Suatu Ketika di Malam Yang Sunyi

Sumber Gambar: keywordsuggest.org

Di suatu tengah malam yang sunyi di bulan Februari 2017

Menulis ternyata benar-benar butuh kerja keras. Cukup menguras tenaga dan pikiran. Adalah suatu kenyataan bahwa tidak semua orang suka menulis. Ada juga yang bilang, menulis itu dibawa santai dan enjoy saja. 

Mungkin benar, tapi bagi saya itu hanya bagian dari kata-kata penghiburan yang baik, namun kurang bekerja dengan baik untuk diri saya.

Malam ini setelah saya bosan menonton beberapa acara di televisi, kembali saya meraih ponsel cerdas saya. Saya ingin mengetikkan kata-kata. Masuk dalam indahnya permainan kata. Walau kata-kata inipun belum tentu indah dan bermakna. Bukan berpuisi. Saya hanya ingin menulis. Tapi sayangnya, tidak tahu ingin menulis apa.

Apakah saya sedang mengalami writer’s block atau kebuntuan ide dalam menulis? Inikah rasanya? Buntu. Tidak ada ide sama sekali. Yang ada hanyalah ide untuk terus menuliskan kata-kata ini. Kata-kata semu yang tidak tahu sampai dimana ujungnya. 

Malam ini malam yang sunyi. Hanya suara binatang malam yang menemani. Semua orang sepertinya sudah tidur. Termasuk anak dan istri saya juga sudah terlelap dalam tidur mereka sejak beberapa jam lalu. Tidak tahu apakah saat ini mereka sedang bermimpi indah atau tak ada mimpi sama sekali.

Saya sendirian dalam keheningan malam ini. Mata ini terus melek. Tak mau tidur. Ingin menulis. Tapi sial. Tak ada ide yang layak untuk dieksekusi, kecuali ide untuk kata-kata tanpa tujuan ini. Pokoknya, saya ingin terus menulis hingga kata-kata yang berkecamuk dalam pikiran saat ini habis terurai. Meski hanya kata-kata untuk kata-kata. 

Walau tak tahu tentang apa, tapi momen ini benar-benar nikmat. Mengapa? Sebab berkata-kata itu nikmat dan mengasyikkan. Bukan perkara bersilat lidah atau bersilat kata. Saya juga tidak sedang mabuk kata-kata. Saya masih benar-benar sadar dengan kata-kata saya. Hanya, saya suka bermain kata indah. Meski kata-kata indah tak seindah realita. 

Kata-kata ini terus mengalir bagai dirus hujan, tapi tak tahu untuk apa. Mungkinkah saya harus memberi judul untuk tulisan ini “Hamburan Kata-Kata Semu di Malam Yang Sunyi”? Entahlah. Saya tidak yakin. Mungkin setelah selesai saya akan memolesnya atau menyuntingnya kembali.

Sumber Gambar: wikipedia.org

Sepertinya ada yang salah. Mungkin saya memang sedang mengalami writer’s block itu. Saya mencoba mengingat beberapa ide, tapi tetap tidak bisa. Semua tampak tidak bekerja dengan baik, padahal saya sudah sering memjbaca tips menulis, khususnya tips menulis dari Shiq4, bahkan tulisannya tentang 8 cara mengatasi writer’s block ini.  Tips yang bagus dan layak untuk diaplikasikan, tapi saat ini telah saya abaikan.

Saya terus berpikir keras. Tapi tetap tidak ada tanda-tanda ide tematis dan menarik yang muncul untuk dieksekusi sebagai tulisan yang artistik dan bermakna. Tampak menyiksa, tapi saya tidak tersiksa. Tampak gila, tapi saya tetap waras. Tampak konyol, tapi saya tidak merasa konyol sama sekali. Entahlah menurut Anda. Tapi saya baik-baik saja.

Walau yang saya tulis ini (mungkin) hanya kata-kata belaka. Tanpa tujuan. Tanpa visi. Tapi saya bahagia dan puas setelah melakukannya. Pertanda apakah ini? Apakah saya telah pergi terlalu jauh?

