Mengusir, Terusir, atau Gertak Sambal?

Kekerasan verbal, mengusir anak atau cucu

Sumber Gambar : intisari.grid.id

Sore itu. Suara sebuah mobil samar-samar terdengar, dan berhenti di depan rumah. Aku sedang duduk di ruang tengah.

“Jodi! Tolong bantu menggotong kakek.”

Suara panggilan itu terdengar dari teras depan rumah. Aku tahu itu suara nenek. Tapi aku tak menggubrisnya. Keasyikanku membaca buku sedari tadi membuatku kurang tanggap.

“Jodi…!! Bantu kakekmu sini,” nenek kembali memanggilku.

Akupun harus berhenti sejenak. Dengan langkah seribu, aku bergegas menuju sumber suara.

Betul. Itu kakek dan nenek, mereka baru saja tiba dari sebuah acara pesta di kampung Sebelah. Namun, aku kaget, kondisi kakek mengenaskan. Ia tak sadarkan diri. Sudah bisa ditebak, pesta yang baru saja ia dan nenek hadiri ternyata membuatnya teler. Porsi “minuman khas” yang ditenggaknya terlampau banyak.

Dan, sejurus kemudian, aku langsung membantu menggotong kakek ke rumah bersama si sopir mobil yang membawa mereka pulang dari kampung Sebelah itu.

Bobot tubuh kakek yang lumayan berat membuat kami kewalahan menggotongnya, apalagi dengan tubuhku yang cungkring ini. Ngosngosan jadinya.

Dengan mengerahkan segenap tenaga, kami berhasil menggotong kakek, dan membaringkannya di kamar. Kemeja dan celana panjangnya yang masih terpasang ditubuhnya dilepas satu per satu oleh nenek.

Aku turut membantu melepas sabuknya. Juga kaos kakinya. Lalu, nenekku mengipas kakek dengan kipas buatannya. Maklum, listrik hanya menyala di malam hari, kipas angin mustahil dinyalakan sore-sore begini.

“Kenapa sih, nek? Kok kakek dibiarin minum lagi tanpa kontrol?” Begitu tanyaku pada nenek dengan nada sedikit kesal.

“………”

Nenek tak menyahut sepatah katapun. Air mukanya dingin. Tatapannya lesu. Sepertinya ia juga kelelahan. Kuyakin nenek juga minum. Itu sudah menjadi tradisi bila menghadiri suatu acara adat.

Aku pun tak melanjutkan tanyaku. Lagian, tanyaku itu juga mungkin terdengar tak bermutu sama sekali.

Dan aku, selain pertanyaan tadi, aku hanya termangu. Tak tahu apa yang harus kulakukan lagi, selain hanya bergumam, Dasar, aku cucu adopsi yang kurang berbakti.

Sepertinya aku menyesali diri. Ya, boleh jadi. Tapi, bukan. Sebenarnya, aku lagi kesal, kenapa kakek bisa begini lagi. Padahal, ini sangat tidak baik bagi kesehatannya. Mestinya terkontrol.

Dan kami sudah berkali-kali mengingatkan agar kakek tidak mengulanginya. Selain itu, tahulah, si Eki, cucu kandung kakek itu, paling tidak senang kalau melihat kakek begini.

Alih-alih mempedulikan kakek, aku malah kembali ke ruang tengah, melanjutkan bacaanku itu. Tu, kan? Aku benar-benar cucu tak berguna.

‘*******’

Setengah jam kemudian. Sepertinya kakek mulai siuman.

“Eki!..Eki!…”

Kakek memanggil cucu kandungnya satu-satunya itu. Entah apa maksudnya. Mungkin minta diperhatikan. Hanya saja, sesaat kemudian, kakek mulai meracau. Berkali-kali memanggil nama Eki lalu Fani.

“Fani!…Fani!…”

Fani adalah seorang anak kerabat kakek yang tinggal serumah dengan kami. Ia tinggal sejak 1 tahun lalu, karena bersekolah disini, di sebuah sekolah menengah. Orangnya mungil. Tapi sikapnya padaku acapkali dingin dan jutek. Persis seperti Eki, cucu kandung kakek dan nenek itu. Kadang, aku juga kesal dengan mereka.

“Istirahat saja, Jong.” Jong adalah panggilan khusus dari nenek kepada kakek.

“Jangan pikirin cucumu, Jong,” lanjut nenek.

