Mawar Yang Hilang

The Lost Rose was a girl whom I dreamed of, she's so gorgeous. I don't know where's gone. Aku ingin ketemu dia mawar yang hilang, Ritha Margaretha

Sumber Gambar : wattpad.com

Waktu menunjukan pukul 14.15 Wib. Mondy baru saja terjaga dari tidur siangnya. Badannya pun sudah terasa segar setelah beristirahat selama kurang lebih 1 jam. Hanya saja ia masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. 

Dan sembari tetap berbaring di tempat tidurnya, beberapa saat kemudian angannya melayang ke masa lalu, ke memori 13 tahun silam, saat-saat awal kuliah dimana jiwa mudanya masih begitu segar dan penuh gelora.

Maklum, ini memang akhir bulan Maret. Akhir bulan yang penuh makna dan kenangan bagi Mondy Pernando. Karena di akhir bulan inilah semuanya berawal (31 Maret 2004).

“Mas, boleh nanya?” Tanya seorang mahasiswi kepada Mondy yang saat itu sedang membaca beberapa pengumuman tertulis di papan info kampus Prodi Bahasa Inggris Unpar.

“Ya, ada apa mbak?” Sahut Mondy singkat. “Ruang Kampus F itu sebelah mana ya?” Begitu tanya mahasiswi itu. “Oo, kampus F? Tadi aku lewat dari sebelah sana, kalau gak salah, aku lihat ada kampus D, mungkin gak jauh dari situ kali ya,” jawab Mondy dengan tidak begitu pasti juga. Maklum, Mondy juga sama-sama mahasiswa baru.

Mahasiswi itu melanjutkan, “Maaf, kamu Bahasa Inggris juga kan? Boleh bantu tunjukkin nggak? Katanya sih, sekretariat pendaftaran kegiatan Orlapnya ada disana.

“Yup. Dan kebetulan, aku juga mau kesana. Kalau gitu, kita bareng aja kesananya. Let’s go!” jawab Mondy sambil beranjak menuju arah kampus D bersama mahasiswi itu. Beberapa saat kemudian sampailah mereka ke kampus D.

Sesampainya disana, dan setelah mencari-cari di sekitar, ternyata mereka kesulitan menemukan kampus F yang mereka cari itu. Unik juga di Unpar, kampusnya tersebar, jadi setelah D tidak langsung berderet dengan kampus E dan F. Karena itu, Mondy harus tanya ke salah seorang mahasiswa yang ada di sekitar mereka saat itu.

“Maaf mas, mau tanya aja, kampus F itu sebelah mana ya? Kami lagi nyari nich,” tanya Mondy kepada mahasiswa itu. “Lurus aja mas. Di ujung gedung itu, kemudian belok kanan, cek aja kira-kira 15 meter setelahnya, disana ada tulisan kampus F.” Jelas mahasiswa itu.

Setelah berbasa-basi sebentar dan berterima kasih kepada mahasiswa itu, merekapun segera menuju gedung yang dimaksud. Dan betul, itu kampus F. Saatnya mereka menyelesaikan misi, yakni mendaftarkan diri untuk kegiatan Orlap itu.

Misi pendaftaran Orlap selesai, dan mereka berencana untuk kembali ke tempat masing-masing, tapi sayangnya dari tadi mereka belum saling kenalan. “Oya, kita kok dari tadi belum kenalan ya. My name is Mondy, Mondy Pernando. I’m from Pangkalan Bun. Nice to meet you,” kata Mondy sambil mengulurkan tangan kanannya kepada mahasiswi itu yang sedari tadi mereka belum tahu nama masing-masing. “I am Agatha Mawarni. You can call me Mawar. From Kuala Kapuas. Nice to meet you, too. Thanks ya udah bantuin. Maaf kalau merepotkan,” jawab Mawar.

“Santai aja Mawar. Kita kan sama-sama daftar tadi. It’s my pleasure to do it,” begitu tanggap Mondy. Dengan rasa senang dan santai kata-kata itu keluar dari mulutnya. Dan tak lama setelah itu, selang beberapa saat setelah saling ngobrol, merekapun berpisah satu sama lain.

She’s so gorgeous. Demikian Mondy membatin. Tampaknya Mondy terkesan dengan pertemuan tadi. Entahlah Mawar. Betapa tidak, Mawar memang perempuan yang cantik dan menawan. Penampilannya yang elegan dan sifatnya yang ramah tentu membuat orang merasa nyaman dan akrab dengannya.

