Ruth Amora, Anak Saya, Terkena Cacar Air

Sumber Gambar: intisari-online.com

Sebagai orang tua yang memiliki anak, bukan hal yang aneh sebenarnya ketika anak terserang suatu penyakit. Semua kita mungkin terbiasa saja saat anak kita sakit, kecuali (mungkin) bagi pasangan baru yang belum lama mempunyai anak. Meskipun begitu, kita tidak ingin membiasakan anak kita sakit. Kita juga tidak tega saat penyakit menyerang anak kita, apalagi bila penyakitnya cukup parah. Tentu kita tidak akan membiarkannya.

Begitupun dengan saya. Anak saya, Ruth Amora, yang sekarang usianya sudah lebih dari 8 tahun, sejak Jumat siang lalu terserang cacar air. Sabtu lalu, bahkan hari ini, iapun tidak bisa masuk sekolah.

Anak saya ini, meski berat badannya tidak lebih dari 20 kg, sebenarnya termasuk anak yang sehat. Kalaupun sakit, paling hanya batuk-pilek atau demam biasa. Itupun jarang terjadi selama 2 tahun terakhir. Tapi kali ini cacar air telah menyerangnya. Saya tahu ini sangat membuatnya tidak nyaman.

Penyakit Cacar Air

Sumber Gambar: halosehat.com

Meskipun saya pernah membaca sepintas tentang penyakit cacar atau campak di buku sekolah, tapi kini saya sudah lupa. Jadi, saya tidak tahu banyak tentang cacar ataupun campak, apalagi cacar air (Varicella Simplex). Yang saya tahu dan ingat, dulu waktu masih anak-anak, sayapun pernah terserang cacar, dan orangtua saya (biasanya) memberikan saya minum air kelapa muda dan sebagian airnya juga disiramkan (dioleskan) ke kulit yang terkena cacar. Umumnya sembuh setelah beberapa hari kemudian.

Di era kemajuan saat ini, pemerintah Indonesia melalui dinas kesehatan (para medis), yang bersinergi dengan Program PKK setempat, juga telah mewajibkan program imunisasi bagi anak sejak usia BALITA. Anak sayapun waktu masih BALITA tidak pernah absen mengikuti program imunisasi ini (meski, konon, cacar air tidak masuk daftar imunisasi wajib untuk anak, tapi tetap dianjurkan).

Awalnya saya mengira imunisasi cacar atau campak yang pernah diterimanya dulu itu pasti menghindarkannya dari penyakit cacar ini di masa selanjutnya. Ternyata persepsi saya itu keliru.

Hal ini membuat saya kemudian mencoba untuk mencari informasi lebih dari berbagai sumber. Untunglah di era digital atau era informasi, dimana gadget menjadi keseharian, kecanggihan teknologi internet benar-benar terasa. Adanya koneksi wifi gratis di Desa Kinipan saat ini juga sangat bermanfaat bagi kami. Segala informasi dengan sangat mudah dan cepat bisa didapatkan. Sayapun googling di internet seputar penyakit cacar air ini.

Ternyata penyebab utama cacar air adalah karena Virus Varicella Zoster (virus V-2). Tapi infeksi virusnya bisa dari udara, atau dari penderita lain, lewat nafas atau cairan tubuhnya.

Penyakit ini termasuk penyakit menular. Bisa menyerang siapa saja, termasuk orang dewasa, tapi yang paling rentan adalah pada anak-anak di bawah usia 10 tahun. Berita baiknya, konon, bila seseorang pernah sekali mengidap cacar, maka selanjutnya ia tidak akan terserang lagi, karena hanya sekali dalam seumur hidup seseorang mengalami penyakit ini. Benarkah? Bila benar demikian itu berarti bahwa kemungkinan saya sendiri terserang penyakit ini (lagi) di masa depan menjadi nihil. Sebab, saya sudah mengalaminya saat masih anak-anak. Hhmm…Kenapa begitu ya? Tapi, syukurlah bila demikian kebenarannya.

Penyakit ini gejalanya ruam merah pada kulit, disertai rasa pusing-pusing, demam, gatal dan hangat pada kulit, badan terasa lemah dan nafsu makan abnormal. Tentu sangat mengganggu sekali. Sejak kemarin malam sampai kemarin pagi, bahkan tadi malam, anak kami ini begitu gelisah akibat cacar air yang dideritanya ini. Sayapun sangat kasian dan sedih melihatnya. Selain karena tidak tega melihatnya kesakitan, tidak bisa melihatnya bebas bermain dengan ceria, juga karena beberapa hari kedepan ia bakal tidak bisa masuk sekolah. Tentu ia akan ketinggalan pelajarannya. Dan ini agaknya merugikan. Semoga saja nantinya ia bisa mengejar ketertinggalannya itu.

Upaya Pengobatan (Treatment)

Karena itu sebagai orang tua, saya dan istripun melakukan beberapa upaya untuk kesembuhan anak kami ini. Bukan parno sih, hanya saja kami tidak ingin membiarkan penyakit ini melanda anak terkasih kami tanpa adanya upaya treatment. I believe you will also try your best for the treatment when your children suffer from the same disease.

