Dari Kahingai Hingga Kinipan (1)

Kinipan erat dengan tokoh utama pendiri lamannya, yakni Kahingai
Koleksi Foto Pribadi – Salah satu ruas jalan utama Desa Kinipan di masa kini

Setiap daerah atau tempat biasanya memiliki kisah unik di balik keberadaannya. Kisah unik tersebut merupakan sejarah dengan nilai tertentu, yang mesti diketahui dan diingat, khususnya oleh warga atau generasi setempat. Jaman memang telah berubah, tetapi mengabaikan sejarah atau mengacuhkannya begitu saja bukanlah sikap yang bijak.

Sebagai upaya untuk melawan lupa tentu generasi tua atau generasi terdahulu wajib menuturkannya kepada generasi muda sebagai generasi penerus. Selain itu, mengarsipkan kisahnya melalui tulisan adalah cara efektif dan cerdas agar banyak orang mengetahuinya.

Salah satu draft saya tahun 2016 lalu adalah kisah tentang asal mula desa Kinipan, desa tempat saya menetap saat ini. Untuk merampungkan draft saya itu, maka saya melakukan penghimpunan informasi. Salah satunya adalah melalui wawancara kepada beberapa orang warga asli Kinipan.

Wawancara tersebut utamanya untuk menguak dan mengetahui lebih jauh tentang sejarah atau asal mula desa Kinipan yang saat ini menjadi ibukota administratif Kec. Batang Kawa, Kab. Lamandau, Prov. Kalteng-Indonesia.

Hasil wawancara tersebut telah saya sarikan menjadi sebuah tulisan naratif berikut ini. Sekedar untuk Anda ketahui, cerita ini ternyata memiliki beberapa versi. Maklum, inikan cerita rakyat yang dituturkan secara lisan dan turun-temurun.

Jadi, mohon maaf, bagi warga asli Kinipan yang membaca narasi ini, kalau dianggap ada bagian yang kurang atau berlebihan. Karena saya agak kesulitan mengolah materi atau kronologi ceritanya yang benar-benar akurat dan seragam.

Dari beberapa penutur yang saya wawancarai, secara umum terdapat banyak persamaan, tetapi juga ada beberapa perbedaan. Dan di bagian akhir tulisan ini, saya menyertakan beberapa nama narasumber (penutur) yang saya wawancarai di tempat dan waktu yang berbeda.

Asal Mula Desa Kinipan

Dahulu kala, entah tahun berapa, yang pasti sangat lama sekali. Di bumi bahaum bakuba, kab. Lamandau-Kalteng, lebih tepatnya di wilayah Kec. Batang Kawa (dulu tentu belum ada nama kecamatan ini), adalah beberapa laman (kampung) di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) Batang Kawa. 

Dua di antaranya adalah Laman Setabang dan Laman Onyuk. Di Laman Setabang saat itu dihuni oleh beberapa warga, dan yang dijadikan tua-tuanya (pemimpin) adalah Patih Panyakng bin Bungkal. Patih Panyakng memiliki beberapa saudara, yakni Rika, Langit, Rigapm, Penyala, Kahingai dan Mula.

Pada jaman itu peradaban masyarakat masih sangat primitif. Busana mereka masih menggunakan pakaian dari kulit kayu. Termasuk untuk menutup aurat, hanya menggunakan sabuk (cawat) dari kulit kayu kapua. Kayu kapua merupakan sejenis kayu lokal yang bisa digunakan sebagai busana, sebagai tali pengikat atau tali untuk memanggul barang.

Untuk sekian lama Patih Panyakng dan para warga itu menetap di Laman Setabang. Namun sebagai masyarakat nomaden, yang hidupnya berpindahpindah, maka kemudian pindahlah Patih Panyakng ke Laman Onyuk bersama para warga itu.

Laman Onyuk terletak di hilir Laman Setabang, tapi masuk ke sungai kecil (Sei Onyuk) yang muara awalnya di Sungai Batang Kawa. Maka menetaplah mereka di Onyuk. Termasuk Kahingai, saudara lelaki Patih Panyakng. 

