Impian Semu Wiro

Sumber Gambar: qureta.com

Mentari pagi perlahan tapi pasti kembali menerangi bumi Marunting Batu Aji pagi ini. Seberkas sinar menyelinap masuk melalui tirai jendela kamar Wiro yang sedikit terkuak. Dan itu membuat Wiro silau serta terjaga dari tidurnya yang pulas.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.05 Wib. Tanpa disadari Wiro ternyata ia telah telat bangun pagi. Padahal ia harus pergi ke sekolah hari ini. Wiro heran kenapa pagi ini ia bisa telat bangun, tidak seperti biasanya. “Astaga, jam berapa ini?”, tanya Wiro pada dirinya sendiri. Lalu iapun segera menengok ke arah jam dinding yang tergantung tepat di samping kiri atas dinding kamarnya.

“Sudah lewat jam 7. Kacau. Terlambat dan gak bisa ke sekolah dech kalau begini”, ungkap Wiro dengan rasa menyesal. Wiro yang saat ini adalah siswa SMA di salah satu Sekolah Menengah Negeri di kota Marunting Batu Aji tampak tak bisa berbuat apa-apa, selain harus menerima kenyataan bahwa ia alpa pada hari ini.

Wiro juga anak kost. Jadi otomatis tidak ada kemungkinan orang lain yang membangunkannya setiap pagi. Ia tinggal di kos-kost-an sejak ia duduk di kelas 2 SMA. Sebelumnya ia tinggal di salah satu keluarga di kota ini. Karena jarak yang jauh dari sekolah, iapun lalu pindah ke kost yang ia huni sekarang, dan kebetulan relatif dekat dengan lokasi sekolahnya.

Selain Wiro adalah anak kost, ia juga seorang anak desa yang mandiri dan bertanggungjawab. Sebagai anak desa yang tinggal sendiri untuk menuntut ilmu demi sebuah masa depan, ia juga anak yang baik. Karena itu, walau sebagai anak kost yang tinggal jauh dari orangtua, ia tidak pernah lupa akan pesan dan nasehat klasik orangtuanya. 

“Nak, sekolah yang baik ya. Harus rajin, jangan suka alpa, apalagi bolos. Doa kami selalu menyertaimu”.

Begitulah kira-kira sekelumit pesan dari orang tuanya sebelum ia berangkat ke kota ini untuk bersekolah. Pagi ini kata-kata sederhana dari orangtuanya itu terngiang kembali di sanubarinya. Ia merasa bersalah seolah telah melanggar secara luar biasa.

Karena itu, ia bertekad agar besok ia bisa bangun lebih pagi dan sekolah seperti biasa.

Memang, Wiro bukan tipe anak yang tak tahu balas budi. Selama menjadi siswa SMA, prestasi akademisnya cukup membanggakan. Nilai raportnya selalu berada di tiga besar di antara teman-teman sekelasnya. Saat ini ia sudah duduk di kelas 3 SMA, Jurusan Bahasa.

Sepanjang pagi hingga siang ini, Wiro tidak keluar dari kostnya. Ia lebih memilih mendekam di dalam karena malu dengan tetangga kalau ia tidak sekolah hari ini.

Dalam penantiannya sampai jam siang, Wiro memikirkan banyak hal. Mulai dari keluarganya yang jauh, teman-temannya di sekolah hingga khayalan tentang seorang gadis impiannya. Maklumlah, ia juga sudah akil baliq. Wajar saja kalau iapun kadang berkhayal.

Di sekolah, teman-temannya heran kenapa Wiro tidak sekolah hari ini. Karena itu, mereka berniat untuk menjenguk Wiro di tempat kostnya. Dan sekitar siang, kira-kira jam pulang sekolah, datanglah Miki, Beni, Ayu, Dini dan Hardi ke kostnya Wiro.

Sesampainya disana dan bertemu dengan Wiro, Miki menyapa duluan, “Hai, Wiro, kami kesini menjengukmu, kami bingung kenapa hari ini kamu tidak sekolah? Wali Kelas kita, bu Anisa juga menanyakanmu lho. Apa kamu baik-baik saja?” 

“Iya, Wir. Tumben-tumbennya kamu alpa hari ini. Gak ada kamu, gak seru lho di sekolah”, kata Ayu menimpali dengan nada manja. Ayu adalah salah satu teman sekelasnya yang secara diam-diam menaruh hati pada Wiro. Meski Wiro bukan tipe cowok yang mudah jatuh cinta.

