Bakat Menulis Itu Omong Kosong?

Skill bukan bakat atau talenta
Image and Quote from Robert Stacy McCain

Sumber Gambar : azquotes.com

Orang bilang bahwa untuk bisa “menulis” itu perlu bakat, yakni bakat menulis. Dengan bakat itu maka seseorang bisa terlihat piawai saat menulis, sehingga tulisannya pun terkesan cerdas, artistik, dan bernas.

Apa itu bakat? Bakat artinya kemampuan yang dibawa seseorang sejak lahir sebagai anugerah Tuhan. Dengan kata lain, tidak semua orang dilahirkan dengan bakat menulis. Itu sebabnya hanya sebagian orang yang menjadi penulis. Demikian banyak orang meyakininya.

Benarkah keyakinan tersebut? Apakah untuk jadi penulis memang perlu bakat? Atau ada alasan lain yang lebih rasional? Keterampilan misalnya (hal yang bisa dilatih)?

Kata orang juga, bahwa hanya penulis berbakat yang bisa produktif dan kreatif menulis, khususnya saat menulis karya fiksi. Hhmm… anehnya Shiq4 agaknya sedikit menyangkal hal itu, ketika ia mengatakan bahwa kata “bakat” adalah bentuk pemerkosaan pembaca terhadap penulis. Shiq4, menurut saya, salah satu penulis atau bloger kreatif dan produktif di wordpress ini.

Terkait Shiq4, doa saya semoga karir kepenulisannya semakin sukses di masa depan. Kalau dia berada di puncak kesuksesan, saya juga berharap agar dia tidak melupakan saya, salah satu pembaca setia blognya, ha ha ha ….

Begitu juga menurut beberapa penulis lainnya, termasuk Robert Stacy McCain, agaknya mereka menyangkal bahwa menulis itu karena bakat bawaan sejak lahir. Sebagian bersaksi bahwa kerja keras, ketekunan, dan latihan yang serius lah yang menjadikan mereka sukses seperti itu.

Menurut Jeff Goins apa yang tidak membuat penulis hebat adalah bakat atau intuisi. Dan yang membuat penulis besar adalah satu hal : ketekunan.

Hhmm … Mana yang mesti kita percayai? Teori bahwa menulis itu perlu keterampilan (karena latihan), perlu bakat atau bakat menulis itu hanya omong kosong?

Testimoni dan Tekad Saya

Saya pribadi mulai menulis sekitar tahun 2008. Selama lebih dari 7 tahun vakum. Baru pada bulan Oktober 2016, saya mulai lagi menulis, lebih tepatnya ngeblog di wordpress.com. Itu terinspirasi oleh hai hai alias bengcu dan perkembangan putri saya, Ruth Amora, yang kemudian saya tuangkan dalam tulisan berjudul Sebuah Opini Tentang hai hai dan Peduli Anak Sejak Dini.

Tepat pada 24 Januari 2017, saya sudah 3 bulan mengudara bersama wordpress.com. Dan sampai hari ini berarti saya sudah ngeblog selama kurang lebih 4 bulan 17 hari. 

Selama kurun waktu itu, saya merasa bahwa saya telah menulis dengan semangat perjuangan dan latihan yang serius. Bahkan sampai sedikit berdarah-darah. Hasilnya lumayan terasa, tidak terlalu buruk. Pengunjung dan follower meningkat, dan sayapun jadi terbiasa dalam merangkai kata-kata. Dan itu cukup membuat saya tersenyum.

Sayapun terus menulis konten. Mengeksekusi berbagai ide. Meramunya, mengolahnya dan menyajikannya menjadi sajian yang bisa dinikmati oleh para pembaca.

Desfortin Menulis Hompage, bakat menulis itu omong kosong?
Tampilan Beranda Desfortin Menulis

Karena Blog Desfortin Menulis ini adalah blog gado-gado, maka kontennya pun cukup beragam. Saya belum menemukan brand tunggal yang efektif dan layak saya bangun sampai saat ini. Meskipun konten-konten tersebut masih sangat jauh dari kategori mutu, tapi setidaknya saya sudah berusaha mengerahkan kemampuan menulis saya.

Apapun hasilnya, saya merasa bersyukur dan cukup bahagia karena sampai saat ini saya tetap rutin ngeblog. Setidaknya dalam 3 atau 4 hari sekali atau paling lambat seminggu sekali saya merilis konten terbaru. Dan saya sangat menikmati saat-saat ngeblog saya itu.

