Mengenang “Si Butut” di Masa-Masa Kuliah

Sepeda Motor Butut Honda Astrea 800

Sumber Gambar: kaskus.co.id

Kini sudah 8 tahun berlalu sejak aku lulus kuliah. Aku tak pernah bermimpi atau membayangkan sebelumnya jika aku bisa seperti saat ini. Bukan berlimpah harta ataupun kejayaan nama, tapi aku cukup bersyukur dengan segala yang ada. Ya, semuanya berkat perjuangan dan kerja keras di masa lalu. Dan di atas segalanya, tentu semua karena anugerah Yang Mahakuasa.

Dalam perjuangan yang cukup keras bahkan sedikit “berdarah-darah” di masa lalu itu, ada salah satu barang milikku yang masih kukenang sampai saat ini, yakni sepeda motor bututku. Ia pernah berjasa banyak dan menyimpan sejumlah kenangan ketika aku masih menjalani masa-masa kuliah.

Sepeda motor bututku. Aku lebih suka menamainya “Si Butut”. Motor ini kudapatkan saat kuliah, sekitar akhir tahun 2006. Merupakan jenis honda astrea bebek tipe 800. Tahun produksi sekitar tahun 1995, kalau tidak salah ingat.

Aku membeli motor ini dari seorang teman dari temanku. Harganya sangat murah kala itu, cuma Rp 700.000,-. Sudah bisa ditebak, kelengkapan surat-menyuratnya tidak memadai, bahkan blong sama sekali, ha ha ha …

Impian dan Kebutuhan

Sebenarnya aku mengimpikan sepeda motor baru. Tetapi tak ada pilihan lain. Sebagai mahasiswa, aku tak punya uang yang cukup untuk membeli sepeda motor dengan harga normal. Apalagi orangtuaku hanyalah petani biasa yang hidup seadanya di kampung. Tentu aku tak sepantasnya menambah beban mereka.

Namun, karena saat itu aku butuh sekali sebuah sepeda motor, dan tanpa mempedulikan rasa malu atau gengsi, akhirnya akupun nekad membeli sepeda motor butut itu dari uang tabunganku. Suatu kebetulan pula Si Butut itu masih layak pakai. Hanya beberapa bagian onderdil saja yang perlu perbaikan serius. Dan kupikir itu masih bisa kuatasi.

Saat itu adalah masa-masa kuliahku yang benar-benar sibuk. Mahasiswa semester 5 akhir dengan mobilitas yang cukup tinggi. Bayangkan saja, kalau tiap hari ke kampus harus jalan kaki, atau menumpang kendaraan teman, tentu susah dan merepotkan, bukan?

Selain itu, bila bertepatan ada tugas atau kepentingan lainnya yang sangat mendesak, tanpa bantuan alat transportasi pribadi, maka aku akan kesulitan sekali. Selain menguras tenaga, tentu juga dana yang tidak sedikit.

Masa PPL Bersama Si Butut

Begitupun saat aku menjalani masa-masa PPL (Praktik Pengenalan Lapangan), Si Butut inilah yang setia menemaniku.

Saat itu tahun 2007. Aku mendapat tugas dari kampus untuk Mata Kuliah PPL II (Macro Teaching) di SMAN 2 Palangka Raya. Bukan tanpa rasa gengsi atau minder aku mengendarai Si Butut, tetapi aku berusaha menepisnya. Dan aku juga belajar bahwa membina diri itu memang dimulai dari hati.

Dengan tetap semangat aku berjuang bersama Si Butut. Melintasi jalanan demi jalanan kota Palangka Raya dalam waktu sekian tahun seolah tanpa beban sama sekali. Sejujurnya, kadang aku juga merasa was-was karena kelengkapan administrasi berkendaraku yang nihil sama sekali saat itu.

Beruntungnya sampai akhir masa tugas, tak pernah kena razia Polantas satu kalipun. Mungkin karena aku tahu persis ruas-ruas jalan pintas kali ya, heee…. Sedikit merasa hebat, hanya saja bukan hal yang patut untuk dibanggakan, tapi itulah pengalaman yang pernah aku lalui ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Tugas Akhir dan Si Butut

Demikian pula saat menjelang dan memasuki tugas akhir (penyusunan dan pembimbingan Skripsi), dimana aku dan teman-teman mahasiswa lainnya harus bolak-balik konsultasi ke tempat dosen pembimbing kami, sepeda motor bututku ini tetap setia menyertai.