“Eki!….Fani!…kemana sihh cucu-cukuku ituuu?” Kakek kembali memanggil, dan dengan nada suara yang meninggi. Sepertinya ia mulai marah.

Namaku tak dipanggil. Mungkin kakek sungkan karena aku hanya cucu adopsi, mungkin, atau karena aku memang cucu pemalas yang tak pantas diandalkan.

“Kemana Fani dan Eki, Jodi?” Akhirnya kakek menyebut namaku juga. Aku pura-pura tak mendengar. Lagian, buku bacaan yang kubaca saat itu benar-benar seru. Seperti membaca karya Andrea Hirata.

“Jodiii!!” Kakek memanggil namaku sekali lagi, tapi dengan nada sedikit panjang.

“Kemana Fani dan Eki?” Begitu tanyanya padaku.

Rupanya kakek tahu kalau aku ada di rumah saja. Dari ruang tengah aku menyahut singkat, “Mereka ke Darat, kek.” Ke Darat, maksudku mereka ke rumah paman dan tante, rumah anak dan menantu kakek alias rumah ayah dan ibu Eki.

Ngapain sih ke Darat? Kakek lagi begini, kok ditinggalin,” kakek mulai mengeluh dengan gelagat cucunya itu.

“Cucu macam apa kalian ini?” Kakek semakin marah. Namun kondisinya yang masih tidak stabil pasca “bermuatan” itu terdengar aneh lagi emosional.

Aku tahu persis bagaimana perilaku kakek saat emosinya tak stabil seperti itu. Sebentar lagi pasti akan meledak sedahsyat bom molotov.

Ngapain juga si Eki dan Fani kok lama banget perginya ya, sudah tahu orang tua lagi susah begini, pake ditinggal segala, akhirnya aku pun ikutan menggerutu dalam hati.

“Mulai besok, kalian jangan tinggal di rumah kakek lagi. Pergi kalian dari rumah ini.” Kakek naik darah sekaligus mengancam.

“Kalian cucu yang k**rang aj*r, tidak punya perhatian sama orang tua. Jangankan mau menyediakan air hangat atau memijit kakek, malah ditinggal,” amarah kakek makin menjadi-jadi. Bahkan, dengan berbagai kata-kata omelan lainnya.

Aku jadi tak enak hati. Aku mendengar semua ocehan dan omelan kakek itu. Memang, ditandaskannya, bahwa ini tidak ditujukan secara khusus untukku, tapi kepada Eki, cucu kandungnya itu, dan si Fani, si anak mungil itu.

Petang pun menjelang. Sambil terus marah dan mengomel. Ngomong ini dan itu, hingga mengucapkan kata-kata yang sarkastik menurutku, kakek beranjak bangun dari tempat tidurnya, lalu mengunci semua pintu dan jendela rumah.

Menurutku, kini kakek perlahan mulai pulih dari kondisi fisiknya itu. Dugaanku benar, sebab ia berjalan tak sempoyongan. Dan syukur pula, sepertinya penyakit yang kami khawatirkan itu tidak kumat lagi, meski ia sempat teler oleh minuman itu.

Setelah itu, kakek berjalan kembali menuju kamar sambil bergumam tidak jelas. Dan aku, aku tetap saja duduk bergeming di ruang tengah sambil sesekali melirik ulah kakek itu. Dan sialnya, buku yang kubaca kini terasa tidak asyik lagi. Fokusku terganggu setelah melihat kakek seperti itu.

“Malam ini, jangan bukakan mereka pintu”

“Biar saja mereka tidur di Darat”

“Dan mulai besok pagi. Mereka kuusir dari rumah ini.”

Begitu kalimat-kalimat kakek terlontar, setelah tadi sempat bergumam, yang membuatku sendiri tak nyaman hati. Sebenarnya, aku heran dengan kakek – mengingat ia termasuk sosok terpandang di kampungku – yang tak mampu menahan emosinya itu; apapun alasannya.

Kakek kembali ke kamarnya, tapi masih dengan kondisi kesal luar biasa. Dan nenek sepertinya ingin menenangkan, “Udahlah, Jong. Istirahat aja. Jangan banyak bicara!”

“Maklumi aja cucu-cucumu itu,” lanjut nenek.

“Diam…! Tahu apa kamu..?” Bentak kakek kepada nenek.

“Kau mau tidur di luar juga? Sana susul mereka!” Ancam kakek lagi.