Setelah sekian waktu wafatlah Patih Panyakng di Laman Onyuk itu. Kini Kahingai lah yang harus menggantikannya. Kahingai memiliki seorang istri dan seorang anak lelaki. Istrinya bernama Pakat, dan anak mereka namanya Bojuh.

Kala itu masih jaman kerajaan. Dan Laman Onyuk yang terletak di Batang Kawa termasuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Kotaringin atau Kotawaringin. Adalah suatu kebiasaan di jaman itu bagi rakyat biasa untuk Batugur dan Manyung Sorah (istilah lokal kala itu).

Batugur artinya kegiatan untuk memenuhi keinginan raja atau semacam menjadi kuli raja untuk sekian waktu, bisa sebulan, dua bulan, atau bahkan bisa lebih dari satu tahun. Tergantung waktu yang ditetapkan raja.

Sedangkan Manyung Sorah artinya menyerahkan persembahan atau semacam upeti kepada raja di istana kekuasaannya.

Saat itu Kahingai yang diminta warga untuk Batugur dan Manyung Sorah ke istana kerajaan.

Singkat cerita, berangkatlah si Kahingai dari Laman Onyuk menuju istana raja di Kerajaan Kotaringin. Jaraknya sangat jauh. Dan ia harus menempuhnya hanya dengan menggunakan sebuah sampan.

Foto Ilustrasi Sampan Kahingai

Sumber Gambar : id.pinterest.com

Konon, bisa lebih dari sebulan baru sampai di tempat tujuan. Belum lagi saat perjalanan kembali pulang (mudik). Dapat dibayangkan betapa susahnya perjalanan menggunakan sampan untuk jarak yang sangat jauh seperti itu.

Sebuah Pohon Pinang dan Sebuah Cinta di Pulau Inuhan

Foto ilustrasi untuk pohon pinang yang dipanjat oleh Kahingai di Pulau Inuhan itu

Sumber Gambar : fotolepas.com

Kahingai pun terus mengayuh sampannya ke hilir menyusuri sungai Batang Kawa. Makin lama makin jauh Kahingai meninggalkan Onyuk. Lalu, sampailah ia ke Pulau Inuhan, sebuah daratan dan hutan kecil di tengah Sungai Batang Kawa. Dan ia melihat sebuah pohon pinang yang berbuah lebat, yang tumbuh tegak di daratan Pulau Inuhan tersebut.

Suatu kebetulan, kala itu ia tidak membawa buah pinang. Sepertinya ia lupa membawanya, tapi sesungguhnya tidak. Karena kala itu memang sedang terjadi kelangkaan buah pinang di Laman Onyuk dan sekitarnya. Maklum, Kahingai adalah seorang penginang.

Tak ayal, Kahingai pun segera menepikan sampannya ke arah Pulau Inuhan itu. Ia harus berhenti sesaat untuk mendapatkan buah pinang yang dilihatnya itu.

Siang itu suasana memang sepi. Tak ada orang lain. Hanya Kahingai seorang. Karenanya, iapun berniat akan memanjat pohon itu. Dan untuk mempermudahnya memanjat, ia harus menggunakan sempirat. Tapi karena saat itu ia tak membawa sempirat khusus, ditambah lagi di sekitarnya tidak ada orang lain juga, maka ia menjadikan sabuknya (cawatnya) sebagai sempirat.

Sudah bisa dibayangkan, Kahingai memanjat pohon pinang tersebut dalam keadaan tanpa busana alias telanjang. Oya, sempirat adalah alat bantu memanjat pohon yang terbuat dari kulit kayu kapua, diolah menjadi sejenis tali, dan dipasang sedemikian rupa di kaki saat memanjat pohon. 

Dengan cepat Kahingai menggapai puncak pohon pinang tersebut lalu mengambil buahnya yang sudah masak. Namun, sesaat sebelum ia akan turun, ia mendengar ada suara orang di bawah sambil tertawa. Suara perempuan lagi. Waduh, gawat pikir Kahingai.

Aneh bin ajaib, ternyata tepat di bawah pohon pinang tersebut, ada rumah orang. Tadinya itu tidak terlihat. Kahingai pun segera turun dengan perasaan agak malu, lalu mengenakan sabuknya kembali.

