Dari Kahingai Hingga Kinipan (2)

Jalan Utama dalam desa Kinipan yang sudah beraspal
Koleksi Foto Pribadi – Salah satu ruas jalan utama Desa Kinipan di masa kini.

Kisah Sebelum Kahingai

Pada jaman dahulu kala, mungkin sejaman dengan Kerajaan Kotaringin (Kuta-Ringin) atau Kotawaringin, atau jauh sebelum itu, hiduplah seorang yang bernama Ladan Tulang Kamikng. Ia berasal dari negeri (Kerajaan) Sarang Paruya. Ia memperanakkan 2 anak laki-laki, yakni Bungkal dan Panoma. 

Terkait kedua saudara ini, saya hanya mendapat sedikit keterangan, itupun hanya tentang Bungkal. Bungkal ini kemudian menikah dengan seorang perempuan bernama Amal. Dari pernikahannya itu, lahirlah 7 orang anak, yaitu Rika, Langit, Rigapm, Penyala, Panyakng, Kahingai dan Mula.

Terkait negeri Sarang Paruya, itu termuat dalam kisah Legenda Bukit Sampuraga. Sebuah legenda yang diyakini oleh masyarakat setempat, yang terletak di Desa Karang Besi, Kec. Belantikan Raya, Kab. Lamandau-Kalimantan Tengah.

Namun terkait keberadaan Sarang Paruya sebagai suatu kerajaan, dari beberapa informasi yang saya dapatkan, masih terjadi silang pendapat alias kontroversial.

Ada pihak yang berpendapat bahwa Sarang Paruya merupakan sebuah kerajaan dayak yang memiliki seorang putri cantik bernama Dayang Ilung yang kemudian dinikahi oleh Patih Nan Sebatang, pemuda tampan dari negeri Minangkabau.

Tapi ada pula pihak yang berpendapat bahwa Sarang Paruya bukan sebuah kerajaan, hanya sebuah negeri biasa yang pernah disinggahi oleh seorang pelayar muda bernama Patih Nan Sebatang dari negeri Pagaruyung, Minangkabau-Sumatera Barat. Dikisahkan kemudian ia mempersunting putri cantik nan jelita yang bernama Dayang Illung dari negeri Sarang Paruya itu.

Saat ini kita tidak sedang memperdebatkan kedua hal ini. Pada postingan kali ini, saya ingin melanjutkan narasi saya terdahulu tentang asal mula Desa Kinipan, dimana Kahingai sebagai tokoh utamanya. Kahingai adalah cucu dari seorang tokoh bernama Ladan Tulang Kamikng, yang konon berasal dari negeri Sarang Paruya itu.

Untuk membaca kisah dengan versi sebelumnya, klik postingan blog saya yang berjudul “Dari Kahingai Hingga Kinipan (1)” ini.

Pada postingan kedua ini, saya membuatnya dari dua versi. Versi yang bermula dari misinya Kahingai pergi ke kerajaan, dan versi yang bermula dari semedi atau pertapaan Kahingai.

Dan antara dua versi ini, jika mau dihubungkan dan dibuat mana peristiwa yang terjadi lebih duluan, maka (mungkin) peristiwa dengan misi Batugur/Manyung sorah ke kerajaan itu terjadi lebih duluan.

Alasan sederhanya adalah, mengingat titahnya Dewata Inuhan agar Kahingai membawa Toras Konakng dan anaknya mudik, yang kemudian terjadilah peristiwa-peristiwa di seputaran Riam Pangonukng itu.

Berawal Dari Sebuah Misi Ke Kerajaan Kotaringin

Gambar ilustrasi menyerahkan upeti kepada raja

Sumber Gambar : updatesejarah.blogspot.co.id

Saat itu Panyakng (dengan gelar patih), salah satu putra Ladan Tulang Kamikng, menetap di Laman Setabakng. Salah satu laman yang terletak di DAS Batang Kawa, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.

Setelah sekian waktu menetap disana, maka pindahlah Patih Panyakng itu beserta keluarga dan para warga ke sebuah laman yang disebut Onyuk. Termasuk saudaranya yang bernama Kahingai itu.

