Cerpen: Gak Mau Rangking Satu Lagi

Bocah perempuan yang asyik main gadget dan berpengaruh pada semangat belajarnya

Sumber Gambar : rayapos.com

Satu minggu lagi ulangan semester akan tiba. Anak-anak SD biasanya makin semangat untuk mempersiapkan diri. Tapi ternyata tidak bagi Rarna. Ia lebih asyik bermain gadget ketimbang belajar. Akhir-akhir ini, ia sudah jarang membuka-buka buku pelajarannya. Hal ini membuat bu Soli, ibunya, mengomel.

“Rarna, jangan main gadget terus! Ibu lihat kamu sudah jarang belajar belakangan ini. Sebentar lagi ulangan, nak,” kata bu Soli kepada anak perempuannya itu.

“Lagi asyik, bu. Game-nya belum selesai nich,” sahut Rarna tak acuh.

“Kalau kamu malas belajar, nanti kamu gak bakalan juara kelas lagi. Rangking satu mu bisa diambil temanmu yang lain,” lanjut bu Soli.

Tapi nampaknya Rarna tak mempedulikan perkataan dan nasehat ibunya itu. Sepertinya Gadget punya daya tarik yang lebih kuat ketimbang buku-buku pelajaran.

Gadget-nya itu memang baru. Sebulan yang lalu ayahnya membelikannya khusus sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-8. Tak disangka, sepertinya gadget itu cukup mengalihkan perhatiannya dari belajar.

Sang ibu pun kebingungan. Ia cemas kalau putrinya itu kecanduan gadget sehingga melupakan kewajiban utamanya. Dan jauh di dalam hatinya, sebenarnya bu Soli khawatir kalau Rarna tidak juara 1 lagi semester ini. Memang, Rarna tergolong anak cerdas. Sejak masih TK hingga sekarang ia selalu juara kelas. Selalu rangking satu.

Atas dasar itulah, bu Soli mulai berpikir tentang dampak buruk dari gadget untuk anak kelas 2 SD seusia Rarna. Sepertinya bu Soli akan protes pada suaminya, pak Tejo, terkait hal ini.

“Oya, pah, putri kita akhir-akhir ini malas belajar, lho,” kata bu Soli kepada suaminya.

Pak Tejo, yang beberapa menit lalu baru saja datang dari perjalanan dinas luar kota, tidak begitu merespons perkataan istrinya itu dan tak mau ambil pusing.

“Kenapa, mah?” Tanya pak Tejo santai.

“Baru kali ini lho dia seperti itu,” jawab bu Soli.

“Sejak ada gadget itu, semangat belajar Rarna menurun. Tiap hari main gagdet terus. Pokoknya, tiada hari tanpa gadget,” lanjut bu Soli dengan nada mulai menyalahkan.

“Ah, mamah. Bukan salah gadget-nya kali,” respons pak Tejo sekenanya dan terkesan permisif.

“Lho, gimana sih, pah. Sejak papah membelikan gadget itu, dia jadi seperti itu. Biasanya gak pernah,”

“Maksud mamah mau nyalahin papah, gitu?” Pak Tejo mulai reaktif.

“Yang belikan gadget kan papah, bukan mamah.” Ungkap bu Soli dengan nada menyalahkan pak Tejo, suaminya itu.

“Baiklah. Begini saja, kita gak perlu berdebat tentang hal ini. Nanti papah akan tanya Rarna langsung. Mungkin ada alasan lain yang perlu kita cari tahu. Sekarang papah mau mandi dulu.” Kata pak Tejo sambil berlalu.


Rarna tampaknya masih asyik bermain gadget di kamarnya. Pak Tejo lalu datang mendekatinya.

“Rarna, lagi main game ya?” Tanya pak Tejo kepada anaknya itu.

“Iya, yah. Seru nich,” jawab Rarna singkat.

“Rarna senang ya dengan gadget ini?” Tanya pak Tejo lagi sembari menunjuk ke arah gadget.

“Senang banget, yah. Game-nya banyak buaanget,” jawab Rarna sembari terus memainkan gadget-nya.

“Nak, ayah gak ngelarang kamu main game. Cuma, Rarna gak boleh lupa belajar ya. Minggu depan kamu ulangan, kan?”

Rarna masih asyik saja dengan gadget-nya tanpa menyahut sepatah kata pun.

Pak Tejo melanjutkan, “Ayah membelikanmu gagdet ini supaya kamu senang, tapi bukan berarti lupa belajar lho,”

“Kamu mau, rangking satu mu itu beralih ke temanmu yang lain?” Bujuk pak Tejo lagi.

Dengan ketus Rarna menjawab, “Gak apa-apa, yah,”

“Lagian, aku gak mau lagi rangking satu kok,” lanjut Rarna seolah tak peduli, yang membuatnya juga terkesan kurang sopan.

Tapi pak Tejo dengan tetap sabar bertanya, “Kenapa, nak?”

Tapi Rarna tetap diam.