Meskipun beberapa kali pernah bermasalah, entah itu karena mesinnya mogok, ban kempes, lepas rantai, dlsb, tapi hanya satu kali yang membuatku merasa buruk dan tak berdaya, yakni saat harus ketemu dosen pembimbing.

Hari itu aku dan teman-temanku (dalam satu grup pembimbingan) harus bertemu dosen pembimbing kami di rumahnya pada jam tertentu untuk konsultasi. Dosen kami itu termasuk dosen yang super disiplin dan konsekuen. Namun juga killer (menurutku).

Maka berangkatlah aku dari tempat kost-ku saat itu dengan Si Butut. Semua berjalan seperti biasa. Namun setelah sekitar 500 meter perjalanan dari tempat kost, hal yang tak diharapkan pun terjadi. Si Butut tiba-tiba mogok. Tak tahu kenapa. Biasanya baik-baik saja. Sialan pikirku.

Setelah kuperiksa dan kucoba otak-atik sendiri, tetapi tetap tidak berhasil. Berkali-kali kucoba atasi tapi nampaknya sia-sia. Keringatpun bercucuran di sekucur tubuhku. Benar-benar menyebalkan.

Dan sangat malang, posisiku saat itu memang sangat jauh dari bengkel. Perasaanpun harap-harap cemas. Karena saat pertemuan dengan si dosen sebentar lagi tiba.

Teman-temanku yang saat itu sudah berada di sekitar rumah si dosen, dengan setia menantiku dan memintaku segera datang. Mereka memberitahuku lewat SMS. Aku tak membalasnya. Pikiranku masih fokus pada Si Butut yang membuatku begitu kewalahan.

Aneh bin ajaib, setelah berkali-kali aku terus mencoba mengengkol starter, tiba-tiba saja mesin Si Butut-pun menyala. Tanpa berpikir panjang lagi, segera saja aku tancap gas menuju tempat pertemuan.

Sesampainya disana, teman-teman pun sudah lama menunggu. Aku merasa tak enak hati dengan mereka semua. Kata maaf saja tak cukup rasanya. 

Bodohnya lagi adalah, aku tak menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Aku hanya berkata bahwa keterlambatanku itu karena aku masih pergi ke rental pengetikan, dengan alasan ada bagian skripsiku yang salah dan perlu diedit. Entahlah, alasanku saat itu apakah cukup reasonable atau ridiculous di mata teman-temanku.

Yang pasti teman-temanku itu cukup bersabar menghadapiku. Karena memang kebiasaan grup kami saat itu, bila harus menghadap dosen pembimbing, maka selalu bersama-sama. Tak boleh satu orangpun yang tertinggal. What a solid team!

Sangat disayangkan sekali, meskipun kami sudah sampai disana, tapi waktunya telah lewat lima menit dari jam janji pertemuan. Dan sudah bisa ditebak apa yang akan kami terima. Tapi kami nekad saja tetap menekan bel pintu rumah si dosen, sembari berharap ada kemurahan hati yang akan kami terima.

Namun kenyataanya adalah, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kami kena marah besar dan “diusir” oleh si dosen saat itu juga. Sangar dan sadis kulihat tampang beliau waktu itu. Kamipun tak berani bersuara. Pintu rumah ditutup kembali. How poor we were!

Konsekuensinya jelas, pertemuanpun batal hari itu. Kami harus mengatur ulang jadwal pertemuannya lagi di lain waktu.

Kemudian, esoknya kamipun harus meminta maaf kepada dosen pembimbing kami itu, baik secara kolektif maupun pribadi. Dan sebagai tanda minta maaf, aku membelikan dosen pembimbing kami itu 2 buah bunga hidup (aku lupa bunga apa yang kubeli) yang biasa dijual oleh penjual bunga di lapaknya. Karena beliau memang penyuka bunga.

Atas kesalahanku di waktu itu, tentu saja aku merasa menyesal. Menyesal pada diri sendiri. Karena memang tidak ada yang patut disalahkan, kecuali diri sendiri. Akupun sangat merasa malu dengan teman-teman.

