Sepertinya Ia Mengalami Disleksia

Gangguan belajar atau kesulitan belajar pada anak disleksia adalah sulit membaca dan menulis

Sumber Gambar : medindia.net

Ketika kita melihat sesuatu yang menggugah rasa ingin tahu, biasanya kita berupaya mencari cara untuk menguaknya. Berangkat dari rasa ingin tahu tersebut, yang dibarengi dengan niat dan semangat yang kuat, maka biasanya akan terjawab atau setidaknya ada dugaan sementara (hipotesis).

Begini, kami mempunyai seorang siswa di kelas yang bermasalah dalam hal membaca dan menulis. Siswa kelas 7 (SMP). Ia sudah hampir setahun ini kesulitan mengikuti pelajaran yang kami ajarkan. Bagaimana tidak, ia tak bisa membaca secara normal. Padahal kita tahu bahwa membaca adalah jendela pengetahuan. Nampaknya ia sulit untuk bisa naik kelas pada tahun pelajaran ini. Nilainya rata-rata di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).

Sejenak kilas balik. Pada saat penerimaan siswa baru tahun lalu, sebenarnya kami ragu untuk menerimanya di sekolah ini. Karena kami sudah tahu bahwa ia tidak bisa membaca dan menulis, walaupun sudah “lulus” SD. Tapi karena orang tuanya meminta agar diterima, maka kamipun nekad saja menerimanya. Alasan sederhananya, mungkin konyol juga: karena sekolah kami justru mencari siswa (sekolah di desa terpencil dengan jumlah siswa yang sedikit), belum ada sejarahnya kami menolak siswa baru yang mau mendaftar ke sekolah kami. Dalam hati, kami bertekad akan mendidiknya semampu kami.

Selain itu pula, selama siswa tersebut sehat jasmani-rohani dan telah diluluskan dari jenjang sekolah sebelumnya, maka ia punya kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan. Karena itu, kami tak punya alasan kuat untuk menolaknya. Bukankah pendidikan itu tak boleh diskriminatif? Hmm .. atau, anggapan saya ini yang justru blunder. 😇

Terkait kenapa diluluskan dari sekolahnya yang sebelumnya, biarlah itu menjadi tanggung jawab moral para gurunya itu. Mereka tentu punya alasan tersendiri. Dan disini, kami hanya memainkan peran sesuai regulasi yang ada.

Tapi kalau mau dipertanyakan, kenapa sih diluluskan waktu itu? Asumsi saya, mungkin para gurunya di SD itu sudah bowat, soalnya sempat beberapa kali juga ia tidak naik kelas, tetapi tidak ada perubahan yang signifikan. Alasan lain, mungkin karena konsep bahwa sekolah itu bukan hanya perkara mengasah aspek kognitif (pengetahuan), tapi juga aspek afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan).

Saya dengar guru-gurunya di SD juga sudah angkat tangan, dan dulu pernah ia diusulkan untuk masuk ke SLB saja, karena dianggap memang berkebutuhan khusus. Namun, karena faktor ekonomi keluarga ybs; termasuk kategori keluarga tidak mampu, atau karena faktor lain yang kurang mendukung, seperti mentalitas keluarga, lokasi SLB yang jauh, juga mungkin karena pihak-pihak pemerhati (negeri/swasta) yang kurang menjangkau hingga ke pelosok-pelosok desa, akhirnya ia tetap bersekolah di sekolah reguler sampai kelas akhir (kelas 6).

Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak ini? Apakah ia mengalami keterbelakangan mental dan tidak cocok di sekolah reguler?

Setelah mengamati secara langsung selama hampir satu tahun pelajaran ini, saya berpendapat bahwa siswa kami itu sepertinya mengalami gangguan belajar yang disebut disleksia (Bahasa Inggris: dyslexia). Disleksia bukan keterbelakangan mental, tetapi lebih merupakan suatu gangguan belajar anak yang disebabkan disfungsi pada bagian otak sehingga anak kesulitan dalam hal literasi (baca-tulis). Akan tetapi, saya kurang tahu secara pasti, apakah ia menderita disleksia tipe developmental dyslexia (bersifat genetis; bawaan sejak lahir) atau acquired dyslexia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca).