Thanks, guys atas perhatian kalian. Jadi malu ni ceritanya. Tadinya, aku juga mau sekolah koq, tapi tadi pagi aku bangun kesiangan. Aku juga heran kenapa aku bisa telat bangun hari ini”

“Oo, itu ya masalahnya, kirain kamu sakit atau apa gitu”, kata Beni menanggapi. “Besok, jangan telat bangun lagi ya”, tambah Hardi.

“Oke, guys, besok aku usahakan bangun subuh. Sekali lagi, terima kasih atas perhatiannya. You are my best friends“, puji Wiro kepada teman-temannya. 

Tak lama setelah saling ngobrol dan berbasa-basi serta mereka janjian untuk jogging sore, maka teman-teman Wiropun kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Wiro bersyukur memiliki teman-teman yang luar biasa.

Pada sore harinya, sekitar pukul 15.00 Wib, Wiro dan teman-temannyapun kembali bertemu di tempat kostnya Wiro. Singkat cerita merekapun ber-jogging ria di seputaran Bundaran Pancasila, kota Marunting Batu Aji (Pangkalan Bun). Sore ini benar-benar sore yang menyenangkan bagi mereka. 


Di sekolah. Tepat, Wiropun datang lebih awal dari teman-temannya pagi ini. Kebetulan juga ia mendapat jadwal piket membersihkan kelas pagi ini.

Pada saat jam pelajaran, ada kejadian kecil, tapi cukup mengganggu. Ayu nekad berulah. Saat guru Bahasa Indonesia sekaligus Wali Kelas mereka, bu Anisa, tengah menjelaskan materi pelajaran, Ayu sengaja melempar secarik kertas yang telah diremas-remasnya ke arah Wiro. Sentak saja itu membuat Wiro kaget, begitu juga Miki yang duduk di samping Wiro. Dan suatu kebetulan sang guru di depan juga mengetahui aksi tersebut. 

Belum sempat Wiro membuka kertas tersebut, bu Anisapun meminta kertas tersebut. Ternyata di dalam kertas itu bertuliskan kata-kata cinta yang romantis untuk Wiro. Yang dilakukan Ayu ini memang tidak sopan, bahkan tak tahu malu. Wiropun cukup merasa tidak nyaman karenanya.

“Ayu, apa-apaan ini? Ada apa sebenarnya kamu dengan Wiro? Ini saatnya belajar, bukan untuk pacaran. Sekali lagi kamu berulah, saya akan keluarkan kamu dari kelas”, bu Anisa tampak marah. “Maaf, bu, saya gak akan ulangi lagi. Tadi itu cuma bercanda, bu”, kata Ayu setengah berbohong. 

Saat bell istirahat berbunyi, kelas bu Anisapun berakhir. Semua siswapun keluar kelas, kecuali Ayu yang tetap menyendiri di kelas. Melihat itu, Wiropun segera menghampiri Ayu di tempat duduknya.

“Ayu, kenapa kamu melakukan itu tadi?”, tanya Wiro. “Maaf, Wir. Aku mungkin telah terlalu lancang tadi. Maksudku tulus sebenarnya. Jujur aja, selama pelajaran tadi aku gak fokus.” jelas Ayu.

“Kamu tadi bilang cuma bercanda kan, di depan bu Anisa?”, tanya Wiro. “Sebenarnya, aku serius, Wir. Aku udah lama menyimpan perasaan ini ke kamu. Apakah kamu mengerti perasaanku? Andai kita bisa jadian, pasti hari-hariku akan lebih indah”, Ayu tampak serius dengan ucapannya. 

Wiropun merasa tak enak hati mendengarnya, tapi bagaimanapun Wiro hanya menganggap Ayu sebagai temannya saja, tidak lebih.

Setelah Wiro menolak secara halus cinta Ayu, Ayupun maklum akan jawaban jujur dari cowok yang sedang berbicara di depannya itu. Walaupun Wiro memang sosok ideal baginya, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Bagaimanapun, Ayu harus menerima faktanya.

Saat di rumah, kejadian kecil nan konyol di sekolah hari ini masih terbesit di pikiran Wiro. Dan ia merasa kasian dengan Ayu. Tapi ia juga sadar bahwa cinta tak boleh dipaksa, apalagi hanya dengan dasar rasa kasian.

Wiro memang bukan cowok yang mudah jatuh cinta pada cewek. Tapi bukan berarti ia tak punya cewek idaman. Sebenarnya ada. Sebagai cowok yang sudah akil baliq, iapun sering mengkhayalkan gadis impiannya itu.