Untungnya si empunya rumah kemudian memakluminya. Dan menyambut Kahingai dengan ramah. Pemilik rumah tersebut bernama Nusa Tangapm. Ia tinggal bersama anak perempuannya yang cantik bernama Aman Genali.

“Maaf, aku mengambil buah pinang ini. Aku tidak tahu kalau ada rumah ini. Tadinya aku tidak melihat rumah ini. Oya, namaku Kahingai” kata Kahingai.

“Tidak apa Kahingai. Kamu sudah tiba disini. Itu bukan kebetulan. Ada maksud di balik setiap peristiwa yang kita alami,” kata Nusa Tangapm sambil sedikit berpetuah.

Lalu, Kahingai pun menceritakan misinya untuk Batugur sekaligus Mayung Sorah ke kerajaan Kotaringin. “Pergilah Kahingai, tapi syaratnya hari ini juga engkau harus kembali kesini. Ambillah ini dan bawalah bersamamu,” kata Nusa Tangapm sambil menyerahkan sesuatu yang disebut sampu. (Sampu adalah semacam rempah wewangian yang biasa dipakai kaum perempuan di bagian kepala mereka).

Dan sampu ini rupanya dijadikan semacam jimat sakti mandraguna, yang memungkinkan Kahingai melakukan perjalanannya itu dengan sangat mudah dan cepat. Ternyata, si pemilik rumah itu bukan manusia biasa, melainkan jelmaan Dewata (Sesembahan dalam keyakinan Kaharingan), yang juga penunggu Pulau Inuhan itu.

Kahingai pun berangkatlah dan menyelesaikan misinya di kerajaan Kotaringin itu. Dan betul, semuanya dimudahkan, tanpa hambatan sama sekali, sehingga iapun balik hari saja pada hari itu. Benar-benar ajaib. Kahingai merasa senang.

Malam itu Kahingai bermalam di rumah keluarga Nusa Tangapm, penunggu Pulau Inuhan itu. Keesokan harinya ia mengatakan kepada Kahingai bahwa ia ingin agar Kahingai memperistri anaknya, Aman Genali.

Mungkin awalnya Kahingai kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin itu terjadi, mengingat ia telah memiliki istri di Laman Onyuk, bahkan sudah punya anak.

Namun demikian, demi membalas budi, karena misinya ke Kerajaan Kotaringin dibuat super mudah dan super cepat, Kahingai pun tak bisa menolak permintaan itu.

Singkat cerita, Kahingai dan Aman Genali pun menjadi suami istri. Sampai akhirnya Aman Genali melahirnya seorang anak bagi Kahingai. Selama hampir setahun Kahingai berada di Pulau Inuhan.

Foto Pulau Inuhan, tempat pertemuan Kahingai, Nusa Tangapm, dan Aman Genali itu
Koleksi Foto Pribadi – Pulau Inuhan yang berada di tengah Sei Batang Kawa di masa kini yang menyimpan cerita masa lampau itu. Foto diambil dari arah hulu Sei Batang Kawa.

Lalu, teringatlah Kahingai dengan keluarganya di Laman Onyuk. Ia rindu dan berniat pulang untuk menemui mereka dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Syukurlah, keluarganya di Pulau Inuhan itu tidak keberatan.

Kahingai berjanji kepada mereka bahwa ia hanya sebentar saja di Onyuk untuk menemui anak dan istrinya disana. Boleh dibilang, ia bolak-balik ke Laman Onyuk dan Pulau Inuhan. Kira-kira begitulah.

Tapi ternyata selama bolak-balik itu, ia selalu tidak tepat janji. Bagaimana tidak, janji sehari jadi seminggu, janji seminggu jadi sebulan, dan janji sebulan jadi beberapa bulan. Demikian seterusnya terjadi begitu.

Melihat ulah Kahingai itu, marahlah Nusa Tangapm dan Aman Genali yang berada di Pulau Inuhan itu. Mereka tidak tahan lagi. Karena menganggap bahwa Kahingai tidak serius dan telah mempermainkan mereka.

Sehingga, suatu ketika pada saat Kahingai kembali menemui mereka di Pulau Inuhan, Nusa Tangapm berkata, “Kahingai, sebaiknya kau kembali saja ke anak dan istrimu disana. Tak usah lagi kau kemari. Sepertinya kau juga lebih mencintai mereka. Lagian, kami juga bukan orang seperti kalian. Dunia kita berbeda. Jadi, pulanglah ke tempat asalmu.”

