Perceraian : Bahagia atau Derita?

Perceraian, pernikahan, bahagia atau derita

Sumber Gambar : pass-travaux.com

Hidup bahagia adalah dambaan setiap orang. Tak ada satu orangpun yang mengharapkan hidup menderita. Karena secara alamiah orang memang menginginkan kebahagiaan dan sukacita.

Begitupun dengan hidup pernikahan. Orang tentu mendambakan pernikahan yang bahagia. Pernikahan bahagia berarti hidup bahagia.

Akan tetapi realita kehidupan menunjukkan bahwa bahagia dan derita adalah dua hal yang dinamis, yang datangnya silih berganti. Dan itu lumrah saja.

Yang ingin saya katakan adalah, bahwa pada hakikatnya semua orang mencari bahagia. Dan bahagia yang dicari itu tidak datang begitu saja, tetapi perlu diraih dengan perjuangan. Ironisnya, dalam perjuangan mencari bahagia itu, manusia justru harus melalui berbagai penderitaan.

Ada banyak sebab penderitan, bisa dari sakit penyakit, kegagalan, kehilangan orang yang dikasihi dan lain sebagainya. Dan, salah satu dari sekian banyak sebab itu adalah justru karena faktor keluarga. Maksudnya?

Maksudnya adalah keluarga yang tidak harmonis alias rumah tangga yang tidak sepakat. Sebab, keluarga yang tidak sepakat cenderung lebih mudah menciptakan penderitaan atau kesedihan.

Itu sebabnya, saya berkata bahwa untuk menjalani hidup dengan bahagia salah satunya adalah memiliki keluarga yang harmonis. Keluarga yang rukun dan damai.

Berapapun uang dan harta yang Anda miliki, apalah artinya itu semua jika keluarga atau hidup pernikahan Anda berantakan. Mungkin Anda pandai menyembunyikannya, lalu berpura-pura bahagia. Tapi berpura-pura bahagia adalah kesemuan belaka.

Terkait hal itu, beberapa waktu lalu ada seorang teman yang datang kepada saya dan curhat tentang rumah tangganya yang sedang di ujung tanduk. Setelah 8 tahun menikah, karakter masing-masing makin terkuak. Mereka sering bertengkar dan itu berdampak buruk pada anak-anak. Persoalan orang ketiga nampaknya juga menjadi salah satu pemicu. Dan saat ini, mereka sudah tidak tinggal serumah lagi. 

Saya tidak menyangka sebelumnya. Tapi itulah yang terjadi. Saya merasa kasihan, tapi tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya berkata bahwa mengalah untuk menang mungkin bisa diupayakan lagi. Begitu juga jalur mediasi, mungkin bisa membantu. Tapi bila pernikahanmu hanya membawa penderitaan, maka cerai adalah langkah terakhir untuk menyelamatkan pernikahan agar kalian bahagia. Cerai, mengapa tidak?

Lebih lanjut saya berkata, mungkin kali ini engkau gagal, moga-moga di tahap berikutnya kau bisa berhasil, dengan modal pengalaman yang sudah ada, dan teruslah membina diri. Membina diri berarti menjadi pribadi yang lebih mudah untuk dicintai dan mencintai.

Kalimat terakhir yang saya lontarkan itu mungkin terdengar tidak bijaksana dan tidak rohani sama sekali. Tapi saya tak punya pilihan lain selain mengatakannya. Apa artinya pernikahan jika hanya berkalung duka. 

Ini hanya satu contoh. Mungkin masih banyak lagi pernikahan lain yang mengalami hal serupa. Di luar tampak kokoh, tapi di dalam sangat keropos. Akibatnya, tak sedikit kemudian yang berujung pada perceraian.

Asumsi itu nampaknya cukup berdasar, mengingat angka perceraian dari tahun ke tahun yang cukup tinggi di Indonesia. Bahkan menurut data BKKBN, di tahun 2013 angka perceraian di Indonesia tertinggi se-Asia Pasifik.

Tentu ada berbagai penyebab perceraian. Mulai dari masalah ekonomi, krisis cinta, komunikasi yang buruk, tidak ada kecocokan lagi, nikah muda, KDRT, dll.

Dan menurut data Puslitbang Kementrian agama RI tahun 2016, alasan utama penyebab perceraian di Indonesia setidaknya oleh 4 hal, yakni hubungan yang tidak harmonis, tidak ada tanggungjawab (khususnya terhadap anak), kehadiran pihak ketiga dan persoalan ekonomi.