Walau demikian, saya merasa bahwa sampai saat ini saya masih sangat awam dalam menulis. Masih banyak ilmu menulis yang belum saya kuasai. Semua butuh proses memang.

Karena itu saya ingin terus belajar dan belajar menulis. Itu tekad saya. Semoga di masa depan saya semakin terbiasa menulis dan ada peningkatan yang signifikan. Ini pengakuan saya sejujurnya. Bukan kata-kata klise atau kata-kata merendah yang semu. Saya mengatakan apa adanya.

Pengaruh Passion

Passion artinya keinginan (semangat) dan ketertarikan (kegemaran) yang besar yang dimiliki seseorang terhadap suatu hal. Saya meyakini bahwa passion berpengaruh besar. Ia berguna sebagai pendorong, dalam hal ini sebagai pendorong saya dalam menulis. Passion membuat seseorang terus berlatih dan mengasah potensi diri.

Sebuah perjuangan dan kerja keras dalam menulis bisa berbuah manis. Itu semua tentu karena ada passion. Tanpa itu menulis hanyalah sebuah keterpaksaan dan keniscayaan yang tak berarah.

Keterampilan atau Bakat?

Jadi, apakah menulis itu adalah keterampilan karena dilatih dan diasah, atau bakat menulis itu berkontribusi sekian persen, atau bakat menulis itu hanyalah omong kosong seperti dikatakan oleh Cerpenis Indonesia, Joni Ariadinata?

Jujur, jawaban pastinya saya juga tidak tahu atau lebih tepatnya tidak begitu yakin. Soalnya ada sebagian orang yang rajin berlatih menulis, bahkan ikut kursus menulis, tapi tulisan mereka biasa-biasa saja. Namun karena mereka tekun berlatih, akhirnya jadi penulis juga sekalipun tidak terlalu tenar. Apakah kita mau katakan bahwa mereka penulis yang kurang berbakat?

Lalu ada juga yang mampu menulis fiksi dengan gaya menulis yang hebat dan begitu merasuk ke relung hati terdalam pembacanya. Contohnya seperti Andrea Hirata (Novelis Indonesia), J.K. Rowling (Novelis Inggris), Alm. Boris L. Pasternak (Sastrawan Rusia berdarah Yahudi), dll.

Para penulis tenar itu mampu dan sangat piawai membawa emosi pembacanya ke alam pikiran dan imajinasi mereka yang unik, intuitif dan hampir tak terpikirkan oleh banyak orang. Olah pikir dan olah rasa mereka sangat luar biasa. Apakah itu semata-mata hasil dari latihan yang serius, atau memang karena bakat yang ada pada mereka?

Apapun itu, keterampilan memang lebih realistis untuk kita pahami ketimbang bakat. Bakat itu relatif abstrak menurut saya meski tidak bisa juga kita tolak 100 %. Tapi daripada pusing memikirkan apakah menulis itu perlu bakat atau tidak, lebih baik terus menulis dan menulis untuk mengasah kemampuan menulis.

Saya pikir itu jauh lebih realistis dan lebih rasional, sekalipun kita tidak bisa seperti penulis-penulis handal itu, yang karya-karyanya laris manis (best-seller) dan mendunia. Karena itu, teruslah menulis!

Well, itu menurut saya. Dan akurasinya pun tentu masih bisa dipertanyakan. Bagaimana menurut Anda? Mari berbagi di kolom komentar yang disediakan.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

14 tanggapan untuk “Bakat Menulis Itu Omong Kosong?

  1. Saya nggak percaya bakat karena memang saya berusaha kuat untuk menulis. Dulu nulis 200 kata aja udah seneng. Sekarang kadang2-saya bersyukur sekali dipertemukan dengan kegiatan menulis. Rasanya benar benar menyenangkan.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Dulu aku pas pertama” blogging masih suka copas” gitu, karena merasa nggak mampu buat tulisan sendiri, setelah seiring berjalannya waktu.. *cieh. membuat kreatifitas tulisan meningkat dgn sendirinya.. yaa walaupun saya nulisnya masih acak adut gitu, nggak baku. Tapi saya rasa itulah style tulisanku sendiri, haha nggak bisa dirubah..

    Disukai oleh 1 orang

    1. It’s ok mbak Arika style mu nulis, saya suka. Jadi saya punya berbagai perspektif. Ada teman yg formal gya bhasanya, ada juga yg sprti Anda.