Suatu kebetulan, pada saat itu tersiar kabar bahwa di hilir jauh Sei Batang Kawa menuju arah kerajaan Kotaringin, sedang ada wabah penyakit sampar, sehingga orang-orang pun merasa was-was.

Padahal saat itu adalah saatnya untuk menyerahkan upeti kepada kerajaan Kotaringin. Patih Panyakng mengambil kebijakan dengan mengutus Kahingai untuk mengantarkan upeti itu kepada raja.

Sebagaimana tertulis pada postingan sebelumnya, maka terjadilah peristiwa-peristiwa seperti yang telah saya ceritakan di blog tersebut. Hanya, untuk versi kali ini diceritakan bahwa benda atau jimat yang diterima Kahingai dari Dewata Pulau Inuhan saat ia harus berangkat untuk Batugur/Manyung Sorah itu, adalah seikat serai (sorai). Jika Anda lupa dengan kisah sebelumnya, klik dan baca lagi disini.

Pulau Inuhan tempat Kahingai bertemu Dewata
Koleksi Foto Pribadi – Pulau Inuhan tampak dari hilir sungai Batang Kawa

Itulah sebabnya mungkin ada istilah serai serumpun. Di versi lainnya juga, penutur tidak tahu persis benda apa yang diberi Dewata Inuhan itu kepada Kahingai. Intinya tak tahulah, mana yang paling benar. Satu hal yang pasti, ada benda yang diterima Kahingai.

Selain itu, di versi lainnya juga, saat Kahingai harus mudik untuk membuka laman baru, sesuai petunjuk Dewata Pulau Inuhan tersebut, selain Kahingai menerima Toras Konakng (sepotong kayu Konakng) dan membawa anaknya itu, ia juga membawa seekor ayam putih. 

Dengan titah bahwa, dimanapun ayam itu meronta atau terbang di tengah perjalanan mudiknya itu, disanalah Kahingai harus membuka laman baru, sebagaimana dituliskan oleh Budi Baskoro (Wartawan Borneo News) di dalam blog (berita) yang berjudul Lawatan (1) Cerita Kahingai Sang Pendiri Laman.

Berawal Dari Sebuah Semedi

Ilustrasi Pertapaan Kahingai yang kala itu begitu erat dengan dunia kebatinan mengingat animisme yang kental

Sumber Gambar : sampanjiwa.com

Kala itu keyakinan masyarakat pada animisme dan dinamisme masih sangat kuat. Dan semedi menjadi salah satu media untuk meminta petunjuk. 

Maka bersemedilah Kahingai, entah dimana tidak disebutkan. Yang pasti, ia menyendiri dalam keheningan. Meminta petunjuk kepada roh-roh leluhur atau Sengiang Dewata.

Dalam semedinya itu, ia mendapat petunjuk bahwa ia harus pindah dari Laman Onyuk ke sebuah Laman baru dengan isyarat bahwa ia harus hilir menggunakan sebuah pelampung dari batang pisang sambil membawa seekor ayam putih.

Petunjuk atau isyaratnya adalah, dimanapun batang pisang yang akan dijadikannya pelampung itu berhenti, dan ayam putih tersebut terbang, maka disanalah letak atau lokasi laman baru yang harus dibuka (atau dipangul dalam bahasa daerah) oleh Kahingai.

Singkat cerita, Kahingai berangkatlah ke hilir menyusuri Sei Batang Kawa menggunakan sepotong batang pisang itu sebagai pelampung. Tak lupa ayam putih itupun dibawa serta.

Entah bagaimana persisnya kejadian tersebut, mungkin karena Kahingai memiliki kesaktian juga, sehingga ia tidak tenggelam hanya dengan pelampung seperti itu, meski jaraknya tidak dekat. Begitupun ayam putih itu, aman-aman saja sampai ke tempat yang dituju.

Pelampung batang pisang itu terus membawa Kahingai ke hilir. Riam demi riam ia lalui. Sesuai isyarat dari semedinya itu, dimanapun batang pisang itu berhenti dan ayam putih itu terbang, maka Kahingai harus berhenti pula dan menjadikan daerah sekitar itu sebagai laman baru.