Jawaban terakhir Rarna itu membuat pak Tejo heran. Dimana-mana anak biasanya sebisa mungkin ingin juara, dan setidaknya tetap mempertahankan prestasi, tapi kenapa Rarna berkata sebaliknya?

Tentu itu membuat pak Tejo bertanya-tanya, apakah kalimat anaknya itu beralasan, atau sekedar keluar begitu saja hanya gara-gara gadget.

Iapun melanjutkan, “Rarna, jawab ayah! Kenapa?”

“Aku mau kasih aja rangking 1 ku itu ke dia, yah,” jawab Rarna dengan mimik kasian.

“Dia?” Tanya pak Tejo.

“Dia, siapa maksudmu?” Pak Tejo makin heran.

“Aurel, yah. Teman sekelas Rarna. Dia pernah bilang dengan tante di rumah sebelah, katanya, dia gak pernah rangking 1, selalu Rarna terus. Padahal, dia juga kepengen. Jadi, biar aja dia yang ambil, yah.” Begitu jelas Rarna.

Mendengar itu, pak Tejo merasa lucu sekaligus aneh. Ia juga heran anak seusianya berpikiran seperti itu. Akhirnya, pak Tejo pun tahu alasan di balik sikap anaknya itu, yang membuat istrinya tak berdaya. Tapi, ia tidak mau memberitahu dulu hal ini kepada istrinya.

Pak Tejo berkeyakinan kalau Rarna tidak mungkin bisa menyerahkan predikat juaranya itu kepada yang lain. Untuk mengujinya, ia lalu berkata,

“Sekarang, stop dulu main gadget-nya ya. Kita belajar sejenak,”

Rarna pun manut. Gadget disimpan sementara.

“5+7 sama dengan berapa?”

“Dua Belas”

“12+3 sama dengan berapa?”

“Lima Belas”

“Kurang 6?”

“Sembilan”

“Kali 2?”

“Delapan belas”

Begitu seterusnya tanya jawab mereka. Bahkan untuk beberapa mata pelajaran lain pun, Rarna sukses menjawab soal-soal yang diberikan ayahnya.

“Horee, Rarna pinter. Ayah bangga. Tapi, kalau main gadget terus, gak menutup kemungkinan Rarna bisa lupa dan gak bisa jawab soal ulangan lho,” kata pak Tejo sembari mengingatkan.

“Kenapa sih mesti rangking 1, yah?” Tanya Rarna dengan kritis.

“Rarna, ayah sih gak masalah kamu gak rangking 1, yang penting kamu tetap jadi anak baik. Tapi karena kamu sejak TK prestasimu bagus, kenapa tidak dipertahankan? Itu hal baik, nak.” Jelas pak Tejo kepada anak semata wayangnya itu.

“Kalau begitu, gak apa-apa kan Rarna gak rangking 1? Kasian Aurel, yah,” jawab Rarna atas penjelasan ayahnya itu.

“Ayah paham maksudmu, nak. Tapi bukan berarti kamu lalu gak belajar lho. Rarna harus tetap belajar,” begitu respons pak Tejo yang terdengar lebih membingungkan Rarna lagi, ha ha ha …


Saat ulangan pun tiba. Bu Soli masih khawatir, jangan-jangan gadget membuat anak mereka semakin terganggu untuk belajar. Karena itu, ia terpaksa harus menyita gadget itu untuk sementara.

Rarna sebal. Tapi ia tak berdaya. Ia tetap harus taat pada peraturan ibunya. Mau tidak mau, iapun belajar, meski harus didorong-dorong. Sang ibu pun terus mendampinginya saat belajar.

Walaupun Rarna berniat ingin memberikan juara satunya itu kepada Aurel, teman sekelasnya sejak TK itu, tapi ia tidak sepenuhnya menyadari tentang bagaimana niatnya itu bisa terwujud. Hanya sebatas niat.

Pak Tejo tahu kalau Rarna tidak tahu cara konkretnya. Yang dipikir Ratna, kalau tidak belajar, otomatis bisa mewujudkannya. Hanya sebatas itu.

Dalam hati Rarna, semoga saja semester ini, Aurel bisa rangking satu. Gak apa-apa aku rangking di bawahnya, biar dia bahagia.

Ironisnya, saat mengerjakan soal-soal ulangan, Rarna merasa soal-soal tersebut begitu mudah, sebab hampir setiap soal bisa dijawabnya dengan benar dan lancar, meskipun di rumah ia belajar sekedarnya saja.

Betul, saat penerimaan buku raport tiba, harapan Rarna itu masih belum terwujud. Ia tetap juara kelas, meskipun ia telah berniat gak mau rangking 1 lagi.

Ha ha ha … Bagaimana mungkin ia menyerahkan predikat juaranya itu, kalau soal-soal ulangannya saja hampir “dilahapnya habis”. Itulah cara konkret yang belum disadarinya sampai saat ini.