Tapi itulah kejadian di balik keterlambatanku itu. Gara-gara motor bututku itu. Bukan karena pergi ke rental. Maafkan kawan-kawan jika kalian membaca tulisanku ini. Sebab baru hari ini aku menceritakannya secara terbuka. Maafkan aku karena telah berbohong waktu itu.

Dari kejadian itu, akupun belajar supaya di lain waktu tidak ceroboh lagi. Aku harus lebih memperhatikan motorku itu, karena memang butut, agar persiapannya lebih prima sebelum berangkat untuk misi serius seperti urusan kampus atau janjian ketemu dosen.

Syukurlah, sejak saat itu tidak ada lagi kejadian buruk yang merugikan terkait pembimbingan tugas akhir. Sampai pada saat harus ujian skripsi, puji Tuhan, semuanya baik-baik saja. Sepeda motor bututku itu sepertinya tidak mau menyusahkanku lagi. Bahkan sampai yudisium dan wisuda-pun, semuanya lancar. Tak ada kendala yang berarti.

Perpisahan Terakhir

Pasca wisuda dan sambil menunggu rilisnya ijazah kami dari pihak kantor rektorat, motor bututku itu masih setia menemani. Akupun tetap rutin meminta service berkala ke bengkel langganan bila diperlukan.

Namun, ketika sudah saatnya aku harus kembali pulang kampung, dengan menyandang gelar sarjana dan dibuktikan dengan ijazah yang kuterima, maka saat itulah aku harus berpisah dengan sepeda motor bututku itu untuk selama-lamanya.

Untuk menambah ongkos pulang kampung, dengan agak berat hati aku harus meninggalkannya di kota Cantik Palangka Raya. Maksudnya, aku harus menjualnya kembali. Tapi siapa yang mau beli motor butut seperti itu. Akupun berusaha mencari info untuk menawarkannya.

Dan selang beberapa hari sebelum aku benar-benar meninggalkan kota Palangka Raya, untunglah ada kenalanku, yang juga seorang security di kampus Unpar. Ia mengatakan bahwa ia punya teman yang sedang membutuhkan sepeda motor bekas. Yang penting masih layak pakai. Wah, … itu tentu berita baik untukku.

Akupun menyetujuinya. Janji pertemuanpun diatur. Ternyata temannya itu adalah seorang buruh kasar bangunan yang sedang membutuhkan sepeda motor. Setelah deal, motor bututku itupun kujual kepadanya.

Mau tahu berapa harga jualnya setelah sekitar 2 tahun lebih aku memakainya? Cuma Rp 500.000,- ha ha ha … menurutku itu bukan harga yang buruk, hanya selisih Rp 200.000,-, meski ongkos perbaikannya lebih dari itu.

Begitulah sedikit cerita sepeda motor bututku itu di masa-masa kuliah. Ada banyak kesan atau pengalaman yang kulalui bersama Si Butut.

Ini hanya sebagian kisah dari sekian banyak kisah. Aku tak mungkin menceritakannya semua disini. Yang pasti Si Butut menyimpan berbagai kenangan, baik kenangan suka maupun duka. Karena itu sampai saat ini aku masih mengingatnya, hanya sayang fotonya sudah tidak aku simpan lagi (tapi Si Bututku itu agak mirip seperti gambar yang tampak di awal postingan) ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Bagaimana kawan-kawan, apa di masa lalu kalian juga punya kisah unik atau konyol seperti kisahku bersama Si Butut di atas? Atau ada kisah lain yang bisa diceritakan? Bagikan di kotak komentar.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

11 thoughts on “Mengenang “Si Butut” di Masa-Masa Kuliah

  1. Wah…benar-benar benda yang layak untuk diceritakan karena menyimpan berbagai kisah yang tak mungkin terlupakan.
    Saya juga punya motor kenangan mas, tapi bukan saat kuliah tapi saat sudah kerja yakni Motor matik pertama di Indonesia “Motor Mio” keluaran pertama. Saat itu motor matic masing asing bagi masyarakat, jika aku keluar rumah dengan mioku itu, anak-anak sekitar rumah meneriaki dengan kata ” Mio…Mio…” entahlah teriakan mereka maksudnya apa, aku tidak mencari tahu
    Setelah beberapa tahun aku memiliki motor matic lain, MIO ku jarang kupakai karena sdh kurang nyaman dibanding yang baru, sehingga banyak teman yang menyarankan untuk menjualnya, tetapi aku sayang sekali untuk menjualnya sampai sekarang, karena mioku merupakan motor kenangan, dengan motor itulah untuk pertama kaminya aku bisa(berani) naik motor di kotaku yang berbukit-bukit. Meskipun jarang kupakai, aku sesekali memakainya dan juga dipakai anakku saat mereka pulang ke Luwuk. Jadinya tetap bermanfaat juga mioku