Data tersebut adalah suatu indikasi bahwa ternyata banyak rumah tangga yang tidak bahagia. Lalu perceraian menjadi alternatif. Dan hal itu tentu sangat disayangkan, mengingat konseling dan seminar-seminar pembinaan keluarga juga terus digalakkan.

Di atas semuanya, menurut saya, itu menunjukkan bahwa pembangunan manusia di negara ini memang harus ditingkatkan lagi. Tidak gampang memang.

Pertanyaan: upaya pencegahan atau penanggulangan apa yang bisa kita lakukan terhadap masalah perceraian yang cukup tinggi tersebut? Saya tidak tahu. Yang saya tahu adalah bahwa kita harus hidup membina diri. Dan membina diri itu harus dimulai dari hati.

Selebihnya, saya meyakini bahwa 3 hal berikut ini setidaknya dapat mencegah pasangan bercerai, agama apapun Anda atau dari latar apapun Anda.

1. Tekanan Agama (Religious Pressure)

Agama mengajarkan nilai-nilai luhur tentang kebaikan dan cinta kasih. Agama juga mengajarkan bahwa sebaiknya kita hidup akur, rukun dan damai.

Begitu juga halnya dengan rumah tangga. Tuhan mengajarkan kepada suami-istri agar saling mencintai dan mengayomi satu sama lain, sehingga tercipta rumah tangga yang harmonis. Saat masalah datang, diperlukan kedewasaan masing-masing pihak. Perceraian bukan solusi instan atas suatu masalah dalam rumah tangga.

Nilai-nilai luhur dalam agama inilah yang dapat membuat manusia merasa tertegur. Sehingga ketika ada godaan untuk berpisah antar pasangan, nilai-nilai tersebut mengingatkan dan bersifat menekan sehingga orang memikirkan lebih jauh sebelum memutuskan bercerai dengan pasangan.

2. Tekanan Keluarga (Family Pressure)

Keluarga juga memegang peranan penting. Selain ada keluarga inti, juga ada anggota keluarga yang lain. Umumnya keluarga mengharapkan agar rumah tangga hidup nyaman, jauh dari prahara dan konflik.

Jika bercerai, bagaimana dengan masa depan anak-anak? Bagaimana dengan nama baik keluarga? Ibaratnya, sejuta pertanyaan.

Karenanya, aspek keluarga menjadi tekanan tersendiri bagi seseorang sebelum memutuskan untuk bercerai.

3. Tekanan Sosial (Social Pressure)

Begitu juga dengan aspek sosial. Aspek yang lebih luas, dengan dampak yang luas pula. Seorang ternama yang bercerai tentu berimplikasi luas terhadap lingkungan sosialnya. Lalu, kalau bercerai, apakah seseorang siap dengan tanggapan atau gunjingan lingkungan sosialnya. Sepanjang seseorang merasa tidak siap, maka kemungkinan perceraian masih bisa dihindari.

Nah, tiga hal di atas saya sebut sebagai anugerah umum (common grace), yang dipakai Tuhan sehingga pasangan tidak gampang bercerai. Namun, bila ketiga hal tersebut tidak digubris juga, maka perceraian menjadi hal yang tak dapat dihindarkan lagi.

Saya berharap semoga keluarga kita semua dijauhkan dari hari-hari malang tersebut. Pikirkan baik-baik 3 hal di atas sebelum Anda benar-benar memutuskan untuk bercerai. 

Perceraian: bahagia atau derita? Kalau derita, jangan direngkuh. Kalau bahagia, dimana letaknya? Dan, bagaimana menurut Anda, selain 3 hal di atas, faktor apalagi yang membuat pasangan tetap bertahan? Tuliskan di kotak komentar.

Salam Cerdas,

Desfortin

Iklan

26 thoughts on “Perceraian : Bahagia atau Derita?

    1. Ya mas, umumnya anak sih. Tp ada juga yg berpendapat bhwa kesiapan hati untuk mnerima fakta prceraian jauh lbih kuat. Adat-istiadat jg mungkin msuk di aspek keluarga atau sosial.

      Maaf baru dibls ni komentarnya, koneksi wifi disini gak sebebas sblum2nya, masih down.