Saya tidak membahas tentang disleksia disini secara mendetail. Untuk membaca tentang disleksia secara lengkap, termasuk strategi belajar atau penanganan terhadap anak penderita disleksia, Anda dapat membacanya disini atau disini. Yang ingin saya sampaikan bahwa, anak penderita disleksia itu butuh perhatian atau pendampingan khusus, bukan justru dijauhi, diabaikan apalagi diremehkan. Tidak gampang menghadapinya memang, apalagi kalau itu adalah tipe developmental dyslexia. Sebab, tipe ini bisa dideritanya sepanjang hidupnya. Kalau sudah begini, apakah pihak sekolah sanggup menghadapinya?

Dan, terkait siswa kami itu, apakah kami akan menyerah untuk mendidiknya? Mungkin kami masih memberikan kesempatan 1 tahun lagi, kalau tidak bisa juga, maka tidak menutup kemungkinan kami juga akan angkat tangan dan selanjutnya menyerahkannya kepada orang tuanya atau dinas terkait bagaimana sebaiknya. Sebab, kami tak mau mengulangi jejak yang sama: meluluskan siswa tapi tidak memenuhi kriteria kelulusan. Apa kata dunia nantinya.

Nah, apakan Anda pernah menemui anak penderita disleksia? Mungkin Anda punya saran atau pendapat, mari berbagi di kotak komentar.

Salam,

Desfortin

Iklan

25 thoughts on “Sepertinya Ia Mengalami Disleksia

  1. Kayaknya ini kasus langka ya mas? Soalnya saya belum pernah ketemu teman/saudara yang punya kelainan seperti itu.

    Tapi saya pernah baca buku tentang seorang anak yang menderita disleksia, walapun cuma novel fantasi sih.

    Katanya penderita disleksia itu lebih nyaman belajar dengan metode mendengarkan daripada membaca.
    Namun sepertinya itu bukan solusi yang tepat karena toh nanti pas ujian dia tetap harus bisa membaca.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Saya juga baru kali ini mas mndpati siswa bgini. Bnyak sih metodenya, tp apapun itu intinya anak ini gak boleh diabaikan, perlu pndampingan dan edukasi khusus, nah krn kmi bukan khusus mnangani anak disleksia, jd kmipun agak kesulitan

      Disukai oleh 1 orang

  2. Kalau kesulitan belajar membaca dan menulis saya sendiri sempat mengalaminya waktu masih kecil. Mungkin baru kelas 3 SD bisa baca. Pokoknya tertinggal sama teman2 lainnya.

    Bahkan saya sempat diajari membaca sama guru saya sepulang sekolah sendirian. Syukurlah lama-kelamaan bisa baca dan tulis.

    Klo kasus di atas saya kurang tahu bagaimana enaknya. Soalnya klo udah smp udah harus mandiri dalam belajar. Lagipula membaca dan menulis merupakan kemampuan dasar dalam menulis. Percuma saja mengikuti pelajaran klo nggak bisa keduanya.

    Mungkin dapat mencari informasi tentang bantuan pemerintah bagi anak yg beekebutuhan khusus agar bisa sekolah SLB. Karena biasanya orang tuanya minim akses untuk mendapatkan informasi semacam itu.

    Suka

    1. Ya mas. Utk anak tsb, sprti yg sya ulas sdikit diatas sdh prnh diusulkan, tp ortunya enggan gitu jg, lgian trkndla dana juga. Nah, yg mau nolong scra sukarela agaknya minim bhkan nihil. Di Ibukota kabupaten kami ada 1 SLB, tp itu lg tergantung gmna ortunya (mentalitas kluarga)