Lalu, sampailah Kahingai di sebuah riam. Persis terjadi seperti yang diisyaratkan dalam semedinya itu.

Karena itu, mulailah Kahingai memangul atau membuka laman baru tersebut. 

Setelah itu, entah bagaimana caranya, kembalilah Kahingai ke Onyuk. Mungkin jalan darat atau memakai sampan lain. Kebenarannya tidak diketahui secara pasti.

Kejadian berikutnya, berangkat milirlah sekelompok orang dari Laman Benakitan. Sebuah laman yang berada di hulu jauh Laman Setabakng (tetap sejalur dengan Sei Batang Kawa). Saat mereka tiba di sebuah riam, berhentilah mereka untuk sesaat. Konon, mereka menyalakan api dan memasak sesuatu disana.

Ternyata, mereka itu sedang berhenti di daerah sekitar lahan yang dibuka (dipangul) oleh Kahingai itu. Dan nama riam itu disebut Riam Pangonukng.

Riam Pangonukng tak jauh dari situs kuta/tamaduk di laman Kinipan
Koleksi Foto Pribadi – Foto Terkini Riam Pangonukng di Desa Kinipan

Selanjutnya, entah bagaimana persisnya, sepeninggal mereka dari tempat itu, terbakarlah tempat itu, mungkin oleh karena sisa-sisa api yang belum sempurna dipadamkan, atau memang ada orang lain yang sengaja membakar.

Kemudian hilirlah Kahingai kembali ke lokasinya itu untuk mengecek keadaannya. Kahingai pun kaget melihat lahannya yang sudah terbakar itu. Adalah suatu keyakinan di kala itu bahwa apabila lahan terbakar seperti itu, maka lahan tersebut tidak layak dijadikan laman (kampung).

Namun, atas petunjuk dan penentuan Dewata pula (dalam semedi selanjutnya), Kahingai tetap boleh mendirikan laman disitu. Hanya, ada satu sumpah atau kutuk yang akan terus menyertai laman itu, yaitu yang disebut dengan “Gerunung Tumpah”.

Gerunung Tumpah berarti, kalau di masa depan peristiwa duka terjadi di laman itu, maka peristiwa duka tersebut akan terus terjadi secara berturut-turut maksimal sampai 7 kali. Begitupun bila ada peristiwa sukacita, maka peristiwa itupun bisa terjadi berkali-kali.

Demikianlah Kahingai kemudian tetap mendirikan laman baru di daratan itu. Daratan yang saat ini menjadi sebuah desa yang diberi nama Kinipan.

Nama Kinipan sendiri sangat mungkin diambil dari nama sebuah sungai kecil yang berada di seberang Desa Kinipan saat ini. Sungai itu dikenal dengan nama Kinip’an.

Demikian postingan ini saya akhiri. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan terima kasih atas kesediaannya untuk tetap membaca sampai pada postingan kedua ini.

Salam Cerdas,

Desfortin

*****************************

Narasumber (Penutur):

  1. Mathias Wilson (Damang Kepala Adat Kec. Batang Kawa)
  2. Yosef Sedan (Mantan Pjs Desa Kinipan, partisipatif di bidang adat juga)
  3. Alpius Ijun (Mantir Adat Kec. Batang Kawa)
  4. Yulian (Warga Asli Kinipan, seorang guru senior di SMPN 1 Batang Kawa)
Iklan

4 thoughts on “Dari Kahingai Hingga Kinipan (2)

  1. Cerita-cerita rakyat seperti ini sayang kalau sampai hilang. Mudah-mudahan masih tetap ada yang bisa menceritakannya sampai ke anak cucu kita

    Ngomong-ngomong, orang luar apakah boleh juga berkunjung ke Pulau Inuhan?

    Disukai oleh 1 orang

    1. Boleh aja mas. Cuma mungkin sekedar liat2 dari luar/dari sungai. Kalau masuk ke hutannya, sayapun belum pernah, dan dilarang memetik apapun di pulau itu, mklum animisme dan dinamisme yg masih kental. Bgtu katanya

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s