Gadis itu tidak jauh ternyata. Wiro sudah mengamatinya beberapa waktu lalu. Mereka sudah saling kenal sekitar sebulan lalu. Gadis itu juga masih sekolah, dan saat ini ia duduk di kelas 3 juga, tapi di sekolah lain; di salah satu SMK Negeri di kota ini juga (Marunting Batu Aji).

Nama gadis itu adalah Luna. Cantik dan energik. Rambutnya sebahu. Kulitnya hitam manis. Dan ia gadis SMK berkacamata.

Pada suatu sore Minggu, Wiro berniat menyatakan perasaannya pada Luna. Niatnya sudah bulat. Pasca suatu acara pertemuan remaja gereja, ketika yang lain sudah pada pulang, Wiro meminta Luna untuk bertahan. Tepat di teras depan gedung pertemuan itu, Wiro menyatakan perasaannya.

“Lun, boleh aku menyampaikan sesuatu padamu?”, tanya Wiro kepada Luna dengan penuh harap. “Ya. Emang ada apa? Koq kamu tampak tegang gitu?”, tanya Luna balik. “Aku gak mungkin berbohong Luna. Jujur saja, aku naksir kamu. Aku suka sama kamu. Would you be my special one?“, mendengar itu, Luna nampak salah tingkah. “Oya? Kamu serius? Yakin kamu gak akan menyesal?” Luna menjawab dengan balik bertanya. 

“Aku serius Luna, aku suka sama kamu”, jawab Wiro tanpa berpikir panjang lagi. “Oke, kalau begitu, beri aku waktu sampai besok untuk menjawabnya. Gimana?”, pinta Luna. “Baiklah, aku hargai perasaanmu”, jawab Wiro dengan sabar.


Hari Senin kembali tiba. Seperti biasa sekolah-sekolah rutin melaksanakan upacara bendera pada pagi Senin. Begitu juga sekolah Wiro pagi ini. Semua berjalan dengan lancar tanpa kendala yang berarti.

Selesai upacara, datanglah Miki, salah seorang sahabat Wiro. Sepertinya ia membawa sesuatu untuk Wiro. “Wir, ini ada surat dari seseorang”, kata Miki sambil menyerahkan surat beramplop pink itu kepada Wiro. 

Sudah bisa ditebak. Ini pasti surat dari Luna. Maklumlah, komunikasi masih menggunakan surat manual. Namun kini Wiro merasa was was. Ia takut dengan kemungkinan terburuknya. Iapun segera membukanya. Syukurlah, ternyata Luna menerima tawaran Wiro untuk menjadi kekasihnya.

Wiro dan Lunapun jadian. Wiro merasa bahagia, karena gadis impiannya kini bukan lagi khayalan. Mereka sering bertemu dan berbagi dalam kebersamaan. Semuanya tampak indah dan sesuai harapan.

Namun, 1 bulan kemudian, Wiro baru menyadari ternyata Luna mengkhianatinya. Luna juga mencintai cowok lain. Mengetahui hal tersebut, jelas Wiro merasa sangat kecewa. Iapun berniat meminta konfirmasi dari Luna langsung. Tapi usahanya ini tak pernah berhasil. Luna sudah tak mau berhubungan dengan Wiro. Ia selalu menghindari Wiro. Benar-benar tabiat yang tak mudah ditebak, namun menyebalkan.

Wiropun sadar ternyata fakta tidak selalu sesuai asa. Cinta mereka hanya bersemi kurang lebih dari 1 bulan. Bahkan kini harus berakhir dengan tidak indah. Putus tanpa kata putus. Sebagai cowok Wiro merasa gagal sama sekali. Ia begitu terluka. Ternyata impiannya masih semu belaka. 

*****TAMAT*****

Iklan

16 thoughts on “Impian Semu Wiro

      1. enggak menyindir kok, berdasar pengamatanku, tulisan kamu di blog makin ke sini makin luwes makin asyik juga. jujur saat pertama kali baca blog kamu, kesan pertama adalah resmi, memang sih itu bukan hal yang salah dan mungkin sesuai dengan gaya tulisan kamu (ya ampun aku lupa atau ga tau nama asli kamu) mas. tapi makin ke sini makin asyik juga untuk dibaca hehehe

        Suka

  1. Klo saya jadi wiro bakal nglupain luna dan mikirin ayu saja. Kadang-Kadang orang memang menutup mata pada cinta disekitarnya dan mencari cinta yang belum tentu ia dapatkan dari orang lain atau di tempat-tempat lain.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s