      Disukai oleh 1 orang

  3. Seingat saya Dedy Corbuzer itu disleksia juga,tapi bisa sukses ya! Berarti sebenarnya seorang yg disleksia bisa saja seorang yg cerdas.Tapi ya itu menurut saya butuh pendidikan khusus.
    Tetapi sayangnya memang hanya sedikit sekolah SLB di Indonesia ini.Di daerahku saja satu kabupaten cuma 1 sekolah SLB, sehingga ya itu tadi banyak anak yang mestinya sekolah di SLB tapi sekolah di sekolah umum. Sering kami juga menghadapi hal seperti itu, anak yang sebenarnya menurut kami tidak mampu melanjutkan sekolah di SMA tetapi nyatanya lulus dari SMP. Ada anak yg sulit membaca seperti itu, tetapi juga ada anak yg bisa membaca tetapi saat kami tanya A, eh njawabnya B, Bahkan banyak sekali saat ulangan hanya bisa menuliskan soal dan nama. Selama ini anak-anak ini dapat naik dan lulus karena hanya bekal kasihan dari para guru2. Guru2 berpendapat biar mau diapakan anak ini tidak bisa, begitu wk wk wk. Mungkin sj murid mas desfortin waktu di SMP juga seperti itu.
    Sekarang lebih parah lagi,sy dapat info sekolah umum (termasuk sekolah saya) harus menyediakan kelas inklusi yang dapat mewadahi anak-anak berkebutuhan khusus. Guru-gurunya sy dengar akan dikirim pelatihan. tetapi pelatihan yang hanya beberapa hari apa iya dapat mengajar anak ABK dengan maksimal. Saya jadi khawatir sendiri ttg hal ini

    Disukai oleh 1 orang

    1. Bahkan ktanya juga Einstain dan Thomas Alva Edison diindiksikan disleksia, tp kok jd sehebat itu ya, hran juga saya.

      Ya saya juga pesimis dg program inklusi di sekolah reguler utk ABK, mestinya hrus ada skolah khusus untuk anak disleksia aja atau SLB.

      Siswa sy itu msih kls 7 SMP mbak, smoga sja ada prubhan ke depannya mnjdi lbih baik. Nurani sya gimna gitu klo menaikkan/meluluskan siswa tp gak sesuai ketentuan, keterpksaan demikan bgi saya adalah slh satu malpraktik pendidikan, syang pihak berwenang yg di atas kita kdang abai

      Disukai oleh 1 orang

      1. betul mas, memang sistem pendidikan sekarang kadang kita guru/sekolah terpaksa “malpraktik”. Bahkan sy merasa idealisme kita sebagai guru sudah semakin tak bisa dipertahankan mas. Banyak masalah yg membuat saya semakin merasa tak berdaya. Kalau mas desfortin karena mjd kepsek mungkin masih bisa mempertahankan idealisme setidaknya di sekolah sendiri, itu menurutku

        Disukai oleh 1 orang

  4. Tentu dalam pembelajaran anak yang disleksia kurang mampu mengikuti. Malah kesannya dipaksakan. Kasihan anaknya. Memang seharusnya disekolahkan di SLB, atau sekolah inklusi agar mendapat bimbingan yang tepat.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Klo yg tipe developmental biasanya sih ktanya dideritanya spnjang hidupnnya. Tp untuk kmungkinan sembuh total mungkin sulit, tp bukan berarti gak bisa bca, tp kesulitan alias tdk lncar.

      Namun, klo tipe yg satunya, acquired dyslexia, bisa sembuh. Dan buktinya ktanya org kyak Deddy Corbuzier dulunya jg disleksia.

      Suka

  5. Masalah terpeliknya di kasus ini adalah tidak ada sekolah khusus yg menangani abk. Dan sekolah di sekitar semuanya blm inklusif kan mas?
    Kasian padahal sebenernya anak disleksia itu cerdas lho.

    Disukai oleh 1 orang

      1. Disleksia juga ga bisa bedain arah kanan kiri juga ya mas. Kaya di film bollywood yg booming th 2000an kalo ga salah judulnya taree zamen. Sama katanya deddy corbuzet itu juga disleksia.

        Disukai oleh 1 orang

  6. Jadi punya tanggung jawab yg berat dong kalo mau dinaikan ke kelas selanjutnya, harus ngajarin membaca dan lain2, semangat mas.. Mungkin dia masuk ketempat mas sudah takdirnya, dan takdir tempat mas untuk memberikan yang semaksimal mungkin.

    Disukai oleh 1 orang

  7. Dedy Cor juga anaknya kalau nggak sala disleksia juga kak Des, pada kenyataannya azka malah pinternya kebangetan sama seperti einstein. Yang didi tau. Memang awalnya ketika sekolah sempat tertinggal dengan murid yang lain tapi lama kelamaan potensinya terlihat bahkan mengungguli yang lain. Itu yang didi tau. Jadi memang perlu pengkhususan untuk anak yang memiliki disleksia.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s