Tentang Kelakai dan Mengeksekusinya Menjadi Keripik Unik

Kesibukan pekerjaan atau jadwal yang padat terkadang membuat saya merasa sumpek, sehingga kualitas kerjapun tidak bisa terjamin maksimal. Karenanya, beristirahat dan bersantai dengan menikmati hal-hal ringan mungkin bisa jadi ‘obat’ yang tepat baginya. Ya, pikiran kitapun perlu relax. Memikirkan hal-hal berat secara kontinyu, ibarat komputer, dapat membuat memorinya ‘hang’.

Nah, jika biasanya saya menulis dengan tema yang sudah agak umum, menurut ukuran seorang Desfortin, maka kali ini saya ingin menulis tema yang lebih ‘ringan’ untuk dibaca dan lebih praktis untuk dieksekusi. Sejujurnya saja, ide ini sebenarnya sudah ada sejak 2016 lalu, tapi baru hari ini bisa terwujud. Suatu kebetulan juga karena Blog Desfortin Menulis adalah blog gado-gado.

Sekedar untuk diketahui saja, postingan mas Agung Rangga tentang 5 Olahan Tepung Kentang Yang Enak ini, postingan tentang 10 Oleh-oleh Yang Wajib Dibeli di Dieng dari mas Hendi Setiyanto dan juga postingan-postingan kuliner dari Bidadarinya Abu Rauf, khususnya yang ini, mungkin sedikit banyak telah memacu saya untuk merampungkan tulisan tentang tema ini.

Tentang Kelakai

Kelakai. Itulah ide yang mau saya bagikan saat ini. Mungkin kata kelakai  terdengar asing di telinga sebagian orang, khususnya bagi Anda yang tinggal di luar Kalimantan. Tapi bagi warga Kalimantan Tengah, seperti saya, tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya kelakai.

daun-kelakai
Kelakai Yang Sudah Dipetik

Sejak dulu saya sudah mengenal apa itu kelakai. Di kampung kelahiran saya, Batu Hambawang, Kec. Sematu Jaya, Kab. Lamandau-Kalimantan Tengah, terdapat banyak sekali kelakai. Jadi kami tidak asing dengan kelakai. Para mahasiswa (i) pun – yang berasal dari daerah-daerah jauh, yang kuliah di kota seperti Palangka Raya dan Banjarmasin, – yang tinggal di barak/kos mereka, dengan alasan keuangan, biasanya tak jarang menjadikan kelakai sebagai ‘pendamping menu bersantap’ di barak/kos mereka, lantaran kelakai memang cenderung lebih ekonomis dan praktis.

Memang, informasi tertulis terkait kelakai belum banyak (masih minim). Bahkan belum banyak dilakukan penelitian ilmiah yang lebih mendalam. Namun bukan berarti belum ada. Saya awalnya juga menduga belum ada penelitian sama sekali dan tidak banyak informasi tertulis seputar ‘Kelakai’. Ternyata dugaan saya keliru. Berdasarkan hasil searching di google, ternyata sudah ada beberapa sumber tertulis seputar ‘kelakai’ ini, konon juga sudah ada satu studi empiriknya.

Melalui tulisan sederhana ini, tentu saya berharap agar sumber tertulisnya pun bertambah. Setidaknya menjadi bacaan ringan dan praktis bagi Anda pecinta botani dan kuliner. Ya, kelakai adalah jenis tumbuhan pakis atau paku-pakuan dengan nama latin Stenochlaena palutris, dimana bagian daun dan pucuknya yang muda dapat dimanfaatkan sebagai sayur atau kuliner sederhana, seperti ditumis/dioseng, dijadikan sayur bening, sayur santan dan lain-lain, tergantung selera.

Tumbuhan ini tersebar banyak di wilayah Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Kelakai memang gampang tumbuh di daerah-daerah yang memiliki kelembaban tinggi, seperti tanah gambut di Kalimantan Tengah. Kelakai dapat juga Anda temui di pasar-pasar tradisional Kalimantan atau penjual sayur keliling. Harganya pun relatif murah, berkisar antara Rp 1.500,- hingga Rp 2.000,- per ikat. Namun jika Anda ingin yang gratis, tentu Anda harus mencarinya di sekitar daerah yang ditumbuhi banyak kelakai. Kalau sudah ketemu, tinggal dipetik dan dibawa pulang.

Manfaat Kelakai Bagi Kesehatan

Menurut tradisi dayak Kalimantan, kelakai sudah sejak lama dimanfaatkan orang sebagai sayur atau konsumsi bagi keluarga. Bahkan katanya tumbuhan ini kaya gizi karena mengandung vitamin C dan zat besi (Fe). Lebih lanjut menurut sumber tertulis lainnya, kelakai juga merupakan tumbuhan berkhasiat menyembuhkan/meredakan penyakit diare dan anemia. Kemudian kelakai juga dapat digunakan sebagai penambah ASI bagi wanita menyusui.

