti nya,, Terima Kasih

    Disukai oleh 1 orang

    1. Oya..wah, dg senang hati, Nurdiana. Slagi bisa membantu, mngpa tdk. Tp sy bkn siapa2 jg disini, bhkan org luar jg, tp krn tgas d skolah dan kluarga, sy tnggl disini. Sy ykin rkan2 dr pemdes akan kooperatif. Seingat sy, mhsiswa KKN disini terakhir kli pd thn 2006 silam.

      Oya, klo mau ktmu sy, saya di SMPN 1 Batang Kawa. Tgl 10 Juli 2017 ini skolah kmbli buka.

      Terimakasih sudah mampir dan meninggalkan jejak dsini.

      Suka

      1. Ohh iya pak,, sama” , masalah nya saya nyari informasi tentang kinipan, pas ketemu postingan bpk,, nanti saya akan ke SMPN pak, terima kasih ya pak atas informasi dan bpk jga ingin membantu nanti,, terima kasih banyak,,

        Disukai oleh 1 orang

        1. Sip.
          Oya, terkait ttg Kinipan, masih ada dua postingan lg terkait Kinipan, ttg asal muasal Kinipan, mungkin berguna. Search saja di pos2 yg tersedia.

          Trmksih, smpe ktmu.

          Suka

            1. Mf, komen ini smpat msuk kotak spam, tp udah sy pulihkan.

              Ya, tentu saja ada mbak Nurdiana. TK Negeri Pembina Kinipan namanya.
              Tp jumlah siswanya gak sbrpa dsni, baik dari TK hingga SMA, krn pnduduk Kinipan blm bnyak.

              Sinyal jp jg msh sulit. Skrg sdh ada wifi sih, tp jringannya msh biasa2 sja, dan nylanya jg tdk 24 jam.

              Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s