Menurut informasi di internet, ada beberapa cara pengobatan menggunakan tumbuhan, seperti kacang hijau, mengkudu, temulawak, daun jarak, bengkoang, jagung, kunyit, air kelapa dan kulit pisang. Selengkapnya bisa dibaca di obatcacar.com

Dari sekian banyak alternatif di atas, pada hari Sabtu lalu, saya hanya sempat memberikannya air kelapa muda. Kemudian kami membawanya ke seorang tenaga medis (perawat yang seharihari bekerja di Puskesmas Desa Kinipan) untuk mendapatkan treatment seperlunya (Kebetulan dokter tidak berada di tempat). Kami berobat ke rumahnya pada jam praktek pribadi. Sebagai upaya treatment, anak kami diberikan obat salep, sirup dan pil.

Selain itu, karena kemarin pagi keadaan putri kami ini semakin parah, hampir semua tubuhnya terkena cacar, maka kamipun mencoba upaya lain, yakni obat ramuan herbal tradisional ala Desa Kinipan, yakni daun sahang burai dan sampayan aray (saya tidak tahu apa Bahasa Indonesianya) dicampur dengan beras putih, diulek sampai halus dan dijadikan seperti bedak, kemudian dioleskan (dibalurkan) pada bagian tubuh yang terkena cacar.

Syukurlah, siang kemarin sampai hari ini, keadaannya sudah agak membaik. Demamnya juga sudah reda. Tapi tentu beberapa hari kedepan ia tidak bisa turun ke sekolah seperti biasanya. Karena memang masih dalam proses pemulihan. Ia harus lebih banyak beristirahat.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Konsekuensinya, saya dan istripun harus lebih mendampingi anak kami ini sampai pada kesembuhannya. Memberikan perhatian lebih padanya. Memang, peduli anak itu sangat penting, khususnya di saat kritis dan menderita sakit seperti yang dialami anak kami ini. We just hope she will get well soon.

Bagaimana dengan Anda (bagi yang sudah punya anak), apakah anak Anda juga pernah mengalami penyakit cacar air? Atau, Anda sendiri pernah mengalami penyakit ini? Silakan berbagi pengalaman di kotak komentar di bawah ini. Yang belum punya anakpun (bujangan), boleh ikutan, jangan ragu! Mungkin kita bisa saling belajar.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

18 tanggapan untuk “Ruth Amora, Anak Saya, Terkena Cacar Air

    1. Wah, kalau belum… katanya mesti ngalamin sekali. Gak tahu juga sih, rutin terima vaksin aja mas, semoga terhindar. Karena klo cacar pd orang dewasa biasanya lebih parah.

      Makasih mas Firman. Semoga cepat sembuh aja. Tadi siang juga udah agak mendingan, tapi tetap sya hrs ngurusin dia terus ni, kesempatan manja waktu sakit. Jadinya saya ga bisa ngeblog leluasa bbrap hari ini, ditambah sinyal juga agak lelet.

      Disukai oleh 1 orang

  1. Dulu teman2 saya banyak yg kena cacar air waktu kecil. Tapi saya sendiri belum pernah mengalaminya. Tapi saya sendiri kurang tahu, kenapa meskipun waktu kecil udah divaksin kok masih aja kena ya?

    Suka

    1. Awalnya saya juga berpikir seperti mas, tapi kata teman saya, vaksin yg diterima di waktu masih anak2 itu sebagai zat antibodi saja, tidak serta merta terhindar. Mungkin respons mbak Nur di blog ini kita yakini saja. Dari buku biologi katanya

      Suka

    1. Awalnya saya juga berpikir seperti mas, tapi kata teman saya, vaksin yg diterima di waktu masih anak2 itu sebagai zat antibodi saja, tidak serta merta terhindar. Mungkin respons mbak Nur di blog ini kita yakini saja. Dari buku biologi katanya

      Suka

  2. Benar, sebagian besar orang yang sudah pernah terserang virus Cacar (biasanya saat masih kecil) tidak akan pernah lagi terserang virus cacar, karena saat kita terserang virus cacar untuk pertama kalinya dan menjadi sakit cacar bersamaan itu pula di dalam tubuh kita terbentuk Antibodi virus cacar (Zat anti/penolak virus cacar) sehingga suatu saat selama hidup kita (InsyaAllah) jika ada virus cacar yang singgah lagi di tubuh kita, antibodi virus cacar tersebut langsung menghadangnya dan melumpuhkannya, sehingga kita tidak jadi sakit, seperti saat virus masuk pertama kali.
    Ada kasus tertentu ada orang mengalami sakit cacar sampai dua kali, tetapi yang kedua biasanya lebih ringan dibanding yang pertama, ya karena itu tadi sudah ada zat penolak, hanya saja mungkin terbentuknya zat penolak tidak cukup untuk menghadang virus shg masih sakit. Tetapi hal ini jarang terjadi
    Maaf mas, kesannya menggurui, ini berdasarkan materi biologi yg diajarkan di sma he,,he…

    Disukai oleh 1 orang

  3. Dulu waktu SD saya juga pernah kena cacar air walau sudah mendapat vaksinnya jug. Dan anak saya juga pernah mengalaminya, bahkan bekasnya masih ada hingga sekarang. Pengobatannya hampir sama, medis dan tradisional. Kalo ga salah dimandiin menggunakan air rebusan tanaman tradisional saya lupa namanya.
    Semoga Ruth cepat pulih dan bisa menyusul ketertinggalan pelajarannya yaa.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s