Yang lebih menarik saya disini, ternyata kelakai juga diyakini sebagian masyarakat Kalimantan Tengah mengandung zat anti penuaan alias dapat membuat pengkonsumsinya awet muda bila sering mengkonsumsinya. Memang, ini sepertinya suatu anggapan yang kedengarannya terlalu berlebihan bahkan sulit dipercaya. Namun demikian, hal ini juga dikuatkan oleh studi empirik (Sutomo dkk., 2010), bahwa kelakai berkhasiat untuk menunda penuaan. Benarkah? Mungkin perlu penelitian yang lebih banyak dan lebih mendalam lagi. Namun yang pasti, kelakai adalah tumbuhan yang bermanfaat bagi kesehatan.

Keripik Kelakai, Keripik Unik

Disini kita tidak akan membahas khasiat kelakai lebih mendalam. Saya sepakat kalau kelakai memiliki khasiat tertentu. Tulisan ini hanya mencoba untuk sedikit menjelaskan kepada pembaca sekalian tentang tumbuhan kelakai yang bisa dijadikan sayur/masakan atau kuliner khas.

Menurut informasi dari seorang teman, di Kuala Kapuas dan di Palangka Raya-Kalimantan Tengah sudah ada yang memanfaatkan tumbuhan kelakai untuk dijadikan keripik. Ternyata kelakai juga bisa dibuat keripik. Sebagai orang Kalimantan Tengah asli, meskipun dari kecil saya sering mengkonsumsi sayur ini, tapi baru pada tahun 2016 yang lalu saya mengetahui kalau kelakai ternyata dapat diolah menjadi keripik yang lezat. Bahkan dapat dijadikan usaha mandiri untuk menambah penghasilan keluarga.

Karena artikel tentang kelakai ini sudah mulai banyak ditulis, maka saya tidak akan membahasnya lebih terperinci lagi. Saya hanya ingin berbagi melalui artikel ini tentang membuat Keripik Kelakai. Kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal saya sekarang, juga masih termasuk dalam area kebun sekolah kami, ada banyak tumbuhan kelakai yang tumbuh bebas disana dan sedia untuk dipetik serta dijadikan masakan sebagai pendamping nasi dan lauk pauk lainnya.

kelakai-di-kebun-sekolah
Tumbuhan Kelakai tumbuh bebas di area kebun sekolah kami (diantara kebun karet)

Maka sebab itu, tadi siang saya meminta beberapa siswi saya, yakni Alya Ling, Lala, Dwika dan Inka, untuk memetik beberapa kelakai di area belakang sekolah kami (area kebun karet milik sekolah). kemudian sepulang dari sekolah saya mengajak pak Jemie, seorang rekan guru, untuk mencoba membuat “keripik kelakai” tersebut di rumahnya (kebetulan istri saya tidak standby untuk kelakai, haha …).

Berbekal informasi dan sumber tertulis seadanya, kamipun mencoba membuatnya. Ini adalah eksekusi perdana, mungkin belum sempurna, tapi bolehlah untuk dinikmati bersama. Dan sebagai eksekutor teknisnya adalah nyonya Jemie (Terima kasih Mrs. Jemie atas kerjasamanya). Saya akan membagikannya kepada Anda sekalian. Berikut hasil karya uji coba keripik kelakainya.

bahan-dan-bumbu-kelakai
Sangat Praktis-Bahan & Bumbunya
adonan-keripik-kelakai
Adonan Keripik Kelakai
eksekusi-kelakai
Proses Penggorengan
keripik-kelakai-siap-saji
Keripik Kelakai Siap Saji

Tidak salah kalau  kemudian dikatakan orang Indonesia itu jagonya dalam urusan membuat keripik. Ada beraneka ragam keripik di Indonesia. Salah satunya keripik kelakai. Mantap!! Kelakaipun bisa dijadikan keripik. Oya, bagi yang belum tahu cara membuatnya, saya akan membagikan resep sederhana cara membuat keripik kelakai tersebut. Kalau tertarik dan penasaran lagi, Anda dapat mencobanya (mengeksekusinya) sendiri.

Resep Keripik Kelakai

#Bahan-bahan:

Tepung beras, tepung tapioca dan telur

#Bumbu-bumbu:

Bawang putih, garam, ketumbar dan kemiri.

#Cara Membuat:

  • Terlebih dahulu bersihkan kelakai dengan air bersih, ambil daun yang muda saja.
  • Haluskan semua bumbu.
  • Campur semua tepung, tambahkan bumbu dan telur, aduk rata sambil ditambahkan air secukupnya.
  • Aduk sampai merata dan terbentuk adonan dengan kekentalan tertentu (seperti adonan rempeyek).
  • Panaskan minyak goreng di wajan.
  • Setelah panas celupkan satu persatu daun kelakai ke dalam adonan, lalu goreng sampai matang / kering / garing.