Intinya, Kahingai pun menyetujui hal itu. Sebelum berangkat, Aman Genali melanjutkan, “Dan bawalah anak kita ini bersamamu.” Lalu Nusa Tangapm memberikan Ketupang Kayu atau Toras Konakng (sepotong kayu Konakng) dan mengatakan, “Bawa juga kayu ini. Separuhnya kau gunakan untuk membuat ketobung, separohnya lagi untuk lempatung

Dalam keyakinan kala itu, ketobung dan lempatung digunakan sebagai pertanda untuk memangul laman (kampung) baru. Memangul artinya semacam peletakan batu pertama bila orang ingin membuka suatu lahan pemukiman.

Ketobung itu adalah sejenis alat musik, yang hanya boleh dibunyikan pada saat-saat tertentu saja, misalnya pada waktu acara peresmian laman dan acara sejenisnya.

Lempatung itu atau patung dalam Bahasa Indonesia, digunakan sebagai alat pertahanan atau semacam perisai (penjaga) laman terhadap ancaman dari luar. Jadi, patung tersebut diyakini memiliki kekuatan magis.

Mertua Kahingai itu lebih lanjut berkata, “Pindahlah dari Laman Onyuk, dan buatlah laman baru, yakni di hulu riam pertama yang akan kau temui saat kau mudik dari sini. Dan tanamlah separoh kayu ini di daratan sekitar riam itu. Disitulah laman baru kalian.”

Singkatnya, mudiklah Kahingai dengan sampannya bersama anaknya itu dan juga sepotong kayu yang diberi oleh Dewata Pulau Inuhan itu. 

Seperti petunjuk dewata, maka sampailah ia di riam yang dimaksud. Dan entah bagaimana, atau apa penyebabnya, pada saat sampai di riam itu, hal malang terjadi. Anak yang dibawanya itu tiba-tiba mati.

Tentu saja Kahingai kaget dan sedih. Tapi menyesal pun tiada guna. Semuanya telah terjadi. Kahingai lalu menguburkan anaknya itu di daratan sisi kiri riam itu. Dan di dekat pusaranya, ia tanamkan separoh kayu (lempatung) sebagaimana yang dititahkan oleh Dewata Pulau Inuhan itu.

Selanjutnya, sebagaimana petunjuk Dewata Pulau Inuhan itu pula, iapun mulai memangul atau membuka lahan di sekitarnya saat itu juga.

Riam Pangonukng, Kahingai pernah berlabuh di sekitar riam ini untuk memangul laman
Koleksi Foto Pribadi – Riam Pangonukng di masa kini yang letaknya tak jauh dari Dermaga Desa Kinipan saat ini.

Lahan itulah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Desa Kinipan saat ini. Dan riam tersebut adalah Riam Pangonukng, yang sangat dikenal oleh warga Kinipan sampai saat ini (posisinya tidak jauh dari Dermaga Desa Kinipan).

Dermaga Desa Kinipan dan Riam Pangonukng
Koleksi Foto Pribadi – Dermaga Desa Kinipan, dan di bagian kanan foto, yang tampak dari kejauhan itu adalah Riam Pangonukng.

Pusara atau kuburan itu masih ada sampai saat ini, begitu juga sepotong kayu yang ditanam oleh Kahingai itu. Warga Kinipan saat ini menyebut kayu itu “Tamaduk”, dan secara umum warga menganggapnya sebagai benda keramat, yang memiliki daya magis tinggi. Tempat ini kemudian menjadi tempat penyembahan (Kuta) di saat-saat tertentu, khususnya bagi umat Kaharingan Desa Kinipan.

Dan sebagai upaya untuk melestarikan Kuta tersebut, otoritas setempat telah membuat wadah atau pondok khusus, dan menjadikannya sebagai salah satu cagar budaya Desa Kinipan.