Sepertinya, hari-hari Mondy ke depannya akan semakin indah. Selain kuliah di kampus Bahasa Inggris adalah impiannya sejak lama, ia juga bahagia bisa bertemu dengan teman-teman barunya yang luar biasa. Salah satunya adalah Mawar. Perempuan cantik yang membuat Mondy merasa nyaman.


Sebelum masa perkuliahan dimulai, terlebih dahulu diadakan acara Orlap (Orientasi Lapangan). Semacam acara penyambutan untuk mahasiswa baru yang dikoordinir oleh mahasiswa senior. Kala itu Orlap dilaksanakan di dalam lingkungan kampus selama 2 hari, dan di luar kampus selama 3 hari, yang dikemas dengan acara perkemahan.

Untuk Orlap di luar lingkungan kampus, tempat atau lokasi yang ditentukan adalah di area Bukit Tangkiling. Sekitar 44,1 km dari pusat kota Palangka Raya. Mereka berangkat kesana menggunakan bus yang telah disiapkan.

Ada 3 bus yang disediakan panitia. Mondy naik ke bus 2. Ia tampak senang dan bersemangat, namun pikirannya bertanya-tanya tentang Mawar, perempuan menawan itu. Dimana dia? Di bus ini, apa di bus lainnya? Mondy membatin. Tampaknya di bus yang ia tumpangi itu, tak ada Mawar.

Acara Orlap di luar kampus itupun berlangsung selama 3 hari 3 malam. Acaranya padat. Dari subuh hingga pukul 09.00 malam. Namun karena acaranya dikemas semenarik mungkin, rasa lelahpun terbayarkan. Begitupun Mondy, ia cukup bisa menikmati acara tersebut.

Namun sebenarnya, ia berharap bisa melihat Mawar. Mungkin akan terasa lengkap bila Mawar ada disana. Sayangnya, sampai di hari ketiga, Mawar tetap tidak ada. Ia tidak mengikuti kegiatan Orlap tersebut. Entah apa sebabnya, belum ada informasi sama sekali.


Tiga hari kemudian pasca kegiatan Orlap, masa perkuliahan pun dimulai. Semua mahasiswa harus hadir. Jika tidak, maka dianggap mengundurkan diri. Di hari pertama masuk kuliah itu, Mondy harap-harap cemas, ia berharap Mawar tidak tereliminasi.

Tapi syukurlah, tak lama setelah itu, apa yang dicemaskan Mondy akan segera berlalu. Sebab, dari kejauhan tampak Mawar sedang datang. Tapi ia tidak sendirian. Ia diantar dengan sepeda motor oleh seorang pria. Nampaknya seorang mahasiswa juga, tapi dari kampus lain.

“Hai, Mawar. Apa kabar? Kok, waktu itu kamu gak ikut Orlap?” Sapaan Mondy itu terdengar jelas hingga beberapa mahasiswa lain menoleh. “Hai juga Mondy. Iya nich. Sebenarnya aku juga mau ikut, tapi di hari pertama Orlap itu, aku jatuh sakit,” jawab  Mawar.

“Oo, …kirain kamu kemana. Sekarang udah sembuh kan? Soalnya di hari pertama ini semua mahasiswa harus hadir lho, kalau enggak, maka dianggap mengundurkan diri.” Mondy menjelaskan. Dalam hati Mondy, sebenarnya ia berharap agar Mawar tidak menghilang lagi.

“Iya Mon. Syukurlah hari ini udah sembuh,” jawab Mawar. “Okay, nice to hear that. Let’s join our friends there, would you?” ajak Mondy. “Boleh” jawab Mawar singkat.


Masa aktif kuliah dimulai. Selama 6 bulan pertama setiap mahasiswa baru wajib mengikuti program IC (Intensive Course) yang sudah diatur kampus. Selama program intensif ini berlangsung, pembelajaran masih seperti kala SMA. Harus masuk tiap hari dari pagi hingga siang, kecuali hari libur.

Seperti suatu kebetulan, setelah placement test, Mondy dan Mawar sama-sama satu kelas. Karenanya, pertemanan Mondy dan Mawarpun semakin intensif, se-intensif program IC. Mawar sering curhat tentang kehidupannya. Begitupun Mondy. Ternyata mereka adalah teman curhat yang baik.