Apapun itu, inilah yang bisa saya buat di malam yang sunyi ini sebelum saya akan terlelap dalam pekatnya malam ini, menikmati indahnya berlayar ke pulau kapuk.

(Catatan: beberapa saat kemudian sayapun terlelap. Entah menit keberapa. Kata-kata selanjutnya saya sunting di hari berikutnya).

Apakah Anda pernah mengalami hal yang serupa dengan yang saya alami ini? Atau ini hanyalah khayalan saya semata? Baiklah, Anda boleh mengabaikannya. Tapi saya kira saya akan lebih bahagia bila mengetahui ada “kawan yang senasib” dengan saya. Ha ha ha …

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

18 tanggapan untuk “Suatu Ketika di Malam Yang Sunyi

  1. Saya jarang bingung mau nulis apa. Kalo memang tidak ada ide menulis, biasanya nulis kejadian yg saya alami atau yang saya rasakan atau yg saya lihat atau yg saya dengar. Yg jelas saya tetap menulis.

    Biasanya kalo masih baru dalam menulis sebaiknya memilih topik khusus. Sesuatu yg disukai. Boleh juga menulis ulang tulisan orang lain agar menulisnya tidak kaku dan lancar. Ketika sudah terbiasa menulis, ntar pasti bisa nulis dalam berbagai topik.

    Suka

      1. Nulis ulang gak melanggar hak cipta. Klo memakai kata2nya harus disebutkan sumbernya. Sedangkan nulis ulang yg biasa saya lakukan cuma mencuri idenya dan benar2 menulis ulang dari awal sampai akhir menggunakan kata2 sendiri.

        Suka

  2. hahaha sama mas, saya juga mengalaminya beberapa hari yang lalu. Tetapi karena saya sudah berkomitmen untuk update blog tiap 3 hari sehari di 2017 ini jadinya saya memutuskan untuk nulis puisi. ๐Ÿ˜€

    Suka

  3. Kadang saya pernah juga seperti ini, tapi mayoritas karena saya malas dan bingung sendiri saking banyaknya hal yang ingin saya bahas. Aneh memang, tak bisa menulis karena bingung sendiri, kebanyakan topik. Itu artinya saya butuh istirahat dan menenangkan diri supaya lebih jernih berpikirnya. Setelah itu biasanya bisa menulis lagi. Oh ya, dan saya mencoba untuk tidak terlalu berambisi… hehe.

    Suka

    1. Terasa susah kalau ada bnyak isu yg mau dibahas tapi kita gak berkapasitas ttg isu itu.

      Betul. Kita memang perlu istirahat utk mnenangkan diri.

      Karena ngeblog saya masukkan sbgai hobi, maka ambisi mungkin saya ttp harus ada, karena pengen juga jadi penulis yg baik. Tapi kalau terobsesi mungkin saya tidak.

      Suka

  4. he…he..he…saya sering begitu mas, otak kayak buntu tapi ingin sekali menghasilkan tulisan. Sebenarnya banyak ide, tapi mau mengeksekusinya belum ada modal dan konyolnya malas untuk googling mencari modal itu. Kalau sudah begitu saya tidak paksakan harus menulis. saya malah tidur atau WA nan saja…Mungkin saya masih belum begitu mencintai menulis sehingga gampang saja saya melupakan nulis untuk WA an he..he…
    Tapi akahir-akhir ini kalau sdh 3 atau 4 hari tidak posting tulisan saya mulai gelisah, apa ini yang namanya lapar nulis ya?

    Suka

  5. sering mengalami hal seperti ini, biasanya baru beberapa paragraf sudah buntu, kalau aku sih langsung ditinggalin saja daripada maksa ntar alur ceritanya jadi aneh. baru kalau lagi mood lagi ya dilanjutin tulisan yang mandeg tadi

    Suka

  6. Haha iya ya.. kadang kalau terlalu banyak ide juga malah susah keluar jadi bahan tulisan. Justru kalau dibuat santai mungkin akan lebih lancar dan tidak tertekan. Kadang-kadang bingung mau buat apalagi buat jadi topik pembicaraan, apalagi kalau nulisnya setengah-setengah bakal ,males mau lanjutin lagi. Semangat terus deh nulisnya kak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s