Kuta, Tamaduk, Kuburan Anak Kahingai
Koleksi Foto Pribadi – Tampak wadah Kuta di masa kini, yang telah dipugar. Di dalamnya terdapat potongan kayu yang disebut Tamaduk, dan juga pusara anak Kahingai dan Aman Genali itu. Letaknya tak jauh dari Riam Pangonukng dan Dermaga Desa Kinipan.

Begitulah kisah asal muasal Desa Kinipan yang kini telah menjadi ibukota administratif Kecamatan Batang Kawa semenjak dimekarkan dari Kecamatan Delang pada sekitar tahun 2001.

Terlepas dari akurat tidaknya kisah tersebut, yang pasti warga Kinipan secara umum meyakini bahwa Kahingai adalah leluhur mereka.

Sekali lagi, ini satu versi. Karena cukup panjang, maka versi lainnya akan saya posting pada rilis blog selanjutnya. Terima kasih sudah membaca.

Salam Cerdas,

Desfortin

*****************************

Narasumber (Penutur):

  1. Mathias Wilson (Damang Kepala Adat Kec. Batang Kawa)
  2. Yosef Sedan (Mantan Pjs Desa Kinipan, partisipatif di bidang adat juga)
  3. Alpius Ijun (Mantir Adat Kec. Batang Kawa)
  4. Yulian (Warga Asli Kinipan, seorang guru senior di SMPN 1 Batang Kawa)
Iklan

19 thoughts on “Dari Kahingai Hingga Kinipan (1)

  1. Umat kaharingan itu agama apa ya mas desfortin? Wah ternyata Indonesia sangat beragam. Di tempat saya juga ada legenda2 macam itu, cuma sama seperti hal nya legenda lain di tanah air, sedikit demi sedikit mulai hilang karena terlupakan atau generasi penerus tidak lagi tertarik mendengarnya.

    Suka

    1. Keharingan itu klo disebut agama bkn kli ya, tp trmasuk aliran kprcyaan, wlau mreka sendiri kdang mnybutnya agama mreka.

      Ya, di Jawa lgnda mah bnyk bnget. Tp crita Kahingai ini bg masyarakat Kinipan bkn legenda. Itu aja sya ngmbil foto Kuta smpat ad yg negur, ktanya gak boleh difoto, tnp ijin otoritas adat stempat.

      Suka

  2. Kaharingan itu nampaknya menautkan diri dg Hindu, tp tdk scra utuh. Kaharingan itu kprcyaan umum yg ada di pulau Borneo, khususnya Kalteng. Tiap daerah pola pnyembhannya ada prbdaan, jg bku panduannya. Umumnya ajrannya lisan aja. Tp klo Kaharingan dari Palangka Raya, ada kitab trtulisnya. Namanya Panaturan. Saya punya kitabnya mas.

    Suka

  3. Wah…menarik sekali cerita asal-usul desa seperti ini. Tapi memerlukan waktu untuk wawancara dan menyusunnya ya. Di tunggu versi lainnya mas.
    Btw…Kalau sekarang…apakah orang asli Kinipan masih menganut aliran kepercayaan itu,atau agama Hindu atau agama lain mas?

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ya mas. Smga ttp trjaga.
      Utk smntra smpai saat ini msih trwat dan tdk ada yg brani mcam2 atau ganggu gugat situs ini.

      Yg sdikit ksulitan nurut sya adalah mnjdikan situs ini sbgai tmpat wisata yg mnrik dan/atau artistik

      Suka

    1. Saya juga penasaran mas, tapi tdk mendapat ijin masuk. Sayapun jadi rada2 gimana feeling saya kala itu. Ada pihak jg yg mngtakan bhwa isi dalamnya tak boleh sembarang difoto, kcuali mungkin atas petunjuk pembantar kampung, (otoritas adat setempat).

      Disukai oleh 1 orang

            1. Katanya ada kayu pmberian Dewata Inuhan itu. Lalu pusara anak Kahingai yg di atasnya ada daun, dlm bhs lokal disebut daun sansabang konyikng. Konon daun itu kejadian alias anak Kahingai itu brubah jd daun itu. Dan jg ada sebuah batu. Cuma batu ini tambahan bru, diambil dari sungai Batang Kawa, sesuai ptunjuk dlm mimpi tetua adat atau tokoh adat ntah siapa nmanya, syapun tak tahu.

              Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s