Pernah suatu ketika, Mawar dengan cepat menarik tangan Mondy dan membawanya ke area belakang kampus, dimana tak ada orang lain disana. Tiba-tiba saja Mawar menangis. Sambil sesenggukan ia memeluk Mondy dan menaruh kepalanya persis di dada kiri Mondy.

“Mon…aku sedih banget hari ini. Gak kusangka….orang ….orang yang kusayang …. kok tega banget dengan aku, …. aku udah jujur tapi dia bohong….” curhat Mawar kepada Mondy sambil terbata-bata dan memukul dada Mondy.

Mondy setengah kaget, tapi tak bisa menolak saat Mawar menaruh kepalanya ke samping dadanya. Rasanya ia tak percaya dengan sikap Mawar saat itu. Dan lebih tak membuatnya mengerti lagi adalah dengan maksud curhatan Mawar itu.

“Tenang Mawar. Ada apa sih? Kenapa kamu nangis? Coba jelaskan sebenarnya apa yang terjadi?” Mondy coba menenangkan Mawar. Dan kali ini Mawar telah menarik kepalanya dari tubuh Mondy. Iapun melanjutkan, “Dia Mon. Laki-laki itu. Dia mengkhianatiku. Tadi malam, dia bareng teman-temannya ke Pal 12, main perempuan.” Mondy masih tak mengerti, “Laki-laki siapa maksudmu Mawar?” 

“Laki-laki yang sering mengantar-jemputku ke kampus itu. Dia adalah pacarku.” Mondy baru menyadari kalau ternyata laki-laki yang sering mengantarnya itu adalah pacarnya Mawar. Selama ini ia mengira bahwa laki-laki itu adalah saudara atau teman Mawar saja. Mawarpun memang tak pernah menceritakan ini kepada Mondy. 

Dengan gayanya sebagai seorang lelaki, Mondy terus berupaya menghibur Mawar yang sedang bersedih kala itu. Dan akhirnya ia berhasil meyakinkan bahwa Mawar harus tetap kuat dan tegar. Lagian, masa studi Mawar di kampus ini masih sangat panjang. Sangat tidak logis bila hanya gara-gara cinta sehingga kuliahnya terganggu.

Sejak saat itu Mondy dan Mawar dekat sekali. Kebersamaan demi kebersamaan mereka lalui. Keduanya tampak bahagia, terlebih Mondy. Sekilas seperti orang yang berpacaran, padahal tidak. Mereka tak pernah menyatakan saling suka atau cinta. It’s just like HTS (Hubungan Tanpa Status).

Melihat kedekatan mereka itu beberapa teman mereka telah menganggap kalau Mondy dan Mawar pacaran. Tapi ternyata apa yang mereka lihat itu tidak seperti faktanya.

Meskipun demikian, Mondy dan Mawar asyik saja. Mereka cuek dengan semua anggapan teman-temannya itu. Lagian teman-teman mereka juga tidak menyebar gosip miring tentang mereka. Dan memang, sejauh ini semuanya baik-baik saja. Terlebih Mondy, ia semakin bersemangat kuliah karena setiap hari bisa ketemu Mawar.

Akan tetapi, memasuki bulan kelima masa-masa perkuliahan IC (Intensive Course) itu, kegembiraan Mondy dan Mawar agaknya perlahan-lahan terganggu. Penyakit Mawar kembali kambuh. Ia sering masuk rumah sakit. Dan tentu kuliahnya pun terganggu, sehingga ia tak bisa kuliah sebagaimana biasanya. Hal ini tentu membuat Mondy ikut sedih.

Dan yang lebih mengagetkan Mondy lagi, 2 minggu kemudian setelah Mawar menderita penyakitnya itu, ia pergi ke kampus untuk menemui teman-teman sekelasnya dan juga Mondy. Mondy mengira bahwa Mawar sudah pulih total, dan hari itu bisa kuliah lagi. Ternyata Mawar hanya ingin pamitan.

“Teman-teman, aku hari ini datang untuk menemui kalian semua. Maafkan, selama 2 minggu ini aku tidak bisa masuk kuliah. Aku sakit dan sempat di-opname. Inipun pada hari ini aku paksakan. Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan kuliah untuk sementara. Mungkin aku akan terminal dulu. Aku harus pulang kampung. Dan harus menjalani terapi lokal. Jadi, aku mau pamitan dengan kalian semua,” demikian Mawar berkata dengan mata yang berkaca-kaca kepada teman-temannya saat itu. Entahlah penyakit apa sebenarnya yang dialami oleh Mawar, ia tak pernah menjelaskannya. Teman-temannya pun sungkan untuk menanyakannya, tidak terkecuali Mondy.