TAMAT

Iklan

49 tanggapan untuk “Cerpen: Gak Mau Rangking Satu Lagi

  1. Jadi keinget ama temen SMA,dimana perkngkat satu di kelas saya bukan tipikal anak yang rajin-rajin banget dalam kegiatan di sekolah.Cuman dia memang bisa menguasai hampir semua materi.Berbeda dengan saya yang hampir setengah mati belajar,nilai tetep aja stagnan.Mungkin salah ambil jurusan juga,gak jago hitung menghitung malah masuk IPA.hhhhh

    Disukai oleh 1 orang

  2. Masuk akal. Pas masih sekolah saya selalu merasa kalau waktu belajar yang paling efektif itu di kelas. Kalau bisa benar-benar fokus pas di kelas, belajar di rumah sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan.

    Tapi dugaan saya nilai si Rarna tetap mengalami penurunan di mata pelajaran hafalan seperti IPS atau PKn. Mungkin teman-temannya juga pada main gadget di rumah sehingga penurunan tsb tak mempengaruhi peringkat Rarna.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Itulah, mas. Di rumah mls bljar tp di skolah ya mau gak mau, dan lbih mnrik lg, waktu ujian/ulngan, semua soal dilahap hbis, haha…gmn mau diksihkan ke org lain rangkingnya klo bgtu.

      Gak tahu jg ap mungkin ada penurunan nilai utk IPS dan PKn, yg psti dia ttp juara 1, walau ktanya gak mau, 😁😁

      Disukai oleh 1 orang

  3. Klo digunakan dengan baik gadget bisa menopang belajar loh mas desfortin. Soalnya di google banyak informasi yg belum tentu tercantum di buku paket. Klo suka main,game paling tidak pasti juga,harus belajar bahasa inggris karena game2 luar lebih seru πŸ™‚

    Disukai oleh 1 orang

  4. Bagaimana perasaan Rarna saat itu? Sedih kah si Aurel tidak juara satu?
    Coba Rarna mengajak Aurel belajar bareng aja. Kali aja Aurel bisa keseret ikut rangking.. πŸ˜‚

    Duh. Rarna. Aku yang belajar udah baca berkali-kali aja, sering tetep aja gak ngerti apa yang baru saja aku lakukan, bergunakah yang ku kerjakan tadi. πŸ˜‚
    Kamu kok enak tinggal lahap-lahap aja.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Disukai oleh 1 orang

    1. Sayang ceritanya gak dilnjutkan, jd kita semua kira2 apa ya..

      Kyaknya haru campur snang jg, trus bingung, kok bisa? Haha…cara konkretnya dia gak dapet. Si ayah sngja gak bri tahu..

      Suka

      1. Yup udah mas. Intermezzo saja sebelumnya. Maksudnya kadang orang tua ingin anaknya juara terus. Sdgkan anaknya punya pemikiran sendiri. Aku sih senang kalau si anak ga harus rangking 1 demi temannya asal temannya juga berusaha. Bagi org yg ga pernah juara itu tentunya punya rasa juga pengen ngerasain juara 1.

        Disukai oleh 1 orang

        1. Ya mas, kdang ortu sring bgtu…pdhal sukses tdk hnya diukur dg juara 1.

          Intinya, jngan mksain khendak pd anak. Tp yg trjdi sring ortu gak pham dg mksud anak. Hrusnya ortu mngrahkan anaknya dg potensi yg ada. Nah, uniknya dlm kasus ini (cerita di atas), ia gak mau rangking 1 demi org lain, tp gak dpt caranya, πŸ˜‚πŸ˜‚

          Suka

  5. Teringat masa lalu nih. Terutama pas smp. Pas lagi jaman kejayaan saya wkwkwk πŸ˜†

    Oya mas itu mestinya ‘tak acuh’ bukan ‘acuh’ saja. Soalnya acuh sendiri artinya peduli lho. sumber kbbi.web.id 😊

    Disukai oleh 1 orang

        1. Saya waktu SMA pernah pringkat 14 waktu kls 1-2, tp pas kls 3 kmbli ke-1 lg (pas pnjurusan sih, hee…).

          O iya bnar, setelah paragraf 2 ternyta πŸ˜‚πŸ˜‚ (udah sy mutakhirkan).

          Mksh mas udah mau jd “proofreader”, Anda bgtu jeli.

          Disukai oleh 1 orang

            1. Iya, gpp. Itu justru bgus, saya sendiri snang diingatkan/dikoreksi. Klo itu memang sy yg kliru, psti sy prbaiki.

              Saya jg kdang ingatkan tmn bloger lain yg typo saat ngetik atau pngturan prgraf dan kaidah tulisan lainnya yg keliru. Ad bbrp yg mau “dengar” llu menyuntingnya, tp ada jg yg ttp (pd postingan slnjutnya), dan sy pun berkesimpulan klo bgt ybs bkn mlkukan typo atau kslhan lainnya, tp emang sengaja atau udah kbiasaannya krn mnganggapnya gpp, πŸ˜‚πŸ˜‚

              Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s