      Saya yakin latihan yg tekun mmbuat org mampu nulis, meski tak sebaik mreka yg emang udah pro.. saya sendiripun brlatih trus ni

      Disukai oleh 1 orang

  3. Saya nggak percaya ada orang yang terlahir sebagai seorang penulis. Penulis-penulis hebat yang saya tahu rata-rata menjadi mahir karena mereka punya banyak pengalaman, membaca banyak sekali buku, dan rutin menulis.

    Disukai oleh 1 orang

        1. Ya memang lebih realistis dan rasional mengatakan banyak pengalaman, banyak baca, banyak latihan dan upaya sejenisnya ketimbang nulis itu butuh bakat. Karena memang bakat itu terkesan abstrak.

          Makanya agaknya penulis berbakat itu hanyalah label dari pembaca ya..

          Suka

  4. menurut saya bakat itu cuma 1 % dan 99 % nya adalah usaha. Jadi yaa emang sebenernya bakat itu emang ada, kayanya agak gimana gitu dengernya kalau menulis itu cuma mengandalkan teknis-teknis nya aja. Soalnya banyak beberapa orang yang mengikuti teknik yang ada namun tulisannya tetap biasa. Bahkan terkesan kaku, tidak mengalir. Setiap manusia itu punya bakat, cuma hanya perlu di asah aja pakai teknik-tekniknya. Dan gak semua orang bakat yang dipunyanya langsung terlihat dalam satu asahan. Butuh waktu proses yang panjang. Hehehe itu sih cuma pendapat saya ka πŸ˜€ peace
    Saya juga masih awam banget kok.

    Suka

    1. Itulah sebabnya dlm postingan ini saya mempertanyakan. Dan saya kira tanggapan Anda cukup menjawab, walau saya tetap masih ragu dg beberapa alasan. Tapi apapun itu, saya mengerti dengan porsi persenan yang Anda maksudkan.

      Memang ada penulis fiksi yg hebat, tulisannya mengalir, bgtu mndalam dan bernas, hampir tak terpikirkan bnyak orang. Saya llu brtanya, apkah itu cuma asahan atau mmang dari sononya.

      Dan memang ada org yg ikut latihan nulis bgtu giat, tp tulisan ttp biasa2 saja.

      Mungkin bgni: nulis fiksi hebat prlu bkat, tapi nulis tulisan non fiksi gak prlu bkat. Trdengar standar gnda sih, gmna nurut Anda? Stuju gak?

      Suka

      1. itu memang dari sononya ka, jadi begini, sebenarnya setiap manusia sudah terlahir mempunyai bakat dan kemampuan. Hanya saja, bagaimana kita mengasahnya dari sedini mungkin. Contoh, si A dari kecil sudah sering membaca buku fiksi, legenda, film” komik. Dari jiwa nya sudah tertarik dan mendalaminya sejak kecil. Saat ia sudah besar, saat ia sudah tau kemana arah hobby yang harus ia kerahkan agar bermanfaat. Maka munculah keinginan untuk jadi penulis. Ia mulai belajar, dan untuk belajar ini tidak perlu waktu lama. Karna ia sudah menyerapnya dari usia dini. kurang lebih seperti itu. Aku setuju kok nulis fiksi itu memang perlu bakat dan asahan, tapi untuk tulisan non fiksi perlu teknik-teknik yang diperlukan. Seperti karya ilmiah, buku panduan, harus mempunyai trik-trik teknik agar menarik minat bagi pembaca.
        Kurang lebih seperti itu sih ka pemikiran saya. Mohon dimaklum kan, saya juga masih belajar πŸ˜€

        Suka

  5. Entah kenapa nyasar ke sini dan langsung kepooo. menurut aku si menulis itu butuh motivasi untuk memulainya g hanya sekedar bakat aja. Mungkin bakat juga menentukan, dikit kali yaa. Aku sendiri awalnya nulis cuma karena nge fans sama artis korea gitu si, tp itu juga masih asal dan berantakan + alay πŸ˜…, sampai nulis tanda kutip aja nggak tahu, titik dan komanya hancur 😌 karena konsep awalnya cuma buat seru2an jd g terlalu perduli, makin kesini ga tahu kenapa keterusan mungkin karena merasa terhibur apalagi kalau ada pengunjung yang komen “ditunggu karya lainnya.” aku jd terharu, berasa penulis beneran kali ya. Mulai dr sana lebih termotivasi ngarang cerita lagi meski itu masih ilang2an, malah sempat ilang beneran atau hiatus, kalau kangen tinggal nulis lagi, gitu aja terus πŸ˜‚πŸ˜

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s