Nenekku pun diam seketika. Ia tak mau membalas ucapan kakek. Ia tahu kalau kakek bisa makin berang dan nekat bila ia terus menjawab. Aku tahu itu.

Entah kenapa, sesaat kemudian, kakek pun mulai senyap. Sepertinya ia sudah kehabisan kata-kata atau ia terlelap lagi.

Sementara aku, aku masih terus duduk termenung di ruang tengah. Buku yang kubaca itu sudah kuletakkan dari tadi di atas meja. Aku malas membacanya lagi.

Batinku masih terganggu oleh omelan-omelan kakekku itu. Aku termenung di balik lampu redup yang telah menyala. Sepertinya aku juga merasa terusir. Dan sembari merekamnya dalam memoriku, aku teringat akan orang tuaku yang telah tiada. Aku sedih. Tanpa kusadari air mataku perlahan menetes. Sebagai anak remaja SMA aku cengeng sekali.

Namun, tak lama berselang, lamunanku terhenti. Kudengar suara sepeda motor berhenti tepat di depan rumah. Aku tahu suara itu. Eki dan Fani sudah kembali. Segera saja kuseka air mataku, lalu menuju pintu depan. Perlahan kubukakan pintu untuk mereka, seolah aku lupa dengan perintah kakek tadi.

Fani dan Eki masuk. Mereka tidak tahu peristiwa di balik layar yang terjadi beberapa saat lalu. Dengan suara setengah berbisik, aku berkata kepada mereka,

“Kalian kemana aja, kok lama sekali? Kakek marah besar loh dengan kalian.”

Fani dan Eki terus berlalu menuju dapur tanpa respons verbal sedikitpun. Biar ahh, batinku. Akupun kembali duduk ke kursi di ruang tengah itu, sembari menunggu apa yang akan terjadi.

“Jodi…!!!” Aku terperanjat, kakek memanggilku.

“Iya, kek,” sahutku dari kejauhan.

“Apa Eki dan Fani sudah datang, Jodi?” Tanya kakek padaku seolah ia tak tahu kalau mereka sudah datang.

“Iya, kek.” Jawabku ringkas.

Sesaat kemudian, kudengar langkah kaki kakek keluar dari kamar.

“Nah, Eki dan Fani. Mulai besok pagi, kalian angkat kaki dari rumah ini. Kalian saya usir. Termasuk Jodi. Silakan tinggal di Darat,” kakek mengatakannya dengan nada tetap marah, hanya saja nadanya tidak setinggi seperti beberapa saat lalu, saat Eki dan Fani masih di Darat.

Dan ternyata, aku juga terusir. Oh kakek, kenapa jadi begini? Batinku. Maklumlah, aku yang masih labil ini suka sensitif. Ternyata bukan hanya perempuan yang perasa. Lelaki pun ingin dimengerti.

Dari tempat dudukku, aku melihat nampaknya Eki dan Fani tetap senyap. Mereka tak berani menjawab atau menyanggah sepatah katapun.

Kakek menandaskan lagi, “Malam ini, kemasi barang-barang kalian, dan besok pagi kalian sudah harus pindah.”

Dengan komentar bla…bla … bla… dan bla..bla…kakek meminta kami segera berkemas, tentu kakek masih mengijinkan kami tidur malam itu di rumahnya.

Eki dan Fani masih terus terdiam, tapi aku tahu apa yang mereka pikirkan. Aku yakin mereka tidak bermaksud jelek pada kakek. Kakek saja yang terlalu sensitif akibat “bermuatan” itu.

“Kakek tidak menyesal mengusir kalian. Ini kakek sudah sadar. Saya tidak main-main, ini bukan gertak sambal. Cepat kalian kemasi barang-barang kalian!” Kakek lalu menjelaskan kenapa ia sampai “bermuatan” seperti itu. Pokoknya bla…bla…bla….dengan segudang argumen.

Penjelasannya kudengar cukup logis, tapi menurutku, tetap saja tak bisa dibenarkan. Apalagi, hanya gegara tak diperhatikan sampai harus mengusir cucu-cucunya seperti itu, bahkan dengan ekspresi verbal yang sarkastik.

Malam kian merangkak menuju peraduannya. Ocehan cicak dan jangkrik terdengar sesekali mengiringi gelapnya malam. Kakek tak lagi bersuara, sepertinya ia sudah terlelap lagi di kamarnya.