      Tks buat komentarnya ya

      Suka

  1. Tergantung dari peasalahan utama yg dihadapi pasangan tersebut mas desfortin. Katakan saja masalah keuangan, hal semacam itu saja bisa memicu perceraian. Atau yang paling parah kalau salah satu pasangan tersebut merasa terpikat dan menjalin hubungan dengan orang lain.

    Yang pasti untuk tidak bercerai keduanya harus benar2 ingat janji ketika menikah agar hidup dalam susah maupun duka. Klau mereka benar2 menjalankannya, tentu tidak ada kata prceraian atau masalah-masalah yg memicunya.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Setuju mas Shiq4. Persoalan ekonomi dan org ketiga emang bs jd pnyebab juga.

      Seandainya pasangan sllu ingat dg janji suci saat awal nkah, sprti yg Anda mksudkan itu, mungkin angka perceraian bs mnurun

      Disukai oleh 1 orang

  2. Menurut didi komunikasi, serta itikat baik untuk saling terbuka dan jujur senjata utama untuk mencegah, mengatasi dan menanggulangi perceraian. Juga sering jalan-jalan kak menghabiskan juga mengulang romantisme percintaan kala muda, selain itu Jangan hanya berfokus pada masalah karena mengatasi masalah tanpa masalah hanya pegadaian yang punya slogan tersebut kak des. 😁

    Disukai oleh 1 orang

      1. Bener kak liburan atau traveling ke luar negeri memang lebih mantap kak des, esensi perasaan senang ataupun kebahagia yang didapat dalam hubungan rumah tangga juga lebih besar bila jalan-jalannya keluar negeri. Tapi buat didi jalan-jalan ke luar negeri nggak diharuskan kok diajak kemping didepan rumah yang cuma liat bintang sambil bakar jagung juga seru kak. Hihihi.

        Disukai oleh 1 orang

  3. “Membina diri berarti menjadi pribadi yang lebih mudah untuk dicintai dan mencintai”. Kalimat ini terasa sederhana tapi maknanya dalam, dan menurut saya kebanyakan pasangan yang tidak harmonis karena mereka belum mampu melakukan hal itu. Kebanyakan orang selalu ingin pasangannnya yang menyesuaikan diri terhadapnya, dan sebaliknya tidak mau menyesuaikan diri terhadap pasangannya. Karena pada dasarnya tidak ada orang yang sama, jadi kalau sdh hidup berumah tangga mestinya saling menyesuaikan. Jika tidak ujung-ujung memunculkan persaan tidak puas terhadap pasangan dan berusaha mencari atau tidak sengaja bertemu dan WIL/PIL jadilah rumah tangga seperti neraka. Masalah ekonomi juga seringkali menjadi penyebab perceraian, tetapi jika pasangan itu bisa menghadapinya bersama dengan saling menguatkan dan ikhlas dan tidak lupa selalu mengupayakan menyelesaikan masalah ekonominya, tentunya perceraian dapat dihindari.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ya mbak. Idealnya bgtu. Tapi realita prnikahan dmasa kini bgtulah.

      Membina diri itu gak gampang, tp brang siapa sukses, mka akan trhindar dari bnyak kesulitan2 yg sbnrnya tdk prlu. Yg suka hnya minta dilyani tp tak suka mlyani itu jg mslah.

      Mksih mbak Nur buat masukan/tanggapannya. Maaf ni baru dibls, saya baru daring, koneksi wifi di Kinipan lg brmslah, jd bbrpa hri ini jrang skli daring.πŸ˜‚πŸ˜‚

      Disukai oleh 1 orang

    1. Yap, boleh juga tu. Persoalan ekonomi bs mnjdi pnyebab prcraian sekaligus pnyebab pengurungan niat brcerai.

      Dlm bbrpa kasus sy prnah dngar bgtu. Tks mbak Christa buat komentarnya.

      Suka

  4. Buat saya derita gan….
    Karna adalah salah satu anak yang mengalami itu pada orang tuanya
    Rasanya sangat sedih ketika dulu sekolah anak lain di antar dengan orang tua utuh
    Jalan jalan dengan orang tua yang utuh
    Sementara saya hanya sendiri karena masing masing dari mereka berpisah dan sangat sibuk…
    Saya sering cari perhatian dengan kenakalan dan segala macam yang malah berakibat makij buruk

    Sial jadi curhat –#

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s