    Suka

    1. Ya, mbak. Kadang brang yg punya bnyak knangan itu rasanya sulit utk kita lpaskan atau jual, bgtu jg dg sya wktu itu. Tapi krn jrak kampung hlaman sya itu sngat jauh dari tmpat sy kuliah, jg Si Butut itu gak mungkin dibawa pulkam, krn onderdilnya yg tdk mendukung utk jrak yg jauh, ditambah lg sy perlu uang utk nambah biaya pulkam, yahhh…mau gak tahu hrus direlakan utk dijual.

      Oya, Anda punya motor matic prtma? Hebat tu. Jngan dijual mbak klo tdk ckup alsan. Konon klo brang yg sdh lma, bbrpa puluh thn kedepan akn jd motor antik. Motor antik biasanya hrg jualnya bs lbih mhal, minimal utk hadiah anak-cucu.

      Disukai oleh 1 orang

      1. iya betul mas, rencana saya juga begitu, Saya ingin tetap melihatnya sepanjang saya masih bisa melihat, karena kalau dijual harganya tdk seberapa dan saya tdk akan bisa melihatnya lagi he..he…
        sebenarnya saya kadang juga butuh uang, tetapi syukurlah tanpa harus menjula mio ku bisa diatasi masalahku. Alhamdulillah

        Disukai oleh 1 orang

  2. Selalu ada kenangan yg menjadi momen sejarah perjuangan kita saat menimba ilmu, banyak kisah suka duka yg mengantarkan kita menjadi sekarang ini. Jadi intinya bersyukur atas kerahasiaan kita melewati masa 2 sulit kita,
    Sekarang saatnya kita kembali mengabdi untuk membangun bangsa ini melalui dunia pendidikan.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Awalnya saya agak sungkan menceritakannya, apalagi pas pada bagian rahasia keterlmbatan saya itu. Tapi agar tidak lupa dan untuk melatih kemampuan menulis bebas saya, mka jdilah tulisan ini.

      Betul pak Maryadi. Masa llu sudah lewat dan kita ada di saat ini dg tugas yg terbntang di hdapan kita. Tks pak Maryadi atas komentarnya. Mari kita maju bersama untuk dunia pendidikan kita, khususnya pend. di Kab. Lamandau.

      Suka

  3. Bapak saya dulu sebelum tahun 98 punya motor seperti diatas. Tapi kemudian usaha kreditnya bangkrut karena orang2 tidak mau membayar tunggakan pas masa krisis ekonomi. Lalu motornya dijual untuk modal membuka lapak buah. Ya itu cikal bakal lapak buah yg sekarang.

    Disukai oleh 1 orang

  4. Pernah juga punya si Butut , tapi bentuknya sepeda onthel torpedo. Aku dulu sering dipanggil pak Pos, karena sepeda itu seperti sepeda tukang pos. Sayang gak sempat menfoto waktu itu, keburu sepedanya dijual.

    Tulisan yang membuat kangen akan masa lalu nih, mas
    Salam kenal. ๐Ÿ™‚

    Disukai oleh 1 orang

    1. Salam kenal mas. Mksih udah komen.

      Ya, tulisan ini sngja sy tulis buat ngenang masa llu emang. Tkut sy kburu lupa, mkanya diarsipkan lwat tulisan. Biar kpn2 bisa dibaca-baca lg

      Suka

  5. halah kirain motor bututnya yamaha 75. ternyata astrea, gagal fokus sama gambarnya. kalo saya dulu pernh pnya motor kaya yang di gambar tuh… tapi kondisinya mendingan lah daripada yg dipajang sebagai ilustrasi. entah sekarang kemana ๐Ÿ˜€

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s