“Mawar, apa kamu akan kembali kuliah lagi? Mengapa semuanya seperti ini Mawar? Aku sedih mendengarnya. Aku harap kamu bisa sembuh dan kuliah lagi disini”, kata Mondy dengan sikap yang tetap tegar, walau di hatinya ia menangis.

“Terima kasih Mondy. Maafkan aku. Maafkan kalau selama ini juga aku ada salah. Sebenarnya aku juga ingin tetap kuliah disini. Ketemu kamu dan teman-teman. Aku senang kok kuliah disini. Tapi hari ini aku harus berangkat ke Kuala Kapuas. Kalau sembuh, aku usahakan untuk kembali. Tapi bila tidak, atau kemungkinan lainnya, mungkin aku tidak bisa melanjutkan kuliah di kampus ini lagi. Dan mungkin kita tidak akan ketemu lagi. Sekalipun ketemu, mungkin aku sudah menggendong anak”. Demikian kata Mawar kepada Mondy dan kawan-kawannya yang lain. Setelah beberapa saat, Mawarpun pergi meninggalkan mereka.

Bagi Mondy ini adalah hal yang sulit ia terima. Apalagi kalimat terakhir yang diucapkan Mawar, itu sangat membuat Mondy galau. Dalam hati kecil Mondy semoga itu tidak terjadi. Sebab ia berharap ia bisa hidup bersama Mawar di masa depan. Karena Mondy sesungguhnya begitu mencintai Mawar. Ia berencana untuk menyatakan cintanya kepada Mawar di akhir masa program IC.

Namun apa boleh buat, Mawarpun telah berlalu bahkan sampai akhir masa perkuliahan IC, Mawar tidak kembali. Bahkan sampai 4,5 tahun kemudian, sampai Mondy lulus kuliah dari kampus Prodi (Program Studi) Bahasa Inggris, ia tak pernah bertemu Mawar lagi. Hanya mendengar kabar burung bahwa Mawar telah menikah dan punya anak satu.

Tapi kabar Mawar yang sesungguhnya, Mondy tak pernah tahu. Mondy menganggap Mawar telah pergi, dan seolah lenyap ditelan bumi. Tak ada kabar pasti apapun tentang dia. Mondy sedih dan kecewa, tapi life must go on. Ia harus menata hidupnya sendiri. Masa depannya masih panjang. Lagian, menanti sesuatu yang tak pasti, tentu sangat menyakitkan.

MAWAR nama perempuan itu. Nama lengkapnya Agatha Mawarni. Ialah “mawar yang hilang itu” (The Lost Rose), yang pernah singgah di hati Mondy Pernando.

**** TAMAT ****

Iklan

18 thoughts on “Mawar Yang Hilang

    1. Ahaha…inspirasi mah cukup tersedia mas. Just what we see, what we feel or what we think. Inipun sebagian ibaratnya, half truth-half imagination.
      Klo baca fiksi: novel, cerbung atau cerpen lumayan suka mas.

      Tapi ini lg bljar nulis fiksi juga, kdang sya merasa buruk untuk mnghsilkan fiksi yg bgus…

      Suka

    1. Dah 2 kli sy bikin crta sad ending mas Shiq4. Utk si Mawar mksud sy tdk bgtu mas. Imajinasi Anda tinggi jg. Sma skli gak ada mksud bgtu mas. Maaf, jd gak enak ni bkin persepsi pmbca ‘nyasar’, hehe…

      Suka

    1. Nmanya fiksi ya, kbnyakan khayalan lah mbak. Tp TKP di atas nyta, hnya bbrp kjadian adlah rkaan blka, wkwk…sya pikir Anda bisa mnebak sja lah mna yg nyta, mna yg rekaan. Cuma yg bgian sedih itu 70% bner mbak
      😭😭

      Disukai oleh 1 orang

      1. Iya…karena TKPnya nyata berkaitan dengan mas desfortin aku jadi menduga itu kisah nyata yang dibuat cerpen. he..he..he..dan ternyata ada kisah nyata benernya jg,aplg bagian sedihnya 70 % bener ya…hmmm jadi masih ikut sedih.

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s