Aku pun sama. Sepertinya dengkurku yang sudah biasa menghiasi malam-malamku, atau tidur orang-orang serumah, terdengar memecah keheningan malam. Bahkan Eki sering protes karena dengkurku itu, sekalipun aku tak sadar kalau aku tidur mendengkur.

‘*******’

Subuh, kira-kira pukul 5.

Dari luar rumah, terdengar suara sebuah mobil dengan klakson nyaringnya, berhenti tepat di depan rumah kami. Aku terjaga, tapi masih enggan bangkit dari kasurku. Kudengar Eki membukakan pintu depan.

Kemudian, seorang lelaki muda bersama si sopir masuk dan berkata, “Kek, siap-siap kek. Kami datang diutus menjemput kakek. Pada jam 8 pagi ini ada pertemuan penting, dimana kakek harus hadir.”

Identifikasiku, mereka utusan dari kota kabupaten. Ini mungkin panggilan khusus dari Big Boss. Dapat dimengerti, kakekku itu memang sering dipanggil untuk agenda-agenda besar. Usianya sudah hampir 70 tahun, tapi fisiknya masih enerjik untuk urusan semacam itu.

“Cukup cuci muka, kek. Mandinya nunggu disana saja. Bawa kostum dan perlengkapan pribadi secukupnya. Kita harus tiba di tempat acara sebelum pukul 8,” laki-laki itu lebih lanjut menjelaskan.

Pikirku dalam hati, bikin acara kok mendadak seperti gini ya, kenapa gak dikasih tahu dari kemarin-kemarin aja. Untung kakek udah pulih fisiknya, coba kalau enggak, bisa kalian yang kena damprat. Hadeuh.

Sejurus kemudian, setelah nenek dan Eki menyiapkan kostum kakek, kakek pun berangkat dengan tergesa-gesa bersama kedua orang itu tanpa banyak basa basi lagi dengan kami.

Terus, bagaimana dengan usiran kakek semalam? Hahaha… lupakan itu, nampaknya Eki dan Fani bisa bernafas lega. Hanya aku yang berjibaku pergi dari rumah pagi itu, sekalipun sambil berangkat sekolah.

Karena siangnya aku tak kembali ke rumah. Tapi ke Darat, ke tempat paman dan tante. Sementara Eki dan Fani masih tinggal bersama nenek. Lagian, nenek juga melarang mereka pergi.

Gak perlu diambil hati, cu. Kakekmu hanya emosi,” begitu kata nenek, kontras dengan sikap kakek.

Entahlah, bagaimana kisah selanjutnya. Yang pasti, setelah beberapa hari kemudian aku berkunjung ke rumah kakek, Eki dan Fani masih tetap tinggal disana. Barang-barang pribadi yang sempat mereka kemas waktu itu, telah kembali ke tempatnya seperti sedia kala.

Dan, kakek pun telah kembali. Ia tak marah lagi pada mereka, pun padaku. Mungkin kakek telah melupakan peristiwa itu – yang bagiku, itu sangat disayangkan – atau, ia telah mencabut gertakan-gertakannya itu, atau juga, itu hanya gertak sambal, karena ia terlampau sayang pada cucu-cucunya?

Sungguhan atau hanya gertak sambal

Sumber Gambar : quickmeme.com

Apapun itu, sampai saat ini aku masih tinggal di Darat. Sekalipun sedikit kecewa, ya, aku akui itu, tapi aku cuek saja dengan yang terjadi. Hanya saja, sebenarnya aku juga ingin agar Eki ikutan denganku. Karena ini juga rumahnya.

~~~~~ Selesai ~~~~~

Iklan

43 thoughts on “Mengusir, Terusir, atau Gertak Sambal?

  1. Wah saya kurang tahu mas desfortin kenapa cuma jodi yg pergi dan nggak dicegah si nenek. Atau mungkin jodi saja yg terlalu serius atau terlalu menghormati si kakek sehingga mengerjakan perintah si kakek meskipun ia tahu bahwa si kakek sedang emosi.

    Tapi toh terap dibiarkan dan tidak ada tanggapan dari si kakek atau nenek agar jodi kembali ke rumah mereka. 😀

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iya, mbak. Keburu ditamatin sih, capek udah nulisnya, haha…

      Mau konfirmasi ttg Jodi yg pergi yg tak dicegah, tp telat dah, 😂😂
      Tp fokus crtanya sih sbnrnya pd pengusiran dan kekerasan verbal aj.

      Tp mksih buat komennya ya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s