Kalau sudah matang/kering/garing, berarti kini ‘Keripik kelakai’pun siap disajikan dan dinikmati bersama  keluarga tercinta. “Keripik Kelakai, Keripik Unik”, selain dapat dijadikan sebagai pendamping menu lainnya saat bersantap, dapat juga dijadikan sebagai cemilan khas lezat bagi keluarga saat bersantai ria. Bahkan sekedar untuk berbagi, Anda dapat juga membaginya kepada tetangga sebelah. Karena berbagi itu indah. Bukan begitu?

Salam Kuliner,

Desfortin

Iklan

27 thoughts on “Tentang Kelakai dan Mengeksekusinya Menjadi Keripik Unik

  1. Wah…membuat saya ngiler, karena saya penggemar kripik apa saja, Memang Indonesia kaya akan sumber daya alam hayati, tapi saya baru tahu yang namanya “kelakai”sejenis tanaman pakis ini. Terimakasih informasinya, jadi tambah pengetahuan tentang tumbuhan paku.
    Brw, Indonesia juga jagonya masakan kremikan (kripik dan krupuk), sehingga segala macam buah dan sayur pun tak luput dibuat kripik, Saya sendiri pernah membuat kripik bayam, tetapi banyak sekali menyerap minyak. Apakah kripik kelakai ini juga banyak menyerap minyak ya mas? Trus rasanya gimana apa tawar atau agak pahit atau gimana? maksud saya rasa kelakainya saja,bukan adonan tepungnya. Saya jadi penasaran ingin memakannya he..he…

    Disukai oleh 1 orang

    1. Tanaman ini memamg sangat familiar tumbuh di borneo, khususnya di lahan gambut.

      Kalau keripik bayam memamg menyerap minyak, kelakai agak kurang, mbak. Beberapa waktu lalu seorang teman saya juga pernah membuat keripik bayam itu.

      Kelakai rasanya cenderung manis, saya dan istri biasa memasaknya dengan cara ditumis/dioseng…

      Haha… Kalau penasaran mau memakannya, tinggal dieksekusi aja, tu resepnya sudah saya bagikan.. semoga sudah ada yang nanam kelakai di tempat ibu wkwk…
      Kelakai=lemidi..

      Disukai oleh 1 orang

  2. Ingin sekali mencoba, tapi baru tahu itu apa kelakai saja dari sini, di Jawa Tengah tidak ada 😂 paling-paling kripik daun singkong, kripik kentang, dan yang awam lainnya. Dan kalau boleh tahu itu teksturnya pahit nggak iya?

    Disukai oleh 1 orang

  3. Saya baru dengar loh kelakai. Itu ama sejenis ya sama kemanggi? Di jawa kayaknya nggak ada deh mas. Lha wong saya yg sudah lama di jawa aja belum pernah sekalipun. Klo kripiknya enak bisa tuh dijual. Dulu di tempat saya jualan ada yg jualan kripik bayam. Nggak tahu berapa lama mencobanya sampai mampu menciptakan kripik bayam yg enak. Soalnya ibu saya pas bikin nggak seenak kripik bayam yg dijual tetangga. 🙂

    Suka

    1. Kelakai beda dari kemangi, aromanya juga beda. Pokoknya kelakai itu sebangsa dengan tumbuhan paku yang berlendir itu lo, tp klakai lebih dikit lendirnya.

      Di kota Palangka Raya biasanya ada yang jual. Menurut saya enak keripiknya mas.

      Ya, biasanya buatan tetangga atau yang di warung lebih enak, ketimbang buatan sendiri, knp ya? Sugesti kli ya? 😂😂

      Disukai oleh 1 orang

  4. Sepertinya saya sering melihat tanaman paku ini di sekitar, terutama di dekat sungai-sungai kecil. Tapi tak pernah terbersit bahwa tanaman ini dapat dikonsumsi. Dulu saat kecil saya sering makan sayur paku, cuma lupa juga apakah asalnya dari jenis ini ataukah dari jenis yang berbeda (saya yakin paku-pakuan itu jenisnya banyak, hihi). Keripiknya tampak garing dan renyah. Olahan bertepung yang garing-garing dan renyah-renyah itu favorit saya banget, haha. Keren ya, dari halaman belakang rumah pun ada bahan-bahan yang dapat diolah menjadi penganan lezat.

    Suka

    1. Umumnya kelakai/lemidi tumbuh subur di lahan gambut kayak di Borneo mas Gara.

      Saya juga dulu dari kecil makan kelakai, tapi saya sendiri baru pada 2016 lalu mengetahui kalau kelakai bisa dibuat keripik, beberapa rekan saya juga baru dengar, karena umumnya kelakai selalu ditumis/dioseng saja.

      Dan kebetulan lagi, sekitar 1 jam yg lalu, menu makan malam kami adalah oseng kelakai plus keripiknya (lebihan kemarin), heeee…

      Suka

  5. Tumbuhan paku, atau pakis. Ini enak d sayur pakai santan kelapa. Di lampung juga banyak.. kalau d palembang ini biasanya pas sibuk mempersiapkan acara nikahan suka ada sayur paku ini. Selain itu juga ada sayuran langka tapi nga tau namanya apa haha

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s